Melinda mengangguk sembari menitikan air matanya kembali. “Berkat Jihan. Berkat dia, akhirnya aku bisa bertemu dengan anakku. Reiner. Saat aku melihat matanya, aku langsung tahu kalau dia adalah anakku. “Andai bukan karena dia akan melamar Jihan, aku ingin memberi tahu bila dia adalah anakku. Anak yang sempat aku titipkan karena egoku sendiri. Setiap kali melihat Reiner, aku selalu menangis sendiri. Menyesali semua yang telah aku lakukan padanya.” Melinda menundukkan kepalanya seraya terisak lirih. Rini kemudian mengusapi pundak perempuan itu. “Mungkin sebaiknya kamu beri tahu semuanya pada Reiner. Biarkan dia tahu semuanya, Mel. Jihan adalah anakku, kakaknya Yara. Dan Reiner adalah anak kamu dan ….” “Dia pernah memaki aku karena sudah menitipkan Reiner ke panti asuhan. Tapi, dia sendi

