Rere mulai mengerjakan lukisannya. Tadinya mama Mahesa meminta Rere untuk melukis di rumahnya saja. Alasannya jika ada kekurangan, Rere bisa langsung memperbaikinya. Namun gadis itu menolak, tentu saja itu bukan hal yang baik. Berada di rumah itu dalam waktu lama, sama saja memberinya waktu untuk terus bertemu dengan Mahesa. Dan bagaimana caranya ia melupakan laki-laki itu, jika terus melihatnya setiap hari.
Namun menolak tawaran itu nyatanya tak serta merta menjauhkannya dengan Mahesa. Karena laki-laki itu kini berdiri di belakangnya, di studio lukisnya.
"Aku nggak bisa ngelukis kalau ada orang lain!" ketusnya.
"Kamu nggak ingat? Dulu aku selalu nemenin kamu waktu ngelukis di taman?"
Rere menggerakkan bola matanya ke segala arah. Mencoba mencari alasan agar laki-laki itu mau pergi dari tempat ini.
"Itu dulu!"
"Tapi kata Rena, pacar kamu itu, sering nemenin kamu di sini!"
Rere berdecak sebal, lalu dengan kasar menarik kursi dan duduk di depan kanvas. Tangannya terangkat, mencoba menggores warna. Namun gagal. Bagaimana dia bisa berkonsentrasi jika Mahesa terus memperhatikannya. Antara dia dan Leon tentu saja berbeda.
"Aku nggak bisa! Lukisan ini nggak bakalan selesai kalau kamu di sini!" Rere nyaris berteriak. Enggan menatap wajah Mahesa. Dia sungguh kesal dengan sikap laki-laki ini. "Lagian kamu nggak punya kerjaan apa?" lanjutnya.
Mahesa tersenyum, ia perlahan melangkah mendekati gadis yang sedang menampakan raut kesal itu.
"Kerjaanku fleksible, bisa dikerjakan kapanpun."
Mata Rere memicing, lalu bangkit dari duduknya. Ia tak mau berdekatan dengan Mahesa.
"Tapi nggak harus ngrecokin kerjaanku juga, kan?"
Mahesa sama sekali tak tersinggung. Ia malah senang Rere mulai banyak bicara. Dan lagi, kata-katanya sudah tak sekasar waktu itu.
"Kan aku mau mastiin, gambar oma aku nanti itu harus bagus," katanya memberi alasan.
Rere berdecak, "Kalau memang nggak percaya sama hasil lukisan gue! Lo bisa cari pelukis lain!" Rere kembali menggunakan panggilan itu. Dia benar-benar tersudut. Dia harus memiliki tameng untuk menutupi kondisi hatinya yang sesungguhnya.
"Bukan itu maksud aku, Re."
"Terus apa? Udah deh, kalau lo memang mau lukisan oma cepat selesai! Mendingan lo pergi sekarang! Dan kalau nanti hasilnya nggak sesuai ekspektasi kalian, kan bisa tinggal dibuang lukisannya!"
Napas Rere terengah karena menahan kesal. Ia sudah tidak bisa mengendalikan hatinya yang tentu sudah tidak bisa dikatakan baik. Kenapa Mahesa tidak bisa mengerti posisinya?
Laki-laki itu tersenyum masam, lalu terpaksa melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun baru saja Rere mau bernapas lega, perkataan Mahesa kembali mempora-porandakan hatinya.
"Aku tahu, sebenarnya kamu nggak bisa ngelukis kalau ada aku di sini karena apa," kata laki-laki itu di depan pintu.
Rere tak berani menoleh. Ia bahkan takut mendengar kelanjutan perkataan Mahesa.
"Karena perasaan kamu masih seperti dulu. Kamu terlalu gugup jika aku ada di sini. Dan kamu takut hati kamu akan melemah."
Rere masih bungkam, apalagi tebakan laki-laki itu tepat sasaran.
"Aku akan pergi, tapi bukan berarti aku akan berhenti sampai di sini. Kamu tunggu apa yang akan aku lakukan untuk memperbaiki semuanya. Kali ini aku nggak akan berjanji, tapi aku akan memperlihatkan bukti. Bahwa omonganku kali ini nggak main-main, Re."
Rere meremas kedua tangannya. Ia masih enggan menatap Mahesa yang akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup.
Gadis itu menendang kursi, lalu berlutut sembari menjambak rambutnya kesal. Ia menjerit tertahan. Kenapa Mahesa tidak mau melepasnya saja. Bukankah itu lebih mudah untuk jalan mereka ke depannya?
*
Leon yang baru saja turun dari motor besarnya beradu tatap dengan laki-laki yang baru saja keluar dari rumah Rere. Sebenarnya, Leon tidak ingin menganggap laki-laki yang bernama Mahesa itu seorang lawan. Tapi dari tatapan yang Mahesa lesatkan kini, Leon tahu, bagi laki-laki itu, dia adalah penghalang.
Leon mencoba ramah meski Mahesa menampakan sorot tak suka yang sangat kentara. Laki-laki bermata sipit itu mengangguk, lalu tersenyum tipis sebelum akhirnya masuk ke rumah kekasihnya.
Sementara Mahesa menganggap lain arti senyum itu. Ia pikir Leon tengah meremehkannya. Karena kini Rere telah berpaling darinya. Laki-laki itu memukul setir dengan kesal lalu segera melajukan motornya keluar halaman rumah Rere.
Setelah berbasa-basi dengan mama Rere, Leon langsung masuk ke studio lukis kekasihnya itu. Ia mengerutkan kening bingung karena kini Rere nampak duduk di lantai sembari menatap kosong ke arah langit-langit. Laki-laki itu berlutut di depan gadis yang nampak kacau hari ini.
"Kenapa?" tanya Leon sembari mengetuk kening Rere yang berponi dengan telunjuknya.
"Jangan bilang nggak pa-pa, karena gue nggak akan percaya," lanjut Leon cepat sebelum Rere sempat menjawab, lalu tertawa kecil saat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Leon duduk di samping gadis itu. Menarik kepala Rere agar bersandar di bahunya. Tangannya meraih jemari Rere, lalu ia genggam dengan kedua tangan besarnya. Cukup seperti ini. Mereka saling diam. Leon membiarkan Rere menata hatinya sejenak. Ia tahu, ada sesuatu yang tidak baik yang kini sedang Rere rasakan.
"Tadi, dia nemuin kamu?" tanya Leon hati-hati setelah terdiam cukup lama.
Rere sontak membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Ia hendak menarik kepalanya dari bahu Leon, tapi laki-laki itu menahannya.
"Begini aja," katanya.
Rere tersenyum, menatap jarinya yang masih Leon genggam. Belum ada rasa apa-apa di dalam hatinya untuk laki-laki ini. Tapi sikap Leon yang seperti ini, setidaknya mampu menenangkan hatinya yang sedang dalam kondisi tak baik.
"Tadi gue ketemu dia di depan. Gue senyumin, eh dianya malah kayak nyolot gitu," cerita Leon karena Rere sepertinya masih enggan bersuara.
"Tadi dia nemuin lo?"
Rere menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Dia ngomong sesuatu?"
Mata Rere mengerjab, ia mendongak untuk bisa melihat ekspresi yang kini sedang Leon tunjukkan. Namun wajah itu tersenyum, seolah tidak masalah jika memang Mahesa menemuinya. Bukankah seharusnya dia cemburu?
"Gue cemburu, jelas. Tapi gue bukan anak kecil, Re. Gue nggak akan marah-marah, cukup lo ceritain aja apa yang terjadi," kata Leon lagi, seolah bisa membaca pikiran Rere.
"Lo bisa baca pikiran gue?" tanya Rere pada akhirnya. Ia menarik tubuhnya lalu bersandar pada tembok.
Leon terkekeh, "Lo itu orang yang paling nggak bisa berpura-pura, Re. Apa yang lo pikirin itu mudah ketebak."
"Masak?"
"Iya, buktinya omongan gue selalu tepat sasaran, kan?"
Rere mencibir, lalu bangkit dari duduknya. Ia menarik kursi dan duduk di depan kanvasnya.
"Gue dapat pesenan lukisan dari mamanya Eza," kata Rere memulai cerita.
Leon ikut bangkit, lalu berdiri di samping gadis yang mulai menarikan jarinya di atas kanvas.
"Lukisan hadiah buat oma Eza," lanjut Rere. Leon masih mendengarkan, tak berniat memberi komentar sampai Rere selesai bercerita.
"Kemarin gue ke rumah omanya dia." Rere mendongak untuk menatap Leon, namun lagi-lagi hanya senyuman yang laki-laki itu tunjukan.
"Tapi sama Rena juga. Gue kepaksa pokoknya," kata Rere seolah yakin jika Leon sebenarnya memang cemburu. Namun laki-laki itu memang selalu bisa menyembunyikan segala hal yang ia rasa.
"Terus, yang membuat lo sekacau tadi apa?" tanya Leon setelah hening yang cukup lama.
"Dia bilang ...." Rere ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menggigit bibir bawahnya tanpa berani menatap Leon yang kini sudah berlutut di sampingnya. Tanpa menolehpun Rere tahu jika Leon kini tengah menatapnya.
"Bilang apa, Re?"
Rere melirik Leon dengan ekor matanya.
"Dia bilang kalau dia bakalan berusaha ngambil hati lo lagi? Dia bilang kalau kali ini dia bakal berjuang, dan bakalan ngebuktiin ke lo kalau kali ini dia benar-benar akan membuat semuanya kembali seperti dulu? Dia bakalan membuat kalian bersatu lagi?"
Mata Rere mengerjab, ia meneliti wajah Leon yang malah nampak tersenyum saat mengatakan semua tebakannya itu.
"Diem lo berarti iya. Gue juga nggak terkejut. Karena kalau gue jadi dia, gue juga bakalan ngelakuin hal yang sama, Re," kata Leon lagi masih dengan senyuman di wajahnya. Entah apa arti dari senyuman itu.
"Nggak usah kawatir, Re. Peluang gue sama dia itu sama. Walaupun sebenarnya, untuk urusan hati dia yang menang. Tapi kondisinya sekarang yang membuat dia nggak mudah buat maju. Sementara gue? Gue punya kondisi yang mudah untuk ngedeketin lo, tapi yang membuat semuanya nggak mudah itu karena hati lo masih milik dia."
Rere tak merespon, dia masih mengamati kedua mata Leon.
"Kita jalani aja semuanya, gue akan berjuang seperti yang selalu gue bilang. Soal hasil akhir, kita serahkan semuanya sama Tuhan, oke?"
Rere mengangguk, namun tak bisa mengatakan apapun. Leon begitu baik. Bagaimana jika akhirnya waktu tak memihak laki-laki ini. Bagaimana jika pada akhirnya hati Rere tak bisa berpaling. Sanggupkah Rere menyaksikan kehancuran hati laki-laki sebaik Leon? Dan parahnya, kehancuran itu mungkin saja disebabkan oleh dirinya.
"Udah nggak usah mikir macem-macem, sekarang mulai lukisan lo!" kata Leon mencoba menenangkan. Ia menepuk pelan kepala Rere. Dan memposisikan gadis itu agar kembali menatap ke depan. Ke kanvas putih di depannya yang masih bersih.
Namun bagaimana Rere bisa mulai mengerjakan lukisan ini. Jika hatinya seperti sedang berperang di dalam sana. Kenapa cinta harus serumit ini? Andai saja membolak-balikan hati adalah perkara yang mudah. Tentu saja Rere memilih untuk mengisi hatinya dengan nama Leon saja. Sepertinya itu akan lebih memudahkan jalan hidupnya.