Hari kedua. Restoran ini nyaris tidak pernah sepi. Setelah istirahat tadi, aku langsung disuguhi tumpukan pekerjaan. "Ini untuk meja nomor 21, ya." "Iya, Mbak." Nampan penuh berisi sajian makanan aku ambil alih. Bergegas ke meja yang dimaksud. Seluruh tubuh sudah panas meski baru bekerja selama 20 menit. "Permisi, ini pesanannya, Mas." Senyum tipis aku tampilkan saat menata hidangan. Aku bergegas pergi, tetapi pemuda yang kutaksir berusia 25 tahunan itu bertanya lagi. "Mbak baru ya, di sini?" Kenyamanan pelanggan nomor satu. Begitu aturan di sini. Jadi, tidak enak rasanya kalau mengabaikan. "Iya, Mas." Aku mengangguk pelan, tersenyum sekali lagi. "Cantik-cantik gini masa jadi pelayan, Mbak? Model Victoria's secret pun, Mbak laku." Ucapannya barusan sama sekali tidak memban

