Jemarinya langsung menarik dagu gadis itu.
"Mawar sialan," desisnya. "Apa yang kau lakukan pada tubuhku, hah?"
Myra seketika terpana. Alisnya naik, bingung dengan apa yang Callan katakan.
"Apa maksud—"
"Akui saja. Apa yang kau masukkan ke dalam minumanku hari ini?"
Myra terkejut mendengar tuduhan itu, seketika menggeleng. Tentu saja itu adalah dusta. Tapi suami dinginnya itu makin melotot.
"Rupanya menyerangku tiba-tiba belum cukup baginu. Kau ternyata meracuniku juga, memanipulasi tubuhku. Apa yang kau inginkan, hm? Keluarga mawar b*****h yang menyuruhmu?"
Di dalam kepalanya, Callan dipenuhi rasa frustasi. Satu sifat yang selalu Ia andalkan—dulunya sebagai panglima, dan kini raja—adalah kendali penuh atas dirinya sendiri. Akan tetapi, malam ini, dia seperti kehilangan kontrol.
Sikap Myra hari ini membuat kepalanya berkecamuk. Dan barusan, Ia kehilangan kontrol atas gairahnya sendiri. Bahkan meminta 'lagi' kepada Myra.
Menyedihkan, umpat egonya. Bisa-bisanya dia, membiarkan seorang Rosean menaklukannya?
Tidak mungkin Ia bisa selemah ini. Penjelasan yang paling masuk akal adalah Ia diracuni. Oleh gadis itu.
Mencapai kesimpulan itu, mata amethyst Callan sontak menyala-nyala. Tangannya yang penuh urat itu melingkari leher gadis itu, dan Ia...
...mulai mencekik.
Myra terkesiap, napasnya langsung tertahan. Mata indahnya terbelalak, kaget luar biasa.
Tangannya yang tidak sebanding dengan Callan
berusaha menarik cengkraman di lehernya dengan panik. Namun justru tekanannya menguat. Wajahnya mulai membiru. Air matanya, perlahan mulai berjatuhan.
"Yang Mulia..." rintih Myra dengan gemetar.
Isakan pedih itu, membuat gelap di mata sang raja menghilang sebentar. Ia masih menatap Myra dengan tajam, namun netra cokelat itu hanya memancarkan pilu ketakutan.
Menyipitkan mata, Callan mengendurkan cengkramannya. Diam-diam menyesali kesimpulannya yang gegabah.
Myra, seketika jatuh tersungkur di atas kasur, napasnya tersengal-sengal. Memegangi tenggorokannya yang sakit luar biasa.
Melihat itu, ada sedikit rasa iba muncul di hati Callan, tapi Ia berusaha menghapusnya. Tak pernah Ia akan sudi meminta maaf kepada seorang Rosean. Klan k*****t yang sudah membantai habis ayah dan kakak kembarnya. Walau langit pun terbelah, ia tak akan pernah sudi.
Begitulah, sampai gadis itu membuka mulutnya.
"Ma-maafkan aku, Yang Mulia.. Aku ... aku akan segera pergi..." ujar Myra dengan pelan, masih dikuasai syok, segera beranjak dari atas ranjang. Benar-benar takut akan amarah pria itu.
Mendadak, telapak Callan mengepal. Wajahnya kaku, tak ingin Myra pergi.
Belum, dia belum puas.
Dengan pelan, Myra memunguti pakaiannya, namun terasa sesuatu menahan pinggulnya. Belum sempat Ia menoleh, tubuhnya ditarik ke belakang. Kembali direbahkan di atas ranjang.
Callan, dengan tubuh besarnya, memenuhi pandangan Myra lagi. Dengan sigap Ia membuka paha gadis itu. Masih dipenuhi rasa takut, Myra bertanya-tanya.
"A-ada apa, Yang Mulia?"
"Hukumanmu belum selesai."
Callan, dengan matanya yang dingin, menunduk. Ia membenamkan wajahnya di antara paha gadis itu, dan mulai mengisap.
Desahan demi desahannya langsung pecah, seraya Callan mempermainkan sela-sela paha Myra. Ia menyesap pembukaan Myra, sebelum kemudian menyusup ke dalam.
"Ahnn ... Mhnnn ..."
Tangan mungil Myra meremas kain kasur dalam-dalam, jari-jari kakinya meremas, tenggelam dalam nikmat. Semua jenis lenguhan lolos dari mulutnya.
Belum pernah suaminya itu memperlakukannya begini. Callan terus mempermainkan intinya. Menyesapnya seperti kehausan.
Jadi ini? Jadi ini yang dulu digosipkan gadis-gadis di seluruh Avendra tentang suaminya itu? Napasnya terengah-engah. Puncaknya terus mendesak.
"Pa-Paduka," panggilnya dengan serak. Ia yang terkejut, kehabisan kata-kata. Wajahnya memerah saat melihat Callan masih terus bermain dengan lidahnya.
Tak menjawab, Callan lantas menyesap kuat-kuat. Langsung menarik puncak Myra secara paksa. Erangan nyaring, yang bahkan tidak Myra kenali lolos dari bibirnya. Cairan lantas meleleh keluar dari dalamnya.
Tersenyum bengis, Callan menyeka cairan bening itu dengan jari, lantas menyisipkannya pada bibir gadis itu, merasakan hasilnya sendiri. Basah sempurna. Gadis itu sudah siap.
Dengan mata yang kembali menyala, Myra menggapai lengan pria itu, lantas menjilat jarinya hingga bersih. Ia bahkan mencium jarinya. Kembali tenggelam dalam alkohol.
Callan lantas naik, memposisikan dirinya di atas Myra yang berantakan. Di tengah dingin malam, napas keduanya yang berantakan terdengar jelas.
"Yang Mulia," bisik Myra lagi. Jemarinya naik, menyusuri d**a bidang sang raja. Kakinya melingkari pinggul Callan, bersiap.
Sang raja menunduk, suaranya parau. Dipenuhi nafsu, dan...
damba.
"Myra."
———————————————
Tanpa aba-aba, Callan langsung menghujam di bawah. Melampiaskan hasratnya yang sudah menumpuk. Dan mempermainkan d**a Myra tanpa henti.
Entah berapa kali dia mencapai puncak malam itu. Tubuh istrinya terus bereaksi, melayaninya dengan riang. Suara manja Myra memperparah hasratnya.
Gadis itu terus mencumbunya, terus menciumi d**a bidangnya dengan lembut. Sesekali juga saat pria itu menghentak kasar, bekas cakar Myra terpatri di punggungnya.
Belum puas, Ia merengkuh pinggang Myra, lantas membalikkan gadis itu hingga tengkurap, kemudian memasukinya lagi. Punggung mulus gadis itu, dan bokongnya yang padat mampu membuat Callan terengah-engah.
Tubuh istrinya ini sempurna, sungguh. Jika alasannya hanya ini, maka Callan tidak akan pernah menyesal sudah menikahi Myra dengan paksa.
Andai alasannya semudah itu.
Cengkraman gadis itu pada kasur semakin kuat. Berguncang, gelombang ekstasi mengaliri tubuhnya, dan Ia pun tiba untuk yang kesekian kalinya.
Di tengah-tengah permainan, gadis itu mendongak. Di dinding, telapaknya yang kecil menempel, dan di sebelahnya, telapak Callan yang besar. Tangan yang dapat melindunginya.
Mungkinkan?
Tenggelam dalam buaian, Ia meraih tangan itu, sementara pemiliknya terus bergerak di belakang. Tapi tak lama, karena kemudian, Callan membalik tubuhnya kembali.
"Jangan sembarangan menyentuhku," geram pria dengan kesal pada gadis di bawah tindihannya. Namun Myra justru mengerjap nakal.
"Tapi kau menyukainya, bukan?" Sang ratu mengulang perkataannya sambil tersenyum. Tangannya merambat ke otot perut Callan, mengelusnya dengan ujung jemari.
"Tutup mulut," ancam sang raja yang kesal. Makin emosi, Ia menangkup mulut Myra dengan paksa, lantas menciumnya dengan brutal. Lidahnya memaksa masuk, tautannya erat, membuat gadis itu hampir kehabisan napas. Menghukumnya kembali.
Hawa tubuhnya terus memanas, dan pikirannya kalut. Penuh dengan hasrat yang ia rasakan untuk gadis itu, rasa benci akan hasrat itu, dan kenikmatan yang mengitari kepalanya. Tanpa sadar, ia melingkari pinggang Myra, mendekap demi kehangatannya lebih dekat.
Seraya hentakan Callan semakin cepat, suara-suara m***m dari mulut gadis itu lolos, lolos, dan lolos. Ia menggeliat tak karuan di bawah, benar-benar tenggelam dalam nikmat. Tak butuh waktu lama untuk sensasi itu—puncak yang menyeluruh ke seluruh tubuh—melanda Myra hingga Ia mengerang nyaring. Di atas, suaminya tersenyum dengan sinis.
"Perkatanku benar, kan?" ejek Callan dengan menggunakan nada suara Myra tadi.
"Yang mana?"
"Ini," sedikit melambat, Callan meraih hasil pelepasan Myra dengan jarinya, lantas menunjukkannya pada gadis itu.
"Tingkahmu seperti jalang."
Dalam saat inipun, bencinya pada Rosean belum juga luntur.
Akan tetapi, kejutan belum selesai rupanya. Karena gadis itu balik menarik tangan Callan paksa, lantas mulai menjilatinya.
Terus menatap pupil keunguannya saat melakukan itu, dan Ia pun berucap:
"Dan entah kenapa, kau tidak bisa berhenti meniduriku, Yang Mulia," ucap gadis itu, dengan jemari Callan dimainkan lidahnya.
Snap.
Dalam satu hempasan, Callan membalik tubuh Myra, dan menghujamnya kuat-kuat dari atas. Kali ini, gerakannya tanpa ampun. Kasar dan cepat, melampiaskan seluruh dilema dan kecamuk di kepalanya.
Suara-suara m***m gadis itu belum cukup. Meraup rambut merah yang bertebaran, ia mengangkat kepala Myra dari atas kasur.
"Katakanlah, bagaimana rasanya, huh? Melayaniku? Bagaimana rasanya dipakai olehku?"
"Se-sempurna..nikmat, Yang Mulia...ahn–"
Satu tamparan lagi mendarat di b****g Myra.
"Baiklah. Dengan senang hati, kau akan kupakai habis-habisan malam ini, ratu kecil."
Callan mengangkat tubuh padat itu ke dekapannya, sementara terus meneruskan temponya di belakang. Telapaknya meremas dan menjamah pinggang, d**a, hingga pipi Myra. Sementara mulutnya menanamkan memar-memar ungu di leher dan pundak gadis itu. Yang pasti, tanda-tanda itu tidak akan hilang besok.
Daripada rintihan, yang Callan dengar justeu lenguhan. Oleh karena itu, Callan menggeram.
"Apa yang kau rencanakan, hah?"
"Tidak ada, Yang Mulia. Sungguh tidak ada. Salahkah jika istrimu meminta jatah?"
"Meminta jatah dengan merantaiku? Ratu kecil—"
Callan menekan lidahnya semakin dalam.
"—kau mencari bahaya."
Tautan keduanya tak lepas, ketika Myra justru meraih telapak Callan, dan menaruhnya tepat di atas dadanya.
Ia menampar b****g Myra lagi dan menggapainya mendekat. Terus mengerang, tempo Callan berubah animalistik. Dengan suara hantaman kulit, dan lenguhan keduanya yang berpadu, Callan memejamkan mata, dan mencapai puncaknya. Di saat yang bersamaan, milik Myra juga mengejang. Manik cokelat itu mendelik ke atas dalam-dalam, tenggelam dalam gelombang gairah yang tidak ingin dia lepas lagi.
Di titik ini, yang seharusnya mereka inginkan adalah tidur. Namun tidak. Bagaikan gila, keduanya mulai b******u, sementara sang raja menghimpit tubuh sang ratu pada dinding.
Menit demi menit. Jam bahkan berlalu. Dan guncangan di dalam kamar itu terus menerus berlangsung. Berbagai posisi. Erangan. Lenguhan. Sentuhan.
Keduanya terus menyatu seperti tak ada akhir.
Hingga pada akhirnya, Callan melepaskan dirinya untuk yang terakhir kali. Dia mengerang, tubuhnya terasa makin sakit.
Dengan posisi yang awal, Ia terjatuh ke atas Myra, benar-benar kelelahan. Matanya tertutup rapat, dan Ia tahu. Ini konsekuensi yang harus dia terima, sejak memutuskan untuk melepas kontrol diri seperti tadi.
Tapi persetan, umpatnya. Semuanya sepadan.
Sementara itu, dari balik mata cokelatnya, Myra memandang Callan yang terengah-engah dengan iba. Hati gadis itu sungguhlah lembut dan sensitif, sebenarnya. Maka dari itu, sadar atau tidak sadar, Ia mengusap-usap rambut gelap suaminya yang berkeringat.
Namun akan sentuhan itu, Callan bangkit, berguling, menjauhi Myra ke samping. Berusaha untuk yang terakhir kalinya, melawan rasa hangat yang muncul dari sentuhan Myra, yang sudah dia hindari dari tadi.
Namun malam itu, ia tak bisa, sungguh.
Entah kenapa, Ia sangat ingin sentuhannya. Callan sendiri heran. Mungkin Ia sudah lelah menolak. Mungkin Ia juga sudah lelah bersikap kasar pada gadis itu malam ini, yang memang tidak ada gunanya. Myra keras kepala. Kata-kata kasar tidak pernah menghentikannya. Mirip pamannya dulu, Raja Godwin Rosean yang Callan bunuh.
Bedanya, Myra selalu penuh dengan kasih. Kekaguman.
Cinta? Mungkin belum.
Kepolosan? Hal itu hilang sepenuhnya hari ini.
Ia tak bergerak lagi. Ratu kecil itu mendekat, mengusap rambut sang Raja, seraya ia mengatur napas. Beberapa saat, hanya hening yang ada. Hingga d**a Callan dapat naik turun secara normal.
Sekilas, Myra menatap ke bawah lagi. Matanya tak lepas dari milik Callan yang mulai melemah. Sehingga, Myra menundukkan wajahnya, mengecup benda itu satu kali, kemudian menutupinya dengan selimut. Lalu, dengan manja, dia merebahkan kepalanya di d**a sang Raja. Menempelkan telapak tangannya dengan senyum.
Tingkahnya sangat polos. Rasa hangat yang nyaman timbul di hati Callan. Dan kali ini, itu bukan gairah. Hanya perasaan nyaman. Dia tidak mau menolaknya lagi.
Dia mengelus bahu gadis itu, menyusuri rambutnya, dan membelainya pelan. Gadis itu berbaring di dadanya dengan lugu. Sisi liar istri kecilnya itu mulai menghilang, tersisa Myra yang lembut dan manis.
Myra tak pernah bilang, namun tiap Callan mendekapnya, rasa nyaman selalu muncul di dalam dadanya. Walau sang raja tidak mencintainya. Walau sang raja membenci klan dan dirinya sendiri setengah mati.
Walau dia hanya sekedar penghangat ranjang baginya...
Penghangat ranjang.
Langsung tersadar akan realita, Myra seketika bangkit, buru-buru meraup kembali pakaiannya.
Barulah Ia teringat peraturan, setelah melayani Callan, Ia wajib kembali ke kamarnya.
Namun tanpa disangka, saat dia mencoba berdiri, Callan justru menahannya, menarik Myra, dan mengalungkan lengan mungil itu pada lehernya.
"Tinggallah," ujar sang raja, nadanya tenang.
Pupil karamel Myra membulat.
"T-tapi Yang Mulia, ratu Adela akan-"
"Yang jadi suamimu siapa, hum? Aku atau ibuku?" tanyanya tegas, hingga Myra menelan ludah.
"A-aku hanya takut dihukum, Callan."
Mendengar cicitan itu, nada suara Callan melembut. Ia mengusap rambut Myra perlahan, membuat gadis itu menggeliat lagi.
"Tidak, kau tidak akan dihukum dengan izinku. Tinggallah di sini."
"Mmm.. baiklah," ujar Myra yang tersenyum senang. Dia merengkuh leher Callan, mencium pipi pria itu, dan mata karamelnya mulai menutup.
"Selamat malam, Yang Mulia."
Perlahan, napasnya mulai melambat, dan tak butuh waktu lama, Ia tertidur.
Rambut merah terangnya bersinar, sesekali tertiup angin malam. Di bawah temaram cahaya lilin, pipinya bersemu merah muda. Bulu matanya lentik, menambah keindahan wajahnya.
Dia cantik. Cantik sekali, malah. Myra Rosean, pewaris tahta raja Godwin, permata Avendra. Keindahannya berbunga-bunga di usia tujuh belas musim semi.
Tidak pernah dia menganggap julukan istrinya itu serius. Tapi malam itu, Callan tersenyum, sedikit. Senyuman tulus yang tak pernah Ia tunjukkan pada Myra.
Baiklah. Sebutan itu bukan mengada-ada. Dia akhirnya mengakui bahwa itu nyata.
Bersamaan dengan itu, sebuah rasa, walau kecil, walau mungil, mulai bangkit di dadanya.
Rasa egois. Ia tak ingin gadis ini disentuh orang lain, Ia tak ingin keindahan yang terpancar ini sampai ditemukan orang lain.
Karena Myra punyanya seorang.
Walau pernikahan mereka—bagi Callan—hanya alat semata baginya untuk merebut Avendra dari kuasa klan Rosean.
Tapi setidaknya, gadis ini tetap miliknya, bukan? Sekalian saja dia nikmati keberadaannya.
Setelah pengakuan itu, tubuh istrinya makin terasa nyaman di dadanya, lantas membuat napas Callan semakin normal. Hingga tak butuh waktu lama, ia juga ikut tertidur.
Malam itu, walau kelihatan mustahil, turunan mawar dan lavender—yang dulunya saling membenci—kini saling mendekap. Tidur dalam kehangatan satu sama lain.
"Selamat malam, mawarku," gumam Callan dalam tidurnya.
————-
Epilog
————-
"AAAAH!"
Pekikan sontak membangkitkan Callan dari tidurnya. Sang raja terbangun dengan siaga. Siapa tahu ada serangan mendadak di istana Warrington.
Namun, yang Ia dapati hanya istrinya yang pucat pasi, sedang menutupi tubuhnya erat-erat dengan selimut. Pemandangan yang jauh kontrasnya dengan kemarin malam.
"Ap-apa yang terjadi?!" tanya gadis itu panik. "Apa yang terjadi tadi malam?!" Wajahnya memerah, panik setelah mengintip tubuhnya dari balik selimut. Ada memar, biru, dan bekas gigitan. Sisa-sisa aktivitas mereka.
Callan terkejut. Masakan gadis itu tidak ingat? Setelah sikap ganasnya tadi malam?
"Kau mendatangi ranjangku," Callan mengusap hidungnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi badannya, memperlihatkan bekas-bekas gigitan yang ditinggalkan Myra tadi malam. "Lalu kau merayuku. Lihat? Ini karenamu juga. Jadi kita melakukannya semalam."
Sesaat setelah selimut Callan tersingkap, pandangan Myra kosong. Jiwanya seperti meninggalkan badannya untuk seperdetik.
Saat sedetik kemudian nyawanya kembali, spontan darah naik ke wajahnya. Mukanya makin merah, seperti kepiting rebus.
Reaksi itu membuat Callan memiringkan wajahnya. "Kau sama sekali tidak ingat?"
Gadis itu menggeleng kuat-kuat. Wajah cantiknya masih terbelalak.
Ada rasa kecewa menyentuh hati Callan. Padahal, malam tadi adalah malam terbaiknya setelah sekian lama. Namun, Myra bahkan tidak mengingatnya sama sekali.
"Ya sudahlah," gubrisnya. "Sudah terjadi. Lagipula, melihat sisa-sisa yang kau buat ini, aku yakin kau tidak mau mengingatnya. Lupakan saja," ujar Callan sembari membuang muka. Tak ingin raut kecewanya terlihat.
Lupakan yang terjadi?
Haha. Siapa yang kau bohongi, Callan Lavendar?
Muka Myra makin memerah setelah tahu kalau bekas keunguan, kemerahan, dan beberapa goresan yang terpatri di tubuh kekar di depannya itu adalah hasil perbuatannya. Ia terlihat sangat salah tingkah. Sehingga dengan masih memasang raut malu, dia perlahan beranjak dari kasur.
"Bolehkah aku pergi, Yang Mulia?"
Callan mengangguk. Secepat kilat ,tanpa pikir panjang, Myra bangkit dari kasur, menggapai gaun tidurnya, dan membungkuk pamit. Kemudian ia membuka pintu, dan pergi.
Klik.
Setelah sepi, Callan menghempaskan dirinya sendiri ke ranjang. Rasa kecewa masih menyengat hatinya.
Teringat apa yang mereka bagi tadi malam. Teringat sikap berani gadis itu. Teringat perlakuan manis Myra yang berhasil menghangatkan hatinya.
Tapi setelah semua itu, Myra kembali menjadi siapa dia sebelumnya. Bahkan, Ia tidak mengingat apa-apa.
Namun, ada suara kecil di hatinya yang berkata, bahwa Myra tadi malam dan pagi ini memang orang yang sama. Tidak berubah. Suara itu bahkan menduga kalau Myra sedang berbohong.
Callan memejamkan matanya. Pikirannya kembali berputar pada apa yang dikatakan gadis itu tadi malam.
"Apa yang engkau maksud, Paduka? Aku memang selalu seperti ini. Kau saja yang tidak pernah...menyadarinya."
Apakah itu benar? Apakah Myra tadi berpura-pura saja?
Huft. Callan lantas menarik selimutnya lagi. Entahlah. Berbagai spekulasi muncul di kepalanya. Siapa yang dapat menyangka, gadis mungil itu dapat mengacaukan pikiran raja yang punya puluhan armada?
Ia membuka mata, meraih selimut warna ungu kesayangannya. Lembut, masih hangat, dan kini, beraroma mawar, khas gadis itu.
Wangi kehangatan Myra masih tertinggal di setiap helaian kainnya. Sehingga Callan menciuminya. Menyesapnya, lagi dan lagi, bagai candu.
Dengan harum kain itu dalam genggaman, Callan berjanji. Jika perkataan itu benar, jika Myra mengatakan yang sebenarnya ...
Atas nama langit, atas nama bintang yang menghiasi langit kerajaan Avendra, Callan berjanji. Ia berjanji akan mencari tahu.
Karena Myra punyanya seorang.
—————————————————
Sementara itu, di balik dinding, si gadis belia sedang bersandar di kamarnya. Rambut merahnya teruntai hingga pinggang.
Raut nakal yang Ia pasang semalaman kembali muncul. Ia kini sumringah. Tak peduli jika dirinya berjalan pincang. Tak peduli jika tubuhnya penuh memar.
Mencium aroma dari gaun yang ia pakai, Myra terkekeh kecil. Kain yang dipenuhi harum lavender. Semua memori tadi malam, terus berputar di kepalanya. Berputar, berputar, dan berputar….
Dia tersenyum.
Rencananya berjalan dengan sempurna, sangat sempurna.
The End. Maybe.
******
Dulu saya pernah unggah cerita mereka, tapi kayaknya kurang yang baca. Jadi unpublish deh wkwk. Saya fokus ngerjakan Cold sekarang, jadi buku ini ditinggal sementara. Cheers!