Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Tepat setelah sehari menjadi pengangguran, aku langsung mendapatkan pekerjaan. Dan beruntungnya lagi, ini merupakan pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Aku jadi bisa punya banyak waktu luang untuk beristirahat dan memulihkan traumaku dari perusahaan terakhir tempatku bekerja. Fisik dan psikisku benar-benar terguncang gara-gara bekerja disana. Aku yang kurus ini bahkan kehilangan berat badan 2 kg, padahal untuk menaikkan berat badan ku rasanya sulit sekali. Benar-benar manusia tulang yang dibungkus kulit. Tapi masih saja ada yang tega semena-mena denganku.
Pekerjaan yang ku dapatkan ini adalah sebuah pekerjaan dari aplikasi belajar berbagai bahasa, Talk N Talk. Sebenarnya aku sudah lama melamar untuk bekerja sebagai guru bahasa Indonesia paruh waktu disana, sekitar lima bulan yang lalu. Tapi aku tidak punya waktu untuk mengaktifkan akunku karena bayangkan saja, hampir setiap hari aku pulang malam. Akhir pekan aku pakai untuk memulihkan diri jadi aku tak mau bekerja lagi.
Saat aku mengaktifkan akunku sehari setelah menganggur, tiba-tiba saja aku mendapatkan murid, seorang pria yang berasal dari Australia. Ia mengirimiku pesan di aplikasi itu, memintaku untuk menurunkan tarif mengajarku karena ia bilang ia akan belajar setiap hari denganku. Setiap hari dengan durasi 1 jam dan dilakukan dari rumah, setelah ku hitung-hitung, pendapatanku masih cukup untuk membayar cicilan rumah. Bandingkan dengan aku yang dulu harus menghabiskan waktu seharian di kantor, menempuh perjalanan yang jauh, dan gajinya kurang dari dua kali lipat pekerjaanku yang sekarang. Ah, harusnya dari dulu saja aku fokus untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.
Hari ini adalah hari Minggu. Aku meminta kepada calon muridku itu untuk memulai kelas besok. Ia menyetujuinya. Syukurlah. Dengan begitu, aku bisa mempersiapkan materi untuk aku ajarkan kepadanya, karena sejujurnya aku belum punya persiapan apapun untuk menjadi guru Bahasa Indonesia. Semoga aku bisa melakukannya!
***
Akhirnya sebentar lagi kelas pertamaku akan dimulai. Jantungku berdegup kencang. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya mengajarkan Bahasa Indonesia. Maksudku, harus dimulai dari mana? Aku berharap materi yang telah aku siapkan ini cukup tepat. Aku memilih tema perkenalan, karena menurutku itu hal yang terpenting saat kita pertama kali bertemu dengan orang baru.
Albert Lary, nama dari calon muridku. Tidak ada foto di akunnya, membuatku bertanya-tanya seperti apakah rupanya? Apakah dia seumuran dengan ku? Apakah ia tampan? Apakah ia... jomblo?
Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus fokus! Yang terpenting sekarang adalah aku bekerja dan masih akan memiliki penghasilan. Urusan yang lain, nanti saja dipikirkan. Pokoknya aku tidak boleh mengecewakan muridku!
Pukul satu siang, waktu yang aku janjikan untuk memulai kelas. Aku pun menghubunginya melalui fitur video call yang tersedia di aplikasi Talk N Talk setelah memakai jilbabku. Tanpa menunggu waktu yang lama, Albert menerima panggilanku.
Aku cukup terkejut saat melihat orang yang ada di layar laptopku. Cukup berbeda jauh dari apa yang aku bayangkan. Dia terlihat jauh lebih tua dariku, dan tampangnya biasa saja, tidak tampan. Ya ampun, kenapa aku malah kecewa? Aku kan mau mengajar, bukan mencari jodoh!
Belum sempat aku mengeluarkan suara karena rasa kagetku, Albert berinisiatif untuk memulai percakapan. Ia tampaknya tidak ingin membuang waktu.
"Halo, apa kabar? Nama saya Albert Larry. Nama kamu siapa?"
Aku kembali terkaget, ternyata dia sudah bisa berbahasa Indonesia. Aku pikir orang yang menggunakan aplikasi ini tidak mengerti sama sekali dengan bahasa yang ingin ia pelajari.
"Halo, nama saya Alyka," jawabku kikuk. Aku tiba-tiba nge-blank, bingung untuk menggiringnya ke dalam kelasku.
"Asal kamu dari mana?"
Albert, atau Om Albert, ya karena dia tampak lebih tua dariku, kembali melontarkan pertanyaan untukku. Aku pun akhirnya menjawab pertanyaannya lagi. Duh, sebenarnya siapa yang guru disini?
"Saya dari Indonesia. Kamu darimana?"
"Saya dari Australia. Makanan favorit kamu apa?"
Hei Om, kenapa malah kamu yang seperti memimpin kelas ini?
Dengan wajah bingung dan tak menyangka, akhirnya aku memilih untuk mengikuti percakapannya saja. Kalau aku memotongnya dan sok-sokan mau memimpin kelas serta menggiringnya dalam materi yang sudah aku buat, takutnya dia malah jadi tidak suka belajar denganku. Lagipula di dalam profilku aku menuliskan bahwa aku adalah guru yang akan beradaptasi dengan murid. Jadi apa yang diinginkan murid, itu lah yang akan aku bahas.
"Makanan favorit saya bubur ayam. Makanan favorit kamu apa?"
"Makanan favorit saya ayam pedas."
Aku manggut-manggut. Aku pikir ia akan menyebutkan nama makanan Australia. Tapi aku bahkan tidak tahu makanan khas Australia apa.
Om Albert tampak begitu menggemaskan dengan headphone-nya, soalnya tubuhnya sedikit berisi. Tidak gemuk, hanya sedikit berisi. Ia mengangkat minumannya sehingga aku bisa melihat lengannya yang terbungkus lengan panjang dari baju kaosnya.
"Saya suka teh hijau," ucapnya setelah menyeruput minuman di cangkirnya.
Aku manggut-manggut lagi. Setelah itu ia kembali berbicara, mengatakan semua barang yang ada di sekitarnya dengan bahasa Indonesia. Aku yang masih bingung dengan kelasku sendiri malah jadi sibuk menyimaknya.
Akhirnya ia sudah selesai berbicara. Kini giliran ku yang berbicara.
"Kamu sudah pernah belajar Bahasa Indonesia?" tanyaku.
"Iya, sebelumnya saya belajar dengan guru yang lain selama tiga bulan," ucapnya. Oh, pantas saja dia sudah bisa berbicara bahasa Indonesia. Ternyata aku bukan guru pertamanya. Kali ini dia mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Sepertinya kosa kata yang ia ketahui tidak terlalu banyak, namanya juga baru tiga bulan belajar.
"Ooh..." ucapku, "kenapa kamu mau belajar bahasa Indonesia?" tanyaku dalam bahasa Inggris.
"Karena saya mau tinggal di Indonesia."
"Kamu sudah pernah ke Indonesia?"
"Ya, saya pergi ke Indonesia setiap sekali setahun. Sejak tahun 2015."
"Kalau boleh tahu, usia kamu berapa?" tanyaku sedikit ragu. Soalnya banyak yang bilang menanyakan umur itu kan hal yang sensitif.
Om Albert mengangkat jarinya dan mulai menghitung, "empat puluh dua tahun," jawabnya dalam bahasa Indonesia. Ia sepertinya sudah tahu angka dalam bahasa Indonesia, tapi harus menghitung dari satu karena tidak hafal.
Benar kan dugaanku, usianya cukup jauh dari ku. Berarti kami beda lima belas tahun. Tidak papa kalau aku panggil dia om kan? Tapi hanya dalam hatiku saja.
"Usia kamu berapa?" Om Albert balik menanyakan ku.
"Dua puluh tujuh tahun," jawabku.
"Kamu sudah menikah?"
Hmm... Kenapa tiba-tiba dia menanyakan status pernikahanku?
"Belum. Bagaimana denganmu?"
"Saya juga belum menikah," jawabnya.
Aku menyembunyikan wajah kagetku. Masa sih umur segitu masih belum menikah? Apa jaman sekarang sesusah itu untuk menemukan jodoh? Haduh, bagaimana nasibku yang sudah hampir tiga puluh tahun ini? Sedangkan orang yang lebih tua dariku saja masih ada yang belum mendapatkan jodoh.
"Saya mau tinggal di Indonesian dan menikah dengan wanita Indonesia," kata Om Albert kemudian.
Wow. Alasan yang cukup menarik.
"Kenapa kau mau menikah dengan orang Indonesia?" aku jadi kepo dengan alasannya.
"Karena saya tahu kalau orang Indonesia itu baik, dan banyak muslim yang tinggal di Indonesian. Di Australia susah untuk menemukan orang yang baik. Muslim di Australia tidak taat, tidak seperti di Indonesia."
Oh, jadi om ini muslim? Ya kalau dipikir-pikir, orang Indonesia cukup religius dan banyak yang taat dengan Tuhan. Alasannya cukup masuk akal jika ingin mencari istri yang Sholehah di Indonesia.
Om Albert senantiasa memamerkan senyumannya kepadaku. Aku pun ikut tersenyum agar terlihat ramah. Pokoknya Om Albert harus jadi murid tetapku, sehingga aku bisa bekerja dari rumah dan terhindar dari drama di kantor. Aku harus membuat Om Albert nyaman denganku!
***