***
Pagi sekali, subuh-subuh pukul 04:35, Aluna muntah-muntah di dalam kamar mandi, suaranya sampai menganggu tidur, Brayen. Brayen membuka setengah matanya, lalu berdecak kesal, memandang puntu kamar mandi yang setengah terbuka. Pagi-pagi, Aluna sudah mengganggu istirahatnya.
Di dalam kamar mandi, Aluna memuntahkan seluruh isi perutnya, kepalanya juga berdenyut-denyut pusing, wajahnya pucat pasi, matanya sudah merah, menangis tanpa sebab.
Membasuh wajah di wastafel, lalu memandang dirinya di depan cermin.
Bentuknya sudah semberaut, rambut kusut masai, badannya juga mengurus, tidak terawat, tidak secantik biasanya, dirinya hampir menyerupai orang gila yang kehilangan seorang anak.
"Astaga, itu gue." lirih Aluna pelan, tubuhnya lemas, kakinya melumer, benar-benar tidak bisa menahan bobot tubuh, lagi-lagi, ia harus jatuh sakit.
Berjalan tertatih-tahih keluar dari dalam kamar mandi, matanya bisa melihat punggung Brayen yang masih tertidur, dibalut selimut hingga leher.
"Bra..."
Brayen hanya bergeming, malas menengok ke belakang.
"Gue pusing, anterin gue pulang. Gue mau dirawat sama nyokap gue aja."
"Jangan memancing keributan, ini masih pagi, lo nggak usah manja. Tinggal tidur aja juga paling sembuh, lo itu cuma masuk angin biasa, nggak usah lebay deh, kayak orang sekarat lo."
Mendengar perkataan Brayen yang menyimpan perasaan tidak peduli, membuat Aluna semakin pening, laki-laki itu benar-benar tidak bisa merawatnya. Andai saja ia punya kekuatan, sehat seperti biasa, juga tidak akan meminta bantuan pria itu.
"Udah, tidur. Yang ada nanti gue makin disalah-salahin, gara-gara semua orang ngebelain lo!"
Aluna memicingkan matanya, berusaha mengatur nafas yang mulai menyesak, dadanya seolah kekurangan oksigen, sangat pengap. Aluna menelan air liur yang terasa pahit, lagi-lagi tenggorokannya terasa gatal, perutnya kembali ingin memuntahkan sesuatu, tapi, kali ini masih bisa ditahan.
Aluna dan Brayen saling menciptakan jarak, sama-sama memberikan punggung masing-masing, seharusnya Brayen memijit bahunya, memberikan segelas air. Aluna memang paham, mereka saling membenci, tapi, setidaknya Brayen harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Karena tidak enak badan, Aluna kembali memejamkan mata, berusaha untuk istirahat, agar besok pagi kondisinya kembali pulih.
***
Merasa lebih baik, Aluna memutuskan untuk tetap datang ke kampus, mengenyampingkan semua rasa tidak enak di badan. Bertemu dengan teman-temannya, bisa membuat bebannya berkurang, setidaknya di kampus adalah alasan ia mampu tertawa lepas, merasa dirinya seorang gadis yang bebas tanpa ikatan.
Berjalan di koridor kampus, melihat orang yang berlalu lalang, kepala makin perasa pening, Aluna memegang kepalanya sedikit meringis.
"Al, lo baik-baik aja kan?"
Aluna tidak bisa membuka matanya, terasa sangat berat, dunia rasanya berputar sangat cepat, telinganya mulai samar-samar mendengar suara, hingga Akhirnya, Aluna jatuh pingsan.
"Alunaa!" tubuh Aluna yang nyaris tumbang berhasil ditahan Jesika, perempuan itu menggoyang-goyang pipi Aluna pelan, tapi, ia tidak merespon sedikit pun.
Arsya, laki-laki itu langsung muncul di hadapan Jesika, memandang Aluna dengan tatapan tak terbaca. Laki-laki yang sudah lama diam-diam memerhatikan Aluna, kini berani muncul. Di hadapan Aluna.
"Kenapa, dia?"
"Gue nggak tau, lo bisa bawa dia ke ke ruangan kesehatan, kan?"
Arsya mengangguk, lalu mengangkat tubuh ringkih Aluna. Wajahnya benar-benar sangat pucat, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Arsya meneguk salivanya, sekarang wajahnya sangat dekat di depan mata Arsya. Takut, terjadi hal-hal buruk dengan perempuan itu.
Sampai di dalam ruangan kesehatan, dokter yang menjaga di sana langsung berhamburan, saat Aluna di baringkan di atas brangkar.
"Ada apa ini?"
"Dia tiba-tiba pingsan, Dok."
Dokter Clara langsung mengerut, melihat cairan kental di hidung Aluna. Langsung mengambil tindakan, memeriksa kondisi pasien yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kalian bisa keluar?"
Jesika dan Arsya mengangguk, menunggu di luar dengan harap-harap cemas.
"Lo kenapa segitu paniknya?"
"Gu--gue? Gue biasa aja kok. Cuma, gue suka panik kalau liat orang pingsan."
Kening Jesika mengerut, lalu akhirnya mengangguk.
"Dia kenapa, bisa pingsan seperti itu?"
"Gue nggak tau, tapi akhir-akhir ini, dia emang sering sakit, sejak nikah sama si b*****t itu."
"Menikah?"
Mata Arsya melotot, mendengar pernyataan Jesika, tidak menyangka, gadis yang diam-diam ia kagumi sudah menikah, pasalnya, ia tidak pernah mendengar kabar miring tersebut.
Jesika membekap mulutnya, sadar telah melepaskan sesuatu kalimat, rahasia yang dijaga rapat-rapat oleh Aluna, kini sampai di telinga orang lain.
"A--anu, itu... Maksud gue, bukan gitu."
Arsya mendesah, "kenapa, dia menutupi status pernikahannya?"
"Duh, lo jangan bilang-bilang ya dia baru nikah kok. Dia dijodohin sama Brayen, anak kampus sini juga."
"Ohh..." ekspresi wajah Arsya datar, tersadar akan keterlambatannya. Aluna tidak mungkin bisa ia dapatkan lagi, tapi nyatanya, hatinya berkata lain, ia tidak rela Aluna dimiliki lelaki lain, diam dan bisu telah mengalahkanya dalam hal percintaan.
Selama ini, ia hanya bisa melihat setiap gerak-gerik Aluna, baik diluar maupun di dalam kelas, hanya memberi senyum, tanpa sapaan.
"Tapi, Aluna pasti bakalan cerai, jadi lo jangan bilang-bilang ya, nanti gue yang bakal disemprot sama dia."
"Kenapa harus bercerai, pernikahan bukan main-main."
"Lo nggak tau sih, gimana brengseknya si Brayen itu, Aluna itu nggak bahagia sama sekali."
Arsya hanya diam, tidak merespons apa pun.
"Eh tapi kok gue malah bahas ini sama lo ya? Lupain aja."
Dokter Clara tersenyum saat Aluna mulai membuka mata, sedikit meringis, memegang kepala yang masih terasa pening. Matanya melihat keseluruh ruangan, hingga terhenti pada sosok dokter, Clara.
"Masih pusing?"
"Sedikit dok."
"Sudah sering, pingsan seperti ini?"
Aluna menggeleng, "enggak dok, baru mingu-minggu ini, sebelumnya saya emang sempat demam, hampir satu minggu. Kayaknya sekarang saya down lagi."
Dokter Clara hanya menganut mengerti, kemudian kembali tersenyum.
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan?"
Pertanyaan yang dilontarkan dokter Clara berhasil menimbulkan seribu pertanyaan di benak Aluna.
"Datang bulan?"
Seingat Aluna, harusnya menstruasi yang biasa akan datang 2 minggu yang lalu, tapi, Aluna baru menyadari, sudah telat hingga dua minggu.
"Inget, berpacaran boleh. Tapi jangan sampai melampaui batas, kamu mau membuat kampus ini jelek?"
"Maksud dokter."
"Saya tahu, kamu sudah berhubungan dengan seorang laki-laki, kan?" mata Aluna membulat, kaget, nyaris keluar dari tempatnya, ia tidak ingin dianggap sebagai perempuan yang bukan-bukan
"Saya sudah menikah, dok." pernyataan itu certecus begitu saja dari mulut Aluna, tanpa berfikir dua kali.
"Oh, maafkan saya, sudah berfikir yang tidak-tidak."
Hening, tidak ada respons apa pun dari Aluna. Banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya, jantungnya bekerja dua kali lebih cepat.
"Nanti, saat sampai di rumah, kamu coba testpect, ya."
"Apa?" Aluna menjerit, kaget. Syaraf-syaraf pendengarannya seolah ditarik paksa hingga putus, pernyataan dokter barusan hampir membuat jantungnya lepas, aliran darah melompat ke atas kepala, hingga menimbulkan panas ke telinga. Apa dia tidak salah dengar, dokter menyarankannya untuk menggunakan alat test kehamilan?
"Setelah saya periksa, sepertinya kamu sedang mengandung, tapi, untuk lebih jelasnya, kamu bisa test dengan alat kehamilan itu."
Aluna merasa lehernya tercekik, seperti menelan biji duruian yang besar, tidak bisa berkata apa-apa, sangat takut jika dirinya benar-benar sedang mengandung.
Dokter Clara menautkan alisnya bingung dengan ekspresi yang diterbitkan Aluna, gadis itu seperti enggan mendengar kabar bahagia saat akan segera mendapatkan momongan.
Hati Aluna tertusuk sakit, Brayen pasti akan tertawa puas karena telah berhasil menghamilinya, apa yang didamba-dambakan orangtua dan mertuanya akan segera tercapai, Ia menunduk, lalu menyentuh perut datarnya, --benarkah ada janin di sana?--
***
Aluna keluar dari ruangan kesehatan, di luar Jesika langsung menghampiri Aluna, wajah pucat Aluna masih terlihat jelas.
"Gimana kata dokter, Clara. Tadi lo mimisan itu kenapa?"
"Gak apa-apa, gue cuma kurang air putih, gue cuma demam biasa."
"Untung tadi, ada si Arsya. Kalau enggak, gue bingung mau bawa lo ke sini gimana."
Aluna menatap Arsya sekilas, lelaki berkulit putih itu hanya tersenyum, tipis, sangat tipis, bahkan bisa di bilang, menerbitkan senyum paksaan.
"Thanks, ya."
Asrya hanya mengangguk, tubuh Aluna yang masih lemah, berjalan tergopoh-gopoh, di rangkul Jesika. Arsya ikut memegang pinggang Aluna, takut gadis itu kembali jatuh pingsan.
Namun, baru beberapa langkah, tubuh Arsya terhenti, saat tangan seseorang menatik kerah bajunya dari belakang.
"Apa-apaan lo pegang-pegang bini gue." Brayen datang, lalu menyingkirkan tubuh Arsya dengan telak.
"Eh, lo santai dong, kalau nggak ada dia tadi Aluna bakal tergeletak noh di koridor, mau lo si Aluna kena tendang?"
"Bodo amat, mendingan kayak gitu, daripada dia pegang-pegang bini gue, lagian lo diam aja, lo nggak usah jodoh-jodohin mereka."
Jesika rasanya ingin smacdown mulut Brayen, pria itu datang tiba-tiba, lalu berbicara yang aneh-aneh, membut emosi Jesika naik kepermukaan. Mendengar keributan Brayen an Jesika, semakin membuat kepalanya terasa pecah, apalagi Brayen yang secara terang-terangan membongkar rahasia pernikahan mereka.
