Vega tidak ingat telah berapa lama sejak ia merasa selega ini. Selama bertahun-tahun pkirannya selalu dipusingkan oleh masalah uang. Setiap bulan ia pasti harus memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan cukup uang untuk membayar biaya hidup sehari-hari, membeli pakaian seragam, buku-buku, ikut kegiatan praktik, dan masih banyak lagi.
Jangankan bersenang-senang atau memanjakan diri, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus memeras otak. Kalau ia tidak memiliki banyak teman yang begitu baik kepadanya, bisa dibilang mungkin sekarang ia tidak akan ada.
Vega sudah biasa berhemat. Segala sesuatunya akan dipakai hingga tetes terakhir. Ia juga tidak pernah membeli sesuatu yang tidak sangat ia butuhkan. Kini, saat ia melihat saldo tabungannya masih cukup banyak setelah ia membayar biaya kos dan membeli bahan-bahan makanan selama seminggu ke depan, Vega menjadi terpaku.
Ia masih memiliki sisa uang... Ia merasa sangat terharu.
Tanpa terasa air mata menetes pelan-pelan ke pipinya. Tangisannya yang semula pelan, kemudian menjadi semakin menjadi. Karena takut tetangga di kamar kos sebelah mendengar tangisannya dan mengira Vega sedang bersedih atau sakit, ia membenamkan wajahnya di bantal dan melampiaskan sedu sedannya di sana.
Oh, Tuhan... Terima kasih... Sekarang aku punya cukup uang...
Vega berharap dua pekerjaan sambilannya tidak akan pernah terhenti, supaya ia dapat mencukupi semua kebutuhannya dan menabung.
Kalau di tahun ajaran mendatang ia memperoleh beasiswa, maka ia akan bisa menabung lebih banyak lagi. Ia akan menyimpan setiap sen yang tersisa untuk suatu hari nanti membeli kembali rumah keluarganya yang dulu disita bank akibat perbuatan pamannya.
Sesudah tangisnya mereda, Vega mengambil ponselnya dan menuliskan SMS untuk mengucapkan terima kasih kepada Pak Rune. Ia sadar, dosennya yang tampak judes itu sebenarnya sangat baik dan perhatian. Ia menolong Vega dengan caranya sendiri, dan Vega sangat menghargai hal itu.
[Terima kasih, Pak. Aku tak akan pernah melupakan kebaikan Bapak.]
Ia menutup ponselnya dan memejamkan mata. Ahh... sungguh hari yang sangat membahagiakan.
Di kampus Sastra Inggris, Rune yang sedari tadi mengomeli para siswa di kelasnya yang dianggapnya kurang pandai menjawab semua pertanyaan kuiz-nya tadi baru membanting pantatnya di kursi saat tiba-tiba terdengar bunyi getaran pelan.
Ugh... siapa yang mengirim SMS di jam mengajar seperti ini? pikirnya kesal. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas buku di mejanya hendak mematikannya. Tetapi kemudian nama pengirim SMS di layar membuatnya mengerutkan kening.
Ia membuka layarnya dan membaca SMS dari Vega.
[Terima kasih, Pak. Aku tak akan pernah melupakan kebaikan Bapak.]
Aha. Ternyata anak itu tahu terima kasih, pikir Rune dalam hati. Suasana hatinya seketika menjadi cerah.
Pelan-pelan bibir sang dosen galak melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman tipis yang seketika mengundang desahan tertahan dari para mahasiswa yang barusan mengalami omelan panjang pendeknya.
Astaga.. dosen galak kita tersenyum? Ada apa gerangan....
Mereka semua hanya bisa saling pandang dan bertanya diam-diam.
"Kalian nggak pada keluar kelas?" Rune mengangkat wajahnya dan menatap para mahasiswanya dengan pandangan ketus. "Pada bisa baca jam nggak, sih? Jam mata kuliah saya sudah selesai dua menit yang lalu waktu saya berhenti mengomel."
Tanpa disuruh dua kali, semua mahasiswanya buru-buru berdiri dari kursi masing-masing dan kabur keluar kelas sebelum mendapatkan omelan berikutnya.
"Gila! Gue juga tahu kalau jam mata kuliahnya sudah selesai, tapi mana mungkin kan kita cabut begitu saja waktu dia masih sewot begitu," tukas salah seorang mahasiswa Rune yang baru keluar kelas. "Nanti kalau kita keluar sebelum dia keluar, bisa-bisa kita diomeli lagi dan dikasih tugas tambahan yang bertumpuk."
"Eh, tapi lu tadi lihat nggak si Pak Sadis Wijaya itu senyum-senyum waktu baca SMS di kelas? Kayaknya dia happy banget gitu," kata mahasiswa yang lain. "Kira-kira itu SMS dari siapa ya?'
"Yah, dari ceweknya lah. Dari siapa lagi? Gue kan cowok. Gue tahu lah, tipe-tipe kayak Pak Sadis itu, dia cuma bisa jinak sama cewek yang dia sukai. Makanya tadi tahu-tahu sikapnya menjadi manis gitu."
"Manis? Kita diomelin sebagai orang yang pada nggak bisa baca jam katanya. Situ waras? Kalo kayak tadi itu lu bilang sikapnya manis, berarti lu ini udah rusak mentalnya sampai nggak bisa membedakan mana siksaan batin mana sikap yang manis."
Terdengar derai tawa para mahasiswa yang membicarakan Rune di kelas di belakang mereka. Sementara itu, dosen yang menjadi bahan gosip mereka sedang membaca ulang SMS di ponselnya dan mengetuk-ketukkan jarinya di meja, berusaha memikirkan jawaban yang pas untuk SMS Vega.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengetik sesuatu.
Vega baru selesai mencuci mukanya agar bersih dari bekas-bekas tangis. Ia tak ingin Tante Rosa, pemilik toko tempatnya bekerja sambilan nanti melihat bahwa ia habis menangis. Is kuatir nanti Tante Rosa akan menjadi kuatir dan mengira Vega sedang bersedih. Padahal.. air matanya ini adalah air mata kebahagiaan.
DING
Saat Vega sedang sibuk menyisir rambutnya dan mengenakan riasan tipis agar wajahnya terlihat segar, ia mendengar bunyi SMS masuk ke ponselnya. Ia menoleh ke samping dan menemukan layar ponselnya menyala. Dari nama pengirim ia melihat ada balasan SMS dari Rune.
[Benar ya? Awas kalau kamu lupa sama saya.]
Vega memijat keningnya saat membaca SMS balasan dari Rune. Memang tipikal Rune, pikirnya.
Orang lain biasanya akan menjawab ucapan terima kasih Vega dengan balasan, "Sama-sama" atau "Saya senang bisa membantu kamu" atau "Tidak usah berterima kasih. Kamu kan bekerja keras", tetapi Rune justru menagih komitmen Vega untuk tidak pernah melupakan kebaikannya.
***
Vega sedang sibuk mengetik beberapa laporan yang diminta Rune di laptopnya sehingga ia tidak memperhatikan seorang pelangga n masuk ke dalam toko dan berdiri di depannya, menatap gadis itu dengan penuh perhatian.
"Ehh... selamat sore, Pak. Ada perlu apa, ya?" Ketika terdengar suara Tante Rosa dari arah pintu, barulah Vega mengangkat wajahnya dari laptop. Ia ingin tahu siapa gerangan orang yang ditegur oleh sang pemilik toko.
"Eh..?" Gadis itu tersentak kaget ketika menyadari siapa laki-laki yang berdiri di depannya. Tanpa sadar ia menutup laptopnya dan menekap bibir.
"Kamu kenal saya?" tanya laki-laki separuh baya yang masih terlihat tampan itu. Ia tersenyum melihat Vega dan sikapnya tampak sangat ramah.
"O-om..." Vega menjawab terbata-bata. Ia langsung mengenali Ayah Altair yang waktu itu datang kemari bersama kakak kelas Vega itu. "Selamat sore."
"Kamu kenal, Vega?" tanya Tante Rosa keheranan.
"Ini anak kenalan saya, Bu," kata ayah Altair kepada Tante Rosa sambil mengulurkan tangnnya. "Saya berteman dengan ibu Vega."
Tante Rosa menjabat tangan laki-laki itu sambil balas tersenyum. Vega keheranan karena ternyata laki-laki itu tahu namanya. Tahu dari mana?
"Wah.. saya senang bisa bertemu teman orang tuanya Vega. Silakan lho, Pak, kalau mau mengajak Vega mengobrol. Kebetulan jam kerja Vega sudah selesai," kata Tante Rosa dengan ramah. Ia lalu berjalan ke balik meja kasir dan segera menghalau Vega. "Itu ada teman orang tua kamu, sebaiknya ditemani dulu. Tugas kamu kan sudah selesai? Biar Tante yang nungguin toko sampai Dina datang."
Vega hanya bisa mengangguk dan membereskan tas dan laptopnya. Ia memang sudah harus pulang dan belajar untuk ujian semester.
"Terima kasih, Tante."
"Ada kafe atau tempat yang enak untuk ngobrol di sekitar sini?" tanya ayah Altair setelah melihat Vega selesai membereskan barang-barangnya. Gadis itu mengangguk.
"Ada di sebelah sana, Om."
"Ayo kita kesana. Om sangat ingin mengobrol dengan kamu."
Vega memandu jalan dan membawa pria itu ke sebuah kedai kopi kecil di ujung kompleks pertokoan tempatnya bekerja. Karena sudah sore, tidak banyak orang yang menongkrong di sana sehingga mereka dapat menemukan meja yang nyaman dan privasi.