Rini menghela napasnya dengan panjang seraya menatap Reiner dengan lekat. “Mama mau nyuruh Reiner lamar aku? Masih idah, Ma. Jangan dulu,” ucap Yara sok tahu. “Ish! Bukan. Mama bukan mau tanya soal itu.” Rini menatap malas pada anaknya. Ia lalu menolehkan kepalanya dengan pelan kepada Reiner. “Reiner. Sepertinya mama kamu belum memberi tahu soal papa kamu, yaa?” Reiner terdiam sejenak kemudian menggeleng pelan. “Tidak ada, Ma. Memangnya ada apa?” tanyanya pelan. “Katanya papa kamu ingin ketemu sama kamu, Reiner. Dua minggu yang lalu, dia bertanya di mana kamu tinggal, di mana kamu kerja. Dia juga ingin diakui oleh Shabila sebagai kakeknya.” Reiner lantas tersenyum miring. Raut wajahnya yang tampak kecewa itu hanya geleng-geleng kepala. “Ingin diakui?” tanya Yara penasaran. Rini men

