“Ish! Biasanya juga kamu, yang duluan meluk aku. Giliran dipeluk duluan, protes.” “Bukan protes, Sayang. Tapi, aku sesak napas karena dicekik.” “Ooh!” “Kenapa, heum? Kenapa kayaknya girang begitu?” Yara kemudian menerbitkan senyumnya dengan lebar. “Mama udah pulang. Aku mau urus perceraian aku sama Tristan.” “Oh, yaa? Bagus dong. Kalau butuh apa-apa, hubungi aja, yaa.” Yara mengangguk. “Iya, Reiner. Tapi, aku harus pulang sekarang juga. Nggak apa-apa, kan? Soalnya Mama harus balik lagi ke LN.” “Oh gitu. Harus banget ya, sekarang?” Yara mengangguk lagi. “Seminggu lagi kamu juga pulang, kan? Yang penting kan masih bisa teleponan nanti. Cuma seminggu, Reiner.” Lelaki itu keberatan ditinggal sendiri di sana. Tidak menjawab apa pun, hanya menatap wajah Yara dengan sayu. “Reiner. Aku m

