Kenneth - II

1456 Words
Lian terhenyak, kembali ke masa kini. dan menyeka matanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Kenzo, yang menatapnya dengan terkejut. Dia kaget melihat Lian menjadi begitu emosional. "Maaf..." gumamnya pelan kepada Kenzo. Dia menyeka dan terus menyeka, namun air matanya tidak mau berhenti. Kehabisan cara, Lian pun menutupi mukanya dengan tangan. Isakan mulai terdengar dari balik tangannya. Sementara itu, Kenzo menatap mantan istrinya lamat-lamat. Hatinya terasa dicubit. Perih. Karena Kenzo tidak pernah suka melihat Lian menangis. Dari dulu. Dada Kenzo ikut merasa pedih, melihat orang kesayangannya menangis. Dia ingin memeluknya, mengelus kepalanya, menciumnya. Dia ingin menenangkannya. Namun, dia tidak bisa. "Yan, are you okay?" Kenzo menepuk bahu Lian perlahan. Lian mengangkat mukanya, dan sejenak, menatap mata coklat Kenzo yang berkaca-kaca. Air matanya menggenang. Kenzo yang lembut, perasa, dan penuh kasih sayang. Mukanya dipenuhi rasa khawatir. Bahkan setelah Lian memperlakukannya dengan kasar. Apa yang sudah dia lakukan? "Kenny..." lirihnya pelan. "I-I'm sorry. I-" Sontak, Lian merasakan hangat di sekelilingnya. Kenzo merengkuh tubuh kecilnya erat-erat. d**a bidangnya berdesir mendengar nama itu lagi. Diusapnya punggung Lian, namun Lian tidak berkata-kata. Di benaknya lantas terbesit ide. Dia berbisik lembut, berbicara melalui telinga mantan tersayangnya. Langsung menuju ke hati Lian. "I'm here, Lily. I'm here. Aku disini." Lian tercengang. Rahangnya seperti jatuh ke lantai. "Lepaskan, Lily, Lepaskan. Jangan ditahan. Let it all go." "Let it all go, sweetpie." Tidak mampu meneruskan kalimatnya, Lian tumpah. Dia merengkuh Kenzo balik, menangis sejadi-jadinya. Dia tidak sanggup menahan emosinya lagi. Lian terisak-isak dengan nyaring. Mata Kenzo berkaca-kaca. Dia terus memeluk Lian, menciumi pipinya dengan lembut. ——————————— Lian meremas jaket kulitnya, membenamkan dirinya ke dalam dekapan Kenzo. Seluruh emosinya yang tertahan selama satu tahun ini : rasa rindu, rasa bersalah, rasa jijik dan benci terhadap dirinya sendiri tumpah dalam pelukan mantan suaminya sendiri. Selama setengah jam, tidak satu kata pun terucap di antara mereka. Mereka hanya saling berpelukan, tenggelam dalam kehangatan masing-masing. Kenzo mengusap kepala Lian sementara Lian menempelkan wajahnya di d**a miliknya. Terus menangis. Kenzo melepas jaket kulitnya, dan terus mengelus rambut ombak Lian sampai isakannya terhenti. Setelah suara-suara tangisan hilang, Kenzo mendorong bahu Lian pelan, membuatnya duduk bersandar pada sofa. Dia beranjak mengambil segelas air putih untuk Lian minum. Kenzo mengambil kesempatan saat Lian minum untuk memandangnya. Matanya memerah sehabis menangis. Rambutnya yang acak-acakan, namun malah membuat dirinya terlihat manis di mata Kenzo. Bathrobe Lian sudah terlepas talinya, memamerkan kamisol merah tua berkain tipis yang menutupi tubuhnya. Namun di bagian d**a, kamisol itu terbuka, mengekspos bagian atas gundukan pucat milik Lian. Kenzo menelan ludah. Dia mengamati kamisol itu lagi. Benar. Itu adalah kamisol favorit Lian dulu. Pantas saja dia merasa familiar. Bahkan, dia-lah yang menemani Lian membelinya sehabis melahirkan Lara. Dia ingat terus menggoda Lian habis-habisan di dalam toko itu karena berbagai jenis pakaian yang terang-terangan dapat mengekspos seluruh tubuh Lian jika ia kenakan. Kenzo tersenyum ketika mengingatnya, karena kamisol itu malah menjadi pakaian favorit Lian untuk tidur. Lian terus meneguk hingga air di gelas habis. Bibir merahnya basah sebelum dia menyekanya. Kenzo dengan hati-hati mengelus punggung Lian lagi. "Are you okay now?" tanya Kenzo lembut. Namun Lian tidak menjawab. Dia tidak bersuara. Hanya tersisa pandangan mata gelapnya, yang indah namun kosong. Pelan-pelan, diarahkannya pandangan itu ke arah mantan suaminya. Sambil berusaha mengatur napasnya, Lian menatap Kenzo dalam-dalam. Lian seolah tersedot oleh aura yang dipancarkan mata lelaki itu. Kenzo membalas tatapan Lian tidak kalah dalamnya. Netra coklatnya terpaku pada netra gelap mantan istrinya. Dia tidak tahan lagi. Tanpa permisi, Kenzo menarik kepala Lian demi menatapnya lebih dekat. Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Keduanya dapat merasakan helaan napas satu sama lain. Alih-alih menjauh, Lian terus menatap Kenzo dengan sendu. Perlahan, dia menempelkan telapak tangan pada dadanya. Lian mengagumi ketampanan wajah ayah dari putrinya itu. Lembut, namun tegas. Paras tampan itu yang membuat Kenzo mudah dia rindukan. Setetes air matanya jatuh kembali, kali ini Kenzo sigap menyekanya dengan ibu jari. Kemudian, pria itu mengusap bibir merah Lian dengan jarinya, memandangi ekspresi Lian yang bernoda air mata. Sambil bergumam pelan, Kenzo menangkup dagu ibu dari anaknya itu. "Cantik." Kenzo mengecup bibir Lian sebentar, sebelum kemudian melumatnya. Bibir keduanya menyatu. Rasa manis langsung melanda lidah Kenzo. Rasa lapar seketika menguasainya. Pria itu spontan memegangi wajah Lian, dan berusaha mendorong lidahnya lebih dalam lagi. Mulutnya tidak sabaran. Lidah Kenzo terus menjelajahi mulut Lian dengan paksa demi merasakan manis yang dia dapat. Ciuman ganas tiba-tiba dari Kenzo membuat napas Lian tersengal-sengal. Dia mendorong Kenzo menjauh, dan berusaha mengatur nafasnya. Saliva keduanya tercampur. Saling menetes. Baru sadar tentang apa yang sudah dia lakukan, Kenzo panik. "Ma-maaf, Yan. Maaf! Oh God. didn't mean to-" Perkataannya terpotong ketika benda kenyal mendarat di bibirnya lagi. Lian mencium Kenzo balik. Dia menggeleng pelan, seolah tidak apa-apa dengan ciuman paksa dari Kenzo tadi. Kenzo salah. Rasa lapar ternyata sudah menguasai keduanya. -------------------------- Sudah berapa lama? Lian tidak tahu. Awalnya, dia hanya memberikan kecupan biasa. Namun, entah apa yang merasuki mereka berdua, kecupan ringan itu berlanjut menjadi ciuman. Ciuman menjadi sebuah sesi percumbuan. Entah sudah berapa lama lidah mereka saling beradu. Gigi-gigi mereka bersentuhan. Bibir mereka saling melumat. Saliva mereka bertetesan. Dan kini, tangan-tangan mereka berkeliaran, saling meraba-raba. Secara spontan, mereka seolah-olah dipenuhi oleh hormon-hormon remaja, padahal mereka sudah 4 tahun menikah sebelum berpisah. Kenzo terus mencumbu bibir Lian tanpa henti sambil membelai rambutnya. Perlahan, tangan Kenzo turun ke bawah. Menyelinap di balik bathrobe, tangan kekarnya mengelus b****g Lian yang hanya dibungkus celana dalam tipis. Meremas pelan. Di sisi lain, Lian terus menjelajahi tubuh Kenzo yang masih dibungkus T-Shirt. Sambil mengusap-usap ototnya, Lian memandang wajah Kenzo sekali lagi. Hangatnya telapak tangan Lian yang terasa di dadanya membuat Kenzo terangsang. Dia mengerang pelan, membuat Lian tersipu malu. Mulut Kenzo terbuka. Dia mencoba mengatur nafasnya, namun berbanding terbalik dengan tangannya. Menyelip ke bawah kamisol, dia mulai menggerayangi buah d**a Lian yang masih terbungkus. Meremasnya. Kenzo menjilat jarinya dan memilin p****g Lian dengan liurnya tadi. Membuat benda itu menegang total. Lian menggigit bibirnya kuat-kuat, mati-matian dia mencoba menahan desahan demi desahan yang bangkit dari tadi. Tetapi, Kenzo memandang apa yang Lian lakukan dengan tidak suka. Dia menarik bibir bawah Lian, kemudian menyelipkan ibu jari ke dalam mulut mantan kekasihnya dengan paksa. "Release it, Lily. Release it," tegur Kenzo lembut sambil meremas b****g Lian lagi. "Ahh!" pekik Lian nyaring. Namun wanita itu langsung melotot, malu mendengar suaranya sendiri. Dia tidak bermaksud mendesah senyaring itu! Tapi usahanya terlambat. Desahan dan desahan yang lain segera meluncur dari mulutnya yang tidak bisa dikatup. Jari Kenzo terus menyelusup ke dalam rongga mulutnya. Lian mencoba mengecilkan suaranya sendiri, yang berakhir gagal, karena alih-alih, suaranya malah terdengar manja. Desahan-desahan Lian terdengar seperti melodi di telinganya, membuat tubuh Kenzo kepanasan. Puas dengan apa yang didengarnya, dia melepas baju mandi Lian tanpa ijin. Mengekspos bahu dan lengannya. Dia menaruh tubuh mungil itu di pangkuannya, dan menarik kamisol Lian ke atas. Kenzo menyeringai memandang buah d**a Lian yang pucat di balik pakaiannya yang tersingkap. Polos tanpa ditutup apapun. Ternyata dia masih tidak memakai bra sebelum tidur, pikir Kenzo. Kedua aset Lian yang dia selalu rindukan, selain kehangatannya. Miliknya di bawah semakin berdiri. Untuk menyeimbangi, Kenzo melepas T-Shirt birunya, mengekspos tubuhnya yang semakin berotot dan berbentuk daripada sebelumnya. Lian terkejut. Tidak menyangka. Setelah bercerai, Kenzo terus mendatangi gym. Dia menjadi maniak olahraha demi melupakan kesedihannya. Hasilnya? Tubuhnya semakin kuat. Otot-ototnya makin terekspos. Dia bahkan harus membeli baju baru yang muat. Kontras dengan tubuh Lian yang semakin kurus akibat menangisi nasibnya hampir tiap minggu. Badan Lian semakin dipenuhi gairah. Air liurnya hampir menetes. Kenzo tertawa melihat reaksi mantan istrinya. "Suka? Hmm?" canda Kenzo sambil memamerkan tubuhnya lagi. Lian merona malu. "Hu-um," jawab Lian pelan. Tentu saja. Jika Kenzo adalah makanan sekarang, akan dilahapnya sampai habis. Piringnya pun akan dia jilati. Ah, andaikan dia juga merawat diri. Tubuhnya tidak akan ringkih dan kecil seperti sekarang. "m***m," goda Kenzo lagi. Dia senang melihat muka Lian merah merona, namun kembali ingin memuaskan nafsunya lagi. Dia mendorong buah d**a Lian mendekat, menyeringai. "I love these too." Menunduk, Kenzo mulai menyantap kedua aset tersebut tanpa permisi. Lian terkesiap. Kenzo menikmati d**a lembut Lian dengan rakus. Dia menyesapnya. Menjilati putingnya, memainkannya dengan lidahnya. Meremas dan mencubit putingnya dengan tangannya, yang membuat Lian mengerang nyaring. Dasar masokis, gumam Kenzo dalam hati. Kenzo kemudian menggigit dagingnya pelan. Meninggalkan kiss mark di sekujur kedua aset Lian itu. You're mine, Liliana Anderson. You're f*****g mine. Ucap Kenzo berkali-kali dalam hati. Rasa egois membara dalam hatinya. Lian miliknya, dulu dan sekarang. Dan nanti. Ujar Kenzo lagi. Mantan istrinya ini akan jadi miliknya lagi. Dia pastikan itu. Dengan kasar, dia melepas kamisol Lian dan melemparnya entah kemana. Mengekspos tubuh pucat Lian yang hanya berbalut celana dalam. Dia kembali menyesap buah d**a Lian tanpa ampun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD