Harusnya Rere tidak berada di sini. Harusnya Rere menolak ajakan keluarganya untuk berlibur bersama dengan keluarga Mahesa. Harusnya Rere tetap diam di rumah, menikmati kesendirian di studio lukisnya tanpa gangguan. Harusnya ....
Rere hanya bisa berdecak sebal dalam hati. Sepanjang perjalanan menuju villa keluarga Mahesa yang letaknya tak jauh dari rumah oma laki-laki itu. Rere hanya diam, memanyunkan bibirnya, sembari melempar pandang keluar jendela.
Sementara di sampingnya, Renata seperti biasa menampakkan senyuman manis. Sepertinya dia yang paling bahagia dengan rencana ini. Dan Rere makin kesal saat menebak apa yang membuat kakaknya bisa sebahagia itu.
Kemarin malam Rere tidak sengaja mendengar percakapan antara Renata dan kedua orangtuanya. Mereka menyinggung soal liburan dan juga pertunangan. Meskipun tidak terlalu jelas apa yang Rere dengar. Sepertinya ia bisa menebak apa maksud dari obrolan itu. Apalagi jika bukan soal pertunangan Mahesa dan Renata.
Rere berdecih dalam hati. Ingin sekali ia menampar wajah Mahesa dengan seluruh kekuatannya. Apa yang laki-laki itu katakan beberapa hari yang lalu masih sangat jelas. Ia akan memperjuangkan Rere!
Dan apa yang terjadi sekarang?
Ck! Rere akui, meski bibirnya bilang tidak akan mengharap lagi pada Mahesa. Tapi perkataan laki-laki itu soal pembuktian tentu saja mengusik hatinya. Secara tidak langsung, Mahesa telah memberi sebuah harapan yang memang belum sepenuhnya pupus dari hati Rere. Namun apa sekarang yang terjadi, Mahesa akan mematahkan hatinya yang memang sudah patah tak berbentuk.
"Keluarga Mahesa masih di jalan, kita di suruh masuk villa dulu," kata ayahnya. Rere tak menjawab. Sementara Renata mengangguk dengan antusias.
Keluarga kecil itupun keluar dengan membawa bawaan masing-masing. Renata sepertinya yang paling repot. Entah apa saja yang ia bawa sampai harus membawa satu koper berukuran sedang dan satu tas kecil yang isinya juga tak kalah penuh.
Sementara Rere cukup dengan ranselnya saja. Lagipula mereka juga akan menginap semalam. Dan Rere juga bukan tipe cewek ribet. Polesan untuk wajahnya saja cukup bedak tabur untuk bayi dan lip balm tanpa warna.
Rere mengedar pandang ke sekitar. Menikmati sejenak pemandangan indah di sekitarnya. Lalu melangkahkan kaki ke arah villa saat mamanya memanggil namanya.
Ada dua villa yang saling berhadapan. Masing-masing villa hanya memiliki dua kamar. Jadi mau tak mau Rere harus sekamar dengan Renata. Bukan hal yang menyenangkan tentunya. Tapi apa lagi yang bisa ia perbuat. Tidak mungkin ia ikut tidur dengan kedua orangtuanya. Dan tidak mungkin juga tidur di ruang tamu dengan beralaskan karpet.
Rere membuka jendela kamar dan tersenyum saat pemandangan hijau langsung menyambut matanya. Pohon-pohon nampak rindang. Seolah saling berlomba untuk meneduhkan tempat ini.
"Re, kamu mau masukin baju kamu?"
Rere menoleh sebentar ke arah Renata yang sedang menata baju-bajunya ke lemari. Lalu menggeleng dan kembali menatap lurus ke depan.
"Ini aku sisain tempat kalau kamu mau nyimpen bawaan," kata Renata lagi dengan senyum lembut. Lalu membaringkan badannya dan memainkan ponsel.
Rere mendengus jengah. Ia memilih keluar kamar dengan ransel tetap di punggungnya.
"Mau ke mana, Re?" tanya mamanya yang tengah menata makanan di atas meja.
"Mau muter bentar Ma," kata Rere pelan.
"Nggak niat ...."
"Mau kabur juga naik apaan si, Pa. Di sini nggak bisa pesen ojol," jawab Rere asal. Lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan lagi wejangan yang papanya berikan.
Gadis yang senang mencepol rambutnya ke belakang itu melangkah menyusuri jalan setapak di sekitar villa. Banyak warung-warung kecil yang membuat kawasan ini tidak terkesan sepi.
Gadis itu mengeluarkan ponsel, mencoba mengabadikan keindahan alam yang ada di sekitarnya. Namun tiba-tiba saja seseorang mengambil ponsel yang ia pegang dari belakang.
"Eh hape gue!" teriak Rere sembari melompat untuk mengambil ponsel yang diangkat tinggi oleh seseorang. Senyum Mahesa menyambutnya saat Rere mendongakkan wajahnya ke orang tersebut. Sejak kapan laki-laki ini ada di sini?
"Balikin nggak ponsel gue?"
Mahesa malah makin meninggikan tangannya. Dengan senyum tertahan ia mencoba menjauhkan benda itu dari Rere yang mencoba melompat. Namun sayang, postur tubuh Rere tidak memungkinkan untuk melampaui tubuh tinggi Mahesa.
"Balikin! Eza!" Rere memekik saat kakinya tergelincir kaki Mahesa, dan tanpa sengaja menubruk tubuh laki-laki itu. Untung saja Mahesa sigap menahan tubuhnya dan tubuh Rere agar tidak terjatuh ke belakang.
Untuk sekian detik dua pasang mata itu terkunci. Waktu seolah berhenti di titik itu. Bahkan Mahesa berharap bisa terus menatap wajah Rere sedekat ini. Menikmati keindahan alami yang selalu ia kagumi sejak dulu. Hingga senyuman Mahesa terkembang, dan saat itulah Rere sadar dan kembali memijak pada poros bumi.
Ia segera menarik tubuhnya untuk berdiri tegak dan dengan cepat mengambil ponselnya saat Mahesa masih lengah.
Gadis itu menatap Mahesa dengan wajah cemberut. Lalu membenarkan posisi ranselnya dan memilih pergi tanpa berkata apapun.
Mahesa hanya tersenyum melihat tingkah Rere yang sangat menggemaskan di matanya.
*
"Kalian ... dari mana?" tanya Renata bingung karena melihat Rere kembali dengan Mahesa di belakangnya.
Rere yang baru sadar jika laki-laki itu ternyata di belakangnya menoleh ke arah Mahesa yang sedang menampakan senyuman. "Bukan urusan lo!" ketus Rere tanpa mau melihat wajah kakaknya. Renata mengembus napas pendek, lalu tersenyum dan mendekati laki-laki yang kini tengah mengubah ekspresinya. Dingin.
"Kamu, dari mana?"
"Muter aja, cari angin, emm ... aku, mau ke dalem dulu," kata Mahesa, hanya melempar senyum tipis dan memilih masuk ke dalam villa.
Renata menatap punggung laki-laki yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suaminya. Ada sesuatu yang sebenarnya mengganjal di hatinya. Tapi wanita yang selalu berpenampilan rapi di manapun itu menggeleng, mencoba menghapus kecurigaan yang tiba-tiba saja menyelubungi hatinya. Dia jauh lebih menarik dari adiknya, mana mungkin Mahesa melirik Rere daripada dirinya.
*
Suasana malam ini begitu hangat. Kedua ayah nampak sedang mengobrol di depan api unggun yang baru saja mereka buat. Kedua ibu terlihat sedang membakar jagung sambil bercerita tentang banyak hal.
Rere yang baru keluar dari villa mengedar pandang sejenak. Dia mendengus saat melihat Renata dan Mahesa sedang duduk berdua. Tak terlalu jelas apa yang sedang mereka lakukan. Namun Rere berusaha untuk tidak peduli.
Ia terpaksa menghampiri si tengil Adrian yang melambaikan tangan ke arahnya. Cowok itu tengah memangku gitar dengan senyum jahilnya.
