Pakaian dari dalam koper sedang aku lipat kala ketukan pintu terdengar. Rok hitam di paha aku letakkan di atas tempat tidur. Mengambil jilbab, lalu menuju pintu utama. "Aini?" tanyaku, heran. Biasanya, kalau ada perlu sesuatu, dia hanya berteriak. Maklum, rumah kami sangat dekat. "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam. Ayo masuk." Pintu rumah aku buka lebar-lebar memberikan ruang untuk Aini masuk. Setelah dia duduk di kursi, pintu rumah kembali kututup. "Tumben. Kenapa?" "Jadi gini ...." Dari caranya berbicara yang tampak ragu, senyumannya, dan garukan di tengkuknya, Aini seperti hendak meminta sesuatu. "Apa? Bilang aja." "Suami kamu udah pulang?" Aini mengedarkan pandangan ke arah lain. "Hu'um. Tadi." Aku tidak tahu bahwa dia menyadari kehadian Althaf di sini. "Via ...." Dia me

