***
Aluna sibuk memilih-milih baju-baju beremerek, kualitas bagus dengan barang-barang yang dikirim dari luar negri, ia selalu update dengan fasion terbaru di indonesia, pikirannya seolah terbuka, bagaikan sinyal terbaik sebuah ponsel. Tahu dimana pun barang-barang yang katanya limited edition, dengan persediaan terbatas. Hingga menjadi orang-orang tertentu yang bisa memilikinya.
Jesika dan Riana juga ikut andil di sana, memborong semua baju-baju dengan harga selangit, tidak perduli jumblah rupiah yang dikeluarkan, memiliki barang-barang mewah seperti itu sangat membuatnya bahagia.
"Al, muka lo pucet banget. Lo sakit lagi?"
"Masa sih?"
"Iya loh, Al. Wajah lo nyeramin, kayak hantu." Riana bergedik ngeri, seperti melihat hantu-hantu di film horor yang menyeramkan, identik dengan wajah putih dan bibir yang pucat. Mendengar ucapan Riana, spontan Aluna membulatkan matanya, menatap tajam Riana tanpa kedip.
"Maksud lo, gue ini setan?"
"Yaa, hampir mirip, habis muka jadi nyeremin kalau gitu, kayak mayat hidup, beneran deh, suer."
"Riana!" untuk kesekian kalinya, Aluna harus membentak Riana, rasanya, benar-benar memancing emosi, gadis itu selalu mendadak o'on di waktu yang tidak tepat.
Jesika mendesah, gerah mendengar perdebatan Aluna dan Riana, mulut Riana yang selalu ceplas-ceplos membuat emosi Aluna selalu meletus-letus. Riana hanya membekap mulutnya, melipat kedua bibir dalam-dalam, lalu kembali fokus dengan baju-baju yang menggantung di depannya.
"Gue khawatir, mending sekarang lo pulang aja deh, Al. Kita anter ya?"
"Masa gue harus pulang? Gue nggak apa-apa, mungkin gue cuma kurang darah, udalah, lagian gue ngerasa baik-baik aja kok."
"Oke, tapi kalau lo ngerasa pusing atau gimana, kasih tau gue ya."
Aluna hanya mengangguk sebagai respon, mengenyampingkan rasa pusing yang menyerang sejak tadi. Biasanya, sakit kepala yang ia alami hanya berlangsung sesaat, jika sudah melihat barang-barang kesukaannya, kesakitan itu akan melebur dengan sendirnya. Tapi nyatanya, sakit yang ia rasakan sekarang berbeda, seolah menggerogoti isi kepalanya, meremas-remas otak yang dikemas di bawah tenggorak.
Setelah puas menghabiskan puluhan juta rupiah, kini mereka sengaja pulang ke rumah Jesika, Aluna sendiri juga malas untuk langsung pulang. Bertemu dengan Brayen, hanya berujung pertengkaran yang tidak penting. Pernikahan itu telah membuatnya terjebak dalam dunia hantu, seolah-olah menerkam untuk bebas berkeliaran.
"Al, leher lo kenapa merah-merah gitu?"
Mendengar pertanyaan Riana, mata Aluna membeliak, kaget, langsung menutup leher dengan rambut tebal miliknya. Bekas yang ditimbulkan Byaren masih terlihat kentara, Aluna tidak sadar, perbuatan Brayen telah menimbulkan sesuatu di tubuhnya.
"Brayen beneran KDRT sama lo, Al? Ini nggak bisa dibiarin, kenapa lo cuma bisa diam doang, harusnya lo ngelajuin perlawanan, bukan malah diam doang kalau disiksa."
Aluna mengusap wajahnya frustasi, Riana terlalu kepo, tapi pada akhirnya tidak bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi.
"Nggak usah nanya-nanya, bodo amat, mau gue dibunuh kek. Terserah, malas gue."
"Jes, masa Aluna pasrah dibunuh sama lakinya." kata Riana heran.
"Rianaaaaaa!" Jesika menggertakkan gigi, gemas dengan wajah polos Riana. Perempuan itu hanya mengerutkan keningnya, kedua sahabatnya tidak memahami kekhawatiran yang ada di benaknya.
"Kalian berdua kenapa sih? Gue cuma khawatir sama, Aluna."
"Udah ya, gue pusing, dan sekarang gue mau pulang."
Aluna tidak tahan harus terus-terusan berada di dekat Riana, apalagi sekarang, emosinya sedang tidak stabil, mudah meletup, bahkan, untuk beragrumen dan membahas barang-barang terbaru membuatnya juga lelah. Apalagi saat sampai di rumah nanti, siap berhadapan dengan Brayen yang akan memakinya.
"Al, gue antar ya, si Riana di tinggal aja."
"Loh, kok gue ditinggal sih, ini kan bukan rumah gue, masa kita tukeran mamah, Jes. Gue nggak mau, gimana pun, meski nyokap gue cerewet, dia tetep nyokap terbaik gue, gue nggak mau." Riana memggeleng-gelengkan kepalanya, seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal ibunya, apalagi wajah murungnya semakin mengesankan bocah lima tahun yang selalu ingin ikut orangtuanya.
"Udah, ya Jes. Bener deh, gue pulang sendiri aja, gue juga udah pesen taxi on line. Mending, sekarang lo benerin si Riana, dia lagi kambuh."
Aluna semakin dibuat tidak betah, menyambar belasan tentengan belanjaan, siap diterkam Brayen, karena kembali menghabiskan uangnya dengan cuma-cuma.
"Tuh, gara-gara lo, Aluna jadi pergi."
"Kok gara-gara gue sih, gue mulu yang disalahin." Riana memorotkan bibirnya, tidak mengerti, dirinya selalu disalahkan, semua pendapatnya tidak pernah di dengarkan, merasa asing berada ditengah-tengah mereka. Jesika hanya memberikan senyuman, yang terlalu dipaksakan untuk di pamerkan. Untung saja Riana perempuan yang baik, sikap polosnya selalu menjadikan dia kesayangan, sebab sahabat seperti Riana, tidak akan pernah menikung dari belakang.
***
Sore itu, Brayen sudah berada dirumah, duduk di depan tv menyaksikan acara-acara di layar kaca. Pintu terbuka, Brayen yakin, Aluna sudah pulang dari acara hura-huranya. Melihat Aluna sekilas, dengan ekspresi tak terbaca, Brayen sudah tidak dibuat kaget, ini sudah puluhan kali Aluna pulang dengan barang-barang belanjaanya, bahkan kemarin perempuan itu membeli belasan sepatu ber hak tinggi, lengkap dengan lemari khusus penyimpan sepatu yang sama sekali tidak Brayen ketahui jenisnya.
Istrinya benar-benar gila shopping, bahkan saat mengecek jumblah saldo yang ada di dalam rekening, Aluna sudah menghabiskan 500 juta lebih dalam 2 minggu, perempuan boros itu sepertinya sengaja, ingin membuat bangkrut keuangannya. Padahal, keperluan penting masih banyak, apalagi tak lama mereka akan diwisuda, membutuhkan dana yang tidak sedikit, kepala Brayen benar-benar ingin dibuat pecah.
"Kenapa sih, hobi lo hura-hura mulu."
"Kenapa? Mau protes lagi? Buaknnya lo sendiri yang ngebebasin gue, terserah gue kan mau beli apa pun yang gue mau."
"Baju lo udah segudang, sepatu lo juga udah segunung, sekarang lo beli lagi barang-barang ini, astaga Aluna, gue benar-benar bisa stres hidup lama-lama sama lo."
Aluna mencibir remeh, menurutnya, Brayen terlalu berlebihan.
"Lo jangan seenaknya, jangan mentang-mentang gue ngebebasin lo, lo bisa setiap hari kayak gini, pantas aja bokap lo buang lo, terus ngasih ke gue."
Merasa tersindir, Aluna melempar tas ditangannya, lalu menatap sengit ke arah Brayen, emosinya sedang naik, jadi saat yang tepat, jika harus bertengangkar dengan Brayen.
"Lo jangan macam-macam, gue nggak pernah dibuang sama bokap gue, gue cuma dipaksa nikah sama lo, sama orang yang sama sekali, nggak gue cinta."
"Terus menurut lo gue cinta sama lo? Enggak! Lo itu cuman cewek murahan, yang nggak pantas buat dicintai, kualitas lo terlalu rendah, sampai harus dipaksa nikah sama gue, inget nggak, seumur hidup lo, nggak ada laki-laki yang bener-bener cinta sama lo, harusnya lo bisa sadar diri, kalau bukan cewek gampangan, apa dong namanya, mau aja dinikahin sama laki-laki yang jelas-jelas nggak pernah suka sama lo."
Kali ini Brayen tidak akan tinggal diam, perilaku Aluna harus dihentikan. Aluna tidak terima, lalu ingin menampar pipi Brayen, tangannya sudah terangkat, lalu dilayangkan kuat-kuat. Tapi, saat hampir menyentuh wajahnya, sesuatu menghalangi tangannya, lalu berbah menjadi cengkraman yang kuat. Membuat Aluna meringis kesakitan.
"Sakit! Lepasin."
Kedua mata Brayen sudah melotot, menatap tajam kearah wajah Aluna, tatapan membunuh yang menusuk ke dalam hatinya, ada sensasi yang luar biasa menghantam dadanya, Aluna tidak tahan ditatap penuh emosi seperti itu.
"Setiap hari lo selalu mengundang amarah gue, gara-gara lo, gue kehilangan orang yang paling gue cinta, kalau lo nggak ada di dunia ini, gue pasti udah bisa hidup bahagia sama pacar gue, tapi lo datang ngancurin semuanya." wajah Brayen memerah, menahan emosi yang sangat besat, rahangnya mengetat, semakin menguatkan cengramannya di tangan Aluna, "sekarang lo mau nampar gue sesuka hati lo? Lo udah ngundang kemarahan harimau, dan lo pasti tau, gimana keadaan lo setelah keluar dari rumah seekor harimau." seolah mendramatisir keadaan, padahal bukan hanya hatinya yang terluka, tapi Aluna ikut terluka, terpaksa menikah dan mengorbankan masa muda sudah cukup membuat Aluna tertekan, sekarang harus menjalani hidup bersama laki-laki kasar seperti Brayen, hanya akan menekan batinya, menimbulkan kegilaan yang tidak pernah terbayangkan.
"Gue juga nggak pernah bahagia hidup sama lo, lo itu bukan laki-laki yang baik, karena laki-laki baik tidak akan pernah nyakitun perempuan, laki-laki yang baik itu, selalu menunjukan sikap lembut, semntara lo, lo sendiri juga bukan laki-laki yang baik, jadi apa bedanya lo sama gue."
Brayen tersenyum sarkastis, melayangkan iris mata cokelatnya. Lalu mendorong tubuh Aluna dengan kuat, hingga terhempas di atas sofa. Aluna sangat terkejut, tidak menyangka Brayen akan melakukan kekerasan, air mata yang sejak tadi ditahan, kini telah berkomba-loma keluar, membasahi pipi telanjangnya.
"Bersikap lembut sama lo? Gue rasa itu terlalu berlebihan, karena perempuan yang nggak punya etika kayak lo, sangat tidak pantas untuk diperlakuin dengan lembut. Dan dengar baik-baik, lo itu udah nggak ada harganya, kayak ampas tebu, lo cuma pantas dibuang ke tempat sampah."
Setelah merasa puas memaki, Brayen melangkahkan kakinya, meninggalkan Aluna yang menuduk dengan tubuh bergetar. Perkataan yang di lontarkan Brayen benar-benar telah melukai hatinya, berkali-kali disebut w************n, menyat hati begitu perih.
Padahal, ia sangat berharap, Brayen menyambutnya dengan lembut, memberinya segelas air, menanyakan keadaan yang sedang tidak sehat, namun nyatanya semua berbalik, bagaikan bom yang telah memporak-porandakan hatinya. Tapi, ini aneh, Aluna tidak bisa membenci Brayen, perlakuan lembut yang pernah dilakukanya beberapa hari belakangan, membuatnya luluh, merindukan sapaan manis seperti kemarin.
"Nggak, Al. Kenapa lo harus nangis, bukannya ini udah hal biasa? Lo selalu berantem sama dia. Lo jangan pernah perduliin apa pun ucapan dia, karena itu sama sekali nggak berpengaruh buat hidup lo, Al." Aluna yakin, tidak ada yang aneh dengan dirinya, keadaan badan yang kurang sehat memang membuatnya sedikit cengeng, semua ucapan Brayen tidak akan berpengaruh apa-apa dalam hidupnya.
"Assalamualaikum..." Aluna mendogakan kepalanya, melihat sosok tante Tari, mertuanya. Disusul dengan om Rendra yang berdiri di lawang pintu, menatap seluruh rumah, lalu tersenyum.
Aluna enggan menjawab, masih memilih diam, bersikap secuek mungkin, lalu menghapus jejak air mata yang masih membekas.
"Sayang, kamu kenapa. Kamu sakit, kok pucat begini, kamu juga kurusan." Tante Tari sangat khawatir, tidak ingin terjadi hal buruk dengan menantu kesayangannya itu, meski terlihat sangat ketus, Tante Tari sangat yakin, Aluna sebenarnya tidak bermaksud seperti itu.
"Brayen mana, kok nggak nemenin kamu disini, kamu habis belanja?"
Kepala Aluna semakin dibuat pening, pertengarannya dengan Brayen tadi sudah membuat sakit kelapa, sekarang kedua mertuanya datang selalu menanyakan tentang Brayen, membuat Aluna muak, ingin memukul kepalanya hingga pecah, memperlihatkan syaraf-syaraf yang sudah kusut masai.
"Dia, di kamar."
"Ngapain? Dia tidur lagi, kamu belanjanya sendiri, sayang?"
"Nggak, sama teman."
Tante Tari tersenyum, lalu melirik ke arah suaminya, sangat yakin, anak dan menantunya pasti sedang memiliki masalah.
"Bilang ya sama mamah, kalau Brayen macam-macam sama kamu, mamah akan hukum dia."
Mendengat pernyataan mertuanya, kening Aluna mengerut dalam, beberapa detik kemudian, menyeringai. Seolah dikelilingi euforia, Aluna sangat bersemangat.
"Tadi, dia marah-marahin aku, cuma gara-gara aku belanja segini doang. Dia malah ngusir aku pulang, ke rumah mamah sama papah aku." kata Aluna melebihkan, terlalu kesal dengan tingkah Brayen yang selalu berubah-rubah layaknya cuaca pancaroba. Apalagi mengingat rayuan laki-laki itu kemarin, membuatnya hanyut hingga lupa keadaan, melakukannya secara sadar, tanpa paksaan.
"Apa, dia ngusir kamu?" Tante Tari melotot kaget. Tidak menyangka anaknya bisa melakukan hal yang tidak pantas seperti itu. Aluna hanya membalas dengan anggukan, "pah, lihat kelakuan anakmu, padahal kita kan sudah sering nasehatin, supaya perlakuin Aluna dengan baik."
"Papah udah pusing sama anak itu, setiap papah ngajak dia ngomong, selalu bahas pacarnya yang nggak penting itu."
Merasa mendapat pembelaan yang kuat, Aluna semakin menjadi, masuk ke dalam kesempatan yang sempurna.
"Biar mamah yang ngomong sama dia, kamu tunggu di sini, mamah bakal omelin dia."
Mendengar pernyataan mertuanya, Aluna ber oh-oh ria di dalam hati, sangat senang, sebentar lagi, Brayen tidak akan lagi berbicara sesuka hati, harus berlut meminta maaf sambil memohon-mohon.
"Iya mah, kalau Brayen nggak mau minta maaf sama aku, aku bakal pulang ke rumah papah, sama mamah aku."
"Ehh jangan, iya-iya, kamu tenang aja, mamah bakal pastiin suami kamu itu bakal minta maaf sama kamu."
Senyum kemenangan kini mengambang di permukaan wajah Aluna, sudah melintas di benaknya, bagaimana cara Brayen berlutut, lalu memegang tangannya, memohon maaf sebesar-besarnya.
Tante Tari sudah berjakan ke kamar, memenuhi janji untuk memahari anaknya, memaksa laki-laki itu untuk meminta maaf.
"Kamu, sama Brayen kapan ngasih mertuamu ini, cucu?"
"Ha?" Aluna tergemap, kali ini pertanyaan papah mertuanya begitu mengintimidasi.