"Jangan cemburu, gue tahu, hati Abang gue itu tetap buat lo," cengir cowok yang mengenakan sweater warna hitam dengan celana cargo pendek itu. Rere tak menyahut, ia memilih mengambil paksa gitar di tangan Adrian.
"Emang lo ngerti cara mainnya?" kekeh Adrian dengan senyum miring.
"Brisik," ketus Rere, ia duduk di samping adik Mahesa itu. Lalu tangannya mulai meraba-raba nada yang akan ia mainkan.
Mahesa yang sedang menatap langit malam, menoleh saat mendengar suara denting gitar. Ia tahu itu bukan denting yang biasanya adiknya mainkan. Matanya mengerjab, bibirnya tersungging tipis. Telinga yang sedari tadi tak berfungsi secara normal saat Renata berceloteh panjang lebar. Kali ini ia pasang baik-baik. Ia ingin tahu lagu apa yang tengah Rere mainkan saat ini. Siapa tahu saja lagu itu ditujukan untuknya.
"Gue pikir lo jago, udah sok gitu megangnya," ledek Adrian karena Rere memang hanya bermain asal.
Awalnya Rere memang berniat memainkan satu lagu. Tapi saat melihat wajah Mahesa yang bergerak ke arahnya, gadis itu mengurungkan niatnya.
"Sa? Kamu dengar aku?" Mahesa tersentak saat Renata menyentuh lengannya. Ia tersenyum tipis.
"Sori, emm ... gimana kalau kita gabung sama mereka?" kata Mahesa seraya berdiri, lalu langsung melangkah pergi sebelum Renata menyatakan setuju atau tidak dengan ajakannya itu.
Rere yang sudah ingin berdiri saat melihat kedatangan Mahesa urung. Karena di sampingnya Adrian membisikan kata-kata yang membuat Rere tidak bisa menghindar.
"Gue nggak tahu masalah apa yang tersisa di antara kalian, tapi bokap kita lagi ngeliatin ke sini. Mereka pasti akan mikir yang enggak-enggak kalau lo tiba-tiba pergi dari sini."
Rere terpaksa duduk dan kembali merebut gitar yang sudah berpindah ke tangan Adrian. Cowok tengil itu menertawakan sikap Rere yang ia tahu tengah gugup karena kehadiran abangnya.
"Boleh aku aja yang main? Kamu yang nyanyi, gimana?"
Mata Rere memicing malas, tanpa bersuara ia menyorongkan gitar di tangannya pada Mahesa yang kini sudah duduk di hadapannya. Sementara Renata ikut duduk, dan bergelayut di lengan Mahesa. Rere hanya bisa mendesis kesal tanpa suara.
"Sori Ren, aku nggak bisa main kalau tangan kamu di situ," kata Mahesa saat sadar jika apa yang Renata perbuat hanya akan menyakiti hati Rere. Karena Mahesa yakin, gadis itu masih mengukir namanya di dalam hatinya.
Mahesa mulai memetik gitar, dan mengisyaratkan Rere untuk mulai bernyanyi. Ia tahu suara Rere bagus karena dulu mereka sering melakukan hal ini. Tapi kali ini Rere tidak Sudi melakukan hal yang akan membangkitkan kenangan mereka di masa lalu.
"Aku aja yang nyanyi!" kata Renata girang.
Rere meringis ngeri. Ia tahu persis bagaimana suara kakaknya itu. Wajah Renata memang menarik, tapi tentu saja tidak dengan suaranya.
Karena tidak enak untuk menolak. Akhirnya Mahesa mengiringi Renata bernyanyi dengan suaranya yang amburadul.
Adrian ingin menjedotkan kepalanya ke tiang listrik rasanya. Lalu karena tidak tahan gendang telinganya dirusak, ia pun merebut gitar di tangan Mahesa dan pergi meninggalkan ketiga orang lainnya.
Suasana tiba-tiba canggung. Rere memilih bangkit dan meninggalkan tempat itu. Mungkin memang semesta sedang memihak pada kedua pasang kekasih yang kini sudah menjadi mantan.
Renata tiba-tiba saja sakit perut dan berlari ke dalam villa. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan Mahesa untuk mengejar Rere yang sudah tidak terlihat sosoknya.