“Jangan ke apartemen itu. Aku lupa, kalau Tristan udah tahu alamat apartemen di sana.” “Heuh? Kamu punya berapa apartemen, Yara? Banyak banget.” “Punya Papa. Pernah dipake sekali. Nanti aku share alamatnya.” Yara kembali menutup panggilan tersebut. Ia kemudian menghubungi Tristan untuk memberi tahu bila dirinya pergi. “Ada apa, Yara?” “Aku bete, Mas. Pengen minum. Udah izin lho ini, yaa. Udah ya, bye!” “Yara … Yara jangan tutup du—“ Yara menyunggingkan senyumnya. “Emang enak, gue kerjain. Dikira enak, disiksa, dikurung, dikekang kayak begitu.” Yara mengembungkan pipinya setelah tiba di apartemen milik orang tuanya itu. Tidak ada yang tahu selain kedua orang tua Yara yang sempat tinggal di sana. Pun dengan Tristan. “Lari-larian kayak anak kucing habis maling ikan di meja makan. Sem

