LFU 10

1703 Words
Rere tahu Mahesa mengikutinya. Namun ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Lagipula ia tidak mungkin kembali ke villa dan terjebak di dalam situasi yang tidak menyenangkan. Melihat gerak-gerik Renata yang sok manis di depan calon mertuanya betul-betul membuat Rere muak. "Re, tunggu!" Mahesa menyamakan langkahnya. Rere mendongak sekejab, lalu kembali menatap lurus ke depan. Di mana jalanan mulai ramai dengan muda mudi yang tengah berboncengan. Tenda-tenda camping pun makin meramaikan suasana. "Ngapain si ngikutin gue? Kan ada hal penting yang mau dibahas di villa?" Rere masih tidak bisa mengubah ekspresi ketusnya. Ia tak mau kalah dengan hatinya yang selalu saja terasa melemah jika berdekatan dengan laki-laki ini. "Hal penting apa?" Rere mencibir, tak berniat menjawab. Ia tahu Mahesa sedang berpura-pura. "Nggak ada yang lebih penting selain membuktikan kata-kata yang pernah aku ucapin waktu itu." Rere berdecak, menghela napas. Lalu memilih menghentikan langkahnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya, dan menatap pemandangan gelap di depan sana. Cahaya lampu di kejauhan nampak berkelap kelip seperti bintang. Namun sebenarnya Rere tidak benar-benar menikmati itu. Hatinya bergejolak. Ternyata Mahesa masih mengingat kata-katanya sendiri. Namun benarkah jika Rere berharap perkataan itu benar? Tidak, dia tidak mau kembali kecewa. "Re." Rere tak bergeming. Namun mau tak mau ia menoleh saat merasakan tangannya ditarik. Senyum Mahesa lah yang ia tangkap pertama kali saat mendongakkan wajah. Ia berniat menarik tangannya yang sudah berada dalam genggaman laki-laki itu. Namun kekuatan Mahesa bukan tandingannya. Laki-laki itu menahan jari kecilnya dengan erat. "Sekali aja, biarkan seperti ini." Rere memilih memalingkan wajah. Membiarkan tangannya tetap Mahesa genggam. Dan tentu saja ia harus menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Apalagi kini jantungnya tengah menari dengan begitu hebatnya. Kenapa perasaan bencinya pada laki-laki ini bisa luntur begitu saja. Dasar Rere bodoh! Dia meruntuki sendiri hatinya yang malah berbunga-bunga. Tidak seharusnya ia seperti ini. Karena jika ia lemah, maka kondisinya tidak akan semudah yang ia pikirkan. "Tangan gue udah kesemutan," kata Rere datar tanpa mau menatap ke arah Mahesa. Laki-laki itu tersenyum, lalu dengan sangat terpaksa melepas genggamannya. Terasa ada yang hilang. Tapi Mahesa pastikan ini hanya perasaan sesaat. Karena ia akan terus berusaha untuk menggenggam tangan mungil Rere. "Mendingan lo cabut, deh. Daripada jadi masalah. Entar gue disangka pelakor lagi," kata Rere asal. Mahesa hanya menahan tawanya mendengar ucapan itu. "Ngapain cengar-cengir? Renata itu kakak gue, dan gue nggak mau jadi saingan dia. Jadi, mendingan lo pergi dan samperin dia sekarang," lanjut Rere yang melirik sebal ke arah Mahesa karena laki-laki itu seperti tak mendengar perkataannya. Dia hanya tersenyum dan terus menatapnya dari samping. "Gue bilang pergi!" kata Rere gemas. "Za!" Mahesa menghela napas, "Aku lebih suka dipanggil Za, daripada Sa. Kamu tahu itu, kan? Dan aku nggak mungkin hidup dengan orang yang seumur hidup memanggilku dengan panggilan yang tidak aku suka, ingat itu Re." Rere tak merespon kata-kata Mahesa yang sebenarnya tidak ia mengerti. Namun ia bisa bernapas lega karena laki-laki itu akhirnya benar-benar pergi. Menyisakan ruang kosong yang tiba-tiba saja membuat hati Rere seketika hampa. Bukan ini yang ia inginkan, tapi apa lagi yang bisa Rere lakukan selain membiarkan perjodohan itu terus berlangsung. Rere sudah mendengar tentang penyakit jantung yang ayah Mahesa derita. Dan tidak mungkin diberi kejutan secara tiba-tiba. Apalagi, sepertinya kedua orang tua Mahesa sangat menyukai Renata. Dan entah apa yang mereka pikirkan tentang Rere. Tapi gadis itu yakin, Renata akan selalu menjadi menantu idaman jika dibanding dirinya. Bukankah