Action 2

1220 Words
Rex mengenakan pakaian intel yang sering dikenakannya yaitu celana kulit hitam dan jaket kulit hitam yang menutupi tshirt hitamnya. Diatas kepalanya ia memakai topi yang menutupi wajahnya yang tampan, namun juga cantik sekaligus. Matanya menatap tajam kearah restoran yang menjadi sasarannya. Dibacanya message di hapenya dari Iptu Handoko. Target memakai pakaian loreng, menunggu di Restoran YYY. Rex berjalan tenang memasuki restoran YYY yang dijadikan tempat nego untuk transaksi n*****a. Ia mengunyah permen karetnya dengan santai. Dia bisa melihat pria berpakaian loreng itu, namun Rex berjalan melewatinya dengan gaya acuh. Ia terbiasa mengintai dan ia selalu melakukannya seprofesional mungkin hingga pihak yang diintai tak pernah menyadarinya. Rex mengeluarkan permen karetnya dan menempelkan satu benda kecil bulat berwarna hitam. Ia menyentil permen karet itu hingga menempel di jaket loreng pria yang diincarnya. Perfect! Kini ia telah menempelkan alat penyadap dan pelacak pada pria itu. Maka ia tak perlu duduk dekat targetnya untuk menguping. Rex sengaja duduk di meja yang agak jauh dari sang target. Memasang earphone-nya seakan ia asik mendengarkan musik sambil mengutak~atik hapenya dengan gaya acuh tak acuh pada sekelilingnya. I am on place. T~man seen. Ia mengetik itu dan mengirim itu pada Iptu Handoko. Sambil ia berkosentrasi mendengarkan alat penyadapnya bekerja dari earphone yang dipasangnya. "Ah, Anda datang tepat waktu," terdengar suara yang ia asumsikan itu sebagai si pria baju loreng. "Tentu saja. Untuk menghargai Tuan Dragon yang mau bekerja sama denganku." Terdengar suara rendah seseorang. Rex melirik ke meja sasaran dan melihat pria botak berpakaian formil. Pria itu memakai kacamata hitam. Rex menaikkan hapenya, pura~pura berfoto selfie sambil jari tangannya membentuk huruf V. Cekrek. Diam~diam ia memfoto pria itu lalu ia merubah arah fotonya dan melanjutkan aksi foto selfienya supaya tak mencurigakan ia berfoto di satu arah saja. "Apa benar, kudengar Tuan Dragon itu masih bocah? Dia masih SMA kan?" terdengar suara si botak. "Usianya boleh muda, tapi kekejamannya melebihi tetua~tetua mafia yang paling bengis sekalipun. Percayalah kau tak bakalan ingin merasakan kekejaman Tuan Dragon. Satu hal lagi ia licin bagai belut. Jangan mencoba menipunya!" terdengar suara si loreng. "Ah, mana berani aku. Terus terang aku masih sayang nyawaku! Dan aku mengaguminya, dia penyuka pria cantik kan? Apa perlu kukenalkan salah satunya? Dia aktor.." si botak terdengar ingin menjilat. Terdengar suara tawa si loreng. "Tuan Dragon memang suka cowok cantik, tapi dia tak sembarangan. Dia pemilih sekali. Dia tak suka cowok cantik yang melambai tapi suka cowok cantik yang feminim." "Aku tak paham maksudmu," si botak terdengar bingung. "Shitttt!! Apa kau diikuti?" bisik si Loreng menggeram. Rex langsung melirik ke sekeliling meja sasarannya, dia melihat pria yang berpakaian ala detektif dengan kacamata hitamnya yang mencolok. Gerak~geriknya mencurigakan sekali! Anjritttt! Rex memaki pria itu. Siapapun dia, dia sangat bodoh! Intel darimana itu? "Dengar, kita harus berpisah. Aku ke kanan, kau ke kiri. Jangan sampai tertangkap. Nanti kuhubungi lagi," instruksi si loreng Rex melihat kedua pria itu berdiri, mereka berpencar kearah berbeda. Pria bodoh yang mengintai mereka langsung membuntuti si botak. Rex tak langsung bergerak, ia menatap layar hapenya untuk melacak arah yang diambil si loreng. Beberapa saat kemudian barulah ia bergerak santai keluar dari restoran. Begitu keluar dari restoran, gerakannya berubah. Ia berjalan cepat menerobos kerumunan orang~orang dan mengikuti langkah si loreng. Si Loreng berlari cepat menuju gang~gang sempit diantara bangunan yang padat. Rex mengikutinya sambil menjaga jarak. Sampai di suatu gang yang buntu, Rex mengintai ke gang itu dan menemukan sseorang cowok berdiri sembari memegang jaket si loreng. Ia mengenali wajah cowok itu.. dia adalah Dylan! *** Libby sengaja menunggu Dylan di gerbang sekolah, ada sesuatu yang ingin diberikannya pada sobat sekaligus gebetannya itu. Sesaat kemudian senyumnya mengembang begitu melihat wajah tampan Dylan muncul di kelokan jalan. "Dylan!!" panggilnya sambil melambaikan tangannya. Dylan balas melambaikan tangannya, tak lupa ia tersenyum pada sohibnya. Dylan berjalan mendekati Libby. Belum juga sampai ke gadis itu, ada seseorang yang menghampirinya. "Hei Dylan, pagi yang cerah ya?" Pretty memeluk bahu Dylan sambil memamerkan senyum manisnya. Dylan balas tersenyum canggung, dia berusaha melepas pelukan Pretty. Namun cocan itu dengan cueknya terus memeluk Dylan sok akrab. "Hellow Libby!" sapa Pretty sok ramah pada Libby yang menatapnya tak suka. Libby melihat tangan Pretty yang memeluk bahu Dylan dengan geram. Dia sengaja mendusel diantara Dylan dan Pretty, namun Pretty tak mau menurunkan lengannya hingga kini kesannya Pretty sedang memeluk Libby. "Kalian terlihat akrab," kata Dylan ketika melihat mereka berdua. "Oh ya? Masa sih?" kata Libby tersenyum sambil diam-diam menyikut pinggang Pretty keras. Pretty dengan gemulainya bergeser sedikit hingga serangan Libby meleset. "Kita emang cocok kok. Iya kan, Sayang? Lo ama gue ini dulunya anak kembar siam kalik," ucap Pretty so sweet. Libby mengernyitkan dahinya, sepertinya ada yang berbeda. "Eyke..? Lo kenapa ngomongnya gak kayak gitu lagi? Gaya melambai?" tanya Libby heran. Pretty tertawa kenes, ia menepuk bahu Libby pelan. "Yaelah, gue kemarin bercanda kali. Gaya gue ya kayak ginini. Keren kan?" ucap Pretty sambil mengedipkan matanya. Libby pengin muntah melihatnya. Buru~buru ia mengalihkan perhatiannya pada Dylan. "Dylan, kamu udah makan? Ini aku bawain kotak bekal buatmu," Libby mengeluarkan kotak bekal yang telah disiapkannya sepenuh hati, meski bukan dia yang memasaknya. "Ini aku sengaja masak pagi~pagi subuh buat kamu lho," dustanya tanpa rasa malu. "Ohya? Makasih Libby," kata Dylan tulus. Belum sempat Dylan menerima kotak bekal itu, Pretty merebutnya duluan. "Dylan, lo tadi kan bilang udah sarapan. Kasih gue aja ya, please... Gue lapar belum sarapan. Pleaseeeee," ucap Pretty manja dengan puppy eyesnya. Dylan merasa tak enak hati, tapi belum juga ia memberi izin, si Pretty sudah mencomot lauk di kotak bekal lucu itu. "Ih, cute banget nih sosis. Bentuk bunga. Gemes, ihhh." Pretty memakan sosis imut itu sekali telan, lalu ia menjilat jarinya yang terkena saus pedas sosis itu dengan gaya s*****l. Libby melongo melihatnya. Idih seksi sekali, dia yang cewek saja kalah luwes dibandingkan Pretty. Dan mengapa dari samping makhluk absurd ini terlihat begitu indah? Dia lembut, manis dan imut. Astaga, mengapa Libby jadi mengagumi rival cintanya sendiri?! "Libby!" panggil seorang cewek tomboy berambut cepak. Namanya Denada Kiky Caprio, panggilannya Decky. Kebalikan dengan Pretty, dia cewek tampan. Dia teman dekat Libby, sekaligus wakil ketua dalam geng Womanizer yang dipimpin oleh Libby. Pssstt, kabarnya bokapnya mafia lho. Melihat Decky, mendadak Libby punya ide gila. Daripada Pretty mengganggu perjuangan cintanya untuk mendapatkan Dylan, mengapa dia tak mengumpankan Decky pada Pretty? "Eh Decky, untung lo disini. Kenalin gih, ini Pretty. Dia cantik kan?" pancing Libby sambil menyenggol bahu Decky. Decky menatap Pretty terpesona, ia mengulurkan tangannya pada Pretty namun tak ditanggapi oleh cocan itu. Pretty pura~pura sibuk dengan makanannya di kotak bekal yang diembatnya tadi. "Iiiihh, telurnya lucu. Cute kayak elho Dylan," cetusnya manja, tangannya dengan lancang menepuk d**a Dylan. Baju Dylan sontak ternoda saus pedas yang tadinya melumuri tangan Pretty. Libby baru saja berniat mengambil tissu basah dari tasnya, namun dia kalah cepat. Dengan cekata Pretty mengeluarkan sapu tangan indah bersulam bunga dan berbau wangi dari sakunya. "Maaf ya, Sayang, gue bersihin dulu baju lo." Dia mengusap-usap baju Dylan dengan sapu tangannya. "P-p-pretty, gak usah." Dylan menahan tangan Pretty yang tengah mengusap dadanya, namun dengan manja Pretty menepis tangan Dylan menggunakan tangannya yang lain. "Yaelah, biasa aja kali. Gue gak gigit kok," goda Pretty sembari mengedipkan matanya. Ia menjilat jarinya dan mengusapkannya di d**a Dylan. Libby hampir muntah darah melihatnya. Wajahnya terasa panas, mirip ketel air yang tengah mendidih hebat. Awas lo bences!! Gue kerjain lo ntar!! Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD