Semua mata yang ada di dalam ruang OSIS tertuju pada Pandu yang baru saja masuk. Wajah Pandu terlihat muram tidak seperti biasanya. Mungkin Pandu sedang banyak pikiran terlebih lagi akhir-akhir ini pikirannya sedang kacau sekali. Pandu duduk di kursi kebesarannya sebagai Ketua OSIS untuk kembali mempimpin rapat. Almamater OSIS SMAN 19 Bandung melekat di tubuhnya yang terlihat semakin berkarisma. Siapa pun tidak akan bisa mengelak karisma dan wibawa seorang Pandu Elangga Gerhana. Pandu memang cocok dijadikan pemimpin. Bahasa tubuhnya pun mengatakan hal yang demikian.
Pandu mulai membuka rapat dan langsung ke inti yang akan didiskusikan hari ini. Dia juga tidak suka jika harus berlama-lama diskusi, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Maka dari itu, Pandu selalu mengatur bicaranya untuk langsung ke inti.
"Kegiatan pekan olahraga sekolah tahun ini saya serahkan kepada Intan sebagai Ketua Pelaksana. Apa pun keputusan yang akan Intan lakukan, saya setuju." Pandu menarik napas, memastikan bahwa ucapannya setelah ini adalah keputusan yang tepat. "Termasuk orang yang akan membuat sketsa untuk banner raksasa tahun ini, saya setuju dengan adik kelas yang sudah Intan pilih untuk membuatnya."
Hening.
Tidak ada yang berani menjawab setelah berhari-hari lamanya masalah mereka tak kunjung selesai hanya karena siapa yang akan membuat sketsa untuk banner raksasa. Semua dibuat bungkam karena bingung dengan keputusan mendadak dari Sang Ketua OSIS yang terkenal nyaris tak pernah lalai.
Intan mengangkat tangan untuk menginterupsi pembicaraan. "Mentari menolak lagi 'kan?"
Hening lagi. Tidak ada yang berani berbicara karena suasana semakin menegangkan apalagi mengingat Pandu sampai berdebat hebat dengan Intan hanya karena masalah membuat sketsa.
"Saya ingin acara tahun ini berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah tahun pertama kita semua diberi kesempatan untuk memegang acara pekan olahraga sekolah yang akan dilaksanakan empat hari lagi. Saya sudah dapat laporan dari sekretaris bahwa proposal sedang ditinjau oleh pihak sekolah, kemungkinan hari ini saya akan minta untuk segera disetujui. Kepada seluruh anggota yang ditugaskan menjadi panitia dimohon untuk melakukan tugasnya dengan baik. Segera lapor kepada ketua pelaksana jika ada kendala, saya akan memantau perkembangan ini lebih lanjut. Semoga besok bisa selesai semuanya."
Baru kali ini Pandu telat memberikan keputusan. Teguran dari pihak sekolah sempat membuat mereka semua bingung. Beberapa rekan OSIS yang merupakan anggota inti sempat protes dan memberikan pendapat kepada Pandu. Dan, inilah hasil dari kesepakatan dan keputusan dari Pandu si Ketua OSIS.
"Saya minta maaf karena terlambat memutuskan. Maaf karena saya sudah lalai dengan tugas kali ini. Saya berharap bahwa semua bisa berjalan dengan semestinya." Lalu Pandu menutup rapat hari ini dengan permintaan maaf atas kelalaiannya dalam bertugas. Pandu tidak punya pilihan lagi setelah tadi pagi harus mendapat teguran kembali dari pihak sekolah.
Semua anggota dibubarkan, tersisa anggota inti saja yang masih mendiskusikan beberapa hal. Sedangkan Pandu justru hanya diam, mengusap wajahnya yang terlihat lelah sekali.
"Kamu itu cuma buang-buang waktu, Pandu. Aku udah bilang berkali-kali kalau kamu nggak seharusnya nunggu Mentari mau terima tawaran kamu. Percuma 'kan? Nggak ada hasilnya setelah lama kita semua nunggu?"
Pandu mendongak dan mendapati Intan sudah ada di hadapannya. "Kalau ada kendala apa-apa, langsung lapor sama saya." Bukannya membalas perkataan Intan, justru Pandu mengalihkannya dengan topik lain.
"Gitu, tuh, kalau udah kelamaan berharap sama orang. Lain kali nggak usah deh minta sampai ngemis-ngemis si Mentari. Sumpah, buang-buang waktu."
"Tan, urus aja tugas kamu. Nggak usah bahas itu lagi. Semua udah clear 'kan?" Pandu mengangkat alis. "Saya udah setuju semua permintaan kamu. Terus sekarang apalagi?"
"Intinya kamu jangan campur tugas kamu sebagai ketua OSIS dengan orang yang nggak penting-penting amat kayak dia." Intan semakin sewot dan terus saja menyinggung permasalahan yang berkaitan dengan Mentari.
"Dan, intinya jangan kebanyakan ngomong. Lanjut aja selesaikan tugas kamu sebagai ketua pelaksana." Pandu melanjutkan perkataan Intan membuat perempuan itu bungkam seribu bahasa. Jangan lupakan Pandu yang selalu pandai mematikan ucapan lawan. Dan, jangan salahkan Pandu jika dia bisa saja membuat lawannya berpikir banyak untuk membalas perkataan Pandu.
Pandu kok dilawan.
***
Mata Mentari tak lepas dari banner raksasa yang dipasang di bangunan tingkat sekolahnya. Burung rajawali yang terlihat gagah dengan memegang logo SMAN 19 Bandung, juga beberapa banner setiap kelas yang memang sepertinya sudah menjadi tradisi di setiap angkatan jika ada acara sekolah. Cukup lama Mentari melihatnya, hingga suara seseorang membuat Mentari tersentak.
"Nyesel ya, nggak terima tawaran saya?"
Sekarang Mentari sudah hapal siapa yang berbicara ketika dia belum sempat melihat wajahnya. Mentari mengenal suara itu—suara yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangannya di sekolah. Mentari menatap Pandu dengan tatapan tidak suka.
"Nggak sama sekali."
"Kalau untuk acara sekolah berikutnya, tetap nggak mau kalau kamu yang—"
"Nggak akan mau." Potong Mentari cepat seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan Pandu kepadanya. Mentari hanya ingin membatasi hidupnya. Sudah cukup orang-orang datang di saat mereka membutuhkannya, tapi ketika Mentari yang membutuhkan justru mereka tidak pernah ada untuk Mentari. Dan, Mentari hanya malas berhadapan dengan orang seperti Pandu yang dia yakini hanya datang ketika membutuhkannya saja.
"Boleh saya tanya kenapa?"
"Harus ada alasan kalau saya nggak mau?" balas Mentari membuang pandangannya ke arah lain. Padahal Mentari paling tidak suka jika pertanyaannya harus dijawab pertanyaan lagi. Namun, dia sendiri yang memakan omongannya.
"Harus, biar saya pertimbangkan untuk nggak meminta kamu membuat sketsanya." Melihat Pandu dengan almamater OSIS SMAN 19 Bandung tidak membuat Mentari terkesan dengan apa yang dilihatnya saat ini. Mentari juga tidak ingin mengakui karisma dan wibawa Pandu. Tidak penting juga.
Memang, sudah bukan hal baru jika semua anggota OSIS mengenakan almamater kebanggaannya ketika acara sekolah. Namun, melihat Pandu saat ini membuat Mentari justru berpikir bahwa almamater yang Pandu pakai hanya sebatas ciri khas yang belum tentu menunjukkan kinerja sesungguhnya.
"Ikut lomba apa?" tanya Pandu ketika Mentari hanya diam saja duduk di pinggir lapangan sambil mengamati banner dan perlombaan yang sudah dimulai sejak pukul delapan pagi di lapangan. "Emang kamu bisa olahraga? Kelihatannya sih, kamu hanya nyaman berteman dengan sketchbook. Olahraga bukan kamu banget."
Mentari memejamkan matanya menahan kesal. Dia berdiri berhadapan dengan Pandu. Membalas tatapan Pandu yang selalu saja berhasil membuat Mentari kesal.
"Masalahnya dengan kamu itu apa, ya? Mau saya ikut lomba atau nggak, itu bukan urusan kamu. Mau saya lomba sepak takraw sekali pun, itu nggak ada urusannya sama kamu." Mentari berlalu begitu saja dari hadapan Pandu. Namun, baru beberapa melangkah suara Pandu terdengar lagi.
"Berbicara dengan saya bikin kamu lupa ingatan, ya?" Pandu merendahkan tubuhnya untuk mengambil botol minum di dekat pohon. Dia menyodorkannya kepada Mentari. Pandu yakin itu milik Mentari karena tidak ada orang yang duduk di samping Mentari. "Punya kamu 'kan? Ketinggalan,"
Mentari menghela napas gusar, membuang tatapannya dari mata Pandu. Dan, entah kenapa berbicara dengan Pandu selalu membuat Mentari ingin menjawabnya. Orang seperti Pandu akan menjadi-jadi jika tidak dibalas. "Saya heran sama kamu, sebenarnya kamu itu mau apa sih? Kenapa juga kamu harus ada di sini?" Mentari mengambil botol minumnya dari tangan Pandu dengan cepat.
"Oh, saya lagi memantau perlombaan. Dan, kebetulan lihat kamu jadi memantau sekalian."
"Ngapain memantau saya?" Mentari tidak terima dengan perkataan Pandu. Tatapannya benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan adanya Pandu di hadapannya sekarang.
"Memantau orang yang udah bikin saya pusing berhari-hari, orang yang menolak membantu saya ternyata sedang melihat banner yang seharusnya dibuat sama dia."
Pandu menyindirnya, Mentari tahu betul bahwa ucapan Pandu tertuju padanya. Baiklah, Pandu adalah orang ke sekian yang berhasil membuat Mentari tidak nyaman berbicara dengannya. Pandu selalu bisa menjawab semua perkataan Mentari. Dan, itu tidak membuat Mentari senang.
"Saya minta tolong sama kamu untuk jangan ganggu saya lagi karena kita nggak ada urusan apa-apa."
"Kalau kamu aja nggak membantu saya kemarin, kenapa saya harus membantu kamu?" Usai mengatakan itu Pandu berlalu begitu saja meninggalkan Mentari yang penuh kekesalan. Berbicara dengan Pandu membuat tekanan darah Mentari bisa naik. Mentari juga tidak tahu mengapa mau saja meladeni ucapan-ucapan Pandu.
***