Rere mengunci diri di studio lukis yang berada tepat di samping kamarnya. Dulu tempat ini gudang. Namun saat Rere memilih untuk mengembangkan bakat melukisnya, ia memilih tempat itu untuk memulai segalanya.
Sempat ada tentangan dari ayahnya saat Rere mengemukakan rencananya untuk mendalami dunia lukis. Ayahnya sangat menginginkan kedua anaknya bekerja kantoran.
Ayah Rere memang masih sekolot itu. Menganggap 'wah' orang-orang yang bekerja kantoran. Rena yang awalnya ingin menjadi seorang fotografer pun mengurungkan niatnya. Ia mengikuti saran ayahnya untuk bekerja di perkantoran. Namun Rere berbeda. Dia tidak suka terlalu diatur. Ia tidak akan melakukan hal yang ia tidak sukai.
Bukan tanpa alasan Rere mengunci diri di ruangan yang tidak terlalu besar itu semenjak pagi. Apalagi alasannya jika bukan menghindari ceramahan ayahnya karena kelakuannya semalam. Saat sedang di sini, tidak ada yang berani mengganggunya. Bahkan ibunya tadi hanya masuk sebentar. Seperti sedang memastikan keberadaan Rere, lalu keluar tanpa mengatakan apapun. Setelah itu Rere mengunci pintu karena takut ayahnya kali ini akan nekad menerobos masuk.
Terdengar tawa renyah ayahnya dari luar. Seperti biasa Rere tidak mempedulikan apa yang sedang terjadi. Dia tengah sibuk dengan lukisan di depannya. Ada pesanan dari salah satu temannya. Lukisan hadiah ulang tahun untuk calon istri katanya.
Rere tersenyum diantara goresan kuasnya. Dulu, dulu sekali ia pernah menghadiahkan sebuah lukisan untuk seseorang di hari ulang tahunnya. Rere merenung sejenak. Apakah orang tersebut masih mengingatnya? Masihkah dia mengingat janjinya untuk menemuinya?
Rere menggeleng, mencoba menghapus sesuatu yang coba ia lupakan sejak satu tahun terakhir ini. Jelas saja dia telah melupakan keberadaannya. Buktinya, satu tahun yang lalu laki-laki itu tidak datang di tempat yang harusnya menjadi tempat mereka bertemu setelah dua tahun terpisah jarak. Seharusnya, satu tahun yang lalu, di tempat itu, Rere tidak menjadi gadis bodoh yang menunggu seseorang dengan harapan ia akan datang. Seharusnya, satu tahun yang lalu, Rere tidak menangis, karena laki-laki itu mengingkari janjinya.
Dan nyatanya, dia masih mengharapkan kehadiran laki-laki itu. Dan nyatanya, Rere tetap menjadi bodoh karena tetap datang ke tempat itu sampai sekarang. Dengan harapan laki-laki itu akan muncul dan memberikan alasan yang masuk akal kenapa ia tidak datang. Dan berharap, setelah itu mereka akan menjalani apa yang selama ini Rere rangkai dalam benaknya.
Namun nyatanya, laki-laki itu tak pernah hadir. Harusnya Rere sadar, dan tidak meneruskan kebodohannya.
"Re!" Suara ibunya membuyarkan lamunan Rere. Gadis itu berdecak kesal. Ibunya tahu jika Rere tidak mau diganggu jika sedang melukis. Kenapa masih saja mengusik ketenangannya.
Ia tahu tidak baik bersikap seperti itu pada orangtua. Namun biarlah semua kebaikan menjadi milik Rena. Karena apapun kebaikan yang Rere lakukan tak akan mampu mengubah pola pikir kedua orangtuanya, terutama ayahnya. Rena yang manis, dan Rere si pembangkang.
"Apa si, Ma," katanya dengan raut wajah kesal setelah membuka pintu dengan malas.
"Ih, anak gadis jangan manyun gitu kenapa, si!" kata ibunya lembut.
"Iya kenapa?" Rere memaksakan sedikit senyum yang malah terlihat menyeramkan. Ibunya hanya tertawa melihat tingkah konyol Rere.
"Mau ikut, nggak? Keluarganya Mahesa mau ajak kita makan siang."
Rere memutar bola matanya malas. "Nggak ada acara lain selain makan-makan?"
"Hushh!! Jangan begitu, mau, nggak?"
"Nggak, aku lagi ada kerjaan. Besok siang lukisannya mau dianter ke Genta," katanya memberi alasan. Tapi kali ini Rere memang tidak berbohong.
Ibunya tampak mendesah kecewa. "Ya sudah, tapi lain kali kamu harus sempatkan waktu jika ada acara seperti ini."
Rere mengangguk kencang untuk meyakinkan ibunya, jika 'suatu saat nanti' itu akan terjadi. Entah kapan, mungkin ada saatnya dia harus berubah, tapi tidak saat ini.
Rere langsung menutup pintu dan kembali menguncinya saat ibunya melangkah pergi. Ia duduk, namun urung mengambil kuas. Entah kenapa tiba-tiba saja nama Mahesa seolah tidak asing di telinganya. Dia seperti pernah mengenal nama itu. Tapi di mana?
Gadis itu menggeleng, nama Mahesa kan banyak. Mungkin dulu ada salah satu temannya yang bernama Mahesa.
*
"Dia nggak mau ikut!"
Ketiga orang yang sedang berbincang di ruang tamu itupun menoleh.
"Kan Papa sudah bilang, Mama suka nggak percaya!" sahut papa Rere sembari berdiri. "Ayo Nak Mahesa, kita berangkat sekarang aja. Nanti keburu panas," lanjutnya. Laki-laki yang sedari tadi mengamati lukisan yang tergantung di dinding itupun segera mengalihkan pandang dan berdiri. Dia datang untuk menjemput keluarga Firman untuk datang ke rumahnya.
"Itu lukisan adik aku," kata Renata tanpa ditanya. Bukannya ia tidak sadar jika daritadi mata Mahesa terus mengamati lukisan seorang laki-laki dan perempuan yang saling membelakangi itu.
"Dia ... pelukis?" tanya Mahesa pada akhirnya. Renata tersenyum, karena akhirnya laki-laki itu mau menanggapi kalimat pancingan darinya. Meski topiknya Rere, itu tidak masalah. Selama ini, belum ada laki-laki yang berpaling darinya karena melihat Rere.
Bukannya mau menyombongkan diri. Dari segi fisik ia memang menang banyak dibanding Rere. Satu-satunya laki-laki yang tidak mau meliriknya mungkin hanya Leon. Dan itu artinya, Leon menyukai Rere apa adanya. Renata bersyukur akan hal itu.
"Adik kamu, pelukis?" tanya Mahesa lagi karena Renata belum menanggapi pertanyaannya.
"Emm, iya. Itu salah satu lukisan favoritnya. Katanya ada makna dari lukisan itu," kata Renata seolah Rere sendiri yang menceritakan kepadanya. Padahal ia tahu semua itu, saat mendengar percakapan Rere dengan mamanya.
Mahesa sudah ingin menanyakan hal tentang adik Renata lagi. Namun sayang, ayah wanita itu sudah menginterupsi mereka untuk segera berangkat. Laki-laki beralis tebal itu menoleh sekali lagi pada lukisan yang katanya memiliki arti itu. Bukan tanpa alasan ia terlihat sangat tertarik pada lukisan itu. Goresan warna yang didominasi warna abu itu sangat mirip dengan goresan warna yang sering dibuat seseorang. Seseorang yang mungkin sudah melupakannya kini. Bukan salah orang itu. Semuanya murni kesalahannya.
*
Rere mengamati papan nama kafe yang ada dihadapannya sebelum masuk. G'kafe.
Benar, ini kafe milik Genta. Laki-laki yang dulu bertubuh tambun itu adalah teman masa kecilnya dulu. Mereka pernah berteman dekat karena bertetangga. Namun pertemanan itu sempat berakhir saat ibu Genta meninggal, dan keluarganya memutuskan pindah rumah.
Rere cukup terkejut dengan perubahan yang Genta alami saat beberapa bulan lalu kembali bertemu.
"Mbak, Gentanya ada nggak, ya? Saya udah bikin janji," tanyanya saat seorang pelayan menghampiri.
"Oh, Mbak Rere, ya?" Rere mengangguk sebagai jawaban. Pelayan itupun meminta Rere untuk menunggu. Gadis yang senang berpakaian santai itupun mengangguk, lalu memesan satu gelas lemon tea.
Tak berapa lama Genta pun keluar dengan senyuman ramahnya. "Hai, Re! Gimana, udah selesai?"
Rere tersenyum bangga, "Udah dong! Neh, semoga nggak mengecewakan," katanya seraya menyorongkan kanvas ke arah Genta. Laki-laki itu kembali tersenyum, lalu merobek kertas pembungkus lukisan yang ia pesan. Ia tersenyum puas dengan hasil kerja temannya itu.
"Nggak salah si gue pesen sama lo. Bakat lo udah ketahuan dari dulu," katanya dengan nada memuji.
Rere tersipu mendengar pujian itu. Dia berdecak sambil terkekeh. "Pinter juga lo milih calon bini," kata Rere sambil mengamati lukisan wanita cantik yang sedang dikagumi Genta.
"Lo sendiri gimana? Jangan bilang masih jomblo."
Rere hanya mengangkat bahu. Merasa beruntung saat pelayan datang membawa minumannya. Berharap Genta tidak lagi membahas itu. Dia paling malas membicarakan hal yang berhubungan dengan pasangan. Karena itu semua hanya akan mengingatkan pada luka kecewanya.
Genta memilih topik lain saat sadar Rere tidak ingin membahas apa yang tadi dia tanyakan. Mereka mengobrol panjang lebar. Rere memilih pamit satu jam kemudian karena ada yang harus ia beli. Beberapa perlengkapan lukisnya kosong dan harus membelinya. Kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari kafe milik Genta.
Rere memesan taksi online karena cuaca memang sedikit panas.
*
Rere memilah apa saja yang ia butuhkan. Ia sudah mencatat segala yang ia butuhkan. Terlalu fokus pada apa yang sedang ia kerjakan sampai tak sadar seseorang tengah memperhatikannya.
"Re!" Rere terpaksa menoleh ke sumber suara. Sedikit mengernyitkan dahi untuk mengingat siapa kiranya, pemuda yang kini sedang berjalan ke arahnya. Ia memang seperti mengenal manusia ini. Tapi ia lupa di mana.
"Bener Rere, kan?" tanya pemuda yang kira-kira berusia duapuluh empat tahunan itu.
Rere mengangguk pelan, masih berusaha mengingat siapa pemuda sok akrab di depannya ini. Wajahnya tengil dan sedikit jelalatan. Sepertinya dia tidak mungkin punya teman model begini.
"Siapa, ya?"
Cowok itu terkekeh, "Wajar si kalau lupa, kita ketemu baru dua kali. Waktu gue nganter Abang gue ketemu lo."
Rere makin bingung, Abang siapa?
"Ck! Bang Eza!"
Bibir Rere seketika mengatup, matanya mengerjab. Ia ingat siapa cowok ini. Kalau tidak salah namanya Ian. Yah, dia ingat dulu Eza sering memanggilnya Ian.
"Oh." Hanya itu jawaban yang Rere lontarkan.
"Kok cuman oh, nggak mau tanya kabar Bang Eza? Kalian kan udah lama nggak ketemu," godanya sembari menaikkan alis.
Rere tertawa suram. "Nggak butuh."
"Wah, kayaknya ada cerita kelam neh," katanya yang hanya dibalas dengan senyuman malas dari Rere. Dia memilih kembali fokus pada daftar belanjaannya.
"Ngomong-ngomong, Bang Eza juga di sini." Ian mengedarkan pandang, dan seketika Rere panik. Harusnya ia tahu jika ada adiknya, maka kemungkinan laki-laki itu ada di sini juga besar. Rere meletakkan keranjang belanjaannya dan langsung berlari keluar sebelum sosok Eza muncul.
Entahlah, ia merasa belum siap kembali bertemu dengan laki-laki itu. Padahal saat kemarin tidak sengaja melihat sosok yang mirip dengannya di kafe. Rere dengan susah payah mengejar. Ia hanya ingin mendengar penjelasan laki-laki itu tentang alasannya tidak menepati janji. Namun kali ini, saat dengan jelas dia bisa bertemu, entah kenapa Rere merasa enggan. Hatinya belum siap untuk menerima alasan, yang mungkin saja akan membuatnya semakin sakit.
Rere terus melangkah cepat. Tidak peduli dengan barang belanjaannya, tidak peduli dengan teriakan Ian.
"Apaan si teriak-teriak!" ujar Eza sedikit kesal dengan tingkah adiknya. Kelakuan Ian memang sering tidak jelas. Tapi mempermalukan diri dengan berteriak seperti tadi sudah tidak bisa ditorelir. Karena kini mata semua pengunjung tertuju pada mereka.
"Bang! Tadi ada Rere!"
Mata laki-laki beralis tebal itupun membulat. "Serius? Di mana dia sekarang?"
"Udah kabur, takut sama lo kayaknya," kekeh Ian yang dibalas toyoran di kepalanya.
Eza memilih lari keluar dan melupakan barang titipan mamanya. Kesempatannya untuk bertemu Rere mungkin tidak akan terulang lagi.
Namun sayang, sosok yang ia cari sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan ojek online yang kebetulan melintas. Rere naik tanpa menggunakan aplikasi. Ia sempat melihat sosok bertubuh tinggi itu sedang mengedarkan pandang. Ada rasa sakit yang seperti mencubit-cubit hatinya. Kenyataan jika laki-laki itu ternyata sudah berada di Indonesia, mungkin sejak lama. Membuat rasa kecewa Rere makin besar.