“Reiner. Nggak usah dijawab. Perempuan cacat kayak aku mana mungkin bisa mengalahkan Jihan yang udah menetap di hati kamu. Sekarang pergi, dan jangan pernah memintaku menjadi mamanya Shabila. Yang kamu butuhkan hanyalah mama untuk Shabila, bukan istri untuk kamu!” “Kata siapa? Siapa yang bicara seperti itu? Kamu mana tahu, kalau setiap yang aku ucapkan selalu kamu potong.” “Ya udah sekarang jawab!” pekik Yara dengan bulir air mata yang sudah keluar dari sudut matanya. “Nggak bisa jawab, kan? Pergi, Rya—” “Aku juga membutuhkanmu, Yara. Membutuhkanmu jadi istriku, bukan hanya menjadi mama untuk Shabila.” Reiner melepaskan kacamata yang masih bertengger. Kemudian menggenggam kedua lengan Yara seraya menatapnya dengan sangat dekat. “Kamu tahu, kenapa Jihan dan Shabila pergi ke toko? Bahka

