Bab 13 - Kesedihan Vega

1272 Words
Sudah beberapa hari berlalu, teman-teman Vega yang senang menghabiskan waktu di kantin semakin menunjukkan kegelisahan di wajah mereka. Bahkan mereka tidak banyak bercanda seperti hari-hari sebelumnya.  Dalam hati, mereka semua sama-sama mengkhawatirkan Vega yang sangat sulit dihubungi. "Aduuh, Vega gimana ya nasibnya? Aku telepon nggak pernah diangkat, lho." Rara menyikut-nyikut Rio yang duduk di sampingnya. "Rio, pesanmu dibalas nggak sama Vega? Aku khawatir nih...." "Ra, kamu saja nggak dibales sama Vega, apa lagi aku." Rio menggeleng-geleng. "Nggak tahu deh, bukan kamu doang kok yang khawatir." Rio dan Rara lalu melihat ke arah Sandy dengan pandangan penuh harap. Ditatap seperti itu, Sandy yang sedang menyesap teh manisnya langsung tersedak.  Ia menepuk dadanya beberapa kali dan berkata, "Duh, jangan lihat aku kayak gitu dong... aku juga nggak tahu. Bagaimana ya kabarnya Vega?" Vega? Rune yang hendak masuk ke kantin dan memesan kopi, seketika menghentikan langkah saat tidak sengaja mendengar nama Vega disebut. Ia sempat melirik sekilas dari arah pintu untuk melihat siapa yang menyebutkan nama Vega itu. Ia melihat teman-teman Vega yang sedang berbincang-bincang. Untuk beberapa lama Rune tampak berpikir. Apa ia akan bertindak masa bodoh dan terus berjalan? Ah, tapi aneh juga Vega tidak masuk kuliah tanpa alasan. Tidak mungkin karena sibuk bekerja, tugas yang ia berikan saja belum Vega serahkan balik kepada Rune. Akhirnya, sang dosen memutuskan sedikit bersembunyi untuk mendengar perbincangan mereka lebih lanjut. "Iya nih... Kalau nggak salah Vega juga mau ambil beasiswa kan? Sekarang Vega sudah bolos semua mata kuliahnya selama beberapa hari, ia sudah kehabisan jatah absen. Bisa-bisa... Vega nggak ada kesempatan ambil beasiswa di semester dua nanti," kata Rara dengan nada yang terdengar menyesal. Seketika Rune mengerutkan keningnya. Sang dosen langsung tahu ada yang tidak beres di sini. Tanpa basa-basi ia melangkah pergi dan berjalan cepat ke salah satu lorong yang sepi.  Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan segera menghubungi nomor Vega. Vega yang masih berbaring lemas di atas kasur sempat ragu untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Namun, semakin lama diabaikan, telepon yang masuk itu tidak kunjung berhenti. Akhirnya secara malas Vega meraih ponselnya yang ada di ujung kasur. Ia melebarkan mata ketika melihat nama yang tertera di sana. Pak Rune. Astaga. Jantung Vega langsung berdebar-debar, kepalanya juga membayangkan kenapa Rune tak henti mencoba meneleponnya. Ahh, Vega terpikirkan ia belum melanjutkan tugas kerja yang diberikan oleh Rune. Vega sudah terlalu lama mengunci diri dalam kamar, bahkan tidak sempat datang ke toko Tante Rosa karena dirinya sudah terlalu lelah dengan keadaan dan hatinya masih sakit. Padahal hanya di toko Tante Rosa saja ia mendapatkan akses wifi gratis. Duh, Rune pasti kesal Vega tidak mengerjakan tugas-tugas laporan yang ia berikan. Padahal persyaratan kerjanya adalah jangan banyak cingcong dan rajin! Vega bisa mengabaikan telepon dari teman-temannya, tetapi ia tidak berani mengabaikan telepon Rune. Selain Rune adalah dosennya, Rune juga bos kerjanya. Aduh... Vega langsung terbayangkan wajah marah sang dosen sadis. "Ha... hallo, Pak..." Vega sudah siap dimarahi si dosen galak dan berusaha memberanikan diri untuk menyapa Rune. "Maaf, Pak... saya belum sempat melanjutkan tugas kerja saya." "Kerja... kerja... memangnya kamu pikir saya laki-laki yang nggak punya perasaan dan hanya memikirkan pekerjaan kamu di saat kamu sedang susah?" celetuk Rune di ujung telepon sana. "Kamu tahu sudah berapa hari kamu nggak masuk kuliah?" Seketika Vega menggigit bibirnya. Vega merasa tidak enak. Ia tahu meskipun Rune adalah dosen yang galak dan judes, ia juga sangat perhatian kepada mahasiswanya. Sudah dua kali Vega membuat sang dosen khawatir dengan ke absenannya, tapi kali ini Vega benar-benar berat untuk kembali hadir ke kampus. "Maaf, Pak. Saya... tidak bisa...." kata Vega dengan nada suara yang sangat lemah. "Kamu masih kepikiran soal perbuatan Altair di kantin?" Ucapan blak-blakan dari Rune seketika membuat d**a Vega kembali sesak. Ah, bahkan untuk membalas pertanyaan sang dosen saja terasa sangat sulit.  Bayang-bayang Altair memarahinya dan seketika menjadi sorotan banyak orang kembali muncul. Hal itu sungguh menyakitkan dalam batin Vega. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, tetapi semampunya ia menahan suaranya yang hampir menangis agar tidak terdengar Rune. Ia tidak ingin membuat sang dosen semakin khawatir. "Dilihat dari sudut mana pun, yang bersalah itu Altair, bukan kamu!" seru Rune. "Kamu ini mentalitasnya tipikal orang miskin. Dikit-dikit takut, merasa salah di depan orang kaya. Padahal bukan kamu yang salah. Seharusnya kamu bisa mempertahankan hak kamu!" "Iya, Pak. Tapi saya... saya juga tidak tahu kenapa..." Suara Vega menggantung.  Mendengar ucapan Rune yang menusuk tetapi sangat perhatian kepada Vega membuat hati gadis itu tersentuh. Ia merasakan kejujuran dan ketulusan dari ucapan sang dosen. Sungguh Vega tidak tahan dengan perasaan yang memenuhi hatinya. "Saya tidak tahu kenapa harus terjadi seperti itu..." lanjut Vega. Pada akhirnya air mata menetes ke pipi dan suaranya ikut terdengar bergetar. "Saya sudah membuat keributan. Saya malu, Pak. Saya tidak kuat..." Rune sempat terdiam selama beberapa menit, membuat suara isak tangis Vega yang sangat pelan terdengar jelas dalam telepon mereka.  Vega sebenarnya tidak ingin kembali menangis, apa lagi di hadapan dosennya. Namun, rasa sesak dalam d**a sudah tidak dapat ditahan lagi. Ia benar-benar sedih. Rasanya sekarang hanya Rune tempatnya dapat mencurahkan hati dan keluh kesah tentang kejadian Altair. Vega mulai memejamkan mata erat-erat sampai air mata yang tertahan mengalir semakin deras. "Seharusnya pelaku kejahatanlah yang malu datang ke kampus, bukan korban," kata Rune pada akhirnya. Nada suaranya yang biasa terdengar judes, sekarang terasa lembut dan sabar. "Kamu harus datang kuliah. Abaikan saja gosip-gosip yang bertebaran itu. Tidak penting." Ia ingin. Vega sangat ingin kembali kuliah tapi entah kenapa sekarang rasanya menjadi sangat berat. Vega tidak mampu menjawab. Ia sibuk menahan perasaannya agar tangisan tidak meledak.  Vega mulai menutup wajah dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan terus menahan ponsel di telinganya.  "Kamu kan mau mengambil beasiswa di semester dua. Kalau kamu terus-terusan bolos, kamu tidak akan mendapatkannya. Janji ya kamu datang kuliah agar tidak melewatkan kesempatan itu?" kata Rune pada akhirnya. Ah... Vega hampir saja lupa tentang rencananya untuk mengambil beasiswa, tapi kenapa Pak Rune tahu akan hal itu? Bagaimanapun juga, ucapan sang dosen ada benarnya. Vega harus datang kuliah dan baru saja ingat ia telah menghabiskan jatah bolosnya ketika kerja sebagai SPG selama 10 hari. Akhirnya Vega berusaha menetapkan hati. Ia menarik napas dalam-dalam, dan pelan-pelan mengenyahkan air mata yang sudah berhenti mengalir di pipinya. Vega meyakinkan diri sendiri untuk bisa membeli rumah yang disita oleh bank dan mendapatkan kembali kenangan-kenangan masa kecilnya. Vega berpikiran ia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk mengejar mimpinya. Terlebih, itu juga penyebab ia bersikeras untuk kuliah meskipun keadaannya sangat menjepit. Walaupun berat, Vega harus bisa. Ia lalu mengangguk-angguk dan mengurut dadanya pelan. "Iya, Pak. Saya usahakan," kata Vega pada akhirnya. Meskipun suaranya masih terdengar bergetar, tetapi ada rasa keyakinan di sana. *** Ketika Vega akhirnya datang ke kampus. Vega sempat berdiam diri di depan pintu gerbang selama beberapa menit.  Bagaimanapun juga, rasanya masih sesak, tapi Vega sudah berjanji akan kembali datang kuliah kepada Pak Rune. Vega mulai menggelengkan kepalanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia lalu bergegas melangkah masuk ke gedung kampus. Namun, saat itu juga banyak orang yang berbisik-bisik menggosipkannya. Sikap bermusuhan pun ditunjukkan oleh para perempuan penggemar Altair dan Rune, terlebih dari gadis-gadis sastra prancis yang mendukung Felicity. "Aduuuh, si nona yang berani rebut pacar orang, ternyata berani juga menunjukkan muka. Nggak punya urat malu." "Bukannya nggak punya urat malu lagi, tapi mukanya tebal kayak kulit badak." Ucapan para gadis-gadis itu sungguh menusuk, apa lagi setelahnya mereka tertawa meledek ke arah Vega. Vega benar-benar muak terhadap perlakuan mereka. Ia mengeratkan genggaman tangannya di tas dan langsung berlari memasuki ruang kuliah. Ia tidak mau terlihat di tempat umum. Setelah pelajaran kuliah selesai pun, Vega langsung melarikan diri dan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk menunggu jam pelajaran berikutnya. Ia berusaha menulikan telinga dan tidak ingin memperdulikan sekitar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD