Rosie's Mr. B (1)

2625 Words
Aku memanggil dia Mr. Bear. Tuan beruang. Selama 3 bulan pasang surut kami, aku tidak pernah bertanya nama aslinya. Selama 3 bulan itu juga, dia memanggilku Rosie. Itu nama asliku, dan aku memberitahunya di malam pertama kami bertemu. Aneh, ya? Memang, sih. Di mana aku bertemu si Tuan beruang, kau bertanya? Secara kebetulan, ketika tingkat self-destructionku sedang tinggi-tingginya. Maka, izinkan aku, untuk kali ini, bercerita tentang diriku sendiri. === Sabtu itu kering dan dingin, khas bulan November di Birmingham. Di sini, salju rutin turun, tapi malam ini belum setitikpun benda putih itu jatuh. Aku terdampar di kamarku sendiri sejak sore. Episode depresi menghantamku untuk yang kesekian kalinya. Dan... tahulah. Kalian tahu persis apa yang akan dilakukan seorang gadis sedih, berhati hampa, dan mendambakan belaian. Aku menghidupkan iPhone-ku yang layarnya sudah pecah dan uzur, lalu mulai mencari pasangan one night stand dari server dewasa di Discord. Tolong jangan tiru aku. Aplikasi itu j*****m. Dia sering membawaku ke lubang-lubang malapetaka. Namun, ayolah! Malam itu, aku begitu kesepian, dan tanah perantauan bisa memberikanmu rasa kesepian yang sangat dahsyat dan tidak pernah kau rasakan sebelumnya. Lagipula, tidak semua orang yang pernah kutemui di sana monster. Kebanyakan hanya pecandu m***m. Segelintir pria congkak, dan sisanya... AngryBear: Hi Rosiefluffy: Hi AngryBear: You look beautiful :) Wanna chat? yup. Sisanya hanya dia. Mr. Bearku. === Ding! Ding ding ding! Aduh, mana, sih, cowok ini? Kugosok-gosok bahu dan lenganku dengan kencang. Tubuh sialanku masih manja setelah 15 tahun hidup dengan cuaca tropis. Ding ding ding ding— "Coming!" Aku memasang muka sebal. Siap memarahi siapa saja yang wajahnya akan menyembul dari balik pintu, tapi... Yang kutemui justru dadanya. (Aku memang pendek sekali, sial). "Hello?" suara rendah dan serak menyambutku di depan pintu. "Ehm.." Aku mendongak, dan.... yup. Aku-yup. Wah, bagaimanakah caraku menuliskannya? Pria ini sangat di luar ... ekspetasiku. Yang kubayangkan adalah tipikal pria kurus, jangkung, memakai hoodie. Rambut emo yang menutupi setengah wajah. Kulit pucat, mirip vampir karena mereka sama-sama tidak mengenal matahari. Jarinya penuh remah Cheetos. Aih, aku pasti terlampau ngantuk sampai-sampai sudi tidur dengan makhluk seperti itu. Tapi aku mendongak, dan yang kudapati justru bukan pria dengan adiksi internet yang begitu jelas. Malahan, aroma vanilla menyeruak di hidungku dan itu bukan parfumku. Langsung ketahuan saja bahwa pria ini bersih. Dia wangi, juga tinggi. Empat puluh senti lebih tinggi, lebih tepatnya, membuatku harus mendongak hingga nyaris patah leher jika ingin menatapnya. Dan... badannya besar. Tubuhnya gempal. Wajahnya... lembut? Beruang. Yap... Dia mirip beruang. Benar-benar mirip beruang. Nama yang dia pilih tidak salah kaprah. Sadar akan pandanganku, si Tuan Beruang balas menunduk sambil membenarkan kacamatanya yang kotak. "Rosie... benar?" "Ah, ya?" "Bear," jawabnya singkat, menawarkan nama samaran sambil mengulurkan tangan. Senyumannya cukup manis. Tipikal pria besar bijak yang jenaka, langsung bisa disukai oleh semua orang. Sialnya, oh sialnya, semua yang kusebutkan tadi? Itu tipeku. === Aku mendorong pintu apartement bernomor 2011 dan harum vanilla semakin menguat. "Maaf berantakan. Aku baru aja pulang kerja." "Kerja?" Di jam segini? "Iya. Ners," jawabnya singkat sambil merapikan tumpukan komik Marvel di atas meja kopi. Oh, itu alasan dia menggunakan scrubs. Rupanya dia juga sudah menyiapkan teh hitam. Dasar, Inggris. "Jadi kamu bisa nyembuhin aku?" Mendengar candaanku, si pria yang tidak terlihat seperti orang kulit putih murni tertawa renyah. "Kalau kamu mau. Duduklah." Maka aku melakukannya. Tetiba saja, kudengar eongan kecil, dan seekor anak kucing langsung melompat ke pahaku. "Miauw!" "Aaah!" Aku memekik. "Lulu!" Si pria beruang terkesiap, dan langsung mengambil si Lulu di dekapannya. "Aduh, maaf! Dia memang jadi defensif kalau bertemu orang baru," ujarnya. Damn. Kucing anomali, pikirku sambil memandangi sekitar. Apartemennya kecil, tapi penuh artefak—action figure, gundam, susunan LEGO yang tertata rapi di balik dua lemari kaca besar. Ada satu poster The Witcher Netflix besar yang terpampang di ruang tamu. Dia jelas-jelas seorang nerd. Sialan, oh sialan. Seolah-olah semesta membaca tipeku, kantas memutuskan bahwa coping mechanismku---tidur dengan pria asing---butuh pelajaran. Pria ini pastinya akan berakhir membosankan—yang akan menghancurkan tipeku selamanya, atau justru jadi pembunuh berantai. Either way, aku tidak keberatan. === "Jadi... Rosie... Ada hal yang harus aku ketahui, kah?" Sembari mengelus Lulu (setelah beberapa menit, aku dan Lulu memutuskan untuk berteman dan Bear mengizinkanku untuk mengelusnya), aku masih menatapi cangkir teh yang setengah kosong di atas meja. Betapa sopan, pikirku, tapi kugelengkan kepala, karena pria yang menanyakan soal batasan sebelum bercinta adalah bare minimum. "Kondom, tentunya. Kamu punya, kan?" "Ya," jawabnya langsung tanpa ragu-ragu. "Aku tidak akan membukakanmu pintu kalau tidak punya." Satu poin plus. "Um..." "Aku juga bersih. Punya sertifikat STD kalau kamu mau lihat." Satu poin plus lagi. "Aku juga bersih," kataku pelan. "Kamu... um... bisa lihat sendiri nantinya." Kusadari senyuman tipis yang muncul sebelum ia melipatnya. "Safeword-ku adalah Pinguin," ujarku seketika. "Imut." Kini senyumannya tulus. "Terlalu imut. Aku akan langsung berhenti kalau mendengarnya." "Baik,"ujarku lagi sambil berpikir. "Bagaimana dengan kink?" "Aku tidak punya." "Benarkah? Jujur aja." "Sungguhan," ujar si Beruang. "Mungkin ini... em.... d******i saja, sih. Aku tidak bisa jadi bottom. Apalagi pegging—tolong jangan lakukan itu. Bagaimana denganmu?" "Eh, um...." Ini dia. Aku menarik napas, dan memejamkan mata sembari menyebutnya. "Degradation..." Dia mengangguk. "Exhibitionist, and anything that rough, basically. Oh, dan...." matilah aku, matilah aku!"CNC." "Oh." Oh. Kan? Dia begitu terkejut, jadi dengan segera aku membanting setir dari topik itu. "Jangan bawa-bawa pisau. Aku akan teriak sekencang-kencangnya." "Sure thing." Kini dia tidak lagi memandangku "Dan.... jangan rekam aku." "Baiklah." Pandangannya kembali. "Tapi, kembali ke CNC..." Damn it! Harusnya aku tidak menyebutnya! "...apakah kamu keberatan kalau aku melakukannya malam ini?" Huh? Pria ini---serius? "Tidak, tentu saja," kataku seketika. Sedikit kegembiraan hampir meluap di suaraku, membuatku jijik. "Tapi, asal kamu tahu saja, aku akan langsung telepon polisi jika kamu berani macam-macam." "Aku yang akan telepon polisinya sendiri." Aku tertawa. Dia tersenyum hangat, dan itu justru mengkhawatirkan. Seolah-olah dia ingin menyakinkanku kalau aku aman, padahal sebenarnya dia adalah pembunuh berantai yang sudah menguliti dua puluh manusia atau semacamnya. "Kamu nggak jijik dengan semua itu?" tanyaku. "Tidak, sih." Dia mengambil secangkir teh hitam dan menyesapnya. "Di rumah sakit, aku sudah lihat lima ratus hal yang lebih mengerikan. Lagipula, aku cocok dengan semua itu." Matilah aku. Pria ini pasti pembunuh berantai. Mustahil kami secocok itu pada pertemuan pertama! "Um, oke..." "Oke." Sepertinya kami berdua sudah muak dengan basa-basi. "So, shall we start?" === Aku menanggalkan jaketku. Dia juga menanggalkan scrubnya, sembari—whoa. "Iya. Aku rutin ke gym," ujarnya lagi sembari melipat—MELIPAT??? Scrubsnya???? Hell, 99% pria yang kutemui langsung melemparnya begitu saja!—seolah bisa membaca pikiranku. "Maaf kalau bukan tipemu. Permisi." "Kau salah besar," kataku sambil tertawa khawatir. "Benarkah?" Dia melingkarkan lengannya di pinggangku. "Iya." Maka, aku merengkuhnya. Pelan-pelan. Hingga kami merasa lebih nyaman dengan satu sama lain. Kemudian, aku menciumi lehernya yang wangi. "Vanilla," bisikku. Dia tersenyum. "Kamu suka?" Aku mengangguk pelan. Bear begitu hangat dan harum. Sembari mengelus kepalaku, pria beruang itu mulai berbisik. "Bilang Pinguin, dan aku akan mulai, oke?" "Oke." Aku bersandar di bahunya. Ia mengelus kepalaku. Perlahan, pelan-pelan dan penuh kasih yang lembut. Hingga aku terbuai. "Pinguin." Ia masih mengelus rambutku. Mengelus dan meraupnya perlahan-lahan... lalu menjambaknya. === "I caught a slut." Dia melemparku ke ranjangnya, setelah puas memainkanku di sofanya tadi. Aku berjengit ketika ia tiba-tiba bertumpu di atasku. "Maybe next time you'll think twice before showing up at some stranger's door, yeah?" ujar pria itu dengan nada cemooh. Ketakutan yang asli langsung menjalar begitu bayang tubuhnya hampir memenuhi seluruh pandanganku Pakaian miliknya masih utuh. Aku tidak—dia tadi merobek kausku, melorotkan bra dan jeans-ku, lalu mengikat kedua tanganku dengan sabuk kulit-nya. Dadaku menyembul dan putingnya memerah. Dia tadi menghisapnya dengan brutal. Pipiku merah—bekas tamparannya masih begitu menyengat. Namun, pria itu tidak memberikan ampun. Dengan ekspresi yang menggelap, ia menarik daguku paksa dan mulai mencumbuku. Lagi. Ia lalu mengesampingkan celana dalam berenda transparan yang sengaja kupakai, dan satu jarinya masuk ke sana. Aku mendesah. Kami sudah penuh keringat. "Kamu selacur itu, kah? Sampai-sampai begitu pasrah ditiduri oleh orang asing?" bisiknya tepat ke telingaku. Lalu, bibirnya turun. Menyesap d**a kiriku dengan jari tengahnya menyentil k******s. Aku mengerang. "Ayo, dong, Rosie. Memohonlah, biar aku berhenti." "Please—" Namun, jarinya justru makin masuk. "Pretty tight for a slut." Ia mengkobel millilku sedikit, lantas menepuk-nepuk. Plap. Plap. Plap. "Dan basah sekali. Sepertinya ada yang begitu desperate, hum?" Aku kembali mendesah. "I'm not—" Dia membungkamku dengan jarinya yang basah, dan aku spontan menjilatnya tanpa sadar. Membuatnya tergelak. "Insting yang baik. Terus hisap." Pipiku bersemu merah. Aku menjilat dan mengisap jarinya, terus-terusan hingga matanya dikuasai oleh nafsu. Tak butuh waktu lama untuk pria besar untuk berdiri dan menurunkan celananya. Tunggu— Mataku mulai melebar. Lantas dia menyeringai. "Kaget?" Dia menurunkan boxer, dan tonjolan besar di boxer berubah jadi sesuatu yang gemuk. Mendarat tepat di wajahku, dan aku berjengit. "Ayo, isap." "Atau?!" "I'll stick it in," dia tergelak lagi. Sepertinya dia sangat suka tertawa, orang ini. "I'll end up doin it anyway, but you'll be sorry if you don't suck it now." Si bear ini sepertinya sangat menikmati d******i. Maka, baiklah. Kubulatkan mataku, kupasang ekspresi hampir menahan tangis, dan kujilat bibirku sebelum mengulum miliknya. Ia langsung memejamkan mata. Aku menghisap sekali lagi, sebelum memegangnnya dengan kedua tanganku dan mulai maju-mundur. Tak butuh waktu lama baginya untuk ngos-ngosan. Aneh, seperti sudah lama sekali sejak ia melakukan hal ini. Aku terus memacu, dengan memajang mata sok polos dan hampir terisak. Ia meraup rambutku, desahan pelan lolos dari mulutnya. Mendadak, aku jatuh rebah lagi. Aku mendongak, dan nampak hanya Bear yang pelupuk matanya sudah dipenuhi dengan nafsu. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya. "f**k, aku tak tahan lagi." Karakter jahat yang dimainkannya sedikit pecah. Kakiku diciuminya, lalu ia membukanya lebar-lebar. Kemaluan kami bersentuhan, kemudian bergesekkan dengan kiltorisku. Ia lalu tergelak lagi. "Kau basah sekali." Aku merengut, dan ia tersenyum bagai mabuk kepayang. Sejenak, sebelum ia mengenakan karakter itu lagi, aku menarik wajahnya dan menciuminya Bibirnya begitu lembut dan terasa seperti stroberi. "Rosie..." Ah...Jarang sekali pria-pria ini mengingat namaku.... Ia menumpu kepalaku. Merobek ujung bungkus kondom dan mengenakannya dalam satu dorongan. Lalu, membuka pahaku lebih lebar, dan.... Aku menyatu dengan pria asing ini. === Tak butuh waktu lama untuknya tiba. Setelah ia lepas, kupejamkan mata dan menarik napasku pelan-pelan. Temponya sangat brutal, tadi. "Kau tidak apa-apa?" ujarnya sembari melepas kondom dan menggantinya dengan yang baru. "Ya," jawabku. Hanya saja, aku belum tiba, bodoh. Overthinkingku langsung ambil kendali. Aih, benar, kan! Sama saja pria ini dengan yang lainnya. Ingin enaknya saja, lalu membiarkanku terkapar tanpa pelepasan. Lalu, kalaupun aku beruntung, dia akan mengusap-gusap milikku dengan malas dan— Kakiku ditarik. Ia membukanya kembali dan menghujaninya dengan kecupan dan gigitan. Aku berkedip heran, dan ia justru berkedip balik dan tertawa hangat. Lalu, pria ini mengubur wajahnya di selangkanganku. "Mmmh!" Aku sontak menggigit bibir. Ia langsung menjilat klitorisku yang overstimulasi. Lalu turun dan oh-oh— Oooh— Aku mendelik dalam-dalam. Kucengkram kepalanya dengan dua tangan. Mendesah dan terus mendesah—- "Dios mio... you're so loud, Rosie. You'll wake my neighbor up." "Salahmu-" Aku melenguh. "Salahmu, Mr. bear." "Now, now. Shut up. Let me enjoy my meal." Giliran lidahnya yang bergerak. Melingkar, menyesap, berirama dengan ritme. Wajahnya terkubur semakin dalam dan aku mulai gemetar. "He-hey—-" Lalu ia menyesap klitorisku. Gelombang yang sedari tadi kutahan, meluncur tiba-tiba tanpa bisa kukendalikan. Muncrat. Ekspresi terkejut terpampang di wajah kami berdua. "I'm-I'm sorry, I didn't know I could—" "Squirt?" ujarnya dengan santai sambil melepaskan kacamatanya. "Guess someone has been really holding it back, yeah?" Mendengarnya, aku jatuh pusing dan mataku kabur. Kupandangi ekspresi angkuh pria itu. Dengan liur yang masih menetes, ia menenggak. Lalu, menunduk dan meludahi mulutku. Tidak sampai seperdetik setelahnya, menciumku lagi. Lidahnya nenyusup, sembari telapaknya menyangga kepalaku dan kami b******u. Bagai aku kekasihnya.... Namun, belum tuntas pemikiran itu mengawang, Ia membalikkan badanku. Aku baru sempat menoleh ke belakang, sebelum wajahnya mendekat dan berbisik: "Remember: You're getting dicked down by a stranger." Dan ia masuk. Memenuhiku hingga aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. "Again." ==== Temponya awalnya brutal. Tanpa ampun. Bunyi penyatuan kami bisa terdengar hingga lantai atas. Namun, lambat laun, ia melambat; seolah-olah ingin menikmati setiap hentakan, dorongan— "Fuuuck," dia mengutuk. "You're so tight..." lalu mengecup ubun-ubunku. "What a sweet slut..." Ciumannya terus turun hingga ia mengubur wajahnya di punggungku. Lalu, ia membalikkan badanku, mengubur wajahnya di antara belahan dadaku, menyedot kedua putiknya dan aku mengerang. Ia bangkit, memandangi kedua payudaraku yang berguncang karenanya dengan puas, dan melingkarkan jemarinya di leherku. Sembari mencekik, kepalanya turun kembali untuk menyesap dadaku. Keringat kami bercampur. Desahan kami menjadi satu ritme, tubuh kami jadi satu dalam ketukan-ketukan beringas. Ia tidak menahan dirinya lagi. Maka, kurengkuh tubuhnya dan menoreh bahunya dengan cakaran. Napasnya hangat. Kubelai pipinya dan mendesah keras. Paru-paruku