Tino berlarian ke sana ke sini. Anak laki-laki itu tidak lagi mempertanyakan tentang Ayahnya. Dia tahu, raut sedih itu terlihat dengan jelas di mata Ibunya. Setiap kali dia bertanya tentang itu. Walau Ibunya terus menyajikan senyum terbaik untuknya. Tapi, mata tidak pernah berbohong dengan apa yang dia rasakan. Tino menyadari itu. Karenanya, dia tidak ingin membuat Ibunya sedih lagi. Dia sangat tahu, Ibunya pun merasakan rindu yang sama.
“Kau sudah bisa menghubungi suamimu?” tanya Mela pada Sisca. Keduanya sedang duduk dan melihat ke arah taman. Banyak anak kecil sedang bermain di sana.
Sisca menggelengkan kepalanya, “Tidak, tak ada satu pun pesanku yang masuk!” jawabnya dengan suara lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Hingga membuat dia harus menghela napas panjang untuk mengusir rasa sedih yang ada pada dirinya.
Mela pun sama, dia menghela napas panjang. Lalu menoleh ke arah Sica. “Bagaimana jika kita pergi ke pangkalan? Menanyakan kabar mereka, tidak mungkin orang-orang berseragam itu tidak tahu keadaan mereka bukan?” ucap Sisca. Dia berbicara seolah bisa mendapatkan informasi dari sana.
Sisca menepuk pundak teman dekatnya itu. “Tenanglah, aku tidak yakin hal itu bisa kita dapatkan di sana.” Sisca tampak putus asa saat mengucapkannya. Entah dia mendapatkan pemikiran itu dari mana. Tapi, dalam hati kecilnya dia mengira hal itu hanya akan berakhir sia-sia.
“Kau yakin? Kau tidak ingin mencobanya? Sekali saja, ayolah Sis!” pinta Mela. Dia masih bersemangat dengan satu rencana itu. Dia mencoba membujuk Sisca agar dia berubah pikiran. Dia menatapnya dengan penuh harap.
“Baiklah, tapi ... bagaimana dengan anak-anak? Kita tidak mungkin mengajak mereka ke sana, bukan?” tanya Sisca. Dia menatap Tino yang sedang berlarian bersama dengan teman-temannya di depan sana.
“Kita titipkan saja ke Jessi,” ucap Mela dengan santainya. Di sana memang masih ada teman dekatnya yang lain. Mereka sama-sama mengajak anak-anak mereka bermain bersama-sama.
“Jes!” panggil Mela. Dia melambai-lambaikan tangannya ke arah Jessi yang sedang duduk agak jauh dari mereka.
Jessi menoleh ke arahnya, lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri. Mela mengangguk, memberikan jawaban atas pertanyaan dari gerak tubuh Jessi. Wanita itu pun berdiri dan berjalan mendekat ke arah kedua temannya. Dia tersenyum lembut pada mereka. Dia masih belum tahu, ada niat lain dari kedua temannya itu memanggil dirinya.
“Ada apa?” tanya Jessi. Dia duduk di samping Mela.
“Aku dan Sisca mau ke kantor sebentar, apa bisa kami titip mereka sama kamu?” ucapnnya tanpa basa-basi sama sekali. Mengatakan inti dari pembicaraan itu pada Jessi.
Jessi mengernyit, memandang ke arah dua anak-anak yang sedang berlarian yang juga sedang bermain dengan anaknya. “Kantor?” ulangnya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan ‘kantor’ yang disampaikan oleh Mela.
“Kantor suami kami,” sela Sisca. Dia menengahi, sebelum Mela akan mencerocos dan tidak bisa direm.
“Ah, apakah mereka sudah kembali?”
“Belum, karenanya kami akan mencari informasi ke sana!” jawab Mela. Dia menghela napas, mencoba untuk tidak emosi dengan pertanyaan yang diucapan oleh Jessi. Hatinya berkecamuk, mendapati kenyataan tidak adanya kabar tentang sang suami. Dan si teman itu malah dengan santainya bertanya tentang kedatangan suaminya.
Aku tidak akan ke kantor suami jika dia bisa dihubungi!
“Ah, baiklah, aku akan menjaga mereka. Akku akan membawa mereka pulang ke rumah. kalian bisa menyelesaikan urusan kalian dengan tenang,” jawabnya. Dia adalah orang yang sangat ramah. Tapi, kadang sikap agak lemotnya membuat kedua temannya itu merasa kesal. Dia menyelipkan rambut ke belekang telinganya. Kemudian tersenyum dan menepuk pundak Mela juga Sisca secara bersamaan.
“Karenanya, aku tidak suka suami prajurit!” ucapnya. Lalu, dia buru-buru pergi dari hadapan kedua temannya. Sebelum dua singa betina iitu menerkamnya dengan kuku-kuku panjang milik mereka berdua. Dia menghampiri anak-anak dan mengajaknya ke tepi. Memberi tahu mereka untuk mampir ke rumahnya. Karena kedua Ibu mereka akan pergi untuk suatu urusan.
“Tino, Mike, Ibu kalian akan pergi untuk suatu urusan. Jadi, kalian akan ikut ke rumah Tedy untuk bermain. Kalian setuju?” ucapnya dengan senyum yang ramah. Dia memndang ke arah dua anak kecil tersebut. Mereka saling berpandangan dalam beberapa detik. Kemudian menoleh ke arah Ibu mereka yang ada di seberang sana. Saat mengetahui anak-anak mereka sedang melihat ke arahnya. Keduanya pun melambaikan tangan dengan senyum yang manis.
Kedatangan mereka berdua di kantor suami mereka seperti sebuah bencana bagi para prajurit. Keduanya yang semula datang untuk bertanya dihalang-halangi untuk masuk. Membuat jiwa singa betina itu mencuat dan mengacaukan keadaan di sana.
“Ah, kalian menantangku? Apa karena kalian prajurit dan mempunyai senjata? Aku tidak takut dengan kalian semua!” ucap Mela dengan suarra yang menggelegar.
Beberpa prajurit yang menghalanginya masuk ke dalam ruangan didorong-dorong olehnya.
“Hey! Kau tidak pernah diajarkan sopan santun ya? Kau tidak lihat perutku yang membesar ini? kau ingin aku kutuk jadi batu ginjal, hah?” lanjutnya. Mela sudah berada di ujung amarahnya. Dia terus mencoba menerobos masuk. Juga menendang, memukul, menjambak, para prajurit yang terus membuat barikade di depan ruangan.
Sementara itu, Sisca memandang mereka dengan tatapan benci. Dia diam di tempantnya. Tapi, dia mulai mengeretek leher. Bunyi kretekan itu terdengar oleh mereka semua. membuat Mela menolah dengan mulut menganga. Dia menelan ludah. Sudah lama dia tidak pernah mendengar suara itu. Itu adalah suara kematian yang terdengar sangat dekat. Mela menyingkir. Dia memberikan jalan pada Sisca untuk melakukan aksinya.
Seorang Ibu dengan anak berusia sembilan tahun itu mengikat rambutnya ke atas. Menunjukkan dengan tegas rahangnya yang kokoh. Kemudian dia melanjutkan meregangkan anggota tubuhnya. Membuat ancang-ancang dan kemudian berlari ke arah barikade prajurit yang ada di depan ruangan.
“Hiyaaaaa!” teriaknya, bersamaan dengan kakinya yang mulai berlari. Dia melompat dengan sangat tinggi. Kemudian membuat gerakan memutar dengan kakinya. Barikade prajurit itu pun roboh dalam satu kali tendangan.
“Rasakan itu! Kau salah memilih lawan! Tidak ada yang lebih kuat dari Ibu-ibu yang mengiinginkan sesuatu!” ucap Mela. Dia merasa puas melihat pemandangan para prajurit yang terjatuh.
Sisca dengan entengnya masuk ke dalam ruangan. Dia mencari ruangan atasan suaminya—pak Banning. Dia menelisik, mencari nama itu di depan ruangan-ruangan yang tertutup. Sudut matanya mendapati seorang prajurit masuk dengan tergesa ke dalam satu ruangan.
“Pasti di sana.” begitu pikirnya. Dia pun mengikuti apa yang dia lihat. Berjalan menuju salah satu ruangan yang pintunya tertutup. Mela juga mengekor padanya. Para prajurit itu akhirnya membiarkan keduanya masuk. Saat melihat ada salah satu atasan mereka mengangguk.
“Rasakan!” ucap Mela berulang kali setiap bertemu dengan prajurit yang tadi diserang oleh Sisca.
Keduanya berhenti di depan sebuah ruangan. Lalu mengetuk pintunya dengan sopan. Mereka bisa mendengar suara balasan dari dalam ruangan tersebut.
“Masuk!”
Tanpa ragu, Sisca pun membuka ruangan. Dia mengangguk dengan sopan pada sang atasan. Disusul dengan Mela yang juga ikut masuk ke sana.
“Silakan duduk!” Banning mempersilakan kedua istri prajurit itu untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya. Dengan senyum ramah dan sikap tenangnya. Dia menghadapi api panas membara di dalam hati kedua orang itu.
“Prajuritmu telah tidak sopan menghalangi kami masuk! Apakah pantas, kami yang istri prajurit diperlakukan seperti itu?” Mela membua suara. Dia benar-benar merasa kesal dengan kejadian yang baru saja dia alami. Dia tidak mengira, akan menghadapi hal semacam itu jika dia adalah seorang istri prajurit.
Banning melirik ke arah prajurit yang berdiri di sebelahnya. Prajurit yang sebelumnya masuk dan melaporkan kejadian di luar ruangan atasannya itu. “Benar yang dikatakan oleh mereka? Kalian melakukan hal tidak sopan pada mereka?” tanya Banning. Penekanan dalam perkataannya terdengar dengan sangat jelas. Prajurit itu mengangguk, lalu menunduk. Entah apa yang akan dia terima sebagai hukuman nantinya.
Duak! Sebuah tendangan mendarat di kakki prajurit itu. Banning dengan sangat kuat menendangnya. “Kau tidak boleh melakukan itu pada istri prajurit! Terlebih, mereka sedang bertugas!” ucapnya dengan tegas. Dengan nada yang cukup tinggi, dan cukup memekakkan telinga.
“Cepat minta maaf!” lanjutnya.
Prajurit itu menunduk, kemudian mulai berbicara “Maaf atas ketidak sopanan kami!” ucapnya.
“Keluar!” ucap Banning pada prajurit itu.
Kemudian dia kembali duduk. Tersenyum ramah pada kedua wanita yang sedang duduk di hadapannya. Dia mencoba untuk tetap tenang dalam menghadapi kedua wanita itu. Dia tahu, cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Dia harus bisa membuat kedua wanita itu untuk tenang dan percaya dengannya. Jika hal itu bisa dia lakukan, maka semuanya akan berjalan dengan baik dan normal.
“Jadi, mohon maafkan mereka. Dan apa yang membawa kalian datang ke sini menemuiku?” tanya dia dengan suara yang tenang, sopan dan juga senyuman yang ramah. Dia memberikan kesan teduh dan nyaman di sana.
“Tidak penting memaafkan mereka. Kami ingin mendengar kabar dari suami kami! Tugas apa yang sebenarnya mereka lakukan? Bukankah mereka akan kembali dalam semalam? Lalu, apa ini? Berhari-hari dan mereka tidak kembali pulang. Tak ada satu pun yang bisa kami hubungi!” ucap Mela dengan menggebu-gebu. Emosinya kian naik saat dia mencerocos panjang dan lebar itu.
“Tenanglah, mereka hanya memperpanjang masa tugas. Memang, awalnya hanya sehari. Tapi, tugas itu ternyata membutuhkan beberapa hari lagi. Jadi, mohon bersabar dan tetap tenang. Mereka baik-baik saja. Ponsel-ponsel mereka memang kami simpan. Tak ada yang membawa alat komunikasi setiap kali bertugas!” dia menjelaskannya dengan sikap bijaksana. Mencoba untuk tetap terlihat bewibawa di depan kedua istri kedua prajurit itu.
“Beberapa hari? Tuan, kami percaya dengan Anda dan seluruh prajurit. Tapi, entah kenapa saya rasa ada yang berbeda dengan tugas kali ini. Baru kali ini, aku mendnegar tugas diperpanjang walau sampel itu sudah di dapatkan!” ucap Mela. Dia memandang curiga pada si atasan. Terlebih, saat dia mengucapkan tentang sampel. Terjadi perubahan dari ekspresi di wajahnya. Dan Mela melihat itu semua.
“Sampel? Bagaimana kau tahu tentang ....”
“Aku mempunyai banyak kenalan di laboratorium itu! Aku pun seorang peneliti! Setelah serum itu terekspose di media dan menimbulkan kekacauan yang terrekam secara langsung. Ini sudah bukan lagi rahasia!” Sela Mela, dia membuat Banning terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya.
“Jadi, tugas apa lagi yang harus mereka lakukan di sana? Hingga mereaka harus memperpanjang masa tugas?” Kali ini, Sisca yang menimpali. Dia melipat kedua tangan di depan d**a. Matanya tajam melihat ke arah Banning. Mimpi-mimpi buruk yang datang di setiap tidur malamnya membuat semua ini kian terlihat jelas. Ada yang tidak beres dengan tugas suaminya kali ini.
“Mereka membutuhkan sampel lebih banyak,” ucap Banning pada akhirnya. Kemudian tatapan mata yang tidak fokus itu membuat Mela tersenyum tipis. Kebohongan itu sudah terucap dari mulut sang atasan. Jadi, tak ada gunanya mereka berada di sana lebih lama lagi. Dia pun berdiri. Menepuk pundak Sisca.
“Ayo kita pergi dari sini, tak ada yang bisa kita dapatkan di sini. Mau bagaimana lagi, jika sampel yang dibutuhkan para peneliti itu lebih banyak. Mari kita pulang, terima kasih atas waktu Anda, Tuan!” ucap Mela dengan sangat tenang. Tapi, ekspresi di wajahnya tak bisa berbohong. Dia terlihat begitu kesal dan merasa dendam.
Sisca menoleh ke arah Mela dengan tatapan penuh tanya. Tadi, wanita itu brsikeras datang untuk meminta kejelasan tentang suami mereka. Tapi, sekarang dia malah mengajak Sisca untuk segera pergi dari sana.
“Ayo!” desak Mela. Sisca pun berdiri dan mengangguk sekali untuk berpamitan pada Banning.
“Terima kasih atas waktu Anda, Tuan Banning! Kami sangat menunggu kabar dari suami kami,” ucap Sisca padanya.
“Tenanglah, setelah sampel-sampel itu mereka dapatkan. Mereka akan segera kembali pulang.”
Pulang ke alam lain. Banning melanjutkan dalam hatinya. Senyum tipis terhias di wajahnya. Dia tidak mengira akan dengan mudah membohongi mereka. Tugasnya selesai, dan dia bisa merasa tenang untuk saat ini.