"Kalau kalian terus-terusan berantem nggak ada akurnya, gimana kalian mau punya anak, bulan depan setelah diwisuda, kalian harus mau papah kirim untuk bulan madu. Papah nggak mau tau, Brayen cuma anak papa satu-satunya, dan papah sudah tua, papah nggak sabar nunggu keturunan Brayen lahir." Aluna kesal sendiri, semua selalu mengharapkan keturunan darinya, termasuk kedua orangtuanya, padahal, sama sekali ia tidak ingin hamil, apalagi mengandung anak laki-laki yang sama sekali tidak dicintai.
"Aku belum mau punya anak."
"Kenapa? Tujuan pasangan menikah itu, ya punya anak, pernikahan tanpa anak itu nggak akan sempurna. Gimana mungkin rumah bisa berdiri tanpa tiang?"
Aluna mendesis, hal seperti itu hanya diharapkan untuk orang yang saling mencintai, berlaku bagi pasangan yang bahagia dengan pernikahan mereka, tapi nyatanya, pernikahan yang ia alami, mematahkan keinginan normal para seorang istri.
***
"Mamah nggak suka, kamu perlakuin Aluna kayak gitu, dia itu istri kamu, harusnya kamu itu perlakuin dia dengan baik, bukannya malah kamu usir-usir, kamu maki-maki kayak gitu."
"Mah, aku kan udah bilang, aku nggak suka, dan aku nggak bisa terus-terusan hidup sama dia, Mah."
"Apa susahnya Brayen! Dia istri kamu."
Pertengaran sengit mulai tampak membungkus ibu dan anak itu, keduanya sama kekuh, kuat dengan keinginan masing-masing.
"Yang anak mamah itu sebenernya aku atau dia? Kenapa mamah justru malah lebih ngebela dia, ketimbang aku anak kandung mamah sendiri, dia cuma bisa nyusahin, selalu nggak mau denger apa kata orang lain."
"Itu karena kamu nggak bisa bersabar menghadapi dia, Brayen. Ini bukan masalah anak kandung atau menantu, kamu sudah menikahi dia, dia sudah menjadi tanggung jawab kamu, kamu harus bisa bikin dia bahagia, keistimewaan laki-laki itu terdapat bagaimana cara dia menghormati perempuan. Kamu mau mempermainkan istrimu, menjadikan dia cuma sebagai pelepas hasrat kamu, itu artinya kamu sudah memandang rendah kedukukan seorang perempuan, sama saja kamu tidak menghormati, mamahmu ini."
"Mamah!" Brayen membakikan badannya, setengah membentak, membuat tante Tari sangat terkejut, anaknya tega membentanya sendiri.
"Ini semua kesalahan mamah, mamah sama papah selalu memaksakan kehendak, menikahkan aku sama perempuan yang nggak aku cinta. Mamah nggak pernah tanya kan, gimana perasaan aku saat aku harus kehilangan perempuan yang aku cintai? Mamah cuma menuntut aku buat patuh sama aturan mamah, tapi mamah nggak pernah mengerti apa yang aku mau, apa itu bisa disebut sebagai ibu? Dimana-mana, seorang ibu pasti akan mendahulukan kebahagiaan anaknya, bukan memaksa dan menjual anaknya "
Mendegar pernyataan yang sangat menyakitkan dari mulut Brayen, membuat hati tante Tari sanga sakit, emosinya mencuat kepermukaan, matanya sudah menimbulka air yang akan segera membeludak, mulut anaknya sudah melukai hatinya. Anak yang dikandung dengan segala rasa lelah, melahirkan dan mengorbankan nyawa, kini tega memakinya, bagaikan teman seumuran.
Terlaku emosi, tante Tari mengangkat tangannya, lalu menampar kuat pipi Brayen, menimbulkan bunyi. Brayen membuang muka kesamping, merasakan panas di area pipinya.
"Kertelaluan kamu, Brayen. Perempuan yang kamu cintai itu sudah membuat kamu membangkang orangtuamu sendiri." tante Tari tidak habis fikir, anaknya akan tega berbicara seperti itu. Brayen hanya mendunduk, menyesali ucapan yang tidak sadar ia lontarkan.
Tante Tari mengusap air matanya, lalu memasang wajah merah menahan marah, lalu melangkah meninggalkan Brayen yang masih membatu. Membawa kekecewaan yang luar biasa.
***
Bersambung