Sepuluh menit tepat, Reiner tiba di rumah Yara. “Halo, Linda. Kamu bungkus aja makannya dan bawa ke alamat yang sudah saya kirim ke HP kamu, yaa. Shabila nggak akan ngamuk karena akan bertemu dengan Yara.” Reiner membatalkan acara makan malamnya dengan sang anak karena tiba-tiba saja Yara meminta dibelikan bubur kacang ijo. “Mangkuk, Bi,” pintanya dengan napas yang tersengal-sengal. Tak lama setelahnya, Yara keluar dari kamarnya seraya mengerutkan kening melihat Reiner yang terengah-engah. “Memangnya dari rumah sakit ke sini kamu lari? Kenapa ngos-ngosan kayak gitu?” tanya Yara datar. Reiner menarik napasnya dalam-dalam lalu mengambil mangkuk berisi bubur kacang ijo. “Aku nggak mau kamu marah lagi. Makanya aku lari dari halaman rumah kamu sampai masuk.” “Oh!” Reiner menarik tangan

