"Sudah diterima?" Pandu tiba-tiba saja menghalangi jalan Mentari. Rasanya Mentari ingin sekali protes kepada sekolah untuk membuat jalan lain agar dia tidak harus melewati ruang OSIS untuk ke kelasnya.
"Maksud kamu apa kasih saya sketchbook?" Pertanyaan itu yang sedari tadi ada di kepala Mentari. Sketchbook bagi Mentari istimewa, teman sekaligus sendu Mentari. Banyak sekali sketchbook yang dia miliki. Mentari tidak akan menolak sketchbook pemberian Pandu jika dia tahu alasan apa Pandu memberikannya. Rasanya terlalu menyayangkan jika Mentari menolak sketchbook yang bisa menemani kegiatannya itu.
Selain keras kepala, Mentari juga tidak suka basa-basi. Baginya waktu tidak akan pernah terulang barang sedetik pun. Mahal dan tidak akan pernah terbayar oleh berapa pun nilai uang. Begitulah seorang Mentari Wiraguna yang keras kepala.
"Saya mau bicara serius sama kamu sekali lagi, Mentari."
"Kamu pikir saya lagi nggak serius?"
"Menurut kamu?"
Mentari paling tidak suka jika pertanyaannya harus dijawab lagi dengan pertanyaan. Jika saja Pandu tidak memberinya sketchbook, mudah bagi Mentari untuk pergi sekarang juga dari hadapannya. Namun, Mentari butuh tahu alasan Pandu memberinya sketchbook.
"Saya nggak suka basa-basi. Kalau mau ngomong langsung aja ke intinya." Mentari masih berusaha untuk bersikap tenang. Menghadapi Pandu tidak perlu menggunakan tenaga berlebih. "Oh, atau jangan-jangan kamu memang mau nyuap saya? Kamu kasih saya sketchbook biar saya mau bantu kamu untuk acara sekolah itu 'kan?"
Pandu mengangguk mantap, tidak mengelak karena apa yang Mentari katakan itu benar dan apa adanya. "Tepat sasaran. Jadi, gimana? Kalau pemberian saya sudah diterima, itu artinya kamu mau terima tawaran saya 'kan?"
Mentari membuang napas, tidak mengatakan apa-apa lagi dia langsung pergi begitu saja dengan langkah cepat membuat Pandu menghela napas gusar. Mentari benar-benar batu, sulit sekali untuk dipecahkan. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Selalu ada kesempatan di setiap peluang.
Langkah Mentari tergesa-gesa dengan sketchbook yang masih terbalut plastik berada di tangannya. Dia kembali lagi ke tempat tadi dan menemukan Pandu sedang berbicara dengan teman-temannya di depan ruang OSIS.
Beruntung Pandu langsung melihat Mentari, jadi Mentari tidak perlu bersusah payah memanggil Pandu yang akan membuatnya menjadi pusat perhatian. Mentari sedikit menjauh dari ruanh OSIS ketika Pandu menghampirinya seolah tahu bahwa Mentari bertujuan ingin menemuinya. Pembicaraan mereka belum selesai dan harus segera diselesaikan.
"Harus berapa kali lagi saya bilang kalau saya nggak mau. Saya nggak butuh sketchbook pemberian kamu." Mentari menyodorkan sketchbook yang Pandu titipkan kepada Helmi beberapa jam lalu.
"Tetap nggak bisa?" tanya Pandu memastikan. "Sekali ini aja, saya janji nggak akan ganggu kamu lagi."
"Kamu tahu apa yang udah teman-teman OSIS kamu bicarakan tentang saya? Saya ini punya telinga, masih bisa dengar apa yang mereka bilang. Tadinya saya sempat mau bantu, tapi saya pikir-pikir lagi bahwa apa yang teman-teman kamu katakan itu benar kalau masih ada yang lebih mampu dari saya. Dan, ngapain juga kamu harus tetap maksa saya yang buat sketsanya?"
"Karena saya percaya sama kamu."
Mentari hanya diam, memandang lurus mata hitam legam Pandu. Mentari tidak tahu apa arti tatapan Pandu saat ini. Mendengar kalimat yang Pandu ucapkan tetap tidak bisa membuat Mentari luluh. Mentari memang batu, tapi sekeras apa pun batu pada akhirnya mampu terkikis juga oleh tetesan air berkali-kali.
"Murid organisasi seperti kamu itu kebanyakan bermulut besar. Bisanya hanya berbicara, tapi tindakannya nol. Nggak ada bedanya dengan rekan OSIS kamu yang lain."
Mendengar perkataan Mentari membuat Pandu tersenyum kecut. Dia menatap Mentari dengan santai. "Dan, murid terpendam seperti kamu itu nggak pantas berbicara buruk kepada murid-murid terpilih yang selalu jadi garda terdepan untuk sekolah."
***
Langkah kaki Mentari mulai menyusuri jalanan yang cukup ramai mengingat malam ini adalah malam minggu. Bandung selalu ramai dan Braga selalu jadi yang istimewa dari luasnya Bandung. Jalan Braga; jalan utama dan maskotnya kota Bandung. Bagi Mentari, Bandung tidak hanya sekadar kota yang dikenal sebagai kota hujan, melainkan lebih dari itu. Bandung sangat istimewa untuk hidup Mentari. Ada banyak kenangan di Bandung yang tidak mungkin Mentari lupakan begitu saja. Kota kelahiran yang sampai detik ini selalu membuatnya merasa istimewa.
Mentari memang tidak suka akan keramaian. Namun, Mentari tidak tahu bahwa ramainya jalan Braga seperti candu bagi Mentari. Hanya Braga yang selalu membuat Mentari betah di sana berlama-lama. Sendirian dan Mentari menemukan ketenangan di sana. Ramai jalanan Braga memang mengusik telinga Mentari, tapi tidak dengan hatinya.
Mentari duduk di sebuah kedai kopi yang berada di jalan Braga. Sebenarnya dia sedang tidak ingin meminum kopi, tapi kelihatannya cukup menarik jika Mentari membuat sketsa sebuah kedai kopi. Mentari memesan satu cup hot cappuccino. Dia mengeluarkan sketchbook dari dalam tasnya.
Kedai kopi cukup ramai, jadi Mentari memutuskan untuk duduk di bagian paling pojok sendiri. Mentari membelakangi orang-orang yang sedang tertawa bahagia, menikmati kopi bersama kawan-kawan, tertawa lepas seolah lupa dengan masalah-masalah di rumah.
"Hei,"
Dari ekor matanya, Mentari melihat seseorang berada di hadapannya saat ini. Suaranya kembali terdengar membuat Mentari refleks menoleh.
"Hot cappucino 'kan?"
Dunia terasa sempit bagi Mentari saat ini ketika harus menemukan Barameru lagi di tempat yang berbeda. Dengan pakaian ala barista lengkap dengan apron berwarna cokelat tua, Bara duduk tanpa meminta persetujuan Mentari sembari memberikan pesanan kopi Mentari.
"Kaget, ya?" Bara terkekeh, melepas topi hitam di kepalanya. "Nggak usah kaget gitu, saya barista baru di sini. Senang ketemu kamu,"
Mentari pernah beberapa kali ke kedai kopi di jalan Braga beberapa kali. Meski tidak sering, tapi Mentari pernah untuk sekadar meminum kopi melepas penat sehari-hari. Mentari tidak ingin naif, dia memang tidak suka dengan keramaian. Namun, yang Mentari maksud bukan berarti dia hanya berdiam diri di rumah tanpa mau menemui orang-orang. Sesekali Mentari juga perlu mencari udara segar, mencari insipirasi untuk membuat sketsa. Hanya saja sekarang dia lebih banyak membatasi kehidupannya dari keramaian. Mentari hanya tidak suka diperhatikan banyak orang.
"Dunia berasa sempit, ya, saya harus ketemu kamu di sini." Mentari berucap santai, menerima hot cappuccino pesanannya untuk diminum. Sayang kalau tidak diminum.
Bara tidak menggubris perkataan Mentari, dia justru bertanya perihal rasa kopinya. "Gimana, enak?"
"Biasa aja."
"Sendiri?"
"Kelihatannya?" tanya balik Mentari.
"Memastikan aja, siapa tahu—"
"Kamu masih mau di sini? Nggak lanjut kerja? Saya mau sendiri, bisa tolong pergi?" Mentari mengusir Bara untuk pergi dari hadapannya sekarang. Mentari sudah bilang bahwa dia tidak suka diganggu. Namun, Bara terus saja mengganggunya.
"Dinikmati, ya, kopinya. Sepahit apa pun rasa kopi, bisa bikin penikmatnya senang. Oh iya, sering-sering mampir ke sini, ya. Saya akan senang kalau kamu jadi pengunjung tetap."
"Kenapa jadi kamu yang ngatur?" Mentari mulai sewot membuat Bara terkekeh.
Telunjuk Bara mengetuk meja dua kali, tersenyum penuh arti kepada Mentari. "Selamat menikmati hot cappucino ala Barameru, Cantik."
Cantik.
Cantik. Satu kata berhasil membuat Mentari ingin muntah saat ini juga. Satu kata yang tidak berarti apa-apa dengan reaksi Mentari saat ini.
***