"Maaf sebelumnya, Pak. Saya nggak sengaja dengar percakapan Bapak dengan Bapak yang tadi. Kalau saya nggak salah dengar, tadi Bapak bilang kalau tanda pengenal lukisan ini persis seperti tanda pengenal lukisan almarhum sahabat Bapak. Maksud Bapak, sahabat Bapak itu siapa ya, Pak?" "Dulu, almarhum sahabat saya seorang pelukis. Saya beberapa kali membeli lukisan yang dibuatnya, bagus sekali. Dan, tanda pengenalnya persis sekali dengan tanda pengenal dalam lukisan itu." Mentari mendadak bergeming di tempat. Perkataan pria paruh baya dengan pakaian batik di hadapannya ini membuat Mentari merasa bahwa beliau mengenali Ayahnya. "Kalau boleh tahu namanya siapa, Pak?" Baiklah, Mentari terlalu banyak bertanya. Namun, dia harus memastikannya. Mentari ingin tahu siapa orang-orang terdekat Ayahnya