akan menyakitkan jika dirinya nanti dibanding-bandingkan dengan kakaknya sendiri? * Saat Rere kembali semua orang tengah duduk mengelilingi api unggun. Terkecuali Adrian yang Rere lihat sedang tebar pesona di villa sebelah. Rere yang hendak masuk ke dalam terpaksa mengurungkan niatnya. Karena mama Mahesa memanggilnya untuk bergabung. "Jadi gimana rencana selanjutnya?" Rere tahu tidak seharusnya ia duduk di sini. Kalimat yang ayahnya ajukan baru saja telah membuka celah hatinya untuk kembali terluka. "Apa nggak bisa dibicarain lain kali? Maaf, Om, sepertinya saya dan Renata masih perlu mengenal satu sama lain lagi," jawab Mahesa cepat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Meski hanya tunangan, tapi Mahesa benar-benar ingin menyudahi hubungannya dengan Renata sebelum berjalan terlalu jauh. "Za, dari kemarin kan kamu bilangnya mau ikutin apa aja permintaan papa?" Mahesa tersenyum, mencoba mengerti dengan kekhawatiran yang kini ibunya tunjukan. Mereka memang menjodohkan Mahesa, dan menginginkan anak pertamanya itu untuk segera menikah karena melihat kondisi sang ayah yang semakin memburuk. Namun semenjak mendengar Mahesa menyetujui perjodohan ini, laki-laki yang sudah mulai beruban itu seolah menemukan kembali gairah hidupnya. "Ma, pernikahan itu bukan hal yang main-main. Aku dan Renata perlu saling mengenal lebih. Mama sama Papa nggak mau kan, pernikahan aku nantinya hanya seumur jagung?" kata Mahesa sembari menatap kedua orang tuanya bergantian. "Mahesa bener Tante, Om. Kita masih butuh waktu untuk saling mengenal, Rena nggak masalah kok soal itu." Renata ikut menyahut saat Mahesa menatapnya dengan tatapan permohonan. Ia tahu, Mahesa setengah hati menerima perjodohan ini. Bahkan sikap laki-laki itu masih sangat dingin. Renata perlu waktu untuk meluluhkan kebekuan Mahesa. Ia juga tidak mau hidup dengan laki-laki yang bersikap acuh padanya. Renata yakin, waktu bisa mencairkan kebekuan hati Mahesa. "Ya sudah, kita bahas lain kali aja. Lagipula kan mereka yang mau menjalani, jadi memang kita seharusnya ikuti saja apa yang mereka mau," kata Firman, ayah Renata untuk memecah ketegangan. Rere merasa seperti orang bodoh di sini. Namun ia akui, ada rasa lega yang membuat bibirnya mengembuskan napas lembut. Dan harapan itu, keinginan yang ingin ia kubur kembali bangkit. Tidak seharusnya Rere seperti ini. Karena jika dia terus mengembangkan rasa ini. Akan banyak hati yang terluka. Termasuk hati Leon. * "Re." "Hemm," gumam Rere enggan menanggapi panggilan Renata yang juga sudah merebahkan badan di sampingnya. Namun keduanya saling memunggungi. "Udah tidur?" Rere berdecak, mana ada si orang udah tidur dipanggil jawab. "Mau ngapain?" tanya Rere jengah. "Kamu masih marah karena masalah itu?" Rere tak langsung menjawab. Sebenarnya ia sudah malas membahas hal ini. Permasalah di masa lalu, yang membuat dirinya dan Renata menjadi seperti ini. Ia selalu menghindar karena memang tak ingin membahasnya lagi. Tapi kini, saat mereka terjebak di satu ruangan yang sama. Rere tahu, pada akhirnya kalimat pertanyaan itu akan muncul dari bibir kakaknya. "Re." Renata merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Kepalanya bergerak ke arah samping. Di mana Rere masih tetap pada posisinya. "Re, aku tahu kamu belum tidur," kata Renata saat Rere tak juga menyahut. "Udah basi juga, nggak usah dibahas," jawab Rere malas. "Tapi sikap kamu yang kayak gini ngebuat aku selalu merasa bersalah. Apa yang bisa aku lakukan biar semuanya bisa kembali seperti dulu?" Rere mendesah kasar, ia benar-benar tak ingin lagi membahas ini. Kenapa Renata tidak bisa mengerti, jika membahas masalah yang pernah terjadi di antara mereka, hanya akan membuka kenangan buruk di masa remaja Rere. Jika bisa, ia ingin menghilangkan memorinya di masa itu. "Gue kan udah bilang nggak mau bahas, Ren! Jadi ya nggak usah dibahas!" Rere yang kesal akhirnya bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar. Suasana diluar sudah terlihat sepi. Orangtuanya dan keluarga Mahesa sepertinya sudah masuk ke alam mimpi. Rere memilih duduk di depan api unggun yang masih menyala. Ditatapnya lekat jilatan api yang secara perlahan melahap kayu hingga menjadi bara. Sampai ia merasakan kehadiran seseorang. Rere berdecak saat melihat Mahesa kini ikut duduk di sampingnya. "Lo nggak ada kerjaan apa selain ngintilin gue?" kata Rere malas. Mahesa tak mengindahkan protesan Rere. Dia ikut mengamati api unggun di depannya. "Kenapa nggak tidur?" tanyanya mengabaikan perkataan Rere tadi. "Bukan urusan lo juga, kan?" Rere sedang dalam mode kesal karena Renata menggali topik yang tabu bagi hatinya tadi. Jadi jangan salahkan ia yang akhirnya makin bersikap dingin pada Mahesa. "Kamu ada masalah?" tanya Mahesa sabar. Ia bisa merasakan suasana hati Rere sedang tidak bisa dibilang baik. Meskipun sikap gadis ini masih ketus seperti biasanya. Namun kali ini berbeda. Jika biasanya gadis ini terlihat gugup, kali ini Rere nampak kesal. "Gue udah bilang bukan urusan lo," kata Rere datar. Jujur ada rasa hangat karena Mahesa seperti mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang. Namun tentu saja Rere tidak mau laki-laki itu besar kepala jika Rere mencurahkan apa yang kini ia rasakan. "Ikut, yuk!" kata Mahesa seraya berdiri. "Ayo, ikut!" lanjut laki-laki itu sembari menarik tangan Rere karena ia tahu gadis itu pasti tidak akan mau mengikuti ajakannya. "Lo mau nyulik gue? Lepasin! Gue mau balik ke villa!" Rere mencoba menarik tangannya. Namun Mahesa tak menggubris, ia malah hanya menahan senyum dan terus melangkah. "Eza! Lo mau ngapain?" tanya Rere mencoba menghentikan langkah, namun laki-laki itu terus menariknya lembut. "Udah diem. Ikut aja!" katanya sambil tersenyum. Rere hanya bisa memanyunkan bibirnya dan mengikuti langkah Mahesa. Laki-laki itu menghentikan langkah saat sudah tiba di tujuan. Rere yang bingung hanya mengedar pandang. Tak ada lain selain gelap. Apa yang ingin Mahesa tunjukan sebenarnya? Jangan-jangan? Rere menatap Mahesa curiga dan memundurkan langkahnya. Laki-laki itu malah terkekeh geli. "Kamu takut?" Rere menggeleng, namun reaksi tubuhnya berkata lain. Sekali lagi Mahesa hanya terkekeh geli. Laki-laki itu duduk lalu mengulurkan tangannya agar Rere mau duduk di sampingnya. "Mau ngapain?" tanya Rere waspada. Mahesa kembali tertawa kecil, "Aku nggak bakalan macem-macem, Re. Sini!" katanya. Meski masih takut dan sedikit curiga, Rere melangkah maju dan duduk di samping Mahesa. Mau kembali ke villa pun tidak mungkin. Jujur, dia takut jalan sendirian di kegelapan dan lagi suasana sudah sedikit sepi. Hanya terlihat beberapa lalu lalang kendaraan. "Lihat ke atas," kata laki-laki itu sembari menengadah. Lalu ia malah merebahkan tubuhnya di rerumputan. Rere mengikuti arah pandang Mahesa. Bibirnya tersenyum saat melihat apa yang Mahesa maksud. Jajaran bintang nampak indah di atas sana. Dahan pohon yang menyisakan tempat lapang ini terlihat seperti bingkai. Rere menoleh ke arah Mahesa yang sedang tersenyum. Lalu gadis itu ikut merebahkan tubuhnya. Dengan posisi seperti ini, langit nampak seperti kanvas hitam. Dengan lukisan bintang yang bertaburan. "Aku biasa ke tempat ini kalau lagi nginep di villa. Pemandangannya bagus. Aku selalu membayangkan, jika suatu hari aku akan mengajak seseorang yang spesial untuk melihat pemandangan indah ini bersama." Rere menoleh saat merasa Mahesa tengah menatapnya. "Dan impianku sudah terwujud," kata laki-laki itu dengan senyum hangat. Rere tak mampu mengucapkan apapun. Jujur ia bahagia. Namun kondisinya makin menjadi sulit. Karena hatinya yang masih penuh dengan nama laki-laki di sampingnya ini makin melemah. Bagaimana dia bisa belajar mencintai yang lain. Jika Mahesa terus saja memupuk perasaan Rere agar terus berkembang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD