Bab 4. Gadis Manja

2008 Words
*** Tengah malam, pukul 23:00, Aluna merintih, tubuhnya benar-benar terasa sakit, kepalanya pusing, membuatnya sedikit mengingau saat tidur. Pekerjaan tadi siang benar-benar membuatnya lelah, hingga membuatnya jatuh sakit. Brayen tidak memberi jeda sedikit pun dalam pekerjaannya, selalu memaksa Aluna mengerjakan hal yang tidak penting. Merasa terusik, Brayen menengok kebelakang, menatap pungung Aluna, kini tubuh istrinya dibalut selimut tebal hingga keleher, bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh itu bergetar dengan kuat. "Eh, lo kenapa?" Brayen merubah posisi hingga duduk, menarik lengan Aluna, tubuhnya sangat lemah, hingga telentang begitu saja saat di tarik, wajahnya pucat, pelipisnya dibanjiri keringat dingin, matanya tertutup rapat. Aluna mengigit bibir bawahnya, menahan sakit yang menyerang, sudah tidak bisa merespon apa-apa lagi. Brayen menggerakkan tangannya, menyentuh kening Aluna, suhu badannya sangat panas. "Mampus gue, dia sakit. Kalau bokapnya sampai tau, bisa-bia gue dihajar." telak, Brayen turun dari ranjang, berbegas menuju dapur, mengambil obat dan air hangat untuk mengompres kening Aluna. Brayen benar-benar tidak menyangka, istrinya bisa sakit, ternyata dia memang benar-benar perempuan lemah. Tidak lama, Brayen kembali, membawa obat dan juga kompresan untuk Aluna, berusaha membangunkan, tapi Aluna hanya bergeming, tidak mau membuka mata, perasaan Brayen was-was, takut jika esok hari orangtuanya datang, dan semua akan menyalahkan nya. "Duh, kenapa pake sakit segala sih, ganggu gue tidur aja lu." Brayen menarik bibirnya kesamping, tidak ada rasa kasihan sedikit pun, sudah terlanjur kesal dengan sikap perempuan sombong dan angkuh itu. Esoknya, kondisi Aluna mulai membaik, terpaksa Brayen harus memasakan makanan untuknya. Aluna berkerak kecil, menimbukan bunyi resek di atas ranjang, meraba kesamping, tidak ada Brayen disana, Aluna cepat-cepat menyimkap selimut, takut kejadian kemarin terulang lagi, bernafas lega, pakaiannya masih utuh. "Apaan nih." Aluna menyingkirkan kain yang ada di atas keningnya, Aluna tidak tahu, kalau tadi malam sempat diserang demam. Tapi, siapa yang sudah merawatnya, tidak mungkin Brayen, bulu kuduk Aluna bergedik, takut-takut jika ada makhluk halus yang diam-diam menyukainya, lalu rela merawatnya. Cepat-cepat Aluna beranjak, masih merasakan lemas, kakinya tiba-tibe melumer, serasa ingin pingsan saja. Kepalanya juga pening, sangat menyiksa. "Udah bangun lo?" suara laki-laki mengagetkan Aluna, pria itu berjalan dengan nampan di tangannya, membawakan bubur dan segelas air putih. "Gue kira lu udah mati." mendengar penunturan Brayen, mata Aluna terbelalak, dadanya naik turun, hidungnya kempang-kempi, untung keadaan badannya sedang tidak sehat, hingga emosinya bisa melubur dengan cepat. "Nih, lo makan, gue udah capek-capek masak!" Aluna kembali duduk di tepi ranjang, mengerutkan keningnya menatap heran ke arah Brayen, tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba sudi memberinya makan. "Gue ngga mau, gue yakin lo pasti udah campurin racun di bubur itu, lo mau bunuh gue kan, biar bisa cepat-cepat jadi duda? Gue nggak sebodoh itu, mau makan masakan yang lo kasih, lo taro tacun apaan? Racun tikus, racun rumput, racun serangga, atau lo taro sianida?" suara parau Aluna menyebar di dalam ruangan, membuat Brayen kesal setengah mati, padahal ia sudah baik, mau memberi makanan untuk istrinya yang konon menyandang sifat buruk sangka itu. "Eh kambing jadi-jadian, lo itu bisa nggak, nggak usah negative thingking sama orang, apa untungnya gue ngeracunin lo, bukannya berterimakasih, lo malah nuduh gue sembarangan." "Kalau lo nggak kasih racun, coba lo cicipin makanan itu, biar, gue percaya." Karena kesal, Brayen memasukan satu sendok penuh bubur itu kedalam mulutnya, "lo liat, gue nggak kejang-kejang, gue nggak mati, tandanya gue nggak kasih ini makanan sama racun!" Karena terlalu lapar, Aluma harus menurunkan level gengsinya, memakan makanan yang sudah dibuat Brayen. Brayen tersenyum geli. "Bilang aja. Itu cuma alasan lo, biar lo bisa makan sama bekas sendok punya gue, kan?" mendengar rancauan dari mulut Brayen, Aluna tersedak, merasakan bubur yang ia makan berubah menjadi batu krikil, cepat-cepat ia mengambil gelas, lalu menelannya hingga tersisa setengah. "Apa lo bilang?" Telak Aluna membanting mangkuk yang ada di tangannya, pecah berkeping, sisa bubur di dalamnya juga berserakan di atas lantai. Melihat perilaku Aluna seperti itu, Brayen sakit hati. Merasa tidak dihargain. "Lo benar-benar nggak ada otaknya ya. Udah mending gue masakin buat lo, bukannya berterima kasih malah lo buang-buang kayak gini." nada suara Brayen naik, membentak Aluna dengan keras. "Gue nggak suruh lo bikin gue makanan, ini semua kemauan lo, jadi lo nggak perlu salahin gue." "Hahh!!" Brayen bernafas lewat mulut, lalu menggeleng. "Perempuan kayak lo emang nggak pantes dibakin, sekarang terserah lo deh! Lo urus diri lo sendiri, bersihin pecahan kaca itu. Gue mau pergi, sepet mata gue liat muka jelek lo." Brayen berlalu, terlampau kesal dengan sikap Aluna yang tidak pernah menghargai orang lain, menyesal telah mau bersikap baik dengan gadis itu. Brayen keluar, lalu membanting pintu kamar dengan keras, membuat Aluna terjengkang kaget. Ada yang tidak bisa dijelaskan, mendadak Aluna menangis, merasakan sedih yang teramat. Di saat seperti ini, ia butuh dimanja, disuapi makan oleh mamahnya, bahunya kini naik turun, merindukan masa-masa seperti itu. Kebahagiaannya yang dulu seluas langit, kini bagaikan terkepung dalam tempurung yang kecil, nafasnya mulai tersendat-sendat, hingga akhirnya tangis itu pecah, menggelegar di area ruangan kamarnya. "Mamah, Papah, bawa aku pulang..." Aluna semakin menggelugut, ini pertama kali sakit tanpa diurus tante Diana, belum terbiasa dengan situasi seperti ini, sekarang, laki-laki itu malah pergi begitu saja, harusnya ia mengerti, emosi orang sakit tidak bisa diterka, meski menikah dengan paksaan, kewajiba seorang suami tetap menemani istrinya saat sakit, perasaan kesal tidak bisa dibendung, memposisikan dirinya juga tidak mengerti, Brayen sudah merenggut sesuatu berharga yang selalu ia jaga, harusnya kejadian itu bisa dicegah, tapi nyatanta, ia tidak bisa mengingat apa-apa, hingga bangun dalam keadaan tanpa pakaian. Aluna turun dari ranjang, serasa ingin memuntahkan sesuatu, jika sudah demam seperti ini, apapun yang masuk ke dalam perutnya pasti akan percuma sia-sianya, akan kembali membeludak keuar, memuntahkan asupan makanan yang sudah masuk. Hampir lima menit berada di dalam kamar mandi, memandang dirinya yang benar-benar kacau, rambut sudah berantakan, wajah begitu sangat pucat, sudah persis seprti orang gila yang ada di pinggiran jalan. Merasa lebih baik, Aluna kembali ke kamar, berniat untuk beristirahat. Tapi, ia lupa, pecahan beling tadi terinjak tajam, hingga menembus daging telapak kaki, darah segar sudah berlomba-lomba keluar, Aluna meringis kesakitan, bagaikan sudah jatuh, dihimpit sarang lebah pula. Sangat-sangat sial. Aluna menitikan air mata, bukan menangis karena luka di kakinya, tapi merasa sendiri, tidak ada lagi yang memerdulikan kondisinya, menghawatirkannya, apalagi orangtuanya, tidak pernah menanyakan bagaimana kondisinya setelah menikah, saat kemarin pun, mamahnya hanya bersorak, saat tau ia sudah berhubungan dengan, Brayen. "Gue ngerasa gue kayak udah dibuang." Aluna justru naik ke atas ranjag, membiarkan darah yang semakin banyak bertetesan di lantai, "gitu juga cowok b******k itu, setelah puas nyiksa dan nikmatin tubuh gue, saat gue sakit gini, dia malah ninggalin gue, gue kayak gini juga gara-gara pekerjaan rumah yang dia bebanin ke gue, apa gue bukan anak kandung mereka? Sampegue di usir halus denhan cara di jodohin dengan laki-laki nggak baik kayak dia?" Aluna memicingkan mata, berusaha menjernihkan pikirannya. Brayen terpaksa balik, ponselnya tertinggal. Itu artinya harus kembali bertenu dengan perempuan itu. Saat pintu di buka, mata Brayen tertuju pada cairan merah yang menetes dari kaki Aluna. "Astaga, cewek begok. Lo kerasukan apa, sampe nekat bunuh diri gini!" Brayen cepat-cepat berjalan menuju laci meja, mengambil kotak p3k. Lalu berjalan mendekati Aluna, memegang kaki putih milik Aluna untuk diobati. "Lo kalau gila kira-kira dong, masa gue gituin aja lo mau bunuh diri, yang logis kek, kalau mau bunuh diri jangan di rumah gue, nanti orang-orang beranggapan gue yang ngebunuh lo Mbing!" "Eh, ayam hutan yang kerjanya ngotet-ngotet terus kayak ayam mau bertelur. Pikir pakek otak, mana ada orang bunuh diri belah telapak kakinya." Meski kesal, tapi tetap saja Aluna seorang perempuan, Brayen mengobati kakinya dengan hati-hati. "Ya terus kenapa biarin kaki lo kayak gini, apa harus nunggu gue dulu yang ngobatin, baperan lo!" Auna tidak mengubris lagi, mendadak merasa mual lagi, muntah tadi sepertinya belum selesai, samakin menjadi, membuat Aluna membekap mulutnya menahan muntah. "Kenapa lagi, lo?" Belum sempai menggerakan tubuh untuk kembali ke kamar mandi, isi perutnya sudah keluar, memandikan Brayen yang berada di depannya dengan mutah. Brayen menyingkir, memicing mata masam. "Apa-apaan lo!" "Sori, perut gue nggak enak." Brayen berdecak, masuk ke dalam kamar mandi, harus membersikan cairan bau itu dari wajahnya. *** Ines tidak bisa melalukan apa-apa lagi, ia sudah kehilangan Brayen untuk selamanya, mustahil untuk memilikinya. Pria itu sekarang sudah menjadi milik gadis lain, melepaskan orang yang bukan ditakdirkan untuknya adalah keputusan yang tepat. Di depannya, seorang pria menggenggam tanganya, menunggu jawaban darinya. Penantian atas cinta yang ia nantikan, mungkin dengan berhubungan dengan laki-laki lain, bisa membuatnya melupakan Brayen. Mungkin, Ines perempuan yang jahat, menjadikan Rio sebagai tempat percobaan hati, berharap bisa melancarkan move on nya dari Brayen. "Iya, Kak. Aku mau jadi pacar kakak." tanpa memutuskan panjang, Ines menjawab dengan seksama, melihat binar mata Rio yang begitu bahagia, Ines tidak sanggup melihatnya, karena sekarang ia belum mencintai Rio. "Makasih, Nes. Makasih. Setelah hapir 4 tahun, aku menunggu kamu. Akhirnya, kamu emang cinta sejatiku." kata Rio yakin, sejak awal masa ospek, ia sudah mengaguni Ines, tapi, pria lain sudah lebih dulu mengambil hatinya, andai saat itu ia mau berjuang, tidak menyerah, pasti sejak dulu sudah memiliki Ines. "Sebebtar lagi, aku resmi mendapat gelar S2. Aku harap, aku bisa cepat kerja, dan bisa nemuin orang tua kamu saat aku udah sukses." Ines hanya tersenyum sebagai respon, tidak tahu harus bagaimana, sudah memberikan harapan tinggi yang tidak jelas untuk Rio, Ines merasa sangat bersalah. Tapi, ia berjanji, dalam masa hubungan berlangsung, akan berusaha untuk mencintai Rio. Semua penghuni kampus yang berlalu lalang menjadi saksi-saksi resminya hubungan mereka. Untuk pertama kalinya, Rio menyatakan cinta. "Aku mau cerita." "Cerita?" "Iya, kamu tau nggak, kenapa cinta itu rumit bagi orang-orang yang ingin serius?" "Enggak emangnya kenapa?" tanya Ines penasaran. "Karena, rumit itu salah satu bentuk tantangan yang sulit buat dia yang bener-bener tulus mencintai. Berjuang untuk mendapatkan balasan cinta, karena orang-orang yang menghargai perjuangan, tidak mungkin tega menghianati hasil jerih payahnya. Jadi, jangan sampai sia-siain orang, yang udah mau berjuang. Karena saat kita kehilangan, penyesalan nggak akan bisa gantiin ke kecewaan yang udah dirasain." Ines bergeming, kata-kata itu seolah menghantam hatinya, bagi penembak yang bisa menepatkan peluru pada sararan yang dituju. Merasa, Rio tahu kalau cintanya tidak terbalas, tapi, untuk apa ia mau menjalin cinta sepihak? Ines tidak bisa menenukan jawabannya, karena cuma Rio yang memiliki kunci jawaban sesungguhnya. *** Aluna masih berbaring di atas ranjang, sudah lima kali bolak balik kekamar mandi, memuntahkan sesuatu yang sudah kosong dari dalam perutnya, membuat Byaren kebingungan sendiri merawat Aluna, selama ini, belum pernah merawat orang sakit seperti itu. Biasanya di kasih obat, istirahat sejenak akan merasa baikan. Kepalanya juga pusing, mendengar ocehan Aluna yang ingin pulang. Bahkan perempua itu sempat menangis. "Manja." kata Brayen ketus, terpaksa harus mengurus perempuan itu. Setiap makanan yang masuk, akan di kekuarkan, baik s**u dan air putih, semuanya tidak bisa tersimpan di dalam lambung. "Lo kalau lagi sakit, kayak orang mau mati besok, sumpah." "Jangan berisik, lo udah nekan gue, gue bisa stres, dan gue mati, lo nakal di penjara." padahal masih dalam keadaan sakit, tapi mulut perempuan itu selalu menyahut sinis. "Lo liat kan, gue udah bilang, gue nggak bisa kecapekan, lo maksa gue terus buat beresin rumah segede gedung gini. Kalau sampai sesuatu buruk terjadi sama gue, ini benar-benar KDRT." Brayen mengusap wajahnya kasar, nyaris frustasi dengan Aluna. Semuanya dianggap berlebihan. "Gue udah laporan sama mamah lo, lo disuruh tetap disini. Lagian lo ngga usah lebay deh, berapa kali gue harus bilang, itu semua kewajiban lo. Nggak malu apa disangka gila. Kalau bodoh ya jangan dipelihara dong, dimasukin kantong buang ke laut, biar bodohnya pindah ke ikan hiu." kata Brayen dongkol. Mendadak emosinya mencuat, selu dituduh dengan hal yang tidak penting. "Kewajiban sama penganiayaan itu beda, Mbing. Jangan lo sama-samain." lanjut Brayen. "Terserah lo mau bilang apa, kalau gue udah sembuh, gue bakal potong leher lo pakai pedang panjang punya kakek gue di kampung. Atau pakai golog yang biasa di pakai buat bantai sapi." "Diam. Kalau lo masih ngomong, lo mau gue cium berkali-kali?" Pernyataan Brayen barusan berhasil menghentikan Aluna. Ia melipat bibirnya ke dalam mulut, jangan sampai adegan itu terulang kembali. Lalu, Brayen melangkah pergi, meninggalkan Aluna yang masih tidur di atas ranjang. Perempuan itu mendesah, sakit telah membuatnya menjadi lemah. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD