LFU 4

1324 Words
Rere bingung dengan keluarganya dan juga keluarga calon suami Renata. Kenapa mereka senang sekali membuat acara makan bersama seperti ini. Jika beberapa minggu yang lalu acara makan siang di rumah keluarga Mahesa. Maka malam ini gantian keluarganya yang mengundang keluarga itu untuk makan malam di rumah. "Nggak ada acara lain selain makan-makan apa, Ma," protes Rere sembari menggigit bolu pisang yang ibunya buat. "Kan biar lebih akrab, Re. Nggak mungkin kan Renata menikah dengan orang yang ia nggak kenal," jawab mamanya sembari memotong-motong kue bolu buatannya. "Memangnya dia mau, nerima perjodohan itu?" Pertanyaan bodoh. Kapan Renata membantah apa mau kedua orangtuanya? "Awalnya si seperti mau nolak, pas udah ketemu sama Mahesa, kayaknya dia setuju-setuju aja," jelas mamanya sembari meletakkan potongan bolu di atas piring. "Pasti karena ganteng. Basi!" dengus Rere yang memilih beranjak karena melihat Renata datang menenteng sebuah bungkusan. Ia sempat mendengar obrolan Rere dan mama mereka, namun ia memilih diam. Dia sudah dikenal manis oleh kedua orangtuanya. Hanya sikap itu yang bisa membuatnya menjadi sedikit lebih terlihat daripada Rere yang sering dibanggakan oleh papanya meski dari belakang. Iya, papa mereka sering membanggakan Rere karena memiliki watak keras sepertinya. Anak keduanya itu selalu serius jika melakukan sesuatu. Dan Rena selalu iri setiap kali ayahnya dengan mata berbinar, menceritakan tentang Rere kepada teman-temannya. Sementara Winda hanya menghela napas sedih. Rere selalu menghindar setiap kali Renata ada di antara mereka. Dia bingung bagaimana mengakurkan kedua putrinya itu. Ingin sekali saja melihat keduanya mengobrol, kalau perlu bertengkar dan saling meledek pun tidak apa-apa. Dulu, dulu sekali mereka pernah seperti itu. Namun dia sendiri sudah tidak ingat sejak kapan Rere berubah dingin terhadap kakaknya. Ia sering mencoba menanyakan apa alasan mereka bisa bersikap seperti itu. Namun baik Rena maupun Rere tidak pernah mau membuka suara. "Keluarga Mahesa bentar lagi dateng katanya." Perkataan Renata memutus pemikiran mamanya. "Ya udah kamu siap-siap sana!" Renata mengangguk lalu melangkah ke kamarnya di lantai dua. Berjauhan dengan Rere yang memilih kamar tamu sebagai kamarnya. Seperti sengaja ingin berjauhan dengan saudarinya itu. "Re! Kamu juga pakai baju rapi, jangan malu-maluin Mama. Jangan kabur!" "Iya, Mama sayang!" Winda tersenyum mendengar jawaban yang Rere teriakan. Selanjutnya ia sendiri mulai bersiap dan menyerahkan sisa persiapan makanan pada ART-nya. * Keluarga Mahesa sudah berada di ruang tamu. Namun, Rere memilih duduk di taman samping rumahnya. Dia malas ikut berbasa-basi. Nanti saja, kalau waktunya mereka makan Rere baru akan muncul. Lagi pula, dia bukan calon menantu keluarga itu. Jadi untuk apa juga ia mengambil hati calon mertua Renata? Rere menikmati gelap di atas sana. Beberapa bintang terlihat menghias langit malam yang membentang seperti kanvas. Tanpa sadar jarinya terangkat ke atas. Rere membuat pola-pola tidak jelas, seolah sedang menggambar di langit dengan telunjuknya. Ia begitu asik sampai tidak sadar akan kehadiran seseorang. "Sepertinya kita jodoh ya, Re." Gadis yang malam itu mengenakan minidres batik selutut menoleh seketika. Rambut panjang yang ia ikat setengah kebelakang ikut bergerak. Mulutnya sedikit menganga saat melihat siapa pemuda yang kini tengah melangkah ke arahnya. "Ngomong-ngomong lo ngapain di sini?" Rere tidak langsung menjawab, ia berdecak sebal karena pemuda tengil itu malah duduk di sampingnya. "Harusnya gue yang nanya! Lo ngapain di rumah gue?" Rere mengerutkan kening sambil berpikir, lalu matanya melebar saat pikiran itu melintas di benaknya. Ekspresi yang sama juga ditunjukan pemuda di sampingnya. "Jangan bilang lo adiknya Renata?" Tebakan yang tepat sasaran. Jantung Rere pun perlahan berdebar takut. "Mahesa?" tanyanya hati-hati. "Itu nama Abang gue kalau lo lupa." Mata Rere mengerjab. Lalu keduanya serempak menoleh saat terdengar suara gelas terjatuh. Mata Rere makin melebar saat melihat laki-laki yang mereka bicarakan kini berdiri menatapnya. Jantung Rere makin berdebar kencang bukan lagi karena rasa takut. Banyak rasa yang kini berbaur di dalam hatinya. Tidak dapat Rere jabarkan satu per satu. Bukankah takdir begitu lucu? Laki-laki yang akan dijodohkan dengan kakaknya adalah sosok yang ia tunggu kabarnya selama bertahun-tahun. Dan setelah menghilang tanpa jejak, laki-laki itu muncul sebagai calon kakak iparnya. Rasanya Rere ingin menertawakan permainan takdir yang melukai hatinya ini. "Ada apa ini?" Rere langsung menerobos masuk saat yang lain mulai mendekat. Mahesa hendak mengejar, tetapi Ian atau Adrian menahan lengannya. "Jangan bikin rame di sini, kalian bisa selesaikan nanti," bisik Adrian berusaha untuk tidak didengar siapa pun. Mahesa menghela napas panjang, lalu mengatakan jika tadi dia hampir terpeleset. Jadi gelas yang ia pegang jatuh. Untung semuanya mempercayai perkataannya. Sementara Rere langsung masuk ke kamar dan menguncinya. Ia mengusap kasar air mata yang jatuh dengan sialan itu. Tidak, tidak lagi. Dia tidak akan menangisi laki-laki itu lagi. Sudah cukup. Rere sudah cukup mengeluarkan air mata kebodohan itu. Eza atau Mahesa itu tidak pantas ia tangisi. Ia hanya laki-laki b******k. Sama seperti laki-laki lain di masa lalunya yang sering mempermainkan perasaannya. Dia sama saja. Rere ingin membanting sesuatu, tetapi tidak ia lakukan karena ia tahu itu akan membuat heboh. Dengan perasaan yang tidak menentu ia pun mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. "Yono! Jemput gue sekarang!" katanya sembari menggigit bibir. Berusaha menyembunyikan isak yang masih saja keluar meski ia tahan. Rere benci menjadi lemah seperti ini. Leon langsung mengiyakan meski ia merasa ada yang berbeda dari suara Rere. Tidak sampai setengah jam Leon sudah datang. Dia beralasan sudah membuat janji untuk pergi nonton dengan Rere. Papa Rere yang memang sudah percaya dengan laki-laki itu pun mengiyakan. Rere memoles wajahnya dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Dia tersenyum kaku dan menyalami semua orang yang ada di ruang tamu. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa pamit. Dan saat gilirannya berhadapan dengan Mahesa, Rere hanya menempelkan sedikit jarinya lalu langsung pamit pergi. Leon yang bingung dengan sikap Rere hanya bisa diam. Dan dengan ramah ia menyalami semua orang yang ada di sana. Dia semakin bingung saat tatapan tajam dilontarkan laki-laki dengan alis tebal itu ke arahnya. Namun, Leon tidak peduli, ia lebih memilih mengejar Rere yang sepertinya sudah menginginkan pergi secepatnya. * "Yon!" "Ya?" Meski sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Rere, tetapi Leon memilih diam. Ia tahu hati Rere sedang tidak baik entah karena apa. Dan bukan hal yang benar jika dia mendesak Rere untuk bercerita. "Tawaran lo waktu itu masih berlaku?" Rere menoleh dengan tatapan sendu. "Tawaran yang mana?" tanya Leon bingung. Lebih bingung lagi dengan sikap Rere yang terlihat seperti baru saja patah hati. "Buat jadi pacar lo." Leon menganga karena terkejut dan juga bingung. Kenapa Rere tiba-tiba saja membahas ini? Ia ingat pernah menyatakan perasaannya pada Rere. Namun, tidak memaksa Rere untuk menerimanya. Dia sempat berkata, jika suatu saat Rere mau menyambut hatinya. Kapan pun itu, Leon akan menunggu. "Masih nggak?" tanya Rere gemas karena Leon malah hanya menggaruk kepalanya. "Kenapa tiba-tiba? Kenapa, Re?" Mulut Leon terlalu gatal untuk tidak bertanya. "Jawab dulu, Yon! Masih nggak?" Leon tersenyum lalu meraih satu jemari Rere. "Kan gue bilang, kapan pun lo mau. Jadi, tentu saja masih," jawabnya yang dibalas embusan lega dari bibir Rere. "Oke! Mulai sekarang kita pacaran!" Bibir Leon kembali menganga. Bukannya dia tidak senang. Namun, apa tidak terlalu mendadak dan ... apa yang sebenarnya terjadi pada Rere? "Lo nggak seneng?" Rere menatap Leon penuh selidik karena laki-laki itu tidak merespon. Leon mengusap lehernya. "Seneng Re. Gue bahagia malah. Tapi, apa lo yakin?" ringisnya. Rere mengembus napas pendek, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Leon. "Gue capek begini terus, Yon. Lo mau bantu gue, kan?" "Bantu apa, Re?" "Move on!" Leon mencoba mengerti maksud Rere. Gadis itu pernah menceritakan tentang kisah masa lalunya. Tidak semuanya, Rere hanya bercerita jika ia masih terjebak dengan laki-laki di masa lalunya. Namun, permasalahan apa yang mereka hadapi Rere tidak pernah bercerita secara gamblang. "Bantu gue buat mencintai lo, Yon, please!" kata Rere dengan mata terpejam. Seolah apa yang keluar dari bibirnya meluncur begitu saja tanpa dipikirkan. Bahkan dia seperti tidak memikirkan perasaan Leon. "Dengan senang hati Re. Tapi, Lo beneran yakin?" Rere mengangguk, "Gue yakin lo orang yang tepat." Meski kesannya dia dijadikan pelarian, tetapi Leon tidak peduli. Mungkin Tuhan sedang memberinya jalan untuk membuka hati Rere. Yah, dia harus berusaha lebih lagi. Apalagi sekarang, Rere sudah memberinya jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD