"Kamu pesan apa saja, biar Om yang bayar," kata laki-laki itu sambil memberi tanda memanggil pelayan. Ia memesan secangkir kopi sementara Vega memesan es teh rasa buah.
Setelah minuman mereka datang, keduanya saling memandang dan terdiam selama beberapa saat. Akhirnya, karena tidak tahan dengan suasana yang canggung itu, Vega pun buka suara.
"Om, tahu dari mana nama saya?' tanya Vega keheranan. "Rasanya kita belum pernah berkenalan.
Ia penasaran. Apakah Altair memberi tahu ayahnya tentang Vega? Dari situkah ayah Altair tahu dan kini mendatanginya?
"Om tahu karena dulu... Om dan ibumu membuat perjanjian untuk memberi nama anak-anak kami Altair bila lelaki, dan Vega bila perempuan," kata laki-laki itu dengan suara dipenuhi keharuan. "Waktu melihat kamu kemarin dulu, Om langsung tahu siapa kamu. Wajahmu sangat serupa dengan wajah ibumu."
"Oh..." Vega hanya dapat mengangguk-angguk. Ia tahu wajahnya memang sangat mirip dengan ibunya yang sudah meninggal. Walaupun beliau meningga ketika ia masih kecil, hingga kini Vega masih menyimpan foto-fotonya di kosan.
Foto-foto orang tuanya adalah sebagian kecil dari harta Vega yang berhasil ia selamatkan dari rumahnya yang kini sudah dijual bank kepada orang lain. Entah kenapa, dadanya diliputi sedikit rasa kecewa saat ia menyadari bahwa Altair sama sekali tidak menceritakan apa pun tentang dirinya kepada ayahnya.
"Jadi... bagaimana kabar kamu sekarang?" tanya laki-laki itu. "Oh, ya.. kamu bisa panggil saya Om Dani."
Vega mengangguk. "Baik, Om. Kabar saya baik-baik saja. Ayah dan ibu sudah meninggal waktu saya masih kecil."
Om Dani mengangguk. Ia sudah mengetahui kabar itu bertahun-tahun yang lalu dan ia merasa sangat berduka karena telah kehilangan wanita yang ia kasihi untuk selama-lamanya.
"Om sudah tahu. Selama ini Om mencari kamu. Om tahu rumah keluarga kamu disita bank dan kamu menjadi terlunta-lunta. Waktu Om mendengar apa yang terjadi, Om berusaha mencari kamu kemana-mana, tapi tetangga nggak ada yang tahu kamu pergi ke mana." Wajah Om Dani tampak dipenuhi kesedihan. Ia menatap gadis muda di depannya yang sedang menyesap teh itu dengan pandangan kasihan.
Vega ingat ia meninggalkan rumah sehari sebelum bank menaruh tanda disita di depan rumahnya. Saat itu, ia baru lulus SMP dan mengalami begitu banyak kesulitan untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke SMA.
Untunglah Andi dan keluarganya bersedia menampungnya dan teman-teman sekolahnya patungan menyumbang untuk Vega sehingga ia dapat membayar biaya masuk SMA. Vega tidak sempat berpamitan kepada tetangga di sekitar rumahnya, karena ia pergi terburu-buru dengan hanya membawa sedikit pakaian dan foto-foto keluarga.
Ia sama sekali tidak mengira bahwa waktu itu Om Dani mencarinya kemana-mana. Entah apa yang terjadi seandainya saat itu Om Dani berhasil menemukannya.
"Uhm.. saya baik-baik saja, Om. Sekarang saya sudah kuliah sambil bekerja. Om tidak usah kuatir," kata Vega sambil tersenyum menenangkan.
"Kamu kuliah di mana?" tanya Om Dani dengan penuh perhatian.
"Saya kuliah Sastra Inggris di Fakultas Sastra Unpad, Om."
Alis Om Dani seketika tampak berkerut. "Altair juga kuliah di Fakultas Sastra. Kamu nggak pernah ketemu dia? Kenapa dia tidak pernah cerita, ya?"
Vega menelan ludah. Ia tahu Altair sudah memiliki kekasih, Felicity yang cantik. Selama ini sikap Altair keapdanya selalu berpura-pura tidak kenal dan acuh. Vega dapat dengan mudah menebak bahwa Altair tidak menyukainya.
"Oh, ya? Saya belum pernah bertemu Altair, Om," kata Vega berusaha menenangkan Om Dani. Ia tak ingin Om Dani mengira anaknya sengaja tidak pernah memberitahunya tentang Vega.
"Altair itu anak Om yang kemarin ke toko juga. Kamu masih ingat?" tanya Om Dani sambil tersenyum. "Anak Om ganteng, kan? Itu calon suami kamu, lho."
Vega yang sedang menyesap tehnya tanpa sengaja menyemburkan minumannya karena kaget mendengar kata-kata Om Dani. Laki-laki setengah baya itu menatap Vega keheranan. "Kamu sepertinya terkejut. Apakah... ibumu tidak menceritakan perjanjian di antara kami?"
Vega mengigit bibirnya mendengar pertanyaan Om Dani. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena pria itu terus menatapnya dengan wajah bertanya, akhirnya Vega mendeham.
"Uhm... Mama pernah menceritakannya, Om. Tapi Mama sendiri kan tidak tahu apakah Om punya anak laki-laki atau tidak. Jadi Mama tidak pernah menganggapnya serius," kata Vega memberi alasan.
Ia merasa tidak enak jika Om Dani membahas tentang perjodohan itu dan kemudian... memaksa Altair untuk menikahi dirinya?
Bisa dibayangkan, nanti pemuda itu akan bersikap semakin judes kepada Vega.
Tidak. Terima kasih.
Om Dani tersenyum. "Ah.. ya, tapi kenyataannya anak Om memang laki-laki, dan usianya juga pas untuk kamu. Altair sudah pernah berjanji kepada Om untuk mencari kamu dan nanti kalau kalian bertemu, dia akan menikahi kamu. Jadi, kalau di sisi kami, sama sekali tidak ada masalah."
Altair berjanji mencari Vega dan kemudian menikahinya? Sekarang Vega bisa yakin bahwa Altair adalah seorang pembohong. Buktinya, ia sekarang sudah punya pacar, Felicity. Ia juga sudah bertemu Vega tetapi nyatanya ia berpura-pura tidak kenal dan tak pernah menceritakannya kepada ayahnya.
Kalau bukan benci, apa itu namanya?
Akhirnya Vega hanya tersenyum dan menyesap tehnya pelan-pelan.
"Vega..." Suara Om Dani terdengar serak menahan haru saat ia memanggil nama gadis itu. "Apakah, kamu mau tinggal di rumah kami? Kamu sudah terlalu lama hidup menderita sendirian. Setidaknya.. biarkan Om mengurus kamu sebagai tanda persahabatan Om dengan ibumu dulu. Waktu Om kecil, Om juga diurus dan diperlakukan dengan baik oleh kakek dan nenekmu."
Vega masih ingat cerita itu dari ibunya. Sebenarnya Om Dani dan ibunya tumbuh bersama. Itulah yang membuat mereka bersahabat dan kemudian saling jatuh cinta.
Kakek dan nenek Vega juga menyukai Om Dani dan membantu menyekolahkannya sampai SMA, yang di zaman dulu termasuk pengeluaran mewah bagi keluarga kurang mampu seperti ibu Om Dani yang hanya seorang janda dengan banyak anak kecil.
Sayangnya, sikap kakek dan nenek seketika berubah ketika mereka mengetahui Om Dani dan ibu menjalin hubungan cinta. Om Dani dan ibunya diusir dari rumah dan mereka tidak pernah bertemu lagi. Selama belasan tahun, ibu putus kontak dengan Om Dani, hingga akhirnya ia menikah dan memiliki anak yang diberinya nama Vega.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Om Dani sudah berhasil membangun bisnisnya sendiri dan menjadi orang mampu. Vega dapat melihat betapa pakaian Altair semuanya tampak mahal. Ia juga mengendarai mobil mewah ke kampus kalau sedang tidak menggunakan motornya.
Sekarang, keadaan menjadi terbalik. Sang anak pembantu telah sukses dan siap menawarkan bantuan kepada cucu majikan ibunya yang sekarang hidup terlunta-lunta sendirian.
Ah... nasib manusia memang tidak ada yang tahu.
"Om mohon... kau anggap Om sebagai pengganti orang tuamu, ya. Om yakin, ibumu akan lebih tenang kalau kamu tinggal bersama kami dan hidup nyaman. Gadis seumur kamu ini seharusnya hanya fokus belajar dan menikmati masa remaja... bukannya bekerja keras seperti sekarang."
Saat mengucapkan kata-kata terakhirnya, Om Dani menghela napas panjang dan berusaha menahan agar matanya tidak menitikkan air mata. Ia sungguh merasa kasihan melihat Vega harus hidup demikian susah di usianya yang sangat muda seperti ini.
"Uhmm... aku nggak enak menyusahkan orang lain, Om," kata Vega sambil menggeleng. "Aku baik-baik saja kok seperti ini."
Om Dani tampak kecewa karena Vega menolak tawarannya, tetapi ia tidak memaksa.
"Baiklah... kalau begitu," kata Om Dani sambil tersenyum sedih.
"Terima kasih, Om," kata Vega sambil menundukkan wajahnya.
"Uhmm... tapi kalau main ke rumah, bagaimana? Om ingin kamu kenal sama Altair dan bersahabat dengannya," tanya Om Dani sekali lagi, masih belum mau menyerah. "Tidak usah tinggal bersama kami. Kamu datang berkunjung dan membahas tentang masa lalu. Om masih punya banyak foto waktu ibumu masih kecil dulu. Om kalau kangen sama dia rasanya ingin ngobrol sama kamu."
Vega tertegun mendengar kata-kata Om Dani.
Foto-foto ibunya sewaktu kecil? Ahh... ia tidak punya kenangan seperti itu. Saat ia meninggalkan rumah keluarganya sebelum disita bank, Vega hanya dapat menyelamatkan sebagian kecil saja dari foto-foto lama.
Entah sekarang diapakan oleh bank semua sisa peninggalan orang tuanya dulu.
"Terima kasih, Om. Aku kapan-kapan main ke rumah Om, deh, untuk melihat foto-foto Mama," kata Vega sambil tersenyum. "Om suka brownies, nggak? Dulu aku sering aku bikin brownies untuk dijual di kantin kampus. Sudah lama juga nih nggak bikin brownies. Nanti aku bisa bawakan untuk Om."
Om Dani tersenyum lebar dan mengangguk. "Om suka sekali."