“Nih, Tante. Bosen, ngomong sama Papa. Cuma jawab ham hem ham hem aja.” Yara lantas terkekeh kemudian menutup panggilan tersebut. Namun, tak lama setelahnya, Naina datang ke rumah itu. Ia lantas menghampiri Yara dengan langkah lebarnya. “Nggak tahu malu banget lo datang ke sini. Kegatelan banget jadi perempuan!” sengal Naina dengan ucapan menohoknya. “Astaga, Naina. Ngomong kayak gitu di depan anak kecil. Nggak malu apa? Ish!” “Tahu nih, Aunty. Tiap datang ke sini pasti marah-marah. Entar darahnya tinggi lho kalau marah-marah terus. Nanti mati muda. Belum juga nikah, udah mati. Hihi!” “Diam kamu, Shabila!” “Naina!” Yara lantas memarahi Naina. Ia tak suka Naina berbicara kasar kepada Shabila. “Nggak usah pake toa ngomongnya, bisa? Dia masih kecil. Jangan diajari pake ucapan kasar kay