"Bisa diam nggak? Kepala gue sakit denger suara kalain!"
"Lagian lo juga kegatelen, pake sok-sok sakit segala. Gue kan udah bilang, nggak usah lo datang ke kampus, lo aja yang ngotot."
Merasa asing sendiri, Arsya memilih pergi, lagipula, ia buka tipe laki-laki yang suka keributan, dunia sunyi adalah kecintaannya, membuat otak lebih berfikir dengan baik.
Brayen sengaja, memberi perhatian lebih pada Aluna, berharap Ines bisa melihatnya, dan merasakan kecemburuan yang ia rasakan. Perempuan itu tidak bisa seenaknya, memainkan hatinya seperti monopili, menjajali keseluruhannya, kaya akan segalanya, lalu ditinggalkan saat merasa bosan saag terpuaskan.
Brayen mengangkat tubuh ringkih Aluna, membuat gadis itu tersentak kaget, membawanya berjalan dibantara lalu lalang siswa lain, mengabaikan ratusan pasang mata yang menatap keduanya heran.
"Brayen, turunin gue."
"Diam lo, lo harus bantuin gue, bikin Ines cemburu." kata Brayen saat hampir mendekati Ines.
Bagaikan dihimpit batu besar, d**a Aluna terasa sangat sakit, merasa dirinya hanya sebagai alat untuk pelampiasan, ia memutar bola mata jengah, mulutnya ingin sekali menyerang laki-laki itu dengan kata-kata pedas, menatap Brayen sebal setengah mati, darahnya sudah mendidih ke ubun-ubun, wajahnya merah, seperti ada asap yang menggepul dari hidung dan kedua telinganya, ingin mencakar pipi Brayen hingga mengeluatkan darah. Tapi, kondisi tubuh yang lemah, membuat emosi itu perlahan melebur.
"Loh, Jes. Itu kok tumben Aluna di gendong sama suaminya?"
Riana yang baru saja muncul mengagetkan Jesika yang melompat-lompat karena kesal, hampir di cacimaki Brayen, spontan aksi gila itu terhenti.
"Mana gue tau,"
"Gila, romatis banget, gue kapan nikah..."
"Sok romantis, lebay, kuno."
"Lo cemburu? Lo suka sama suami temen lo sendiri? Parah lo Jes."
"Riana, diam! Kalau lo nggak bisa diam gue sumpel mulut lo pakai sepatu bot."
Rian hanya menaikan kedua alisnya bingung, padahal moment itu benar-benar sangat romantis, Aluna di perlalukan bak seorang tuan putri yang akan duduk di singgahsana sang raja, dan semua orang-orang yang bertebaran hanya bagaikan patung-patung penjaga istana, begitulah Riana yang terlalu mendramatisir keadaan.
***
Aluna terdiam di dalam kelas, menimbang-nimbang ucapan dokter, Clara. Pikirannya mulai berkecanuk ria, bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil? Apa ia harus membeli testpect, lalu mencobanya? Atau malah diam-diam pergi ke dokter kandungan? Tidak, dokter Clara pasti salah, dia tidak mungkin hamil. Aluna menggelengkan kepalanya, sangat yakin.
Karena terlalu jenuh, Aluna ngeloyor keluar kelas, mengabaikan hentakan dosen yang memanggil namanya hingga 5 kali, ia sudah tidak perduli, harus mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Di dalam toilet, Aluna memegang benda tipis prrsegi panjang, membuka kemasannya, tangannya bergetar hebat, keringat dingin bercucuran membahasi punggung hingga ekornya, menalan ludahnya dengan susah payah. Membelinya saja butuh keberanian yang luar biasa, semua tubuh tiba-tiba melumer.
"Nggak, ngga gue nggak mau. Gue nggak siap." kembali Aluna memasukan testpect ke dalam tasnya, menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan ke khawatirannya.
"Tapi, gue harus coba. Dan bisa pastiin kalau gue itu nggak hamil."
Aluna greget sendiri, antara ragu dan penasaran, membuatnya bingung, memilih antara lompat ke dalam jurang berduri atau menginjak bara api yang sangat panas, tidak bisa memilih.
"Nggak, gue nggak butuh barang ini. Lagian sekarang, gue udah nggak mual, udah nggak pusing, udah baikan, dan gue pasti nggak hamil."
Aluna kembali mengambil testpect miliknya, lalu membuang benda itu ke dalam tempat sampah, ia sudah sangat yakin, dirinya sedang tidak mengandung.
Saat keluar dari dalam toilet, Aluna tanpa sengaja melihat Brayen menatik tangan Ines, berjalan menuju lorong yang sepi, merasa penasaran, Aluna memilih diam-diam mengikuti mereka, sedikit mengetatkan rahangnya, saat sesuatu yang panas menjalar di dalam d**a, tanpa sadar, Aluna sedang dibakar api cemburu.
"Ines, kenapa kamu malah pacaran sama laki-laki tua itu."
"Laki-laki tua apa maksud, kamu?"
"Rio, kenapa kamu malah milih buat jadian sama dia, kenapa kamu mau-maunya dicium sama dia."
Ines menggelengkan kepala, heran.
"Aku nggak ngerti sama kamu. Kamu bersikap seolah-olah aku milik kamu, tapi nyatanya kita udah nggak ada hubungan apa-apa. Jadi, aku bebas mau menjalin hubungan sama siapa pun."
"Aku tau, Rio cuma sebagai pelampiasan kamu, kan?"
"Aku nggak sebrengsek yang kamu pikirin, Riyan. Aku masih punya otak dan hati. Aku nggak akan pernah mainin perasaan orang."
"Kamu bohong!" sela Brayen cepat, matanya melotot, amarahnya sudah meledak-ledak.
"Aku tau, kamu cuma mencintai aku, kan?"
Mata Ines mulai berkaca-kaca, "kamu benar, aku emang masih cinta sama kamu, tapi buat apa, mencintai orang yang nggak jelas buat kamu, kamu itu samar, Riyan. Dan aku udah belajar buat mencintai, dia."
"Aku nggak percaya."
"Kenapa, memangnya kamu siapa yang bisa tau segalanya. Kamu harusnya juga belajar mencintai istri kamu."
"Nggak bisa! Aku nggak akan pernah mau ngasih hati aku buat gadis sombong kayak dia, aku benci sama dia, gara-gara dia, kita harus pisah, dan aku nggak akan pernah rela, dia udah bikin kita pisah, dan sekarang, kakaknya bikin kamu nggak mau perjuangin cinta kita lagi."
"Brayen, kamu jangan egois!"
"Kamu yang egois, kamu paksa aku cinta sama perempuan sialan itu, perempuan k*****t yang sama sekali nggak ada gunanya. Mana bisa aku melepaskan kamu yang sangat berharga cuma buat dia?"
Ines tidak habis fikir, Brayen bisa merendahkan seorang perempuan semudah itu, kecewa dengan laki-laki yang tidak menghargai kehadiran perempuan.
Di balik tembok, Aluna sudah bersimbah air mata, mendengar pernyataan Brayen sangat menusuk hati, bahu Aluna mulai naik turun, tangisnya pecah detik itu juga, Brayen menganggapnya serendah itu, lalu untuk apa laki-laki itu berani menyentuh tubuhnya.
"Laki-laki b******k!" umpat Aluna, lalu perempuan itu memilih pergi, ia harus segera meminta cerai, mengadukan ini kepada ke dua orangtuanya. Ia sudah tidak tahan, kehadiran yang tak dianggap membuatnya jenuh, Aluna sangat-sangat membenci Brayen.
***
Bersambung