20. Oknum

2112 Words
“Kalau kalian tidak percaya, tak apa! Aku akan kembali masuk ke dalam kamar dan tidur hingga mati!” ucap pria itu. Dia menunduk dan tersenyum tipis. menertawakan nasibnya sendiri yang berakhir kacau. Uang yang ratusan ribu dollar yang dijanjikan tak pernah dia lihat bentuknya. Dia malah terjebak di dalam kota antah berantah sendirian. Bersama dengan banyak makhluk aneh dan menyeramkan. Setiap hari nyawanya terancam. Setiap harri dia diliputi rasa bersalah atas kematian rekan-rekannya. Dia juga dihantui dengan kecemasan tentang makhluk yang bisa menyerang dan membunuhnya kapan saja. atau bahkan lebih parahnya lagi. dia bisa menjadi bagian dari makhluk menyeramkan itu. “Siapa namamu?” tanya Hito. Dia menyadari pria itu bukanlah ancaman baginya. Dia pun menaruh senjata dan ikut duduk bersama dengannya. Roy melotot ke arahnya. Tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh rekannya tersebut. hito hanya mengangguk, memintanya untuk ikut duduk dan memepercayai apa yang dia lakukan. Pada akhirnya, Roy pun mengikuti perintah Hito. “Aku, James. Dan kalian?” “Aku lebih tua darimu! Bersikaplah sopan!” ucap Roy tidak terima dengan perlakuan songong dari pria muda itu. “Ah, begitu? Apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan Om?” balas James. Dia terkekeh pelan. Begitu juga dengan Hito. “Kenapa kau ikut tertawa! Tidak lucu!” dia menyenggol lengan Hito. Memprotes atas kelakukannya. “Aku Hito, dia Roy, kami sedang mencari kendaraan untuk digunakan menuju tempat tujuan kami. Apakah di sini ada yang bisa digunakan?” ucap Hito. Dia memperkenalkan dirinya. Juga meminta pendapat James tentang kendaraan yang bisa mereka bawa. James berdiri. Dia menepuk body dari kendaraan yang ada di depannya. “Ini!” ucapnya tanpa ragu. Itu adalah kendaraan militer yang cukup besar. Hito dan Roy sangat yakin dengan persenjataan dan juga sitem kendaraan yang canggih ada di dalamnya. “Kau yakin? Ini sudah hampir enam tahun berlalu! Tidak mungkin kendaraan ini bisa dijalankan!” sahut Roy. Dia memandang remeh pada James. “Tidakkan Anda lihat ban-ban kendaraan di sini tidak ada yang kempes, Om?” ucap James. Dia memanggil Roy dengan sebutan Om lagi. kemudian dia terkekeh sendiri. Tangannya menunjuk ke arah kendaraan yang terparkir dengan rapi di sana. “Lihat itu, yang itu, juga yang di sana. Masih tidak percaya denganku?” lanjut James. Dia tampak mulai kesal dengan Roy yang terus saja tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Hito dan Roy melihat ke arah yang ditunjuk oleh James. Mereka terbelalak. di saat itu akhirnya mereka percaya sepenuhnya. Bahwa memang ada oknum-oknum yang melakukan perawatan kendaraan tersebut. kini, mereka akhirnya tersadar. Mereka memang sebuah pion catur yang sedang dimainkan oleh para atasan. Miris! “Aku masih bertahan dengan banyaknya logistik yang mereka kirimkan. Tapi, tetap saja. tidak ada harapan untukku bisa kembali pulang!” James mengehla napas panjang. kemudian dia melanjutkan kalimatnya. “Tiga bulan yang lalu, mereka menawarkan  ratusan ribu dollar padaku dan rekan-rekanku. Kami yang hanya montir di bengkel kecil bersedia. Uang sejumlah itu cukup banyak bagi kami. Tanpa kami ketahui, semua itu hanyalah janji manis yang tidak akan pernah terjadi!” Dia melihat ke arah Hito dan Roy sejenak. Lalu melihat ke arah luar ruangan. Di mana cahaya masuk dengan sangat terang. “Aku pun sama seperti kalian. Korban! Aku telah mengangkut banyak barang dari rumah ini. benda-benda kecil berkilauan yang harganya bahkan bisa menembus jutaan dollar. Tapi, satu dollar pun aku tidak mendapatkannya!” James masih terus menceritakan kisahnya. Kedua prajurit itu pun hanya diam. Memberikan waktu padanya untuk berkeluh kesah. Berada di tempat antah bernatah sendirian. Bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. “Apa kalian tahu? Orang-orang itu memakai seragam yang sama dengan yang kalian kenakan saat mengantarkan aku dan rekanku ke sini! Mereka tersenyum dengan sangat lebar saat menerima butiran-butiran berlian itu! Mereka terus memberikan instruksi menggali lebih dalam lagi dan lagi. mengambil banyak aset kuno di dalam rumah ini!” “Apa? Aset kuno?” ucap Roy sangat terkejut dengan hal itu. Dia selama mengenal David tidak pernah mengetahui hal tersebut. “Aku rasa, ada yang tidak beres dengan pemilik tempat ini!” ucap James. Setelah dia menganggukkan kepalanya pada Roy. Mengiyakan tentang pertanyaannya tadi. “Apa maksudmu?” Hito mulai penasaran dengan kejadian yang sebenarnya. “Hari di mana aku mengirimkan berlian itu, dia masih terlihat bersama dengan para pria berseragam. Tapi, setelah dia memberikan aku peta letak harta. Di hari pengambilan yang selanjutnya, dia tidak terlihat.” “Kau yakin tidak melihatnya?” Roy benar-benar penasaran. Jika memang benar ada sesuatu yang terjadi pada David. Dia tidak akan bisa tinggal diam. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Semnetara dirinya terjebak di sana bersama rekannya yang lain! “Itu adalah hari di mana aku mengangkut banyak benda bersejarah. Benda kuno, lukisan-lukisan, juga berbagai macam patung perunggu yang mungkin usianya sudah ribuan tahun yang lalu! Dan di setelah semuanya terangkut ke dalam pesawat. Mereka menyerang kami dengan sangat brutal. Pada dasarnya, mereka sama sekali tidak peduli pada kami. Mereka, hanya peduli dengan sejumlah harta yang ada di tempat ini!”  “Aku tidak menyangka, David akan meletakkan banyak barang berharga di dalam bengkelnya. Ini adalah sebuah bengkel! Kenapa dia tidak meletakkannya di bungker di rumahnya?” Roy mulai frustasi mendengar semua itu. Sebuah kenyataan tentang hal buruk yang mungkin saja terjadi pada kawannya. Membuat dia semakin merasa gusar. Merasa dibohongi, merasa tertipu dan merasa kian dendam. “Kau ini bodoh apa bagaimana? Tidak akan ada orang yang menyimpan benda berharga di rumahnya! Itu terlalu mencolok! Siapa yang akan mencuri benda pra sejarah di sebuah bengkel mobil? Tidak akan ada yang terpikir sampai ke sana. Mereka pasti hanya akan mencuri spare part mobil dan kemudian lari!” sahut james. Dia benar-benar merasa kesal dengan Roy. Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa menjadi seorang prajurit pasukan khusus!   Hito terdiam. Mendapati sebuah kenyataan pahit itu dia mulai berpikir keras. Dia harus keluar dari sana. Entah bagaimana pun caranya. “Kalian ingin melihat ruangan benda-benda itu? Masih banyak yang bisa kita jual! Mereka percaya saat aku mengucapkan telah tidak ada benda di ruangan itu. Dengan foto palsu!” ucap James. Dia berdiri. Menwarkan diri untuk menjadi pemandu lokasi. “Ah, tapi, kita harus menyumpal pintu itu dengan beberapa mobil. Mereka bisa masuk kapan saja!” lanjutnya.   ***   Fero dengan resah duduk di meja kerjanya. Dia terus memandangi ponsel miliknya. Menggigiti kuku-kuku jemari tangannya. Kakinya bergerak-gerak. Dia terus merasa gelisah. Seharusnya Lucas sudah menghubunginya. Tapi, sampai saat ini tidak ada pergerakan di ponselnya sama sekali. “Kau ini boodoh apa bagaimana sih, Kapten?” gumamnya pelan. Tanpa dia sadari, kedua rekannya mendengar ucapannya yang dia anggap sangat lirih itu. “Kapten? Siapa?” tanya Jery dengan wajah penuh tanya. Keningnya berkerut, dan kedua alisnya bahkan hampir bertemu ujung-ujungnya. Steve pun sama, dia melihat ke arah Fero yang sedang terdiam. Karena dia terkejut kedua rekannya mendengar gumamannya. “Tidak ada!” ucap Fero asal. “Ah, jangan-jangan ... kau merindukan kapten prajurit itu ya? Wah, ada yang sedang kasmaran nih!” ledek Jery. Mulutnya memang selalu tidak bisa dikendalikan. Selalu saja meluncurkan kata-kata yang bisa membuat Fero naik pitam. Dengan gerakan cepat Fero menjitak kepala Jery dengan keras. Kemduian dia menyajikan senyum manis setelah melakukan hal itu padanya. “Sakit!” Jery menggosok-goosok bekas jitakan Fero di kepalanya. “Jadi, ada masalah apa kau dengannya?” sahut Steve yang juga merasa penasaran. Fero bukanlah tipe wanita yang suka dengan seseorang dalam waktu singkat. Jika itu bukan rasa suka. Maka, bisa jadi itu adalah rasa dendam yang membara. “Tak ada!” jawab Fero singkat. Kemudian dia pun beranjak pergi dari ruangan itu. Dari pada harus terus diganggu oleh kedua rekannya. Tapi, keduanya malah mengikuti langkahnya keluar dari sana. Steve menarik lengan Fero. Dia menatap dengan tajam ke arahnya. menelisik ke selurun penjuru matanya. Melihat apakah ada sesuatu yang sedang coba dia sembunyikan di sana atau tidak. “Masuk!” ucap Steve. Dia menyeret Fero kembali ke dalam ruangan. memintanya u tuk kembali duduk. Dan lebih baik segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua rekannya. “Apakah terjadi sesuatu di sana? Apakah kalian melakukan sesuatu ...?” tanya Steve. Tangannya bergerak-gerak, membuat sebuah gerakan yang membuat Fero semakin kesal. Pikirannya sudah melayang jauh ke mana-mana. Fero bukan tipe orang yang akan mengingat orang lain yang baru saja dikenal olehnya. “m***m saja pikiranmu!” jawab Fero dengan jitakan keras yang dia daratkan di kepala Steve. Jery melangkah mundur. Dia tidak ingin mendapatkan jitakan yang sama untuk kedua kalinya. “Jadi, apa yang terjadi di sana?” “Tidak ada! Kalian tidak akan kuat mendengarkan ceritaku! Banyak makhluk aneh yang bisa menggigitmu kapan saja. Lalu, kau pun akan berubah seperti mereka!” jawab Fero. Mencoba mengalihkan arah pembicaraan mereka. Dari sang kapten ke para zombi yang menyeramkan. “Seperti zombi di film-film? Jadi, mereka nyata dan benar-benar ada?” pertanyaan Jery membuat Fero tertawa dengans sangat keras. “Dasar bodoh! Film itu tidak mungkin ada kalau tidak ada yang pernah melihat kejadiannya secara nyata. Atau secara mimpi, atau entahlah! Intinya, setiap apa yang ada itu bisa saja terjadi sebelumnya, atau nanti. Atau bahkan kau yang akan menjadi penyebabnya!” ucapan Fero membuat Jery bergidik ngeri. Bagaimana bisa seorang perempuan mengatakan hal semenyeramkan itu. “Kau tidak pantas jadi peneliti dengan rasa takutmu itu! Bagaimana kau bisa lulus dalam ujian dulu? Menyogok ya?” lanjut Fero. Kali ini dia membuat Jery diam dan tidak lagi  banyak bicara. “Jadi, ada apa dengan sang kapten? Apakah dia terluka?” kali ini Steve yang bertanya. Fero menelan ludah. Tersenyum tipis dan menghela napas panjang. padahal dia pikir perbincangan itu akan segera berakhir. Nyatanya, si Steve malah kembali menyentil tentang sang kapten. “Tak ada apa pun yang terjadi! Sudahlah!” jawab Fero malas. “Kau tidak akan menceritakan hal itu pada kami? Pada rekan kerjamu yang bahkan sudah dari sejak kita sama-sama menempuh pendidikan? Kau tidak mempercayai kami ya?” ucap Steve tiidak terima dengan jawaban asal dan tidak memuaskan itu. “Steve, aku yakin kau tidak akan ingin mendengar ini.” “Apa pun itu, aku akan dengar! Jangan menilai orang lain dari sudut pandangmu sendiri! Jadi, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”  Suara Steve kian meninggi. Membuat Fero terjekut dan menelan ludah. “Aku harap kalian tidak menceritakan ini keluar. Nyawaku, juga kalian akan meyalang jika sampai ada orang lain yang mendengarnya. Kalian paham?” ucap Fero. Dia memelankan suranya. Dia mendekatkan ke kedua rekannya. Mereka mengangguk setuju. Duduk berhadapan dan memutar. “Kalau hal ini sampai bocor, tamat riwayat kita!” ulang Fero. Kedua rekannya mengangguk setuju. Walau ada rasa ragu di wajah keduanya. Dengan suara pelan Fero mulai menceritakan tentang kejadian yang ada di sana. Lokasinya, markasnya, para prajuritnya, hingga persenjataan yang mereka bawa setiap harinya. “Kau ingat, sebelum berangkat, aku dipanggil oleh ketua, bukan? Saat itu, aku mendengar hal yang tidak seharusnya aku dengar. Sebuah kenyataan tentang misi terselubung yang harus mereka lakukan!” “Misi terselubung? Apa?” tanya Steve. Dia kian merasa penasaran dengan setiap detil kejadian yang ada di sana. “Kalian tidak akan bisa makan setelah aku menceritakan hal ini. Masih yakin akan mendengarnya?” Fero mencoba menghentikan cerita yang bahkan belum masuk pada intinya. “Mungkin Jery yang begitu, aku tidak. Jadi, segera ceritakan!” desak Steve padanya. Ternyata, Fero tidak dapat mempengaruhi mereka dengan ucapan itu. Maka, dia pun melanjutkan ceritanya. Tentang bagaimana mereka diserang oleh makhluk itu setelah menyeberangi sungai. Kemudian mereka mulai berjalan jauh menuju markas. Bertemu dengan makhluk-makhluk menyeramkan lainnya. Bertarung dan mendapatkan luka. Tentang suara senapan dan juga senjata lainnya yang riuh memnusi lokasi. Beberapa dari mereka terluka. Darah menetes dan mengering adalah hal yang sangat wajar terjadi. “Lalu, prajurit itu mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat. Kepala makhluk itu pun terjatuh ke tanah. Menggelinding cukup jauh. Hingga membuat wajahnya sekotor itu saat kita menelitinya. Kalian ingat hal itu, bukan?” “Jadi, kau pun ikut melawan makhluk itu?” tanya Jery antusias. “Ya, tentu saja. Aku pergi dengan senjata yang juga mereka berikan. Itulah kenapa aku yang dikirm oleh ketua, bukan kalian!” ucap Fero dengan bangga. Jery mendecih, merasa kesal akibat ucapan Fero yang sebenarnya memang benar adanya. “Jadi, kenapa dengan sang kapten?” “Kenapa kau sangat penasaran dengan hal itu Steve? Aku belum selesai menceritakan kejadian di sana! Kenapa kau jadi menyebalkan, sih! Rasa penasaranmu bisa membuatmu mati!” Fero pun mulai kesal karena terus di desak oleh Steve. “Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke sini. Tidak ada jalan kembali, aku meminta sang kapten untuk menghubungiku. Tapi, dia tidak mendengarkan aku sama sekali!” Itu adalah kalimat terakhir yang bisa Fero ceritakan pada mereka. Dia tidak mungkin menceritakan tentang Bob yang telah terbunuh di pangkalan hari itu. Terlalu menyedihkan dan juga tidak manusiawi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD