Mentari tidak menyangka jika namanya akan disebut untuk mewakili sekolah dalam perlombaan seni melukis. Setelah dua kali seleksi dan itu pun Mentari tidak begitu niat, tidak berusaha keras, dia hanya melakukan tugasnya tanpa mengharapkan apa-apa. Namun, Mentari terpaksa harus mau menerimanya, terlebih lagi Bapak Kepala Sekolah yang ikut turun tangan memberikan apresiasi kepada murid-murid terpilih. Sejak awal, Mentari tidak suka menjadi pusat perhatian. Jika kebanyakan orang ingin dikenal oleh orang lain, tapi tidak dengan Mentari. Mentari hanya ingin menjadi minoritas, bukan mayoritas. Dia juga tidak tahu apa yang sedang semesta kerjakan untuk perjalanan hidup selanjutnya. Mentari selalu berharap bahwa dia tidak akan pernah menyesal dengan apa pun keputusannya. Usia tujuh belas tahun te

