
Sepuluh tahun lalu, Bryan tidak punya nyali untuk mengungkapkan perasaannya pada primadona sekolah.
Nabila adalah gadis cantik yang duduk di bangku IPA unggulan, wajahnya menghiasi sampul majalah remaja, dan sikap dinginnya membuat banyak cowok patah hati. Sementara Bryan? Hanya anak IPS yang lebih suka nongkrong daripada belajar. Ia merasa tidak pantas. Ia memilih diam dan memendam rasa.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi di reuni SMA.
Nabila mendekatinya dengan permintaan yang tidak pernah ia duga: menjadi fake boyfriend-nya untuk mengusir mantan tunangan yang mengganggu. Bryan setuju. Ia pikir ini hanya akting. Hanya misi. Hanya permainan.
Tapi perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Di antara malam-malam yang dihabiskan bersama, di antara ciuman yang seharusnya hanya untuk pertunjukan, dan di antara pengakuan jujur yang muncul setelah sepuluh tahun tertahan, mereka sadar bahwa apa yang mereka bangun bukan lagi sekadar sandiwara.
Ini nyata.
