Rere yang masih mengantuk terpaksa bangkit dari pembaringan, karena bel rumah terus berdenting berkali-kali. Papa mamanya sudah berangkat ke toko. Sementara Renata sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi. ART-nya sedang ke pasar jam segini.
Rere menguap sembari membuka pintu.
Matanya yang masih setengah mengantuk karena begadang menyelesaikan lukisan semalam, langsung terbuka lebar. Ia sudah berusaha menutup pintu kembali. Namun kalah cepat dengan kaki Mahesa yang dengan sengaja mengganjal pintu.
"Tunggu, Re! Kasih aku waktu buat ngomong." Tenaga Rere tentu saja kalah jika dibandingkan dengan tubuh besar Mahesa. Akhirnya ia mengalah, membuka pintu lebar dan membiarkan Mahesa masuk. Namun bukannya masuk, laki-laki itu malah menarik tangannya keluar.
"Lo mau bawa gue ke mana!" teriak Rere sambil meronta. Namun Mahesa seperti tidak mengindahkan protesan dari bibir mungil Rere. Laki-laki itu menarik Rere dan mengangkat tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Gadis itu memekik kecil karena Mahesa dengan mudah mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di bangku penumpang. Rere sudah siap keluar lagi, tapi ia gagal karena kalah cepat dengan Mahesa yang sudah mengunci pintu.
"Lo mau bawa gue ke mana, si!" teriak Rere kesal. Sebenarnya ia hanya sedang menutupi jantungnya yang sudah jumpalitan tidak bisa diam di tempatnya. Ia akui, perasaanya pada Mahesa masih sebesar dulu. Ia tahu itu bodoh. Namun Mahesa adalah cinta pertamanya. Dan dia adalah laki-laki pertama yang tidak memanfaatkannya untuk mendekati Renata.
Laki-laki berusia duapuluh delapan tahun itu menghela napas pendek sebelum mulai menjalankan mobilnya. "Kita harus bicara, tapi nggak di sini," katanya.
Rere mendengus sinis, "Takut ketahuan sama calon mertua? Apa sama calon istri?" ketusnya sembari melempar pandang ke luar jendela mobil. Ada air mata yang siap meledak di pelupuk matanya, dan Rere membenci itu.
Sekuat apapun ia berusaha untuk menutupi perasaannya, nyatanya Rere selalu saja gagal. Ia hanya manusia biasa yang tidak bisa membohongi diri sendiri. Jujur, ada rasa rindu yang teramat besar untuk laki-laki di sampingnya ini. Ada keinginan untuk menatap wajah tampan itu berlama-lama. Namun egonya melarang. Mau bagaimanapun kini kondisinya sudah berbeda. Mahesa bukan lagi Ezanya, ia adalah calon kakak ipar bagi Rere. Kenyataan itu makin menambah nyeri denyutan di dalam dadanya.
Sepanjang perjalanan entah yang ditujukan ke mana, kedua manusia itu hanya saling diam. Mahesa bingung harus memulai percakapan ini dari mana. Dan Rere sendiri enggan memulai pembahasan yang menyangkut masa lalu.
Dia sedang bersusah payah menyembunyikan air mata yang diam-diam merembes keluar dari mata lentiknya. Meskipun tanpa ia sadari, sebenarnya Mahesa sudah melihat air mata kesedihan, kehancuran, dan kekecewaan itu. Semua salahnya. Entah bagaimana ia bisa memperbaiki semuanya. Sementara kondisinya saat ini begitu rumit.
Rere memperhatikan sekitar saat mobil Mahesa tiba-tiba berhenti. Gadis itu mendesah kesal karena seperti dengan sengaja, laki-laki itu menambah luka dalam hatinya.
"Maksud lo apa bawa gue ke sini!" Rere memang sengaja bersikap sekasar itu. Dia tidak ingin terlihat lemah. Meski sisa air mata yang kini terlihat jelas oleh Mahesa, menunjukkan sebaliknya.
"Semua berawal dari sini, dan kita akan memperbaikinya dari sini," kata laki-laki yang menggunakan kaos panjang warna abu itu dengan lembut. Berusaha tidak terpancing oleh emosi yang kini Rere tunjukkan. Ia harus berusaha maklum. Rere berhak marah atau malah membencinya, karena dia memang bersalah.
Rere berdecak kesal lalu membuka pintu mobil dengan kasar. Tubuh mungilnya melompat turun dari mobil. Ia mengedar pandang sejenak. Tentu saja ini bukan tempat asing baginya. Taman ini, adalah saksi bisu di mana selama setahun belakangan ini Rere menjadi orang bodoh. Menunggu laki-laki yang kini berdiri di sampingnya dengan harapan besar dia akan datang. Dan meski harapannya tidak pernah terwujud, Rere tetap menjadi bodoh dengan terus datang setiap waktu.
"Ngomong sekarang! Gue nggak punya banyak waktu!" kata Rere tanpa mau menatap wajah Mahesa. Laki-laki itu mendesah lelah, menarik lengan Rere agar mau duduk di sampingnya. Namun dengan cepat Rere menarik lengannya dan duduk di ujung bangku. Sengaja memberi jarak, mencoba melindungi hatinya agar tidak mudah goyah.
"Udah! Silahkan, katakan apa yang mau lo katakan. Gue bakalan dengerin tanpa memotong," kata Rere datar. Ia bersedekap sembari menatap lurus ke depan. Tak mau mengambil resiko hatinya akan luluh jika menatap wajah di samping.
Mahesa memejamkan matanya sejenak. Ia sudah mempersiapkan hati untuk perlakuan Rere ini. Namun tetap saja ada kepedihan yang ia rasa, karena melihat Rerenya yang ceria, kini bersikap sangat dingin dan kasar.
"Yang pertama, aku mau minta maaf," kata laki-laki itu sembari menyandarkan punggungnya pada kursi taman. Matanya menatap wajah manis di sampingnya dengan tatapan penuh rindu. Andai saja dia bisa memeluk tubuh mungil itu. Mengecup puncak kepalanya. Seperti yang sering mereka lakukan di sini dulu.
Rere melempar tatapan dingin. Tanda jika ia tidak suka menunggu terlalu lama, karena Mahesa malah hanya diam sembari menatapnya. Tanpa meneruskan kalimatnya.
"Yang kedua, aku akan jelasin, kenapa satu tahun yang lalu aku nggak datang nemuin kamu." Rere memalingkan wajah. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Air mata sialan itu siap kembali meledak. Rere benar-benar benci pada dirinya yang mendadak cengeng seperti ini.
"Satu tahun yang lalu aku nggak jadi pulang, Re. Aku membatalkan penerbangan karena tiba-tiba saja papaku terkena serangan jantung. Beliau di rawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Aku nggak mungkin pulang begitu saja sementara keadaan orangtuaku sangat kritis." Rere masih enggan menoleh ke arah Mahesa yang masih terus menatapnya dari samping.
"Aku tahu harusnya aku hubungin kamu, tapi saat itu ponselku hilang, Re. Semua dataku hilang."
Rere mendengus sinis, "Basi," bisiknya yang masih bisa di dengar oleh Mahesa.
"Nggak pa-pa kalau memang kamu nggak percaya. Tapi setelah beberapa hari, aku coba hubungin kamu. Tapi nomor kamu udah nggak aktif, aku kirim email juga nggak dibales. Semua sosial media yang kamu punya ditutup, gimana aku bisa hubungi kamu coba, Re?"
Rere mendesah lelah, lalu menoleh ke arah Mahesa yang sedang menampakkan wajah sedih. Ia sudah berhasil mengendalikan air mata yang tadi siap merembes keluar.
"Aku memang sengaja mengganti nomor, menutup semua akun sosial mediaku, dan juga nggak pernah buka email semenjak hari itu."
Tapi bodohnya aku terus datang ke tempat ini dan berharap kamu datang. Lanjut Rere dalam hati.
"Jadi, aku nggak sepenuhnya salah kan, Re? Apa yang aku ceritain tadi itu bener. Dan ... tolong maafin aku," kata Mahesa sembari bersimpuh di depan Rere. Gadis itu tidak berusaha menghindar. Entah kenapa ia percaya dengan alasan yang laki-laki ini berikan. Tapi tetap saja, seharusnya Mahesa bisa berjuang lebih jika benar-benar mencintainya.
"Lalu, apa yang kamu lakukan setelah mencoba menghubungiku dengan berbagai cara dan ... gagal?"
Mahesa menundukkan wajah, namun tangannya masih menggenggam erat dua jemari Rere. "Maaf, karena aku menyerah di situ."
Rere langsung menyentakkan tangan besar Mahesa dan berdiri. Gadis itu tertawa lirih, ada kekecewaan yang terdengar nyata di sana. "Sekarang aku tahu jawabannya, Za. Perasaan yang kamu punya, nggak sebesar yang aku punya. Asal kamu tahu, setelah hari menyakitkan itu. Saat kamu nggak dateng. Aku terus datang ke tempat ini seperti orang bodoh. Berharap satu kaliiii saja, kamu datang. Dan menjelaskan semuanya sebelum perasaanku mati buat kamu. Tapi apa? Nyatanya kamu nggak pernah datang." Satu bulir air lolos dari mata Rere. Biarlah dia terlihat lemah, cukup saat ini saja. Ia akan menumpahkan segalanya.
"Aku percaya, dengan semua cerita yang kamu ceritakan tadi. Yah, aku nggak marah karena waktu itu kamu nggak datang. Kalau aku jadi kamu mungkin aku juga akan panik dan melupakan segalanya. Tapi ...." Satu bulir air kembali lolos, kali ini terdengar isakan lirih dari bibir mungilnya.
"Harusnya kamu nggak berhenti berjuang untuk menghubungiku. Harusnya kamu melakukan berbagai cara untuk bisa nemuin aku, Za. Tapi apa?"
"Re, maaf."
Rere menggeleng keras, ia mundur dan mengisyaratkan Mahesa yang sudah berdiri untuk tetap diam di tempatnya.
"Mungkin saat itu aku akan maafin kamu, walaupun hatiku sangat kecewa karena kamu mengingkari janji. Mungkin waktu itu, aku akan kasih kamu satu kesempatan lagi buat memperbaiki semuanya. Mungkin ...." Isakan dari bibir Rere semakin terdengar jelas. Ingin sekali Mahesa menghapus air mata itu. Dia sangat menyesal, karena dulu tidak melakukan apa yang Rere katakan.
"Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Mungkin jika sampai saat ini kita tidak dipertemukan secara tak sengaja seperti sekarang ini, kamu juga nggak bakal nyari aku, kan? Jadi, anggap saja semua sudah berakhir dari satu tahun yang lalu, anggap hari ini adalah hari peresmian bahwa kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Dan ... mungkin lebih baik jika kita bersikap seperti orang yang tidak pernah saling mengenal di depan keluarga kita dan semua orang."
"Re!"
"Cukup." Mahesa yang sudah melangkah, kembali berhenti karena Rere terus saja melangkah mundur. "Kita sudah selesai, aku udah maafin kamu. Tapi semuanya akan berakhir di sini. Kamu punya Renata, dan aku ... aku punya seseorang yang selalu menjadi pelindung selama kamu nggak ada. Jadi, mulai hari ini, mari kita jalani hidup kita masing-masing," kata Rere sembari menghela napas panjang, lalu pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh. Air matanya perlahan turun, bersusul-susulan hingga menjadi deras. Ia mengusapnya dengan kasar.
Wajahnya menunduk hingga tidak menyadari jika seseorang tengah berdiri menghadang jalannya.
"Aw!" Pekiknya saat tubuhnya terhuyung karena menabrak tubuh tinggi dengan mata sipit itu.
Rere mendongak, ia mengerjabkan mata karena pandangannya mengabur. Saat melihat siapa yang kini berdiri sambil menatapnya dengan senyuman. Rere langsung menghambur ke pelukannya. Leon memang selalu menjadi dewa penyelamat untuk hatinya.