Lunched -I

1685 Words
"Kabar baik, Pak Mardika. Saya sudah menemukan alasan mengapa terjadi kebocoran dana akhir-akhir ini." Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berusaha rileks. Dia harap, kebocoran itu bukan berasal dari kemungkinan adanya pencucian uang yang sekretarisnya temukan beberapa hari lalu, atau dari bank yang baru saja menandatangani surat kerjasama dengan perusahaannya selama 2 bulan. "Saya berhasil menelusuri jejak-jejaknya, dan saya sepertinya menemukan akarnya. Akarnya ada di antara pegawai HRD," lanjut Terra, Kepala Manajer Keuangan PT Sasongko. "Oh ya? Apa ada kemungkinan jaringan atau persengkongkolan?" Terra membolak-balik kertas yang dipegangnya. "Sejauh ini tidak," ungkapnya. "Karena jejak kebocoran yang saya temukan hanya berakhir pada satu nama." Anggota rapat lainnya, para kepala 17 Departemen, ikut menyimak. Jari Terra menyusuri lembar kertas. "Nadya A. Tunggadewi" Gavin tersentak. Nadya? Batinnya terperanjat. Hampir menjatuhkan pulpen di genggamannya. Namun, segera dia menenangkan diri. "Surat PHK segera saya keluarkan," tandas Yulia, sekretarisnya. Namun, Gavin spontan mengangkat jarinya. "Tunggu dulu, Lia," cegahnya. "Dana yang dibocorkan, dialokasikan kemana?" Pria itu kembali menoleh kepada Terra. "Hmmm, sejauh ini... hanya untuk pengadaan beberapa alat tambahan di kantor, Pak." Gavin berpikir lagi. Mungkin, divisi HRD memang kekurangan dana? 25 menit setelahnya, Gavin menemukan jawabannya. Iya. Nampaknya, para pegawai divisi HRD kekurangan tunjangan akhir-akhir ini, sebagai imbas dari kerjasama PT Sasongko dengan salah satu perusahaan batubara di Kalimantan. Dana yang biasanya digunakan untuk bonus dan pengadaan fasilitas Departemen harus terpotong. Sementara, ekspansi besar-besaran perusahaan membuat HRD harus bekerja ekstra, dikarenakan banyaknya lowongan yang dibuka. Gavin mulai paham. Catatan perempuan itu juga menunjukkan, bahwa tidak sekalipun Nadya mengambil uang-uang itu untuk dirinya sendiri. Namun, sikap itu tetap tidak bisa dibenarkan. Walau ketika yang melakukannya adalah Nadya. Setelah membubarkan rapat, dia meminta Yulia untuk memanggil wanita itu, Nadya Almira, ke ruangannya. Saat jam makan siang. Dia akan menemuinya lagi. -------------------------------- Perempuan itu berjalan. Naik ke lantai 7, lurus, kemudian berbelok ke kanan. Dia berhenti di depan pintu sebuah ruangan. Ruang Arsip. Persis di depan pintu itu, terdapat suatu ruangan di pojok dengan pintu berdebu. Seperti ruangan yang terbuang. Wanita itu merogoh roknya, membuka pintu berkaratnya dengan kunci, dan diam-diam, menyelinap masuk. Di dalam ruangan itu, satu rak buku besar menjulang. Nadya meraih buku bersampul merah, mengungkap satu gagang dibaliknya. Dia menarik perlahan gagang itu, dan membuka pintu dalam satu ruangan lainnya. Wujudnya seperti kamar tidur biasa. Di atas sofa abu-abu, seorang pria duduk merenung penuh spekulasi. Jasnya tersampir di sandaran kursinya. Sosok yang Nadya langsung kenali. Gavin Mardika, Direktur Utama PT. Sasongko. "Bapak mencari saya?" Pria itu menoleh. Sudah menanti kedatangannya. --------------------------------------- "Manipulasi data, dengan alasan apapun, bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, Nona Nadya," timpal Gavin. "Walau uangnya tidak kamu kemana-manakan. Saya tahu kalau kamu bisa ganti. Tetap, itu bukan sesuatu yang bisa saya acuhkan saja." "Ya, saya setuju sekali pak. Akan tetapi, kesejahteraan karyawan, sudah merupakan tanggung jawab saya di divisi HRD," sanggah Nadya lagi. "Hanya ini cara yang bisa saya lakukan agar isu Departemen kami dilirik oleh kantor." "Ya, saya setuju sekali, Nadya," tiru Gavin jengkel. "Tapi, tindakan itu tetap berada di bawah pantauan saya." Dia menarik nafas. "Kamu seharusnya melapor." "Bukan hanya karena kamu spesial, otomatis membuatmu bukan bawahan saya. Saya masih atasanmu, saya berhak atas laporan sepenuhnya tindakanmu." Nadya memutar matanya. Padahal jelas kan, bahwa karyawan kantor akhir-akhir ini kesusahan? Tunjangan hari raya terpotong. Snack di dapur sudah tidak ada lagi. Jam kerja bahkan tidak dikurangi. Sudah hampir 10% dari karyawan melarikan diri, ditengah-tengah ekspansi. Jika karyawan yang ada saja minggat, bagaimana nasib perusahaan? "Kamu bisa konsultasi itu ke saya. Saya bukan bos yang buta." "Wah, kalau itu sih, sudah pak. Sudah berkali-kali malah. Dan saran saya semuanya berakhir di vote keluar oleh para Kepala 17 Departemen, kecuali HRD," balas Nadya tajam. "Sebaiknya, bapak belajar lagi bagaimana menjadi atasan yang baik." Ucapan itu membuat telinga Gavin berdiri. Kepalanya mulai panas. Dia ingin membalas, namun dia melirik jam. Waktu makan siangnya hanya akan terbuang sia-sia. Dan dia tahu persis, Nadya adalah orang yang idealis, ingin semuanya sempurna tanpa cacat. Namun, kadang harapannya kurang realistis. Ditambah, keras kepalanya bisa disamakan dengan batu. Perlu tenaga ekstra untuk menyakinkan dirinya. Gavin menghela napas. "Sudahlah, buatkan saja saya kopi. Sebelum kepala saya meledak karena sikap kamu itu." "Oke." Nadya melenggang, dia beranjak dari atas kasur. Dia menyalakan mesin kopi diatas meja, kemudian meraih mug putih. Gavin melirik. Memandang sosok wanita itu dengan sinis. Dia ingin, ingin memberi Nadya pelajaran. Sekali-kali saja, agar setidaknya perempuan itu tidak menjadi kurang ajar. Matanya menerawang, memandangi lekuk tubuh Nadya yang membelakanginya. Snap, Gavin pun terpikir sesuatu. Perlahan, dia ikut beranjak dari kasur, dan berdiri persis di belakang wanita itu. Sembari menunggu mesin, Nadya mengikat rambutnya ke dalam bentuk sanggul. Melihat leher jenjang yang diperlihatkannya, hasrat di dalam pria itu semakin bangkit. Nadya hendak memeriksa kopi di dalam mesin, ketika dia merasakan lengan Gavin mulai melingkari pinggangnya. Segera, pria itu merengkuh tubuh Nadya ke dalam dekapannya. Mulai menyapukan bibirnya dengan kulit lehernya. Gavin menarik kemeja putih yang Nadya kenakan, juga menyingkap bahu miliknya , dan mulai menyesap, menikmati kulit Nadya secara perlahan. Nadya menegang. Sial. Tubuhnya diam, mencoba melawan hasrat yang juga mulai bangkit di dalam dirinya. Dia kembali berfokus membuat kopi, mencoba untuk acuh tak acuh, sementara atasannya itu menggerayangi tubuhnya. Baru saja ia menuangkan air ke dalam mug, ketika dia merasakan kemejanya ditarik kembali. Gavin lagi. Tangannya menyusup dari bawah, memasuki kemeja Nadya, dan mulai meraba gundukan miliknya yang masih terbungkus bra. Oke, cukup. "Yang terhormat Pak Mardika," ujar Nadya tegas, namun sedikit tercekat, berusaha menahan gairahnya yang juga mulai bergejolak. "Saya ingin mengingatkan kalau sekarang adalah jam makan siang. Sehingga saya sarankan, lebih baik bapak segera menikmati makan siang, mengingat waktu istirahat yang singkat-" Gavin tidak menggubris. Tentu saja. Pria itu kembali membenamkan wajahnya pada leher Nadya, sementara kedua tangannya sudah menyelinap ke dalam bra milik bawahannya itu. Dengan ibu jarinya, Gavin mulai mengusap putik coklat dari p******a Nadya, mulai mengeras. Nadya terkesiap. Gavin menyeringai, tahu persis bahwa wanitanya itu mulai terangsang. Dia terus mengusap hingga putik itu menegang sempurna. Nadya membatin. Mencoba tidak menghiraukan walau tubuhnya sedang dilecehkan. Kopi buatannya sudah siap. Dia menoleh ke atas, mencoba tidak melihat asetnya yang sedang dimainkan, sembari menggeser mug ke samping, memberikannya kepada bosnya itu. "Kopinya, pak." Seperti yang dia duga, Gavin masih tidak peduli. Kedua tangannya sibuk memainkan buah d**a miliknya, dan terus menghisap lehernya, menggigitnya pelan. "Pak," Nadya mulai mengeraskan suaranya. Tidak ada tanggapan. Dia bertumpu pada ujung meja. Menghela nafasnya yang mulai kacau. "Pak!" ucap Nadya lantang, setelah Gavin meremas d**a kanannya. Dia menggigit bibirnya kencang-kencang, berusaha agar desahannya tidak lolos kali ini. Yang dipanggilnya pun akhirnya menoleh ke arahnya. Namun tak kunjung menanggalkan tangannya. Keduanya masih tetap memainkan milik Nadya sembari menatapnya nakal. "Apa?" "Kopinya, pak." Gavin memutar bola matanya. Tidak penting. Dia kembali menunduk, kembali ke aktivitasnya, sebelum perkataan Nadya mencegahnya lagi. "Begini pak. Saya sarankan agar bapak mengkonsumsinya, siapa tahu bisa mengisi kekurangan bapak sebagai direktur setelah rapat tadi." Gavin terdiam. "Ulang." "Ulangi apa ya pak?" "Bagian terakhir," Gavin menggeram. "Oh," Nadya tersenyum tipis. "Demi mengisi kekurangan bapa-AH!" Sontak, satu lenguhan akhirnya lolos dari mulutnya. Putingnya terasa disengat, akibat kuat-kuat oleh Gavin. Namun ia menggigit bibirnya. Mengangkat wajahnya congkak, dia belum ingin kalah. "Oh, jadi ekspresi aroganmu itu tetap tidak mau hilang?" Nadya tidak menjawab. "Mungkin akan hilang, kalau kamu sudah terkapar di atas situ." Gavin menunjuk kasur di samping mereka. "Lemah, tidak berdaya. Bagaimana menurutmu, Nadya?" Gavin memiringkan kepalanya. "Ingin mencoba?" Nadya menelan ludah. "Jawab saya, Nona Nadya." Gavin menatap netra coklatnya angkuh. Namun, wanita itu tetap tidak menjawab. Memalingkan mukanya. "Nona Nadya." Mata Gavin menatapnya tajam. Wanita itu kemudian menunduk. Kembali menghindar tatapannya. Gavin mulai tidak sabar. "Nona Nadya, jawab." Gavin mulai kehabisan akal, ketika satu ide terbesit di kepalanya. "Atau harus saya bilang, Nyonya Nadya?" Gavin menyeringai sempurna. Bulu kuduk Nadya tegak mendengar itu. Dia menoleh ke belakang, menatap Gavin sekali, sinis, kemudian membuang pandangannya jauh-jauh. "Urusan pribadi saya, bukan urusan bapak di kantor ini." "Munafik," sergah Gavin. "Keberadaan kamu di perusahaan ini, Nadya, justru hanya karena urusan pribadi kita." Gavin mengeratkan dekapannya. Kedua pinggul mereka bertemu. Sesuatu yang keras mulai tumbuh di celana Gavin. Nadya menelan ludah. Tangan Gavin kembali bergerak. Kali ini kebawah. Ke balik rok Nadya, tepatnya. Cukup. Nadya mencengkram erat tangan pria itu. Menghentikannya. "Jika bapak melanjutkan ini, saya tidak akan segan-segan berteriak." Sesaat, Nadya merona ketika malah mendengar kekehan serak Gavin. Akan tetapi, tatapan pria itu mengeras. Tangan kirinya kembali ke atas, menyusuri tubuh Nadya bagaikan kepunyaannya. Telapak tangannya sampai ke pipi Nadya, mengelusnya pelan. Nadya sedikit tersipu, sebelum Gavin terkekeh lagi. "Silahkan. Silahkan berteriak," ujarnya mantap. "Biar suaramu terdengar, biar satu kantor berdatangan." Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Nadya, berbisik. "Biar satu kantor tahu, siapa kamu sebenarnya." Mata Nadya membulat sempurna. Dia tertegun. Hasrat Gavin memuncak melihat reaksi wanitanya itu. Sejurus kemudian, Nadya merasakan tubuhnya melayang. --------------------------------------- Tubuh Nadya terhempas di atas kasur. Tersentak, dia langsung merasakan sosok Gavin di atasnya. Garis rahangnya mengeras, pandangan di matanya semakin tajam. Belum sempat Nadya bereaksi, Gavin menindih perutnya dengan lutut, menahannya sebelum dapat melawan. Dia menangkap kedua lengannya, dan mulai membuka kunci ikat pinggang dengan satu tangan. Nadya membulatkan mata, mencoba mendorong tubuh Gavin sekuat tenaga dengan telapaknya. Namun Gavin, malah semakin menekan tindihan lututnya. Dengan kasar, pria itu melepas ikat pinggangnya, menyatukan kedua tangan Nadya di atas kepalanya, lantas mengikat keduanya kencang. Mengunci gerakan sepenuhnya. Kemudian, Gavin berlutut di sampingnya, sigap menahan kedua kakinya. Dia membuka mulutnya, mencoba mengatur nafasnya, sembari menatap mata Nadya. Penuh hasrat. Muka Nadya merah padam melihat pemandangan itu. Dirinya mencoba menendang, namun usahanya hanya disambut dengan pegangan Gavin yang semakin mengerat. Nadya menghela nafas. Ia tidak berdaya, sementara perkelahian singkat mereka membuat gairah di dalam dadanya juga semakin meningkat. Arogansi yang tadinya ada semakin menipis. Lagipula, badan Gavin jauh lebih besar darinya. Percuma saja. Perlahan, Ia memejamkan mata. Hampir pasrah. Dia sudah tahu alamat nasibnya hari ini Melihat semangat Nadya yang mulai patah, Gavin tersenyum senang. Akhirnya, setidaknya dia berhasil membuat Nadya takluk kali ini. Rangsangan akibat egonya makin memuncak. Dia melepas dasinya dengan satu tarikan, dan melepas kancing kemejanya sendiri. Hasratnya makin membara, membuat keringatnya mengucur. Sudah resmi : Nadya-lah yang akan menjadi makan siangnya hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD