Bab 12 - Kemarahan Altair

1626 Words
Setelah pertemuan dengan Om Dani di kafe, Vega pulang ke kosannya dengan langkah lesu dan pikiran yang bingung. Ia merasa tidak enak kepada Altair karena ayahnya datang berkunjung ke toko dan malah mengajak Vega tinggal bersamanya. Padahal sewaktu mereka bertemu di toko beberapa hari yang lalu, Vega bisa menduga Altair tidak menyukainya dari tatapan dan cara bicaranya. Di depan ayahnya, Altair jelas-jelas bersikap seolah mereka tidak saling mengenal dan belum pernah bertemu sebelumnya. Tetapi kenapa Altair harus membenci Vega? Apa Vega telah berbuat salah tanpa ia ketahui? Ia merasakan dadanya sakit. Ia menekap bibir ketika berjalan dengan menundukkan kepala. Rasanya sesak menyimpan semua hal ini sendirian, Vega ingin melepas segala hal yang mengganggu pikirannya dengan berbagi cerita kepada seseorang agar bisa merasa lebih lega. Namun, Vega sudah tidak punya siapa pun sebagai tempat untuk membahas tentang Altair. Andi sama sekali tidak tahu bahwa Vega sudah bertemu Altair. Ia juga tidak bisa bercerita kepada Tante Rosa atau Dina, itu justru akan membuat mereka khawatir. Keluarga mereka sudah banyak membantu Vega dengan memberikan pekerjaan di toko. Ahh.. tidak mungkin juga ia menceritakan kepada teman-teman kuliahnya tentang masalah Altair. Hal itu justru akan mengundang masalah baru. Mereka tahu Altair adalah kakak kelas mereka yang terkenal. Belum tentu teman-teman sekelasnya akan mendukung atau memahami situasi Vega. Malah, kalau sampai ada yang membocorkan masalah tentang Vega dan Altair ini ke kelas lain, mungkin malah akan terjadi keributan. Ah, Vega mengembuskan napas panjang. Ia sebaiknya tak usah memikirkan ucapan Om Dani. Demi kesopanan, tadi ia memang berbasa-basi dan mengatakan ia akan datang berkunjung ke rumah mereka. Namun, itu bukan berarti ia memang harus datang, kan? Ia akan berpura-pura tidak ingat akan sibuk. Om Dani dan Altair pelan-pelan pasti akan lupa kepadanya kalau ia menjauhkan diri dari mereka. Dengan pemikiran seperti itu, akhirnya Vega menetapkan hati untuk menjauhkan dirinya dari keluarga Altair. Ia akan fokus pada kuliahnya dan pekerjaan sambilan yang ia lakukan. *** Tiga minggu berlalu dan Vega sudah tidak memikirkan tentang undangan Om Dani. Ia menyibukkan diri dengan tugas-tugas kuliah dan pekerjaan dari Pak Rune. Kadang, kalau ia memiliki waktu senggang di akhir pekan, ia masih menerima tawaran dari agensi untuk menjadi SPG. Hatinya selalu terasa bahagia ketika menerima uang gaji dari pekerjannya dan saldo di rekeningnya bertambah. Rasanya masa depan Vega tidak lagi terlihat suram. Beberapa kali masuk SMS dari Om Dani yang menanyakan kabarnya. Entah dari mana beliau mendapatkan nomor Vega. Ah, mungkin ia menanyakan nomor Vega kepada Tante Rosa? Bisa jadi kan? Om Dani tahu di mana Vega bekerja. Mungkin saja ia mampir ke toko dan menanyakan nomor ponsel Vega ke sana. Soalnya, tidak mungkn beliau tahu dari Altair. Pemuda itu saja tidak kenal Vega ataupun tahu nomor ponselnya. Vega mengigit bibir dan mengabaikan SMS itu. Ia akan berpura-pura tidak pernah menerima SMS dari Om Dani. Begitu lebih baik. Setelah hampir satu bulan mengabaikan Om Dani, SMS-SMS itu akhirnya berhenti. Ah… Vega merasa lega sekaligus sedih saat memikirkannya. Ia lega karena tidak perlu lagi sengaja mengabaikan Om Dani yang sepertinya tulus ingin menolongnya. Sedih karena dalam hatinya ia sebenarnya ingin bisa membalas SMS Om Dani, namun kini sepertinya Om Dani memang sudah tidak lagi ingin mencoba berhubungan. "Mungkin ini memang yang terbaik," gumam Vega kepada diri sendiri sambil menutup ponselnya. Ia memasukkan benda itu ke dalam saku dan membuka buku Grammar untuk dipelajari. Ia dan teman-temannya sedang duduk di kantin untuk istirahat makan siang. Seperti biasa, Vega hanya memesan es teh manis yang murah agar dapat duduk bersama mereka, sementara ia akan membaca buku atau mengobrol ketika teman-temannya makan siang. Walaupun ia sudah mulai memperoleh penghasilan yang lumayan, gadis itu masih bersikap hemat dan pelit mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu. Untuk makan siang, ia cukup membawa dua tangkup roti dengan mentega dan gula pasir. Nanti malam barulah ia akan makan makanan yang bergizi. Ketika para mahasiswa sedang sibuk menikmati makan siang, suasana kantin yang meriah tiba-tiba digegerkan oleh suara seorang laki-laki yang menggelegar. Dengan langkah kaki yang mengentak, Altair masuk ke dalam kantin dan menghampiri Vega. "Hoi! Kamu nggak usah curi-curi hati Ayah, ya!" bentak Altair dengan menendang meja yang Vega dan teman-temannya singgahi sampai mereka semua terlonjak kaget. Seketika itu juga, terasa udara menjadi sangat sesak. Vega merasakan dadanya berdebar-debar bersamaan rasa dingin yang memenuhi punggung mendengar kalimat yang sangat menusuk tersebut. Bahkan teman-teman Vega sampai kehabisan kata-kata dan tidak berani mengucapkan sesuatu, mereka melirik ke arah Vega dan Altair bergantian karena tatapan si laki-laki hanya tertuju kepada Vega sampai tidak berkedip. Dengan ragu-ragu Vega menaikkan kepalanya dan melihat wajah Altair benar-benar garang, alisnya hampir menyatu dan rahangnya mengeras. Uhh, ada apa lagi ini? "Ma-maaf, aku nggak mengerti maksud kamu apa..." kata Vega dengan nada suara yang sangat rendah dan bergetar karena rasa takut. Sepatunya basah oleh air es teh manis yang tumpah ketika meja ditendang Altair hingga terbalik. Piring dan gelas yang pecah menjadi keping-keping kecil terlihat berserakan di lantai. Saat mata Vega dan Altair saling bertemu, Altair kembali membentak, "Nggak ngerti kamu bilang? Kalau begitu ini apa?!" Mendadak Altair membanting selembar kartu undangan ke atas meja yang Vega singgahi. Vega terkejut ketika Altair melempar kartu itu. Teman-teman Vega ikut tertarik untuk melihatnya. Dalam surat itu tertuliskan dengan jelas berupa undangan untuk Vega dari ayah Altair untuk datang ke rumah mereka membawa kue brownies yang ia janjikan. Astaga. Vega tercengang dan matanya mulai berkaca-kaca melihat undangan tersebut. Ia tidak menduga ternyata bisa berakhir sampai membuat Altair sungguh marah. Padahal saat itu Vega hanya berbasa-basi kepada ayah Altair dengan mengatakan ia ingin melihat foto-foto ibu dan membawa brownies. Tidak lebih. Ia bahkan tidak menanggapi semua SMS dari Om Dani. "Sudah sok polos, main rayu-rayu dekati Ayah. Nggak mengaku lagi. Nggak usah pakai cara kotor kayak gitu buat dekatin aku, Menjijikkan tahu nggak?!" bentak Altair keras-keras sampai ia sedikit mencondongkan wajahnya ke Vega. Vega spontan menunduk dan tangannya bergetar tak karuan di atas kedua pahanya. Ia kehabisan kata-kata. Pelan-pelan, air mata juga mengalir ke pipi. Seketika seisi kantin dibuat geger oleh hal tersebut. Semua orang mulai terheran-heran. Mereka mengarahkan matanya kepada Vega dan Altair dan mulai berbisik-bisik keras, yang terdengar seperti bunyi tawon di telinga Vega. Altair yang terus memarahi Vega langsung menjadi sorotan. Rune yang kebetulan lewat dan melihat kejadian tersebut dari pintu kantin yang terbuka lebar, tampak mengerutkan keningnya keheranan. Dengan langkah kaki yang tegas ia mendekat ke arah Altair. Tangan sang dosen galak secara cepat menggulung beberapa lembaran kertas yang ia bawa menjadi satu. Tanpa basa-basi ia memukul Altair yang terus memaki-maki Vega dengan gulungan kertas tersebut. "Heh! Siapa yang ajarin kamu omong kasar ke perempuan?!" semburnya, "Kamu ini laki-laki atau betina? Beraninya sama perempuan!" Kantin segera menjadi panas. Para mahasiswa yang ada di sana langsung ramai-ramai menggosipkan peristiwa seorang gadis yang diperebutkan oleh dosen dan mantan danlap Ospek. Suara mereka yang samar-samar menggema semakin membuat telinga Vega makin panas. "Gila, itu siapa ya sampai menarik perhatian dosen sadis dan danlap kejam." "Nggak tahu. Sampai dibelain sama Pak Sadis Wijaya, sesuatu banget!" "Eh, itu… mahasiswa baru, kan? Dari Sastra Inggris?" Keadaan semakin diperburuk ketika Felicity datang ke dalam kantin. Langkah kakinya tertuju kepada Vega yang masih menunduk dalam-dalam. Ia melipat tangannya di depan d**a dengan tatapan yang terkesan merendahkan kepada Vega. "Memang nggak tahu diri, sengaja menggoda kekasih orang lain. Sebagai perempuan mana harga dirimu?" kata Felicity dengan nada bicara judesnya. Ooh, suara orang-orang yang menghela napas secara serempak langsung terdengar. Ahhh, Vega benar-benar sudah tidak tahan! Spontan sang gadis berjalan mundur hingga bangku yang ada di belakangnya terjatuh. Mata yang sudah merah dan mengalirkan air mata itu sempat memandang ke arah Altair selama beberapa detik sebelum berlari ke luar kantin membawa tas dan barang bawaannya. Masih ada mata kuliah setelah jam istirahat ini, tetapi Vega sudah tidak peduli. Hatinya benar-benar panas, kepalanya juga sakit. Anemia sialan yang sempat menyerangnya karena tiba-tiba berdiri juga tidak dipedulikan, membuat larinya terhuyung-huyung sesaat di bawah terik matahari. Ia hanya ingin segera pulang. Vega tidak mengerti kenapa Altair bersikap sebegitu jahat kepadanya. Gadis ini mulai berpikiran kisah cinta Vega dan Altair yang dulu ibunya sempat ceritakan memanglah kisah yang menyedihkan. Bayang-bayang Altair menjadi seorang pemuda yang ia tunggu-tunggu dan nantikan; seorang pemuda yang ia cintai sebelum mereka bertemu, langsung buyar dalam pikirannya. Ternyata Altair adalah pemuda yang membenci dirinya bahkan sebelum mereka saling mengenal. Peristiwa hari ini mengonfirmasi dugaannya bahwa Altair memang membencinya. Aaah, kenapa ini harus terjadi?! Apa salah Vega? Vega hanya ingin melanjutkan kuliah agar bisa melanjutkan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan kembali membeli rumah yang disita oleh bank, bukan terjebak dalam masalah cinta yang rumit. *** Sesampainya dalam kamar kosannya, Vega langsung membanting pintu dan melempar badannya ke atas kasur. Seketika itu juga tangisannya pecah sampai ia meringkuk-ringkuk. Namun, agar tidak terdengar oleh tetangga kosannya, ia membenamkan wajah di bantal. Suara teriak isak tangisnya yang tersedu-sedu pun tenggelam. Ia sudah membuat marah dua orang populer di kampus, pasti gosip langsung bertebaran saat itu juga. Vega tidak mau masuk kuliah besok, atau nanti, atau seterusnya. Hatinya benar-benar hancur dan sakit. Pikirannya sungguh kusut. Ia sudah tidak peduli lagi akan semuanya, tidak peduli, tidak peduli! Ia ingin mengunci dirinya dalam kamar, ia juga tidak punya siapa-siapa untuk tempatnya bersandar dan menenangkan hatinya yang kini sangat terluka. Membuat Vega menjadi sangat sedih. *** Keesokan harinya, Vega masih terbaring lemas di atas kasur. Matanya sembab sampai ia sulit melihat. Namun, ia ingin mengecek ponsel sesaat karena belum sempat membukanya sejak kejadian kemarin. Begitu banyak missed call dan pesan yang masuk, tetapi hanya ada satu pesan yang menarik perhatiannya. Vega mendapatkan kabar dari Rara kalau ia menjadi bahan pembicaraan satu kampus. Kabar buruk, sangat buruk. Ah, mana peduli. Vega sudah terlalu lelah memikirkannya. Ia langsung melempar ponselnya... Oh, untung saja mendarat ke atas kasur dengan selamat. Sang gadis kembali membenamkan wajahnya ke bantal. Ia sudah terlalu lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD