Lempar batu sembunyi ponsel (KAMELIA POV)

1177 Words
Setelah acara pesta kecil-kecilan selesai, kuputuskan untuk kekamar. Tentu saja aku berniat membersihkan diri yang terasa lengket. Meskipun aku tidak melakukan aktivitas yang berlebihan tetap saja rasanya tak nyaman. Setelah selesai membersihkan diri, aku beralih mengambil ponsel yang Joes berikan saat itu. Ponsel itu masih dalam keadaan mati, karena aku sengaja menonaktifkannya. Segera kuaktifkan kembali. Rencananya aku ingin menghubungi Joes. Pacarku itu pasti sudah sangat khawatir dan mencari-cari keberadaanku. Tepat saat ponsel sudah menyala, banyak deretan pesan masuk disana, tanpa menunggu lama aku segera berlari menuju taman. Kupikir, Mr. Brayen masih asik menemani kedua istrinya. Aku memilih duduk di pohon Mangga yang cukup besar. Jaraknya dari bangunan megah itu cukup jauh. Ya, ini sepertinya akan menjadi tempat persembunyian yang aman. Aku lantas menghubungi Joes. Cukup lama sampai panggilan itu tersambung. "Hai Joes." Sapa ku saat, Joes mengangkat panggilanku "Kamelia!" Sorak kegirangan dari Joes menghangatkan hatiku. Aku merindukan Joes "Bagaimana kabarmu?, Sepertinya kau sibuk sekali setelah menjadi asisten bos." Aku menggigit bibirku meski tak terlihat. Merasa bersalah setelah membohongi Joes "Maafkan aku Joes, aku tidak bisa berleha-leha seperti dulu lagi." "Ya, aku bisa memaklumi itu. Bagaimana harimu?" "Menyenangkan." Maafkan aku yang harus berbohong lagi. "Dan kau bagaimana?, Apa sekolah tetap sama saja?" "Sebentar lagi aku akan mengikuti lomba, aku ingin kau menghadirinya." "Basket?" "Ya. Apa kau ingin menyemangatiku." "Tentu saja. Kapan?" "Minggu depan." "Ya, semoga saja aku bisa menghadirinya." "Kau harus bisa menghadirinya. Kamelia.." "Ya?" "Aku tidak akan semangat tanpa kau menyemangatiku." Deg... Rasanya aku benar-benar malu, tak bisa menjadi yang terbaik untuk Joes. "Baiklah Joes aku akan berusaha." "Terima kasih, pacarku." Aku tersenyum, Joes tertawa kecil di sebrang sana. Meski kami menjalin hubungan, tetap saja kadang kala rasa canggung tetap ada. Hubungan kami terjalin secara sehat, tak ada kata bersentuhan secara intim. Ya, karena kami sadar kami masih dibawah umur dan belum terikat oleh pernikahan. Dan buktinya kami masih bersama bahkan tetap saling membutuhkan. "Kamelia." Panggil Joes lembut "Aku merindukanmu." "Aku juga Joes." "Kamelia!" Aku tersentak, suara Mr. Brayen terdengar dari arah belakang. Dengan cepat aku mematikan sambungan telepon dan membuang ponsel kearah tanaman yang rimbun. Ini seperti di tembak mati. Ada dua kemungkinan, Mr. Brayen yang akan menemukan ponselku atau akan melukai Joes. Ya Tuhan, semoga saja tidak akan terjadi apa-apa. Aku berbalik, memasang senyum yang kesulitan. Jujur aku masih terkejut Mr. Brayen, mengagetkanku saja." Ucapku "Sedang apa kau di sini sendirian?" tatapan pria dihadapanku tampak menyelidik. Tahukah kalian? Bagaimana degup jantungku saat ini? Luar biasa! "Emm, a..aku." gugupku mencari alasan "Aku apa?" Potongnya cepat. "Aku sedang ingin mengambil buah mangga di atas sana." Aku mendongak, dan menunjuk buah Mangga. Padahal aku sama sekali tak mengetahui jika ada buah Mangga disana. Syukurlah, Tuhan seakan menyelamatkanku. "Astaga, kau ini benar-benar udik!" Katanya sedikit menghina "Tiba-tiba saja, aku ingin memakan buah mangga Mr." "Maukah Mr. memetiknya?" Lanjutku, sebenarnya ini adalah tak-tiku agar bisa mengambil ponsel yangkubuang ketanaman. Mr. Brayen nampak terkejut "Yang benar saja! Jangan mengerjaiku Kamelia!" Tentu Mr. Brayen akan marah, orang sepertinya pasti tidak pernah melakukan hal seperti itu Kemudian, aku berpura-pura memasang wajah cemberut. Salahkah aku jika mengerjainya? "Aku mohon.." kukatupkan kedua telapak tanganku "Baiklah-baiklah, tunggu di sini. Aku akan memanggilkan dayang-dayang." "Tidak perlu Mr., Aku ingin suamiku sendiri yang memetiknya." Pintaku, rasanya aku senang sekali bisa memberikan pelajaran bagi Mr. Brayen. "s**t! Kau benar-benar mengerjaiku." Umpatnya "Ayolah, apa Mr. tidak sayang denganku?" "Tidak!" Jawabnya cepat. "Ya sudah. Tidak perlu memetiknya untukku." Ahkirnya aku berpura-pura merasa kecewa dan duduk diantara rerumputan hijau. "Oke, aku akan memetiknya untukmu." "Wah! Terima kasih Mr." Aku berpura-pura senang, dan merubah posisi "Yang di sana Mr." Kutunjuk beberapa buah Mangga di atas sana. Selagi Mr. Brayen mengambil beberapa buah mangga, aku menyempatkan diri untuk mengambil ponselku yang terlempar tak jauh dari tempatku. Dan syukurlah, ternyata tak rusak. Untung saja, aku pandai membuat sandiwara. Setelah selesai memetik, Mr. Brayen turun dan memberikan beberapa buah Mangga untukku "Habiskanlah." Ucapnya sedikit dongkol "Terima kasih Mr. Bagaimana kalau kita menikmatinya bersama?" "Aku tidak suka Mangga mentah. Itu hanya satu saja yang sudah matang." "Kita rujak saja Mr." "Tidak-tidak, aku tidak suka pedas." "Ini tidak akan terasa pedas, aku akan membuatnya nikmat." "Ya terserah kau saja." Ku putuskan untuk pergi ke dapur membuat bumbu rujak. Dan menyimpan ponselku kembali kekamar. Bisa saja aku kembali menghubungi Joes tapi akan terasa mencurigakan dan Mr. Brayen tentu akan menyusulku. Pasti Joes sangat menunggu kabarku, hmm lagi-lagi aku membuatnya kecewa. Setelah selesai menyimpan ponsel pemberian Joes di tempat aman aku langsung bergegas ke dapur untuk membuat bumbu rujak. Di sana ada para dayang-dayang yang sedang sibuk mencuci beberapa alat rumah tangga yang kotor. Bekas pesta tadi, sebenarnya aku ingin membantu mereka namun aku tidak ingin kena semprot Mr. Brayen. "Cari apa Nyonya?" Itu suara Mia, dayang-dayang yang setahun lebih tua dariku. Tugasku selain menjadi istri juga harus menghapal nama-nama dan usia para dayang-dayang yang jumlahnya tak sedikit. "Aku ingin membuat bumbu rujak, apa kau ingin ikut?" Mia menggeleng dan tersenyum ramah. "Tidak Nyonya, aku buatkan saja bumbunya?" "Tidak perlu, aku ingin membuatnya sendiri." "Baiklah nyonya, jika ada sesuatu yang nyonya inginkan panggil saja aku." "Siap." Kataku, Mia kembali melakukan tugasnya. Aku mulai meracik bumbu-bumbu. Aku masih ingat betul kenangan itu. Bersama teman-temanku dahulu. Kami yang hobi sekali mencuri mangga tetangga dan merujaknya hal sekecil itu saja sudah membuat kami bahagia tak perlu pesta mewah seperti yang Mr. Brayen lakukan. Ya, tentu berbeda orang sepertiku dengan pria yang mempunyai keturunan darah biru. Selera kami berbeda. Tak lama, semuanya sudah siap. Aku akan memberikan tugas Mr. Brayen untuk mengupas kulit Mangga. Namun belum saja aku keluar dari dapur, kedua istri Mr. Brayen mencegatku. "Apa itu?" Tanyanya penuh selidik. "Rujak." Jawabku "Untuk siapa?" "Aku sendiri kak, apa kakak ingin?" "Tidak." Jawab mereka singkat dan berlalu pergi. Aku justru bersyukur mereka tidak menginginkan rujak yang kubuat. Lagi pula aku tidak ingin menikmatinya bersama para rubah. Mengabaikan mereka, aku ahkirnya berjalan menyusul Mr. Brayen. "Mr." Panggilku. Pria yang kusebut suami itu tengah bermain ponsel "Lama sekali." Cibirnya menggerutu. "Ini tidak lama, Mr. saja yang kurang sabar." "Lagi-lagi kau menyalahkanku." "Aku tidak menyalahkan Mr., Aku hanya ingin Mr. Lebih sabar lagi." "Terserah." Sepertinya dia kalah. "Apa kita akan memakan Mangga dengan kulitnya?" Lelaki itu melirik mangga yang belum dikupas "Kalau Mr. Ingin, silahkan." "Yang benar saja!" "Tidak ada yang salahkan?, Lagi pula nikmat." "Tidak-tidak, biar aku yang mengupasnya." Dalam hati aku tertawa puas. Sungguh mengerjai Mr. Adalah kemenangan yang luar biasa. Lelaki itu tampan, kaya tapi mudah di bodohi. Aku terkikik geli. "Apa ada yang salah denganku? Dan kau pikir senyumanmu cantik begitu?" Cibirnya begitu tajam. Aku langsung terdiam, seribu bahasa. "Tolong suapi aku." Perintahnya. "Kedua tangan Mr. Untuk apa?" Pria itu melotot tak terima. "Apa kau tidak lihat aku sedang apa?, Lagi pula kau harus mematuhi ku." "Oke!" Putusku cepat, sebelum Mr. Brayen berbicara lebih "Bagaimana?" Tanyaku "Serius ini enak!" Katanya takjub, "aku baru pertama kali merasakan rujak senikmat ini." Bolehkah aku tersenyum senang? Meski beberapa orang selalu memuji bumbu rujak yang kubuat nikmat. "Kalau begitu kupas dan potong lebih banyak lagi." "Siap." Katanya, dengan semangat mengupas kulit mangga itu. Aku tersenyum gembira, ternyata hal sesederhana ini bisa menciptakan kebahagiaan tersendiri. Ditemani langit yang mulai senja, suasana sore hari yang begitu nyaman. Bisa kukatakan, ini adalah hari terbaik untuk pertama kalinya aku dirumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD