LFU 11

1581 Words
Leon : Gue sakit, Re. Lo nggak mau jenguk? Satu pesan yang langsung membawa Rere untuk mendatangi apartemen laki-laki itu. Leon tidak punya siapapun di kota ini. Menurut cerita laki-laki itu, kedua orangtuanya meninggal semenjak ia masih SMA. Ia anak tunggal dan tidak memiliki saudara dekat. Maka tidak heran, saat membutuhkan seseorang seperti saat ini. Hanya Rere yang selalu Leon andalkan. Rere memegang kartu akses untuk masuk ke apartemen laki-laki itu. Maka tanpa menunggu Leon membukakan pintu, Rere sudah langsung bisa masuk ke dalam. Suasana sepi menyambutnya, karena ia yakin Leon masih bergelung di bawah selimut. Rere melangkah ke arah dapur. Menuangkan bubur yang tadi mamanya buat ke dalam mangkuk. Lalu membuat teh hangat sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Leon sambil menenteng nampan. "Yon!" serunya agak berteriak. Namun saat tak ada sahutan Rere membuka pintu secara perlahan. Suasana remang menyambutnya. Dan sesosok tubuh nampak masih bergelung di bawah selimut. Terdengar suara batuk saat Rere membuka korden kamar, agar cahaya matahari masuk. Leon menyipitkan mata, lalu berusaha duduk dan tersenyum ke arah Rere. "Pasti lembur mulu kan beberapa hari ini?" kata Rere sembari meletakkan nampan berisi bubur dan teh hangat ke atas nakas. Tangannya terulur untuk menyentuh dahi Leon. Panas. "Udah minum obat?" Leon menggeleng, "Lemes, Re," bisiknya dengan suara sedikit serak. "Ya udah Lo makan gih, gue ambilin obat," kata Rere sembari melangkah keluar. Mengambil obat lalu kembali ke kamar. "Makan Yono!" kata Rere gemas saat Leon tak juga mau menyentuh makanannya. "Males, Re. Nggak kepengin makan." "Tapi harus makan!" Rere menarik lengan Leon sebelum laki-laki itu kembali merebahkan tubuhnya. "Masak harus gue suapin si, Yon!" Leon terkekeh, "Romantis dikit kek, Re sama pacar," katanya. Rere memutar bola mata malas. Tapi akhirnya ia mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Leon. "Gini ya rasanya punya pacar, ada yang merhatiin," kata Leon sambil tersenyum. Rere mencibir, "Emang kemarin-kemarin siapa yang ngurusin kalau lo sakit? Heh?" Leon kembali terkekeh, "Beda Re rasanya, diurus temen sama pacar." Rere mengembus napas pendek, "Orangnya sama kan, Yon!" "Tapi statusnya beda, oh ya ... gimana kemarin jalan-jalannya?" Rere mengerjab. Rasa bersalah langsung menyelubungi hatinya. Otaknya kembali memutar ke malam itu. Jangan berpikir macam-macam. Tidak terjadi apapun antara dirinya dan Mahesa. Mereka hanya saling diam. Seolah masing-masing hati bisa mengerti apa yang ingin diutarakan hanya dengan seperti itu. Mereka terus saling melirik. Hingga pagi mulai menjelang, keduanya baru meninggalkan tempat itu dan masuk ke villa masing-masing. Namun sejak saat itu, Rere tidak lagi banyak bicara jika Mahesa ada di sekitarnya. Hatinya benar-benar melemah. Malah, saat ini dia sangat merindukan kehadiran Mahesa. Rere memang sebodoh itu. "Re?" Leon menggerakkan tangannya di depan wajah Rere yang terlihat melamun. Gadis itu tersentak dan kembali menyorongkan sesendok bubur ke arah Leon. Namun laki-laki itu menolak. "Kenyang Re," katanya saat Rere memaksa. Akhirnya Rere hanya mengembus napas pendek. "Apa, terjadi sesuatu?" tanya Leon setelah meminum obatnya. "Kamu nggak jawab pertanyaan gue tadi," lanjutnya sembari memperhatikan wajah Rere yang nampak lain. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Rere mengusap tengkuknya, ia bingung harus bagaimana. Dia seperti seorang kekasih yang baru saja tertangkap basah selingkuh. "Nggak ada, gue cuman capek doang," ringisnya. Dan Leon tahu Rere sedang berbohong. Namun seperti biasa. Ia tidak akan memaksa jika Rere tidak mau bercerita. "Oh iya, minggu depan gue ada reuni SMA. Lo ikut, ya?" Leon mencoba mengalihkan topik. "Hah? Ngapain?" Leon tersenyum, sepertinya kehadiran Rere mempercepat proses kesembuhannya. Dia sudah terlihat lebih segar. "Kan lo pacar gue, Rere!" Rere meringis tak nyaman. Selalu rasa itu yang ia rasakan setiap kali Leon menyebutnya "pacar".  "Lo nggak ada acara, kan?" tanya Leon saat Rere tak juga memberikan jawaban. "Emm, kayaknya nggak ada, si," jawab Rere sambil membereskan mangkuk bubur dan gelas teh yang sudah kosong. "Berarti nggak ada alasan buat nolak dong. Gue juga pengin ngenalin lo ke temen-temen gue, Re." Rere menggeleng geli, "Buat apaan? Mau pamer? Kalau pacar lo kayak Renata mungkin iya lo bisa pamer. Nah gue? Apanya yang mau dibanggain si, Yon?" Leon berdiri, ikut melangkah keluar saat Rere juga melangkah keluar dari kamarnya. "Elonya aja yang kurang bersyukur, Re. Gue akui Renata itu cantik, cuman cantiknya Renata itu ngebosenin. Kebanyakan assesoris mukanya dia. Beda sama lo, cantiknya lo itu alami. Bikin orang betah lama-lama ngeliatin wajah lo. Lo itu manis, Rere." Gadis itu malah tertawa kecil, "Lo lagi ngegembel? Nggak mempan sama gue!" Leon tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Rere memang seperti itu. Tidak pernah percaya jika dibilang cantik. Padahal Leon mengatakan hal yang sebenarnya. Rere dan Renata memang memiliki kecantikan yang berbeda. Renata terlalu banyak memoles wajahnya dengan make up. Dan itu membuat kecantikan di wajahnya menjadi tidak enak dilihat. Itu menurut Leon. Sementara Rere. Dengan polesan yang sederhana, gadis itu sudah memancarkan sesuatu yang membuat wajahnya nampak menarik. Dan membuat mata laki-laki seolah enggan melirik ke tempat lain. Apalagi kalau gadis itu sedang tersenyum. Namun sayang, senyum Rere itu adalah barang langka. "Udah, lo istirahat, gue masih ada kerjaan. Gue harus selesain lukisan omanya Eza!" Rere menggigit bibir, entah mengapa merasa bersalah pada Leon hanya karena menyebut nama itu. Leon mengangkat alisnya bingung. Namun Rere menggeleng dan memilih melangkah keluar. "Jangan kerjain apa-apa dulu. Istirahat!" katanya tegas sebelum benar-benar menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup. Leon tersenyum lembut, menatap pintu yang sudah tertutup. Ia memang berniat untuk istirahat hari ini. Namun saat ponselnya terus menyala dan menampilkan satu nama. Leon tahu, hari ini akan kembali menjadi hari yang melelahkan. Laki-laki itu mendesah lelah, berharap bisa mengakhiri ini dengan cepat. Entah kapan, namun yang pasti sebelum Rere tahu segalanya. * Reuni yang Leon maksud akhirnya tiba. Rere yang sebenarnya sangat malas dengan acara ini terpaksa ikut karena Leon terus memohon. Dan lagi di rumah sedang ada Mahesa yang muncul tiba-tiba entah untuk menemui siapa. Mengabaikan tatapan tak suka yang mantannya itu lesatkan, Rere naik ke motor besar Leon. "Jangan lama-lama ya, Yon! Gue paling males acara kumpul-kumpul kayak gitu!" gerutu Rere saat keduanya sudah sampai di tempat dan sudah turun dari motor. "Iya, bentaran doang. Yang penting udah setor muka gue. Daripada dianggap sombong, kan?" Rere tak menjawab, ia masih memanyunkan bibirnya sampai terlihat keramaian di sebuah gedung yang memang sengaja disewa untuk acara ini. Leon terus menggandeng Rere sembari menyapa teman-temannya. Dengan bangga ia terus mengenalkan Rere sebagai kekasihnya. Dan yang bisa Rere lakukan hanya tersenyum ramah. Mencoba santai meski ia merasa tak nyaman. Entah mengapa ia merasa teman-teman Leon seperti terus berbisik di belakang mereka. Dan tatapan-tatapan yang tak bisa Rere artikan, terlihat di setiap mata yang berpapasan dengan mereka. "Gue ke toilet bentar, ya. Lo jangan ke mana-mana," kata Leon yang terpaksa melepas tautan jemarinya yang sedari tadi tak ia lepas dari tangan Rere. "Iya," jawab Rere singkat. Ia melangkah ke arah jajaran minuman dan mengambil satu gelas untuknya. Rere menggerakkan kepalanya ke arah samping saat seorang laki-laki yang tadi menyalami Leon berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum pada Rere. Dan dibalas senyum singkat yang terkesan Rere paksakan. Rere memang tidak suka menebar senyum apalagi pada laki-laki asing.  "Leonnya ke mana?" tanya laki-laki itu seperti sengaja ingin mengajak Rere ngobrol. "Ke toilet," jawab Rere datar. Berharap laki-laki itu sadar jika ia sedang tidak ingin diajak ngobrol. "Kok lo mau si sama Leon?" Mata Rere memicing tak suka mendengar pertanyaan itu. Apalagi ada senyum mengejek yang laki-laki berkacamata itu tunjukkan. "Emang kenapa?" "Dia bukan cowok baik, setahu gue. Dulu aja sering Gonta ganti pacar. Dan gosip yang terakhir malah mengejutkan. Dia ...." "Lo cowok bukan, si? Mulutnya kayak emak-emak," potong Rere sinis. Ia paling benci dengan laki-laki macam ini. Meski terlihat kesal dengan perkataan Rere namun laki-laki itu tetap menampakan senyuman miring. "Ya, gue peringatin aja. Sebelum lo nyesel," katanya lagi yang langsung pergi karena melihat kedatangan Leon. "Ada masalah?" tanya Leon bingung karena dari kejauhan seperti melihat ketegangan antara Rere dengan salah satu temennya. "Bisa balik sekarang, nggak? Gue nggak suka di sini," kata Rere sambil melangkah pergi. Dan Leonpun terpaksa berpamitan dengan teman-temannya lalu mengikuti langkah Rere. "Kenapa si, Re? Temen gue ngomong apa sama lo?" Rere menghentikan langkah, memutar ke arah Leon dan menatapnya serius. "Lo bilang yang kaya tadi itu temen?" Leon mengangguk bingung, "Emang kenapa?" "Dia ngejelek-njelekin lo di belakang. Bilang lo itu bukan cowok baik. Suka Gonta ganti pacar. Dan katanya ada gosip mengejutkan tentang lo." Leon diam namun matanya sempat melebar seperti terkejut. "Mereka itu cuma pada baik di depan lo, Yon! Lo nggak ngerasa semua orang pada bisik-bisik ngomongin lo di belakang?" Leon tersenyum tipis, "Gue tahu, dan itu udah biasa," katanya santai. Sementara Rere menggeleng tak percaya. "Lo udah tahu, dan lo masih mau dateng?" Leon kembali tersenyum, "Apa salahnya baik sama orang si, Re?" "Tapi mereka nggak baik sama lo! Nggak usah sok kaya malaikat deh, Yon! Udah deh, gue mau pulang!" Kata Rere kesal. Walau perasaannya pada Leon masih belum berubah. Namun tetap saja ia tak suka laki-laki ini mendapat perlakuan buruk dari orang lain. Leon memang terkadang terlalu baik. "Tunggu, Re!" "Apa lagi? Lo mau ajak gue masuk lagi? Ogah!" Leon terkekeh, "Sewot amat si, Neng!" katanya seraya mencolek dagu Rere yang langsung di tepis gadis itu.  "Oke, kita pulang," katanya pada akhirnya. Namun sebelum mereka benar-benar meninggalkan tempat itu. Leon melontarkan pertanyaan yang hanya membuat Rere bingung dan tidak bisa menjawabnya. "Kalau apa yang dikatakan temen gue tadi benar. Dan kalau sebenarnya gue ini cowok b******k. Apa Lo masih mau sama gue?" Rere hanya mengerutkan kening, mengerjabkan mata. Dan menatap bingung ke arah Leon yang menampilkan ekspresi tak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya Dengan laki-laki ini? Rere yakin, ada yang Leon sembunyikan darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD