Desahan demi desahan lolos dari mulut Lian, bahkan tanpa jari Kenzo yang memaksanya terbuka. Lian meremas kepala Kenzo kuat-kuat.
Ibu satu anak itu terus b*******h akibat perlakuan kasar mantan suaminya di payudaranya. Dia seperti kehilangan akal sehat.
Baru 1 jam yang lalu dirinya menolak kehadiran Kenzo dengan pandangan benci dan ketus.
Sekarang? Dia berkeringat, hampir telanjang, terus melenguh di pangkuan Kenzo yang bermain-main dengan kedua dadanya.
Oh, betapa murahan aku. Lian menyumpahi dirinya sendiri. Namun dia tidak mau kehilangan sensasi ini.
Merasa cukup, Kenzo mencium p******a Lian, dan mengangkat tubuh Lian dari pahanya sejenak. Dia melepas celana jeans-nya dengan tangan yang lain, menyingkap celana boxernya dengan tonjolan jelas dibaliknya.
Kemudian dia menaruh Lian ke pangkuannya lagi.
"Miss him?" Kenzo menunjuk kejantanannya yang menonjol dari balik boxer kepada Lian. Milik Kenzo terlihat besar, lebih besar dari yang Lian ingat.
Pasti karena gym, Lian memutar bola matanya. Mukanya dipenuhi keringat, dan nafasnya tidak teratur.
"Miss him? Lily," tanya Kenzo lagi. Lian masih tidak menjawab.
Tidak sabar, Kenzo menekan pinggul Lian mendekat, membuat inti keduanya yang masing-masing hanya dibalut celana dalam hampir bertemu. Lian meringis, hanya mengangguk. Pikirannya berkelana.
"This poor thing right here, dia bengkak, Yan. Because of you. So...."
Kenzo memotong kalimatnya sekilas, mencium perut Lian.
"....kamu harus tanggung jawab."
Lian memerah, membayangkan benda itu memasuki dirinya lagi. Namun, milik Kenzo dulu tidak sebesar itu. Sekarang, benda itu seperti ingin merobek celana boxer keluar. Pikiran Lian makin berkelana.
"Kamu kenapa?" tanya Kenzo lagi. Kali ini, ada sedikit rasa cemas di nadanya.
"Ngg-Nggak. I'm fine." Lian menggeleng. Dia tahu Kenzo. Jika Lian bilang dia cemas, Kenzo pasti akan langsung berhenti. Membuat Lian memuaskannya dengan cara lain selain, ehm, di masukkan.
Kenzo tidak mau membuatnya terluka, kecuali kalau itu permainan ranjang mereka. Lian sangat hapal.
Kenzo menatapnya tidak percaya. Panik, Lian berusaha meyakinkan Kenzo dengan menciumnya lagi.
Terkejut, bibir Kenzo yang tidak siap spontan dilahap oleh Lian. Mereka kembali saling b******u. Tangan Kenzo melingkar memeluk pinggang Lian.
Setelah satu sesi yang lama, Lian pun berbisik. Berusaha mengalihkan Kenzo kembali.
"Jadi...kita setuju?"
"Setuju apa?"
"Melakukan ini."
"Melakukan apa?" Tanya Kenzo heran. "Kita udah ngelakuin ini." Dia menyunggingkan senyumnya, menggoda.
Lian memutar bola matanya.
Kenzo terdiam sejenak, tidak suka dengan ekspresi wanitanya itu. Kemudian, tanpa permisi, menelusupkan dua jarinya di balik celana dalam Lian.
Sebelum Lian dapat bereaksi, Kenzo langsung menekan inti Lian dengan jarinya kuat-kuat. Lian memekik karena kaget.
"Tunjukkan lagi muka ketusmu itu, dan kumasukkan 4 jariku ke dalam sini." ancam Kenzo sambil menekan milik Lian lagi.
Ekspresi wanita itu pun berubah "Jangan..." pinta Lian lirih.
Kenzo langsung merasa iba. Dia mencium dahi Lian lagi, namun tidak kunjung mengeluarkan jarinya dari dalam celananya.
Malah, dia memasukkan jari tengah nya ke dalam inti wanitanya, membuat sensasi terbakar menguasai bagian bawah perut Lian.
Kenzo menyeringai nakal, lantas, tanpa aba-aba, mulai menggerakan jarinya di dalam. Maju-mundur.
Sementara ibu jarinya sibuk memainkan k******s Lian di atas lubangnya. Jari Kenzo ternyata masih hapal dengan area milik Lian ini.
Lian terus melenguh, membuat Kenzo semakin menikmati permainan yang dia lakukan.
"From your reaction, jelas kalau kamu sering ngelakuin ini." Kenzo menyesap d**a Lian lagi. "You've often do this without me. Kamu ngebayangin aku, hm? Bermain dengan lubangmu, berharap aku yang memuaskan mu daripada jarimu?" Kenzo mempercepat jarinya.
"Kenny, nghhh..." racau Lian tak terkendali. Semua yang pria katakan itu benar. Dia murahan, murahan, sungguh murahan. Sumpahnya berkali-kali.
Kenzo menekan inti Lian sekali lagi, membuat wanita itu tersentak, kemudian mengangkat jarinya keluar dari celananya.
"Gosh...you're so wet Lily," ujar Kenzo sambil menatap jarinya yang berlumuran. Lian memandang jari itu dengan merah, terus menyumpahi hormon-hormonnya di dalam hati.
"You're soaked. Cuma karena jariku," imbuh Kenzo lagi sebelum menghentak celana dalam Lian.
Dalam satu tarikan, celana putih tipis itu terlepas sepenuhnya dari kakinya. Tubuh mungil Lian sekarang polos, tanpa ditutup apapun.
Kenzo sumringah melihat hasil permainannya di kepunyaan Lian tadi. Di bawah gundukan kecil Lian yang ditumbuhi bulu-bulu tipis, terlihat inti Lian memerah dan basah.
Benda itu bergerak naik turun, mengikuti napas dari perut Lian yang berat, seolah pasrah setelah Kenzo mempermainkannya.
Sadar dengan apa yang dia ekspos, Lian berusaha menutupinya lagi dengan kedua pahanya. Namun segera dicegah oleh tangan mantan kekasihnya itu.
"Buka," perintah Kenzo sambil menatap netra gelap Lian itu. Miliknya makin menegang melihat ekspresi Lian yang dia kacaukan.
Sambil menutup matanya, Lian dengan enggan membuka pahanya lagi.
Tanpa membuang waktu, Kenzo menarik kedua kaki Lian keatas, tersenyum tidak sabar lagi. Dia mengarahkan wajahnya kebawah, siap melahap milik Lian dengan mulutnya. Namun sebelum itu, sesuatu menghentikan kepalanya.
Tangan Lian. Kenzo mendongak.
"Kenny..." Lirih Lian pelan, membuat seluruh tubuh Kenzo tegang oleh nama itu.
"In bed, please." Lian memelas.
Kenzo perlahan menurunkan pahanya. "Sure thing, Lily."
Lian melingkarkan kakinya di pinggang Kenny, memeluk pria tersebut erat-erat. Kenny merengkuh punggung Lian, dan beranjak bangkit. Dia menggendong tubuh mungil itu, berjalan menuju kamar sembari menciumi pipinya.
Sampai di kamar, Kenzo menjatuhkan badan mereka berdua. Tanpa membuang waktu, dia membuka paha Lian kembali, menarik kakinya ke atas, dan mengekspos seluruh milik Lian yang kemerah-merahan.
Lian terbelalak ketika merasakan lidah Kenzo bersentuhan dengan intinya. Dia menggeliat. Kenzo mulai menikmati miliknya itu, mengabsennya dengan lidahnya. Kenzo memperparahnya dengan mengelus k******s Lian dengan ibu jarinya diatas. Desahan Lian terus kembali.
Semakin terangsang melihat reaksi kekasih SMA-nya itu, Kenzo tidak tahan lagi.
Dia melepaskan boxernya yang tersisa, mengungkap kejantananya. Kenzo kemudian mengusap-usap miliknya yang menegang total. Lian terbelalak melihat benda yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
Dugaannya benar, milik mantan suaminya itu semakin besar dibandingkan dulu. Benda itu semakin berurat dan membesar. Lubang Lian semakin menghangat, membayangkan benda itu akan segera memasuki dirinya.
Murahan, sumpah akal sehatnya lagi. Namun, di titik ini, Lian tidak lagi peduli.
Kenzo heran melihat reaksi Lian. Wanita itu kelihatan lebih putus asa dari yang dia ingat.
Kenzo bertanya lagi, hati-hati. "Kapan terakhir kali kamu melakukan ini?"
Apapun jawaban Lian, Kenzo berusaha menyiapkan hatinya.
"Um... 1 tahun lalu," jawab Lian malu-malu. "Denganmu," dia menambahkan.
Kenzo kaget. "Jadi kamu belum pernah berhubungan dengan lelaki lain lagi?"
Dengan kecantikan yang Lian miliki, tidak mungkin pria lain mengincarnya. Apalagi setelah Lian terlepas dari ikatan Kenzo, yang sudah dia pacari sejak SMA.
Lian menggeleng. Kenzo tersenyum lebar. Puas, puas sekali dengan jawaban mantan kekasihnya.
Dia mulai memposisikan tubuhnya di atas Lian. Kembali berbisik.
"Aku, yang ngambil first kiss kamu. Ngasih kissmark pertama kamu. Keperawanan kamu. Kehamilan kamu. Aku ambil semuanya."
Kenzo berbisik di telinga Lian tajam.
Dia menempelkan ujung kejantanannya di bibir inti Lian. Terus mengusap keduanya selagi dia bicara. Lian melenguh pelan.
"Kamu milikku, Liliana. Sampai kapanpun. You're mine. f*****g mine."
Lian menahan napas. Bersiap. Kenzo membisikkan kata-katanya yang terakhir.
"And tonight, Lily, I'll claim you again."
Memeluk pinggang Lian, Kenzo langsung menghujam masuk, memenuhi inti Lian dalam satu hentakan.
Lian memekik, kukunya mencengkram punggung Kenzo dalam-dalam. Meninggalkan goresan. Permainan kasar Kenzo yang dia rindukan. Tubuhnya makin menghangat.
Miliknya dan milik Kenzo kembali menyatu. Alhasil, kedua benda itu saling merengkuh satu sama lain erat-erat. Saling mendamba. Kenzo mendesah saat kejantanannya terus diapit erat oleh dinding hangat mantan kekasihnya.
Keduanya berciuman, dan Kenzo mengangkat paha Lian, mulai menggerakkan miliknya di dalam.
Spontan, mereka berdua tenggelam dalan sensasi kenikmatan yang pergulatan mereka timbulkan.
Sambil memacu temponya, Kenzo kemudian melumat bibir kenyal Lian yang memerah. Entah sudah berapa kali mereka bertukar saliva.
Lian memegangi rambut Kenzo, larut dalam percumbuan mereka kembali. Kenzo terus mempercepat gerakan pinggulnya.
Bibirnya turun ke bawah, menciumi leher Lian dengan tamak. Seperti belum cukup mengklaim Lian dengan bisikannya tadi, kini dia menggigit leher Lian hingga membiru. Meninggalkan tanda-tanda yang akan sangat jelas terlihat besok.
Tangannya memegangi p******a Lian yang berguncang-guncang karena hentakannya.
Sesekali dia menjilat dan menggigit nya. Nampak bahwa Kenzo sangat menikmati tubuh kekasihnya malam ini.
Lian terus meracau, mendesah, terus mengeluarkan suara-suara yang tidak dikenalnya. Pandangannya terasa kabur karena sensasi ekstasi yang terus tubuh Kenzo berikan.
"Kenny!"
"Lily..."
"Kenny- ahn!"
"Lily-oh f**k," racau Kenzo di sela-sela desahannya. Di tengah-tengah kenikmatan, kedua saling melenguhkan nama satu sama lain.
Kenny. Lily. Kenny. Lily.
Lupa bahwa mereka sudah berpisah. Lupa bahwa mereka adalah orangtua Lara. Lupa bahwa mereka baru saja berbaikan 1 jam yang lalu. Semuanya tenggelam oleh nafsu. Kerinduan mereka tumpah ruah.
Kenzo makin mempercepat tempo miliknya di dalam. Lian terus mengerang, dia tau miliknya akan segera meledak.
Dia memeluk leher Kenzo dan menciuminya, dan berbisik di telinga pria itu.
"I'm-I'm gonna c*m Kenny..."
Kenzo tersenyum. Dan dengan satu hentakan keras, Lian mendesah nyaring.
Sebuah sensasi lepas dari dalam dirinya, dan Lian seperti melihat bintang-bintang.
Kenzo mengerang. Dia mencium Lian, dan kembali menekan tubuh mungilnya di ranjang. Tempo Kenzo memuncak, dan dia mengerang nyaring.
Lian dapat merasakan cairan hangat mulai memenuhi dirinya, bersamaan dengan erangan Kenzo.
Akhirnya, pergulatan keduanya berhenti.
Lian menatap netra cokelat Kenzo itu dengan sendu. Pria itu mengecup keningnya lagi.
"Good girl," ucapnya bangga.
Lantas, Kenzo jatuh diatas tubuh Lian. Nafasnya tersengal.
Dia keluar terlalu banyak.
Setelah melepas miliknya dan Lian dengan hati-hati, Kenzo berbaring di sampingnya. Memeluk Lian yang juga kelelahan.
Napas keduanya memburu setelah penyatuan itu. Tubuh mereka berdua yang polos hanya ditutupi selimut.
Dalam dekapan Kenzo, Lian sekilas melihat jendela. Hujan tadi sudah berhenti. Dia tersenyum, dan menyandarkan kepalanya pada Kenzo.
Senang bahwa dia tidak sendiri lagi.
Sekilas, dia melihat seluruh badannya.
Tubuh mungilnya dipenuhi oleh tanda Kenzo. Mulai dari lehernya yang membiru, bekas-bekas gigitan di aset kembarnya, dan tidak lupa lubang intinya yang dipenuhi oleh cairan Kenzo sendiri. Pria itu benar-benar mengklaim tubuhnya malam ini.
Kenzo menaruh dagunya di atas kepala Lian. Entah mengapa, Lian teringat putri mereka lagi.
"Lara... bagaimana?"
"Lara? Maksudnya, Lily?"
"Berapa lama dia di rumah Mamamu?"
"Her granny wanted her to stay for at least 2 days." Kenzo mencium bahu ibu dari putrinya itu. "Don't worry, baby. She'll be okay."
Lian terdiam sejenak, kemudian memeluk Kenzo manja. Kenzo tersenyum bahagia.
Dia bertanya lagi.
"Kita... bagaimana?"
Kenzo berpikir sebentar. Kemudian, dia mengelus-ngelus perut datar Lian
"Ada... dua option. Satu, kamu jadi milikku lagi, tepat mulai sekarang, atau..cara dua. Lebih susah. Tapi hasilnya sama." Kenzo tersenyum nakal sambil menutup matanya.
"Apa yang lebih susah?" Goda wanita itu.
"Kamu.... kuhamili malam ini."
Lian tersedak mendengar kalimat itu. Dia cepat menepis perkataan Kenzo.
"Jangan ngomong yang nggak-nggak, Ken."
Tetapi raut nakal yang ada di paras Kenzo sirna. Diganti dengan pandangan tajam. Pria itu mulai mengelus-elus tubuh polos Lian lagi.
"Now that I think about it, sudah lama sekali sejak kita bercinta sampai pagi." Mata coklat hangatnya mulai dipenuhi nafsu kembali.
"Kasihan juga kalau tubuh indahmu ini harus melayani nafsu ku terus malam ini. But then, mau bagaimana lagi." Kenzo terkekeh, mulai menindih Lian lagi. Wanita itu panik.
"St-stop! Stop Kenzo! Atau aku telpon polisi!" Dia menelan ludah. Lian bisa saja menggunakan jurus bela dirinya, namun setelah o*****e yang hebat tadi, seluruh tubuhnya sedang tidak berdaya. Hormon sialan, sumpahnya lagi.
Namun, Kenzo malah tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian kembali memeluk Lian.
"Just kidding, sweetpie."
Lian mendelik, memutar bola matanya lagi. Dia hampir terkena serangan jantung.
Masih tertawa, Kenzo menyisipkan poni Lian yang berantakan ke balik telinganya.
"Tapi, aku serius. I wouldn't let you go again, Lily." Ucap Kenzo lagi.
Dia tidak akan membiarkan Lian lepas lagi darinya, jadi dia memberinya dua pilihan. Pilihan apapun, semuanya akan mengikat Lian lagi padanya.
"Aku pilih yang pertama," putus Lian final.
Kenzo tersenyum lebar. Dia merebahkan dirinya di samping Lian, dan menarik mantan- bukan, kekasihnya dalam pelukannya kembali. Lian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Kenzo mengusap bibir Lian dengan jarinya.
"I should buy you a morning pill tomorrow, then."
Lian merona. Dia mengangguk pelan. Dengan tanda di sekujur lehernya, rasanya tidak mungkin dia keluar besok. Atau lusa.
"Dan syal." Tambah Lian. "Belikan aku syal."
Kenzo mencium pipi kekasihnya lagi. "Sure thing, Lily."
Menit-menit berlalu. Hanya keheningan diantara mereka berdua. Lian memejamkan matanya, ingin tidur. Mulai malam ini, dia tidak sendiri lagi.
"I love you, Kenneth" Ucapnya sebelum terlelap.
"I love you too, Mrs. Hartanto."
Lian mengerutkan kening mendengar nama lamanya itu. Kenzo mencium pipinya. Tertawa.
"Okay-okay. Lily."