Seketika itu Reiner menghentikan acaranya mengunyahnya dan menatap dengan pelan wajah Yara yang tengah menerbitkan cengiran kepadanya. “Tapi, Yara … tadi pagi aku elus-elus itu kamu ….” Yara menganga. “Ish! Jorok banget sih! Ada darahnya pasti itu.” “Nggak ada. Karena nggak masuk ke celana dalam kamu,” ucapnya dengan santai. Yara lantas menyunggingkan bibirnya dan kembali mengunyah sarapan berupa nasi goreng itu. ** Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Detik itu juga mereka harus kembali ke Jakarta. Sebab besok pagi ada wawancara dokter baru dan harus menemui Rifky—pemilik asli rumah sakit harapan. “Kamu tidur di rumah aku aja, yaa. Shabila juga pasti lagi sama omanya,” pinta Yara sembari memegang sabuk pengamannya. Reiner mengulas senyum kemudian menganggukkan kepalanya. “Den

