1. Tertangkap Basah

1010 Words

Seorang wanita terbangun di pukul tiga dini hari. Sesuai dengan kebiasaannya selama ini, ia akan salat tahajjud dan muraja'ah hafalan Al-Qur'an. Namun, saat ia hendak turun dari ranjangnya, ponselnya berdering. Tampak sebuah nomor tak dikenal di layar itu.

"Siapa yang menelepon jam segini?" gumamnya.

Karena penasaran, ia segera mengambil ponselnya untuk menjawab panggilannya.

"Halo!"

"Saya Alfatih, Bu. Ini dengan Ibu Arsyila, istri dari Pak Daniel?"

"Iya, saya sendiri. Apa sesuatu terjadi pada suami saya?" tanya Arsyila.

"Begini, Bu. Maafkan saya sebelumnya karena sudah mengganggu Anda di pagi buta seperti ini. Saya ingin menginformasikan bahwa suami Anda tertangkap melakukan perbuatan tak senonoh di sebuah hotel bersama seorang wanita bernama Fanny."

Arsyila seperti disambar petir di bawah terik matahari. Suami yang katanya sangat mencintainya tega melakukan perbuatan laknat itu. Suami yang terlihat sangat menyayangi tiga anak mereka tega mencoreng nama baik keluarga mereka.

Air mata Arsyila menetes perlahan. Dengan suara serak, ia menanyakan di mana lokasi mereka saat ini. Setelah pria yang merupakan seorang anggota polisi itu menyebutkan alamat tempatnya bertugas, ia memutuskan panggilannya sepihak. Meskipun wajahnya kini basah oleh air mata, ia tak boleh larut dalam keadaan. Ia segera berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.

***

Sepasang pasangan bukan suami istri itu hanya bisa tertunduk malu sambil dicecar beberapa pertanyaan oleh Alfatih, salah satu polisi yang telah menyergap mereka di hotel.

"Jadi Saudari Fanny ini juga wanita bersuami? Sama seperti Saudara Daniel yang merupakan laki-laki beristri?"

Seorang wanita yang memakai jilbab abu tua, sweater biru, dan celana jin biru denim itu mengangguk pelan.

"Ck, bisa-bisanya kalian berani melakukan itu! Sudah punya pasangan halal, malah coba-coba sentuh yang haram!" Alfatih berdiri, kemudian berjalan ke sebuah rak dan mengambil dua lembar kertas. "Kalian tahu kan konsekuensi perbuatan kalian?"

Daniel dan Fanny mengangguk pelan.

"Dalam KUHP pasal 417 ayat 1 disebutkan bahwa setiap orang yang bukan pasangan suami istri melakukan perzinaan, maka pelakunya dipidana satu tahun penjara atau denda maksimal sepuluh juta rupiah. Bagaimana?"

Daniel dan Fanny hanya bisa menunduk lesu. Hidup selama satu tahun dalam penjara bukanlah hal yang menyenangkan. Uang sepuluh juta rupiah pun mereka tidak punya sama sekali. Lantas apa yang bisa membebaskan mereka dari jeratan hukum akibat perselingkuhan mereka sendiri?

Alfatih tersenyum mengejek pada pasangan itu. Ia pun memerintahkan salah satu anggotanya untuk terus menghubungi suami dari Fanny. Pria itu kembali duduk di depan Daniel dan Fanny.

"Apa tak pegal leher kalian karena menunduk terus?" celetuknya santai. Rasa kantuk mulai menderanya, akan tetapi tugasnya belum selesai.

Tepat azan Subuh berkumandang, seorang wanita dengan gamis hitam dan jilbab merah terang masuk ke dalam ruangan serba abu muda itu. Alfatih menoleh ke arah pintu di mana wanita itu berada.

"Saya Arsyila, istri sah dari Daniel."

Wanita itu tersenyum lembut, membuat Alfatih tertegun sejenak.

"Dia tampak cantik dan penyabar. Gimana bisa dapat suami model si Daniel?" ucap Alfatih dalam hati.

Arsyila duduk di kursi satu-satunya yang masih kosong, tepat di samping Daniel.

"Sayang," cicit Daniel.

Arsyila menoleh ke arah Daniel sekilas sambil menyunggingkan senyumnya.

"Aku jijik mendengar kata sayang darimu, Mas," bisiknya tajam seraya menatap lurus ke depan.

Daniel menelan salivanya susah payah. "Sayang, aku-"

"Aku ke sini untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan Pak Alfatih padaku, Mas. Bukan untuk mendengarkan pembelaan dirimu," sela Arsyila dengan nada datar.

Arsyila melirik sekilas wanita yang bernama Fanny sambil mengulas senyum tipis, kemudian kembali menatap Alfatih yang sejak dari tadi terus menatapnya.

"Pak, bisa gambarkan peristiwa tadi?" tanya Arsyila. Tenang dan masih tetap tersenyum meskipun tak sampai ke mata.

"Begini, Bu. Tadi sekitar pukul dua belas malam, kami melakukan razia di beberapa hotel dan wisma secara acak. Hasilnya sepuluh pasangan bukan suami istri tertangkap sedang melakukan tindak asusila. Beberapa pasangan bukan suami istri yang tertangkap dalam razia ini sudah kami proses, tinggal pasangan ini yang belum," terang Alfatih.

Arsyila tampak mengangguk pelan.

"Kami berniat menyelesaikan masalah ini sekarang juga atau paling lambat nanti siang, tapi sayangnya suami dari Fanny belum bisa dihubungi sampai saat ini," tutur Alfatih lagi.

"Pak Al, saya sudah menghubungi suaminya. Katanya sekitar jam delapan pagi baru bersedia ke sini," timpal salah satu anggota Alfatih.

Alfatih mengangguk, kemudian menatap wajah Arsyila. "Bagaimana menurut Anda, Bu?"

"Jika masalah ini nanti baru bisa diselesaikan, saya bisa kembali lagi ke sini sebelum jam delapan pagi," jawab Arsyila.

"Baiklah, Bu." Alfatih berdiri seraya mengulurkan tangan kanannya. "Terima kasih atas kerja samanya, Bu. Saya juga turut prihatin pada Anda atas kejadian ini."

Arsyila tak menyambut uluran tangan Alfatih. Ia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. "Sama-sama, Pak."

Alfatih pun keluar dari ruangannya, sedangkan dua pria yang merupakan anggota Alfatih membawa Daniel dan Fanny ke sel tahanan.

"Tunggu sebentar, Pak!" ucap Daniel tiba-tiba.

"Ada apa?" tanya pria yang memegang tangannya.

"Bisakah saya bicara dengan istri saya sebentar saja?" tanya Daniel seraya menatap wajah cantik Arsyila.

"Lima menit," sahut petugas itu.

Daniel menatap sendu wanita yang kini duduk di kursi seraya menundukkan kepalanya, enggan menatap wajahnya.

"Syila, maafkan aku," ucapnya lirih.

"Untuk pertama kalinya aku mendengar permintaan maafmu, Mas." Arsyila menatap wajah pria yang sedang berlutut di hadapannya. Matanya terlihat memerah karena menahan tangis dan amarah secara bersamaan. "Kamu tahu aku mengetahui semuanya, kan? Sayangnya kamu tidak pernah berniat untuk mengakhiri hubungan terlarang kalian."

"Syila, dengarkan aku-"

"Apa lagi yang harus ku dengar darimu, Mas? Alasan kamu berselingkuh? Atau rasa kasihanmu pada wanita jalang ini?" Arsyila menggeleng. "Gak perlu!"

Arsyila berdiri tanpa memutuskan pandangannya dari Daniel dan Fanny. "Sudah cukup, Pak!"

Dua polisi itu mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Arsyila.

Arsyila menghela napas panjang. Kepalanya pening karena memikirkan nasib rumah tangganya yang kini di ujung tanduk. Entah apa yang harus ia katakan pada tiga anaknya yang masih kecil. Membayangkan mereka akan hidup tanpa sosok ayah membuatnya semakin frustrasi.

Arsyila keluar dari kantor polisi. Meskipun semua orang yang ia temui menatapnya iba, ia hanya membalasnya dengan senyuman ramah. Baginya, menangisi keadaan ini hanya akan melemahkannya.

Ia memasuki mobilnya, kemudian memejamkan matanya sejenak. Karena sadar ia belum salat Subuh, ia segera menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan kantor polisi, tempat yang menjadi saksi terungkapnya hubungan perzinaan suaminya dengan wanita yang masih istri sah pria lain.

quotes
Author's note
notes
Hai, semuanya!!! Kali ini aku muncul dengan cerita yang menguras emosi kalian. Jangan lupa siapkan obat hipertensi dan panci untuk kalian banting!!! Wkwkwk...
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd