Karena Rune sudah memberinya kepercayaan, Vega tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera pulang dari kampus dan bergegas ke toko dengan netbooknya. Netbook ini adalah hadiah patungan dari teman-teman sekelasnya di SMA saat ulang tahunnya yang lalu.
Mereka tahu Vega tidak memiliki keluarga dan akan berjuang keras untuk bisa meneruskan kuliahnya, karena itulah mereka patungan uang untuk membelikan netbook agar gadis itu dapat mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dengan baik untuk memperoleh nilai yang bagus demi memperoleh beasiswa. Saat ia menerima hadiah itu, Vega merasa sangat terharu.
Ia beruntung karena toko tempatnya bekerja memiliki fasilitas Wi-Fi gratis. Ia sering mengerjakan tugas kuliahnya di sana. Toko ini sengaja menyediakan Wi-Fi agar para p elanggan yang kebanyakan anak muda mau singgah di sana lebih lama.
Mereka juga menyediakan beberapa meja dan kursi di teras toko agar mereka dapat nongkrong dan mengobrol bersama teman-temannya sambil menikmati kopi, jus, atau mie instant yang dijual toko.
Dengan giat Vega membuka browser penjelajah dan mencari semua informasi yang diminta Rune. Ia masih tidak mengerti kenapa seorang dosen Sastra Inggris membutuhkan informasi tentang supplier perabotan rotan.
Apakah ini bagian dari penelitiannya? Atau jangan-jangan dia sebenarnya punya bisnis sambilan berjualan perabotan?
Ahh.. mengherankan sekali.
Sebenarnya Vega sangat penasaran, tetapi ia tidak berani bertanya. Ia ingat Rune mengatakan bahwa peraturan pertamanya adalah 'Jangan banyak cingcong'. Ia akan menyimpan sendiri semua pertanyaannya, walau bagaimanapun ia penasaran.
TRING
Pintu toko terbuka dengan bunyi bel yang biasanya. Vega buru-buru mengangkat wajah dari netbooknya dan menyapa pembali yang baru masuk.
"Selamat datang. Selamat siang, silakan berbelan-" Kata-katanya terhenti di udara. Ia telah melihat siapa orang yang datang dan seketika tubuhnya membeku.
Itu.. Altair, kan?
Pemuda itu terlihat jauh lebih tampan dengan penampilan urakan begini. Hari ini ia mengenakan jeans sobek-sobek, kaos hitam ditutupi kemeja flanel lusuh bermotif kotak-kotak dan sepatu boot. Setidaknya di kampus ia terpaksa harus memakai pakaian yang lebih rapi karena tuntutan dosen-dosen. Tetapi di luar kampus ia bisa berpenampilan sesukanya.
Entah kenapa, dengan pakaian yang serba lusuh, ketampanannya malah terlihat semakin kontras. Dalam hati Vega hanya bisa memuji pemuda itu.
Ah, Felicity memang beruntung sekali, pikirnya.
Altair rupanya telah melihat Vega. Ia mengerutkan keningnya dan terdiam di tempat. Vega yang mengira pemuda itu tidak ingat kepadanya, tiba-tiba menjadi canggung. Apakah sebenarnya Altair ingat pernah memboncengnya naik motor saat ia terlambat masuk kuliah?
Ia merasa tidak sopan kalau tidak menyapa Altair. Apalagi ia berutang budi telah dibonceng ke kampus waktu itu, menyelamatkannya dari omelan Miss Perfect.
"Se-selamat siang." Vega buru-buru berdiri dan membungkuk sedikit. "Terima kasih waktu itu Kakak sudah memboncengku."
Altair hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa. Ia juga tampak menjadi canggung dan hendak membatalkan niatnya membeli sesuatu dan berbalik ke arah pintu.
Vega seketika merasa tidak enak. Apakah ia melakukan kesalahan? Kenapa sepertinya Altair tidak menyukainya?
TRING
Belum sempat ia memanggil Altair, tiba-tiba pintu toko terbuka dan masuklah seorang lelaki setengah baya yang berpakaian sangat rapi.
"Hei.. kau lupa membawa ponsel. Tadi Ayah hendak meminta sekalian kau belikan lozenges untuk meredakan sakit tenggorokan," kata pria itu sambil menepuk bahu Altair.
Wajah Altair tiba-tiba menjadi pucat dan tanpa sengaja ia menoleh ke arah Vega yang keheranan.
Ayah?
Vega terpana.
Apakah laki-laki yang baru datang ini adalah ayah Altair?
Jantungnya seketika berdetak lebih kencang.
Ini kan.. kekasih ibu dulu?
Apakah ia tidak salah mendengar?
Laki-laki itu mengerutkan keningnya melihat sikap Altair yang seketika menjadi aneh. Ia lalu melayangkan pandangannya mengikuti arah mata Altair. Saat ia melihat Vega seketika laki-laki setengah baya itu terpaku.
"Ayah, aku ketinggalan ponsel dan mau mengambilnya ke mobil. Ayah kembali ke mobil saja, biar aku belikan lozenges-nya," kata Altair cepat sambil menarik bahu ayahnya.
Sial. Ia tidak mengira saat tadi berhenti di toko ini untuk membeli minuman dan obat batuk, ternyata penjaga tokonya adalah Vega.
Tentu saja ia tidak melupakan gadis itu! Bagaimana bisa ia lupa? Ia melihat gadis itu di mana-mana saat ia berada di kampus. Ia melihat Vega di kantin, di perpustakaan, berpapasan di gedung kuliah.. Aarggh!
Ia sangat membenci gadis ini.
Secara refleks ia segera keluar toko untuk membatalkan berbelanja di sini karena ia tidak menyukai Vega. Tetapi sekarang, malah ayahnya yang tidak sabaran menyusul ke dalam.
"Selamat datang. Selamat siang. Silakan berbelanja," kata Vega cepat sambil membungkuk ke arah ayah Altair.
Ia tidak mengerti kenapa pria itu tampak terpesona menatapnya lekat-lekat. Tanpa sadar Vega meraba pipinya.
Apakah ada sesuatu di wajahnya?
Pria itu melepaskan tangan Altair dari bahunya dan berjalan menghampiri Vega dengan wajah dipenuhi keharuan.
"Ayah...!" Altair berbalik dan memanggil ayahnya. "Aku mau pulang sekarang."
Ayahnya menatap Altair keheranan. Wajah anaknya yang tampak tidak nyaman justru membuatnya merasa curiga. Kenapa Altair bersikap aneh begini?
Vega merasa tidak enak. Ia seketika merasa bahwa Altair tidak menyukainya.
Ah.. apakah
Apakah Altair juga tahu masalah perjodohan itu?
Ia menggigit bibir. Vega baru sadar bahwa sikap Altair yang aneh ini pasti karena ia tak mau ayahnya bertemu Vega.
Mungkin ia takut ayahnya memaksanya untuk dijodohkan dengan Vega, padahal ia sudah memiliki kekasih, Felicity.
Vega hanya bisa mengurut d**a. Ia memang kalah segala-galanya dari Felicity. Gadis itu lebih cantik, indo, dari keluarga sangat kaya, dan berprofesi sebagai model terkenal. Vega hanya seorang SPG dan penjaga toko yang harus berjuang setengah mati agar bisa melanjutkan kuliahnya.
Ekspresi Altair tampak benar-benar kesal dan akhirnya ayahnya mengangguk. Ia berjalan menghampiri anaknya dan mereka pun keluar lewat pintu. Vega hanya bisa memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.
Ia tak tahu mengapa Altair sangat membencinya. Ia juga tidak sempat menyapa ayah Altair. Ah.. sekarang ia bisa mengerti kenapa ibunya dulu sangat mencintai lelaki itu.
Ibunya dan ayah Altair tumbuh bersama. Mereka memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Dari penampilannya, Vega dapat melihat tentu pria itu dulu sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan Altair sekarang. Ia juga terlihat sabar dan baik hati.
Vega berpikir begini bukan karena ia tidak menyayangi ayahnya. Tentu saja kalau ibunya jadi menikah dengan cinta pertamanya, Vega tidak akan terlahir ke dunia ini. Vega menyayangi ayahnya dan bersyukur ia dilahirkan dalam keluarga mereka.
Ia tidak dapat mengetahui pasti apakah ibu dan ayahnya saling mencintai setelah menikah bertahun-tahun akibat dijodohkan. Ia hanya bersama mereka hingga usianya delapan tahun. Mereka direnggut darinya dengan terlalu cepat.
Akhirnya ia berusaha menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Vega kembali menekuni laptopnya dan mencari informasi lagi tentang supplier perabotan rotan di Indonesia. Dengan rajin ia mengumpulkan semua informasi tersebut dan mengaturnya dalam tabel excel yang rapi.
Setelah mendapatkan lebih dari seratus data, ia lalu mengirimkan file excel tersebut ke email Rune.
Beres!
[Terima kasih. Kamu kerjanya cepat sekali, ya. Saya pikir kamu bakal perlu waktu semingguan untuk mengumpulkan datanya.] komentar Rune lewat SMS.
[Saya tidak mau mengecewakan Bapak.] balas Vega.
Ia memang bekerja keras tiga hari untuk menyelesaikan tugas itu. Ia benar-benar ingin memberikan kesan yang bagus kepada Rune yang telah memberinya kepercayaan itu.
[Kalau begitu sesudah ini, kamu teleponin satu-satu semua kontak supplier ini dan minta mereka mengirimkan katalog produk mereka. Bulan depan klien saya akan datang ke Indonesia untuk mencari supplier produk rotan untuk diekspor ke Eropa. Mereka perlu katalog produk terbaik dengan harga bersaing. Tanyakan juga apakah mereka memberikan diskon borongan, dan apakah ada pengaturan khusus kalau klien memberikan desain produk untuk mereka kerjakan dan diekspor.]
Vega menatap ponselnya dengan kebingungan. Sebenarnya Rune ini dosen Sastra Inggris atau bukan sih? Kenapa ia mengurusi ekspor perabotan rotan dan punya klien dari Eropa?
Belum sempat ia membalas, SMS berikutnya dari Rune telah masuk ke ponselnya.
[Jangan lupa hitung berapa jam kerja kamu. Nanti kelebihan jam kerja akan saya hitung sebagai overtime/lembur dan kamu bisa mendapatkan uang lebih. Oh, ya, kamu juga tolong kirimkan nomor rekening kamu. Saya mau transfer uang untuk biaya telepon, wifi dan lain-lain.]
Eh?
Vega benar-benar keheranan. Ia baru hendak mengomel karena Rune menyuruhnya menelepon para pengusaha rotan tersebut, sebab biaya pulsa untuk menelepon bisa menjadi sangat mahal. ternyata Rune seolah membaca pikirannya dan hendak mengirim uang.
[Baik, Pak.]
Vega menarik napas lega. Ia buru-buru mengirimkan nomor rekeningnya. Tidak lama kemudian ada SMS pemberitahuan transfer i-banking masuk ke ponselnya.
Rune barusan telah mentransfernya uang senilai satu juta rupiah. Uhmm... bukankah ini terlalu banyak? pikir Vega keheranan.
Ia hendak mengirim SMS lagi kepada Rune, menanyakan apakah sang dosen salah transfer ketika masuk lagi SMS dari Rune ke ponsel Vega.
[Nanti kamu simpan semua kwitansi pengeluaran dan kasi laporannya ke saya di akhir bulan.]
Uhmm.. baiklah kalau begitu.
[Baik, Pak. Terima kasih.] Vega hanya bisa membalas seperti itu.
Ia lalu membuat file excel baru dan membuat tabel untuk membuat catatan hasil teleponnya nanti. Ia akan memberi tanda mana-mana perusahaan yang sudah ia telepon, mana yang memberikan katalog, memiliki fleksibilitas harga, dan lain-lain, tidak lupa sekalian nama contact personnya.
Ah.. sekarang sudah malam, sebaiknya ia mengerjakan hal lain. Tidak mungkin ia menelepon orang-orang itu di kantor. Pasti mereka sudah pulang ke rumah.
***
Hari-hari Vega disibukkan dengan kuliah dan bekerja membantu Rune. Ia masih mempunyai simpanan uang sedikit sehingga pikirannya tidak terlalu dipusingkan oleh biaya hidup seperti bulan lalu.
Rune juga sudah mengatakan bahwa ia akan membayar gaji pertama Vega di awal bulan, senilai prorata berdasarkan berapa jam ia telah bekerja. Vega menghitung-hitung bahwa dalam waktu 2,5 minggu ini ia telah bekerja hampir selama 40 jam. Itu berarti ia berhak mendapatkan gaji 1,5 juta rupiah.
Ia juga masih mendapatkan gaji dari toko senilai yang sama. Dengan begitu, di awal bulan, rekeningnya akan bertambah senilai total 3 juta rupiah. Setelah membayar uang kos dan biaya lainnya, ia masih memperoleh 2 juta rupiah. Ia akan membutuhkan 1 juta rupiah untuk makan, ongkos bus kota ke kampus, dan membeli keperluan pribadi.
Ahhhh... ia masih akan mempunyai sisa tabungan satu juta rupiah! Vega selama ini telah hidup dengan sangat hemat, tetapi uang yang diperolehnya memang tidak pernah cukup. Baru sekarang ia memiliki cukup uang dari dua pekerjaan sambilannya. Ia merasa sangat lega.