hampir kehabisan oksigen dan gairahku begitu menikmatinya. Lantas, Ia menggelengkan kepalanya. "Gila," umpatnya, lantas memompa lagi. "Gila, gila, gila. Your and your p***y is crazy—" Tangannya merangsek ke bawah. Tepat di puncak kemaluanku, dia menekan dan— "Ah!" "—good," dia menyeringai. Memainkan belahan dadaku bagai itu melepas stresnya, dan ia membalikanku lagi. "Be-bear—" "Too rough, hmm?" Dia meraup rambutku dan memacuku. Hentakannya semakin menggila. "N-no." Aku menggigit bibir sekencang-kencangnya. "I'm gonna come." Kegirangan hampir pecah dari mulutnya. "Then do." Tak sedikitput peduli, ia tetap berlanjut. Lima menit sudah berlalu, dan aku menungging dengan kaki gemetar, berusaha memohon ampun pada pria yang terus menyetubuhiku bagai tiada akhir. "Be-bear—" "Need help?" "Uh-huh." Lantas, Ia membekap mulutku. Udara di paru-paruku tertahan, meninggalkan sensasi dan desakan yang begitu kuat. Oksigen yang minim mengacaukan kepalaku, sementara pria itu terus memacu. Terus mendesak, mendesak, dan— Awalnya, aku tidak sadar bahwa kakiku bergoyang. Lalu, aku merasakannya. Goyangan--tidak, gemetar yang dahsyat, menjalar dari inti hingga ke ujung kakiku. Aku hampir jatuh rebah karenanya. Kurasakan cairanku sendiri membasahi milikku. Namun, belum sampai seperdetik, Bear kembali mengangkat dan menyetubuhiku. "Bear, wait—" Pinguin, kataku dalam hati, tapi aku tidak mengatakannya. Masih dengan tempo penyatuan yang sama brutalnya, ia membenamkan wajahnya di leherku. Membisikkan desahan demi desahan di ujung telinganku, lantas menciuminya dan meninggalkan bekas. Kurasakan seringainya terbentuk seraya ia menarik kedua lenganku dan memacu lebih cepat dan lebih cepat lagi. Lidahku terjulur, dan aku mendelik. Gelombang overstimulasi menghantam intiku, dan aku memejamkan mata. "Take it, haah—" ujarnya sembari tersengal-sengal, dan merengkuh tubuhku sepenuhnya,"—Rosie..." Dan, Ia melepaskan dirinya kepadaku. Detik dan detik berlalu. Kakiku yang sudah lebih lembek dari jeli akhirnya menyerah. "Pi-pi—" Mata si beruang membulat, dan ia berhenti seketika. Berusaha menahan lenganku agar tidak jatuh. Namun terlambat—-kurasakan kondom yang mulai menggelembung di dalam. Ia mencabut, dan— "Pinguin," kataku sebelum benar-benar ambruk. === Kelelahan hampir menggelapkan mataku.Kurasakan dadaku yang naik turun, tubuh telanjangku yang terkena angin dingin dari AC, dan.... ....Bear yang mendekat dan membelai keningku. "I'm sorry," bisiknya sambil duduk di sampingku. "Aku keterlaluan, ya?" "N-no," bisikku pelan. "No. You were amazing. I—" kuhirup napas, "—love it." Aku menyunggingkan senyum. Aku tidak percaya bahwa aku baru saja tidur dengan orang asing. "Aku cuma kelelahan aja, kok." "You were too, Sweet Rosie," kata si pria beruang yang manis, dan mengecup bibirku untuk yang terakhir. "You were so amazing. I'll get the towel." Sweet...Rosie...? Ia membuang kondom yang masih menyangkut, dan berjalan keluar kamar. Kembali dengan handuk basah, ia mengelap wajah dan selangkanganku dengan kelembutan yang tidak pernah kurasakan dari seorang pria sebelumnya. Setelahnya, Ia berbaring di sampingku dan kami kembali menyatu dalam pelukan. Tubuhnya begitu besar, aku seperti ditelan dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk kepalaku. Sebelum terlelap, dapat kuhirup wangi vanilla hingga ubun-ubun. Malam itu, aku begitu beruntung. Love bites memenuhi tubuhku, namun aku merasa jadi gadis paling beruntung sedunia. Malam itu, sebelum aku tahu begitu bahwa Bear akan menghantui hidupku, untuk selamanya. === Epilog. *2 days after* Rosiefluffy (23/10/2021): Hey. Rosiefluffy (23/10/2021): Wanna meet again? To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD