Akhirnya kurang dari satu bulan lagi aku bisa resmi keluar dari perusahaan tempatku bekerja sekarang. Di hari-hari terakhir ku pun hubungan ku masih tetap tidak membaik dengan Mbak Selly. Aku sudah berusaha untuk mengikuti semua kemauannya, tidak nyolot balik, selalu menjadi anak baik, tapi salahku adalah aku tidak mau mengkomunikasikan pekerjaanku dengan baik kepadanya sehingga aku selalu membuat kesalahan. Habis dia kalau aku tanya, akan bilang seperti ini: "Kan sudah aku kasih tahu? Kamu itu kalau dikasih tahu sekali harus ingat!"
Jadi jangan salahkan aku kalau aku malas bicara dengannya.
Kalau dipikir-pikir pekerjaan ku bisa mulus-mulus saja kalau Mbak Selly sedikit ramah kepadaku. Tidak, bukan sedikit. Tapi harus 100% ramah. Harus mau membimbingku dengan penuh kesabaran, dan tidak memaksakan obsesinya untuk lembur setiap hari. Aku ini manusia rapuh yang ingin di puk-puk. Aku bukan karyawan yang bisa bekerja di bawah tekanan. Masalah hidupku sudah banyak, kenapa dipaksa untuk punya tekanan lainnya? Mungkin kalian berpikir aku terlalu lemah dan manja, tapi terserah. Memang aku lemah. Mental tiap orang berbeda-beda. Kenapa tidak kalian yang menghujatku saja yang memiliki kehidupan sepertiku?
Oh, tidak ada yang menghujatku? Baiklah, semoga hidup kalian baik-baik saja.
Saat aku sudah sampai rumah, aku mendapatkan pesan dari mantan rekan kerjaku yang lain. Kak Layla. Dia adalah salah satu mantan rekan kerja terbaikku juga. Dia dulunya membimbingku dengan sangat sabar saat aku masih menjadi karyawan baru. Dia mau merangkulku, membuatku nyaman bekerja. Kalau aku bertanya, pasti ia akan menjelaskan sampai aku paham. Pokoknya dia tidak pernah marah kepadaku. Kinerjaku jadi sangat baik sampai-sampai aku dipuji oleh manajer kami. Seandainya Mbak Selly bisa sebaik Kak Layla, pasti dia sudah menjadi bestie-ku seperti aku dan Kak Layla.
Tapi saat aku membaca pesan dari Kak Layla, aku malah jadi galau. Kak Layla meminta sesuatu yang menurutku cukup memiliki resiko yang besar bagi hidupku. Ia memintaku untuk mengajukan pinjaman ke bank atas namaku, karena ia sudah di blacklist untuk melakukan pinjaman sebab dulu ada masalah dengan cicilannya. Aku sangat ingin membantu Kak Layla, tapi aku takut nanti kalau tiba-tiba ia mendapatkan masalah sehingga tidak bisa membayar pinjamannya, tentu aku harus menalangi dulu karena pinjaman itu atas namaku. Sementara aku saja bekerja tinggal beberapa hari lagi. Aku terancam menjadi pengangguran. Bagaimana caraku untuk menalangi pembayaran pinjamannya nanti?
Di saat galau begini, aku langsung bertanya kepada Vanya. Memang kami berkirim pesan hampir setiap hari sih. Jadi kalau ada apa-apa, pasti aku langsung cerita ke Vanya.
Vanya
Nggak usah! Kan Alyka tahu Vanya juga pinjamin nama Vanya untuk teman yang butuh pinjaman uang di aplikasi pinjol, eh taunya dia gak mau bayar-bayar. Sumpah, Vanya nyesel banget tau! Udah berbagai kata kotor & makian Vanya bilang ke dia, tapi dia tetap cuek & bilang ga ada uang buat ganti!
Hah, si Vanya orang yang terlalu baik dengan orang lain. Bukan kali ini saja dia membantu orang lain yang butuh pertolongan dalam masalah keuangan. Dulu ia juga pernah meminjamkan uang untuk temannya yang lain, dimana ibu dari temannya itu sakit parah hingga membutuhkan biaya yang banyak untuk membayar tagihan rumah sakit. Saat Vanya menagih hutang tersebut, temannya tidak mau membayarnya dan malah menyalahkan Vanya yang sudah dengan bodohnya meminjamkan uang kepadanya. Sudah meminjam uang, tidak mau mengembalikan, malah bilang orang yang membantunya bodoh. Aku tidak mengerti dengan orang zaman sekarang.
Vanya
Kalau Alyka pinjamin nama Alyka untuk kakak itu, terus kakak itu gak bisa bayar, bukan cuma kehilangan uang. Alyka juga akan kehilangan teman.
Tapi kalau Alyka gak pinjemin nama Alyka, Alyka paling cuma kehilangan teman, gak kehilangan uang.
Jadi pilih mana? Kehilangan teman dan uang, atau kehilangan teman aja?
Aku menghela napas dengan berat. Apa yang dibilang Vanya memang benar. Kalau sampai Kak Layla tidak bisa mengganti uang pinjamannya, pasti hubungan kami tidak akan baik ke depannya. Karena uang yang ingin dipinjamnya cukup besar bagiku, lima belas juta rupiah. Aku semiskin itu sampai takut meminjam uang dengan nominal belasan juta. Kalau kak Layla gagal membayarnya, dan aku juga tidak bisa menalangi, pasti aku akan mendapatkan bunga yang besar. Aku tidak bisa membayangkan itu. Yang ada nanti aku akan menyusahkan keluargaku. Atau dengan bodohnya mengakhiri hidupku untuk melarikan diri.
Vanya
Lagian Alyka juga udah ada pinjaman di bank untuk kredit rumah kan? Terus Alyka mau resign, nanti pasti gak lolos lah waktu verifikasi data
Betul yang dibilang Vanya. Pasti kalau aku mengajukan pinjaman, itu akan ditolak karena alasan yang Vanya sebutkan. Duh, maaf kak Layla. Aku tahu kakak sangat membutuhkan pertolongan. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk menolong orang sampai harus membahayakan diri sendiri kan?
Akhirnya aku meminta maaf kepada Kak Layla karena tidak bisa membantunya. Aku sudah pasrah kalau dia jadi benci kepadaku dan tidak mau menghubungiku lagi.
***
Kak Layla tidak menjauhiku setelah aku menolak untuk membantunya. Syukurlah, hubungan kami masih baik-baik saja seperti sedia kala.
Dan berita baik dari Vanya, kekasihnya tidak jadi pergi ke Bandung. Ia akan tetap berusaha untuk melunasi semua hutang-hutangnya dan tetap tinggal di kota ini. Dan ia meminta Vanya untuk menunggunya hingga akhir tahun, barulah ia bisa fokus dengan hubungan mereka berdua.
Tapi Vanya masih galau saja. Ia tidak yakin hubungan mereka akan berjalan mulus. Ia tidak menceritakan secara detail hingga aku tidak mengerti dengan apa yang dikhawatirkannya. Padahal akhir tahun tinggal empat bulan lagi.
Yang mengejutkanku dari Vanya adalah, dia tiba-tiba saja resign dari tempat kerjanya. Ia berkelahi dengan kekasihnya hingga membuatnya tak bisa berkonsentrasi bekerja. Ia melakukan kesalahan yang membuatnya harus melakukan ganti rugi sebesar sepuluh juta rupiah. Ia kesal dengan tempat kerjanya dan memutuskan keluar. Tak ada lagi uang yang tersisa di tangannya. Gajinya kan habis ia gunakan untuk membantu kekasihnya. Dan seperti yang Vanya katakan beberapa hari yang lalu, temannya meminjam namanya untuk pinjaman online, dan kini Vanya yang harus mengganti uang pinjaman tersebut. Ia tidak punya uang sama sekali untuk membayar pinjaman tersebut dan pinjaman itu mulai berbunga. Debt colector sudah menerornya, meneleponnya setiap hari, pagi, siang, dan malam. Ia diancam akan didatangi, dan jika tidak bisa melunasi pinjaman tersebut, ia akan diseret ke penjara.
Aku ikutan stres karena masalah Vanya. Sahabatku yang selalu menghiburku, mengirimkan pesan yang dibumbui komedi, selalu mau mendengarkan ceritaku, diari hidupku, kini terjebak dalam kesulitan. Keluarganya tidak mau membantunya, karena ini bukan kali pertamanya Vanya dimanfaatkan orang lain seperti ini. Mungkin keluarganya ingin memberikan pelajaran kepada Vanya. Tapi sepertinya Vanya tidak memberitahukan kepada keluarganya kalau ia akan diseret ke penjara jika tidak bisa melunasi pinjaman tersebut. Aku ingin sekali membantu Vanya. Aku tidak mau dia diseret ke penjara, atau tiba-tiba malah bunuh diri karena terlalu merasa tertekan dengan semua masalahnya. Tapi aku tidak punya uang. Ah, kenapa aku semiskin ini? Aku memutar otak, tiba-tiba teringat akan sesuatu. Sepertinya kali ini, aku bisa membantu kesulitan temanku.
***