***
Aluna merenggangkan seluruh otot-otot badannya, semua benar-benar terasa sangat pegal, seolah-olah tangan dan kakinya ingin lepas dari badan.
Mencuci baju sebanyak itu telah menguras seluruh energinya, apalagi itu dilakukan dengan cara manual, mesin cuci yang biasa digunakan mendadak rusak tanpa sebab.
Aluna tidak bisa membayangkan, bagaimana jika harus mengalami hari sial seperti ini selamanya, mungkin ia tidak akan bisa merawat tubuh, kulit-kulit mulusnya akan berubah menjadi kasar. Kecantikan tubuh yang selama ini ia jaga dengan ketat akan sia-sia. Apalagi saat ini perut nya juga terasa sangat lapar, semua makanan sudah tidak tersisa, belum pernah merasakan hidup sepahit ini, ia merasa dirinya seorang TKW yang bekerja di luar negri, berusaha mencari uang, hanya untuk mengisi perut yang lapar.
Aluna mendesah, serasa ingin kabur dari dalam rumah yang membuatnya tersiksa layaknya seorang pembantu. Aroma tubuhnya, sudah bau khas keringat, tidak wangi seperti sebelumnya.
Terik matahari seolah masuk ke dalam rumah, mengepung hawa panas yang tersimpan di ruangan, bahkan AC yang sudah tersedia, tidak cukup menghilangkan hawa panas yang menyerang tubuhnya.
"Papa, mamaa. Aku mau pulang..." Aluna merengek layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, rasanya sangat tidak betah hidup bersama laki-laki seperti Brayen, dia berlaku seenaknya, selalu mengancam jika menolak permintaannya, Aluna telah berada di bawah tekanan, Brayen.
Untung saja ia bisa memasak hingga tidak perlu mendapat hinaan tidak enak dari mulut busuk Brayen, meski pria itu selalu berusaha berbohong, nyatanya semua masakan itu habis, masuk ke dalam lambungnya dengan sempurna, jika Aluna menemukan racun tikus di dapur, mungkin sudah mencampurnya pada makanan, Byaren, hingga pria itu mati, dan ia nenjadi janda muda. --Astaga, tidak, Aluna tidak mau jadi janda--, ia menggeleng-gelengkan kepala.
Sejenak, Aluna duduk di atas sofa, pekerjaannya masih terlalu banyak, melihat ruangan yang sudah tak berbentuk, rasanya Aluna benar-benar ingin menangis, ruangan ini berantakan karena ulahnya sendiri, dan ia yang harus bertanggung jawab untuk membersihkannya, sementara Brayen, tidur semaunya di dalam kamar, bagaikan tuan muda yang memegang kekuasaan tinggi. Memerintahkan bawahannya sesuka hati.
"Brayeennn! Bantu gue," Aluna berteriak dengan suara lengking, sampai menggema di telinga Brayen yang sibuk bermanja di atas ranjang dengan laptopnya. Pria itu menatap ke arah pintu, di luar sana, perempuan gila itu selalu menganggunya. Mulutnya harus dihentikan.
Geram dengan Aluna, Brayen turun, menarik ganggang pintu lalu keluar dari dalam kamar. Berjalan cepat menuruni anak tangga. Tidak tahan mendengar teriakan lengking dari mulut speker, Aluna.
"Apa?"
"Bantuin gue bersihin ini rumah, gue ini bukan pebantu lo. Gue bisa aduin ini sebagai bukti KDRT, karena lo udah nyiksa gue dan ngerampas hak gue untuk bahagia."
Mendengar rancauan gila Aluna yang konon terdengar jenaka, membuat Brayen rasanya ingin tertawa terbahak.
"Lo bener-bener gila ya, masak, nyuci, beresin rumah, ngurusin anak, itu kan emang kewajiban seorang istri. Walau pun, sekalian lo ngadu ke komnas perempuan, lo juga bakal di suruh balik, karena mereka beranggapan lo nggak waras." Brayen menunjuk kepalanya, mengisyaratkan bahwa Aluna benar-benar gadis bodoh.
"Kecuali gue gebukin lo, baru deh mereka mau tindak lanjutin lo. Kemarin lo bilang gue perkosa lo, sekarang cuma bersihin rumah lo bilang KDRT, setres ya lo, baru sadar, gue nikahin wanita yang nggak waras."
Mendengar penghinaan beruntun dari mulut Brayen, d**a Aluna sesak, hidungnya kebang-kempis, wajahnya memerah menahan emosi. Ini bukan kali pertamanya Brayen beranggapan ia bukan gadis waras, tapi sudah ribuan kali, membuat telinga Aluna bosan mendengarnya.
"Terus, kalau gue nggak waras kenapa lo mau nikahin gue, meski pun lo dalam keadaan terpaksa, harusnya lo---" ucapan Aluna terhenti sebelum balik mencecar Brayen lebih banyak. Pria itu tiba-tiba saja menarik dagunya dengan kuat.
"Lo masih berani ngebantah gue?" air muka Brayen terlihat datar, tapi ucapannya menyimpan makna yang jelas. Aluna menggeleng, menarik tangannya dari genggaman Brayen.
"Kenapa? Ayo."
"Oke gue bakal bersihin ini sendirian." ucap Aluna pada akhirnya, menyerah dengan permainan yang sudah dimulai suaminya. Brayen tersenyum, lalu melangkah menaiki anak tangga, kembali menuju ke dalam kamar.
"Gue harus bisa!" Aluna mengangguk semangat, melipat lengan baju hingga ke atas bahu, mengibarkan bendera perperangan, siap untuk bertatung membersihkan rumah yang hampir mendekati tempat sampah.
Aluna mulai menyapu seluruh lantai rumah, menggeser kursi-kursi di meja makan, mendorong meja merapikan kemabali, lalu mempel seluruh lantai dengan gerakan cepat.
Satu jam dalam aktifitas yang sama, Aluna menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, menyandarkan punggungnya di dinding, benar-benar lelah, kini tugasnya bisa selesai dengan lancar tanpa hambatan, merasa kantuk, ia memilih tidur dalam posisi duduk.
Di dalam kamar, Brayen sudah menyiapkan jebakan, saat masuk ke dalam kamar sudah dipastikan Aluna akan berteriak dengan pemandangan ini, hatinya berkoar-koar, berhasil membuat kamar yang sudah rapi menjadi berantakan, ia tidak akan membiarkan Aluna beristirahat.
Dengan begini, ancaman yang membuat hatinya senang akan kembali disodorkan pada istrinya. Yang jelas, Brayen selalu merasa puas, melihat roman wajah gadis angkuh seperti Aluna berada dalam tekanannya, ternyata sangat mudah mengalahkan gadis lemah seperti Aluna, tidak sesulit yang dibayangkan.
"Lo harus bayar cewek sombong, gara-gara lo, gue dan Ines harus putus. Lo liat aja, gue bakal bikin lo nggak betah, sampai lo minta cerai, dan gue nggak butuh turun tangan buat ngajuin perceraian." roman kesetannan terpancar di wajah Brayen, dia benar-benar pria yang jahat.
***
"Mamah serius? Aluna sama Brayen udah memulai pendekatan?" Om Arif benar-benar tidak percaya dengan kabar yang dibawakan istrinya. Padahal, ketika hari pernikahan, kedua anak itu masih sempat beragrumen panas. Tante Diana mengangguk sebagai respons, masih belum melepaskan senyuman di bibirnya, "iya, pah. Aluna sendiri yang bilang sama Rio tadi, dan mamah pastiin, dan benar, Aluna sama Brayen udah berhubungan dekat. Mamah yakin, cepat atau lambat, mereka bakal jatuh cinta. Jadi, kita nggak salah ngejodohin mereka berdua. Mamah masih ingat, pas Aluna kecil dulu, selalu ngejar-ngejar Byaren, sampai Brayen nangis ketakutan." tante Diana tertawa, reka ulang kejadian masa lampau kini berputar bagaikan rekaman dalam kepalanya, semua tersimpan begitu sempurna, tidak ada kerusakan sama sekali, segala inci moment lucu itu masih bisa diingat dengan jelas
Aluna kecil berlari mendekati Brayen yang sibuk dengan mobil-mobilan di tangannya, bocah berusia empat tahun itu mengutak-atik badan mainannya hingga hancur tak berbentuk, berusaha beetanggung jawab, saat berani membongkar, berani menatanya kembali, meski terasa sulit dan tak paham.
Gadis tiga tahun itu duduk di samping Brayen, mulutnya sudah penuh dengan warnah merah yang berserakan, lipstick mamahnya telah habis di balurkan di sekujur area bibir dan wajah, bedak putih sudah memenuhi wajahnya, berdandan ala Aluna kecil, benar-benar sangat berlebihan.
"Bla adi apain?" dengan gaya yang sangat centil, Aluna mendekat ke Brayen, "udah tantik taya mamah, tan?" tanya Aluna dengan wajah polosnyo, langsung mencium pipi Brayen hingga menimbulkan bekas merah.
Brayen memegang kepala dengan kedua tangan, seolah-olah sangat frustasi. Detik selanjutnya, terdengar tangisan dari mulut Brayen, berjalan dari tempatnya dan menangis di pangkuan mamahnya, mengadukan perbuatan Aluna yang menciumnya.
"Mamah, aku di cium dia..."
Mendengar pengaduan Brayen, membuat tante Tari terawa geli, sepertinya, kelak Aluna akan menjadi menantunya.
"Ya gak apa-apa, Brayen. Tandanya, Aluna sayang sama Brayen, kan Aluna pacar Brayen." kata Tari lembut, setengah bercanda, ia mengusap-usap kepala jagoannya yang berada di pelukannya. Aluna yang melihat Brayen menangis, kebingungan sendiri, padahal, ia hanya mencium temannya.
"Ih, Bla tenapa ditu sih, tuma di tium doang." Aluna menyilangkan tangan, memorotkan bibirnya. Kembali berjalan mendekati Brayen, mengajak anak laki-laki itu bermain dengannya.
"Hahah. Iyah, mah. Papah masih inget banget, terus Aluna juga pernah minta di temanin tidur sama Brayen, tapi Brayen nya malah nggak mau. Dulu, anak laki-laki itu pemalu banget."
"Iya, pah. Terus anak kita malah kecentilan banget, hobi dandannya kebawa sampe sekarang."
"Kalau kita ceritain masa kecil mereka, kayaknya seru deh, papah dulu kan sempat vidioin, Aluna peluk-peluk Brayen sampai nangis, papah bikinin CD, mamah simpan dimana? Papah pingin liatin ke mereka." kata Om Arif hipotesis.
"Masih, pah. Mamah simpan. Sebentar, mamah ambilin dulu."
Tante Diana beranjak, Rio yang baru saja keluar dari kamar, bertanya-tanya, mendapati mamahnya pergi saat dirinya datang.
"Loh, mamah kemana, Pah."
"Tuh, lagi cari vidio masa kecil Aluna sama Brayen itu, tu." om Arif mengarahkan dagunya ke tante Diana yang sibuk mencari CD yang diminta om Arif. Ada beberapa vidio yang di abadikan om Arif, untuk kenang-kenangan yang akan dilihat di hari tua, membuktikan bahwa mereka memiliki anak-anak yang menggemaskan, apalagi sekarang, Aluna sudah menikah, dan tidak bisa menemani mereka lagi.
"Emang buat apaan pah, dicari lagi?"
"Buat dikasih liat ke Aluna sama Brayen. Pastilah mereka lupa, kan waktu itu masih terlalu kecil. Vidio ini bisa jadi bukti, dari kecil mereka emang udah dijodohin."
"Emang Aluna mau ngelitnya, yang ada dia bisa perang lagi sama suaminya. Lagian papah ada-ada aja, masa orang yang bermusuhan dinikahin?" raut keheranan kini terpahat di wajah, Rio.
"Kamu nggak ngerti, Rio. Mamah sama papah aja dulu juga dijodohin, suka perang juga malah, sampai kamu lahir aja masih sering berantem, apalagi mamah kamu sering ngambek, kamu sempat loh ditinggal di mall sama mamah kamu, gara-gara papah nggak bisa nemenin mamah kamu , untung kamu nggak ilang." kata Om Arif membuka rahasia.
"Ihh, papah. Kok bilang-bilang sih, kan mamah malu." protes tante Diana yang kembali membawa benda tipis di tangannya, "papah nggak usah ungkit-ungkit lah, kan sekarang udah nggak gitu lagi."
"Oohhh, jadi mamah sama papah ini juga dijodohin, aku baru tau, wahh, mah, ternyata sifat Aluna turunan dari mamah ya."
Rio ikut meledek mamahnya, membuat tante Diana malu, pipinya merona merah, ingat kala itu, rasanya sangat mustahil, bisa saling mencintai dengan suaminya. Pilihan orang tua, memang selalu tepat, memilih dari keluarga yang jelas, memastikan anaknya akan bahagia, ia sangat yakin, Aluna dan Brayen akan berakhir bahagia, dengan anak-anak mereka kelak.
***
Hampir satu jam lebih stay di atas kasur, masih belum ada tanda-tanda Aluna akan, membuat Brayen bertanya-tanya sekaligus kesal, padahal ia sudah sangat tidak sabar, melihat kemarahan yang mencuat dari Aluna, saat perempuan itu melihat kamar yang sudah berantakan. Karena terlalu lama, Brayen keluar dari kamar, menuruni anak tangga diam-diam. Matanya terus mengarah ke tubuh Aluna.
Di bawah, Brayen menyilangkan tangan di atas d**a, melihat Aluna yang terdirur pulas dalam keadaan duduk, pantas saja ia tidak masuk ke dalam kamar, ia sudah enak dalam tidurnya. Terlihat jelas roman kelelahan terpahat di wajahnya, tapi, Brayen tidak perduli.
Brayen melangkah, bersiul-siul dengan tangan di masukan kedalam kantong celana, memandang setiap sudut rumah yang sudah tertata rapi, "berbakat juga ini cewek jadi pembantu, jadi gue kan nggak perlu keluar duit buat bayar pembantu." sejenak, Brayen menurunkan pandangannya pada Aluna, gadis sombong itu tertidur dengan wajah jelek, tidak bisa di kontrol.
"Heh, bangun lo." Brayen berjongkok, lalu, menggoyang-goyangkan tubuh Aluna, menyadarkan perempuan itu dari alam mimpi yang sedang dinikmatinya.
"Ihss.. Apa sihh. Ngantuk nih,"
Aluna merenggangkan otot-ototnya, mengucek mata yang masih lengket karena kantuk. Mendoggakan kepala, lalu berdiri.
"Lagian, kerjaan gue udah beres kan? Gue bisa istirahat." kata Aluna dengan suara parau.
Brayen mengernyitkan kening, sejurus kemudian tersenyum sinis.
"Kata siapa kerjaan lo selesai, kamar masih kayak kandang kambing gitu lo bilang udah selesai?"
"Maksud, lo?" tanya Aluna bingung, padahal seingatnya, kamar itu sudah dirapikan, jauh sebelum Aluna mencuci dan memasak makanan untuk Brayen, sangat yakin, karena ia sama sekali tidak mengalami amnesia.
"Lo liat aja kemar." jawab Brayen datar, memandang Aluna seperti debu.
Telak, Aluna berjalan, masuk ke dalam kamar, dan pemandangan disana benar-benar menakjubkan, bantal berserakan di lantai, sprai sudah terpisah dari kasurnya, buku-buku, baju di dalam lemari seolah sengaja di keluarkan, Aluna memucingkan matanya, benar-benar kesal dengan laki-laki itu. Sepertinya Brayen benar-benar berniat membunuhnya.
"Ini pasti kerjaan lo kan, Bra? Nggak usah bohong! Lo mau gue sumpahin jerawatan?"
"Eh, mulut lo kalau ngomong di kontrol dong. Sembarangan lo nuduh gue, durhaka lo."
Aluna memutar-mutar bola matanya, mengejek Brayen dalam diam. Kali ini, ia tidak mau mengalah, sepertinya Brayen lancang saat melihatnya ketakutan.
"Gue nggak mau!" tolak Aluna tak terbantahkan, ia mengetatkan rahangnya, benar-benar marah dan tak ingin memenuhi permintaan Brayen.
"Jadi lo mau nolak permintaan gue?"
"Terserah, gue nggak takut sama ancaman lo!"
"Lo pikir gue main-main? Oke!" Brayen menarik kasar tangan Aluna. Matanya menatap wajah Aluna dengan tajam. Sungguh, tatapan itu sangat membuat Aluna ketakutan.
***
Bersambung