19. Kenyataan Lain

2024 Words
Roy dan Hito terus berlari. Keduanya akhirnya sampai di sebuah bengkel besar yang cukup terkenal sebelumnya. Tempat itu terlihat rapi dari pada bangunan yang ada di sekitarnya. Tak ada tanaman merambat yang menjalar di dindingnya. Barang-barang bekas pun tak terlihat di depan bangunannya. Itu sama sekali berbeda dengan bangunan yang ada di sampingnya yang bahkan terlihat kotor dan penuh sampah. “Kita sampai!” ucap Roy dengan bangga. Dia senang karena ingatannya cukup kuat untuk mengenali lokasi tersebut. dia meneuk pundak Hito, wajahnya tersenyum puas. Dia pun merasa lega. Ada harapan yang mungkin bisa menolong mereka. “Bagaimana mungkin ini terjadi?” gumam Hito. Dia yang masih mengatur napas menyadari kejanggalan itu. Dia menatap ke arah Roy. Tapi, rekannya itu terlihat tidak sadar dengan perbedaan yang ada. “Apa maksudmu?” tanya Roy, dia sama sekali tidak mengerti apa arti dari ucapan rekannya itu. Dia mengernyit. Memandang wajah Hito dengan rasa penasaran. Hito menunjuk ke arah bangunan bengkel, kemudian dia menunjuk ke arah bangunan lain. “Kau bisa lihat, bangunan ini terlalu bersih dan rapi. Apa kau tidak merasa ini aneh? Tempat ini sudah snagat lama ditinggalkan. Tapi, bangunan ini tampak seperti telah dibersihkan dalam waktu yang berkala.” Hito menjelaskan tentang sudut pandangnya. Tentang hal yang tidak daat langusng diketahui oelh Roy. Roy, mengikuti arah tangan Hito. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau benar. Seolah tempat ini dikunjungi oleh seseorang!” ucapnya, setelah akhirnya dia mendapati bahwa bangunan itu memang tampak berbeda dengan bangunan yang ada di sekitarnya. “Sepertinya ... kita tidak sendirian di tempat ini.” Hito menoleh ke arah kirinya. Dia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya dari arah sana. Roy, mengikuti gerakan rekannya. Keduanya sama-sama melihat ke arah yang sama. tapi, keduanya tak mendapati apa pun ddi sana. Kosong. Mungkin hanya perasaanku saja. “Lalu? Bagaimana ini? Kita sudah sejauh ini, masuk sajalah, ya?” ucap Roy. Walau dia tahu, bahaya mengiintai mereka dari mana saja. “Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi benar katamu. Kita sudah sampai di sini. Kita lanjutkan saja!” jawabnya. Dia memberikan kode pada Roy untuk berjalan terlebih dahulu. sementara dirinya berjaga di belakangnya. Siap dengan senjata yang mengacung dan meluncurkan peluru kapan saja. Roy berjalan dnegan perlahan. Dia mengintip ke arah dinding kaca yang besar itu. Memeriksa apa yang ada di dalam sana. Tak ada apa pun selain barang-barang bengkel dan beberapa mobil yang tertata dengan rapi. dia menoleh ke samping. Mendapati sebuah pintu. “Ayo!” ucap Roy. Hito pun mengikuti langkahnya. “Bahkan knop pintu ini tidak terlalu berdebu, kau benar Hito!” bisik Roy. Hito mengangguk, kini mereka berdua harus semakin waspada. Sebuah kenyataan tentang keberadaan seseorang di area itu bukanlah hal yang bisa mereka anggap enteng. Jika ada yang tinggal di sana. Itu bisa jadi ancaman bagi mereka. Karena mereka tidak tahu, apa tujuan seseorang itu tinggal di sana. Roy menendang pintu kayu itu beberapa kali. Hingga akhirnya pintu itu pun terbuka secara paksa. Tempat kuncinya rusak dan meninggalkan bekas patahan di daun pintunya. Mereka masuk dengan langkah perlahan. “Coba nyalakan lampunya, seluruh listrik yang ada di kota ini telah dihidupkan kembali. kita harus bergegas, tidak banyak waktu yang kita miliki!” ucap Hito. Roy menganggukkan kepalanya. Dia mencari sakelar listrik dan menyalakan lampu di ruangan itu. Setelah ruangan itu terang oleh cahaya lampu. Kini, mereka bisa melihat barang-barnag dengan lebih jelas lagi. “Bukan di sini, mobil pemilik gedung ada di sebeleah sana!” ucap Roy. Dia masih ingat dengan jelas. Saat si pemilik gedung memamerkan beberapa koleksi mobil miliknya pada dirinya. “Kau mengenal si pemilik gedung ini?” tanya Hito. Dia bahkan merasa penasaran padanya. Bagaimana dia bisa tahu sedetail itu. “Aku pernah beberapa kali ke sini. Hingga akrab dengan pemiliknya. Sekarang, dia bahkan telah memiliki bengkel baru di tempat kita!” jelasnya. Hito mengernyit. Orang-orang kaya itu bisa dengan mudah keluar dari tempat berbahaya ini lima tahun yang lalu. Dengan kendaraan yang mereka miliki. Dia masih ingat dengan jelas. Helikopter-helikopter terbang di atas kepalanya hari itu. Tak terhitung jumlahnya. Mereka menjemput para pemilik uang, pengusaha, peitnggi, dan orang-orang penting lainnya. Sementara orang-orang yang seperti dirinya. Harus dengan sekuat tenaga berlari. Menaiki mobil yang bahkan harus terhenti karena kacaunya keadaan. Dia masih beruntung. Masih bsia selamat dari bencana itu. Tapi, keluarganya, teman dekatnya, dan orang-orang yang dia kenali tidak selamat dari bencana itu. “Hey!” ucap Roy. Dia membuyarkan lamunan Hito. Hito pun kembali terseret dalam kondisi saat ini. mendapati dirinya sedang berada di sebuah bengkel bersama dengan rekan timnya. “Ayo! Ke sana!” lanjutnya. Hito hanya mengangguk dan mengekor padanya. berjalan melewati beberapa tempat dan akhirnya mereka pun sampai di sana. Sebuah ruangan dengan beberapa mobil mewah di dalamnya. Tak hanya itu, mobil optimus prime pun ada di sana. Tank, dan beberapa kendaraan tentara yang biasanya ada di pangkalan militer terparkir di sana. “Wow! Apakah dia anggota kemiliteran? Ah bukan-bukan. Apakah dia pemasok kendaraan militer?” tanya Hito pada Roy yang hanya tersenyum mendengar pertanyaan darinya. “Kau tidak perlu kaget dengan hal ini! Dia bahkan mempunyai beberapa helikopter militer secara pribadi!” ungkap Roy pada Hito. Hingga membuat  rekannya itu tercengang dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan olehnya. Hito menggelengkapn kepalanya. Dia berdecak kagum dengan kendaraan-kendaraan yang terparkir dengan gagah di sana. “Kau pasti bercanda bukan?” ucap Hito. Dia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang baru sa diucapkan oleh Roy padanya. “Kalau aku bercanda, bagaimana mungkin kendaraan-kendaraan ini ada di sini? Ini langsung dia pesan pada negaara itu!” ucapnya. Dia menepuk body dari salah satu kendaraan yang ada di dekatnya. Hito hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan. “Carilah kendaraan yang bisa menampung kita semua!” “Aku rasa ini yang paling kuat dan bisa kita bawa dari sini.” Kriek. Keduanya terdiam. Mereka baru saja mendengar ada pintu yang terbuka. Kini, mereka saling berdekatan. Saling menempelkan punggung mereka untuk berjaga dari arah yang berlawanan. Mereka bersiap menyerang, siapa pun yang akan muncul di sana. Kemudian mereka berjongkok, dan semakin waspada. Pendengaran mereka mulai mereka pertajam. Hening. Tak ada suara. Hingga sebuah tembakan terdengar dengan jelas ddi telinga mereka. Selongsong peluru jatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi khas yang sangat mereka kenali. Ada orang lain di dalam sana. Ada seseorang yang bahkan tidak mereka ketahui siapa. Langkah kaki itu terdengar dengan jelas oleh keduanya. Degup jantung mereka mulai tak karuan. Rasa gugup itu tidak mapu mereka tutupi. Tapi, mereka tetap harus waspada bagaimana pun caranya. Mereka bahkan menahan napas, saat mendengar suara langkah itu kian mendekat ke arah mereka berdua. Sara tarikan pelatuk senjata jelas menguar di ruangan tersebut. Suara khas yang sering mereka dengar itu membuat mereka kian merasa awas. Orang itu sama membawa senjata seperti dirinya. Setidaknya, itu bukanlah makhluk yang menyeramkan itu.   *** Sementara di lain sisi. Leo yang baru saja mengucapkan sebuah pertanyaan pada Lucas pun mundru beberapa langkah. Tempat mereka beristirahat ternyata dekat dengan sebuah gedung yang berisi banyak makhluk seperti sebelumnya. Mereka saling berpandangan. Lucas terdiam. Kini, pikirannya terbagi menjadi tiga. Pada Hito dan Roy, pada Jo dan rekan yang ada di markas, juga pada keselamatan dia dan tim yang sedang ada di sana. Semua itu terjadi begitu saja. membuatnya kian frustasi. “Kapten, apakah kita akan tetap di sini sampai mereka kembali?” tanya Kevin pada snag kapten yang terlihat masih juga diam dan merenung. Lucas menoleh ke arah Kevin. Dia bingung harus menjawab apa. Keputusan apa yang harus dia ambil dalam situasi ini? “Jika kita tetap berada di sini, mungkin mereka akan segera menyadari keberadaan kita. Tapi, jka kita segera melanjutkan perjalanan. Bagaimana dengan Hito dan juga Roy? Mereka akan kebingungan mencari posisi kita nantinya!” ungkapnya. Dia benar-benar dalam situasi yang sulit untuk mengambil keputusan. Dia memijit pelipisnya dengan perlahan. “Mereka bisa mencari kita! Tapi, jika kita tidak bergerak sekarang ... entah apa yang akan terjadi di sini nanti!” ungkap William. “Ucapan William benar Kapten. Kita harus segera pergi dari sini!” sahut Rico. “Baiklah, setidaknya kita harus selamat dari mereka. Nanti, kita akan pikirkan bagaimana caranya menemukan kedua rekan kita yang lain!” ucap Lucas. Kemudian mereka pun bergegas pergi dari sana. Dengan langkah cepat namun minim suara. Mereka tidak boleh membuat suara langkah terdengar oleh para makhluk itu. Mereka harus segera pergi dan menyelamatkan diri. Sebelum para makhluk itu menyadari keberadaan mereka di sana. Langkah-langkah mereka mulai menjauh dari tempat itu. Jarak yang mereka tempuh pun kian dekat dengan tujuan. Tapi, masih juga belum mendapati kabar dari kedua rekannya. “Kita berhenti di sana!” ucap Lucas. Dia menunjuk ke sebuah bangunan rumah yang tampak sepi. Dengan sigap dan langkah pasti, mereka melangkah menuju tempat yang sudah ditunjuk oleh sang kapten. Mereka masuk dan menyisir lokasi. Memastikan tidak ada siapa pun di dalam sana. Tempat itu pun mereka tutup dan bersembunyi di dalam sana.   ***   Langkah itu kian dekat dengan tempat persembunyian keduanya. Mereka saling pandang dan menguatkan satu sama lain. Hito menganggukkan kepalanya. Hal itu menunjukkan bahwa dirinya bersiap untuk keluar dari persembunyian. Agar Roy bisa bersembunyi ke tempat lain. Pada akhirnya, dia melangkah keluar. Tepat di depan seseorang yang sama-sama sedang memegang senjata. Kedua moncong senjata itu saling beradu. Pria itu terlihat lebih muda darinya. Rambut dan gaya berpakaiannya juga menjelaskan hal itu dalam sekali pandang. “Siapa kamu?” “Kau siapa?” Keduanya saling melempar pertanyaan dalam waktu yang bersamaan. Masih dengan posisi senjata yang siap untuk ditembakkan. “Aku prajurit yang sedang ditugaskanke tempat ini. Setahuku, tidak ada warga sipil yang bisa sembarangan masuk ke dalam kota ini! Siapa yang mengirimmu ke sini? Turunkan senajtamu!” suara Hito yang memperkenalkan diri sengaja dia buat lebih tinggi. Agar pria muda itu merasa sedikit takut padanya. Pria muda itu hanya tersenyum mengejek. Dia sama sekali tidak menggubris perintah Hito untuk menurunkan senjatanya. “Kau tidak perlu tahu siapa aku!” ucapnya. Dia sama sekali tidak takut dengan Hito. Dia menganggapnya remeh dan tidak sebanding dengan dirinya. Suara tarikan pelatuk di belakang kepalanya membuat pria muda itu mengangkat kedua tangannya. Senjata yang ada di tangannya meluncur jatuh ke lantai. Hito dengan cekatan mengambil dan mengamankan senjata tersebut. Roy berada di belakang pria muda itu dengan senjata menempel tepat di belakang kepalanya. “Jadi, siapa yang mengirimmu ke sini?” tanya Hito lagi. Dia mempertegas pengucapannya. Mencoba memberikan tekanan pada si pria agar segera membuka mulutnya. “Aku tidak takut pada kalian! Aku dikirim oleh orang yang sama dengan kalian!” ucapnya. Ada senyum tipis di akhir kalimatnya. Senyum mengejek dan juga merendahkan. “Orang yang sama? Jangan bercanda! Umurmu saja bahkan masih sangat muda! Katakan yang sebenarnya!” desak Roy. Dia semakin menekan pistol itu ke arah kepala si pria. “Entah apa pun tujuan kalian ke sini. Tapi, aku bahkan telah mendapatkan akses untuk tinggal di rumah ini. Bagaimana menurut kalian? Kalian masih tidak percaya denganku?” ucapnya. Dia mengucapkannya dnegan sangat santai. Karena dia tahu, kedua prajurit itu tidak mungkin menuyakitinya. “Ini tidak mungkin!” ucap Hito. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku bahkan lebih dulu mengirimkan banyak barang untuk mereka. Tapi, apa yang aku dapatkan? Aku malah ditinggalkan di sini sendirian!” ucapnya. Kali ini, dia terlihat cukup kesal. Karena ingatan tentang kejadian hari di amna dia ditinggalkan terulang kembali dalam pikirannya. Dia membuang muka. Dan mendesah kesal. “Apa?” Hito dan roy mengucapkannya secara bersamaan. Keduanya saling pandang dan tidak percaya dengan ucapan si pria muda itu. “Karena hal itulah, kalian dikirim ke sini! Karena kalian tidak mungkin menuntut bayak hal pada atasan kalian, benar bukan?” dia terdiam sejenak. Memandangi wajah dari kedua orang yang sedang terlihat begitu tidak percaya padanya. “Aku tahu semuanya! Kota ini bahkan telah kami bersihkan dari makhluk itu. Tapi, entah dari mana mereka kian banyak yang datang. Aku sudah di sini sejak tiga bulan lalu. Anggotaku mereka bunuh tepat di depan kedua mataku! Dan aku berakhir di sini. Sendirian! Karena aku melarikan diri tepat sebelum mereka menghabisiku!” ucapnya. Pada akhirnya, dia menceritakan semua kisahnya pada kedua prajurit tersebut. “Kalau kalian tidak percaya, tak apa! Aku akan kembali masuk ke dalam kamar dan tidur hingga mati!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD