TUT TUT
Vega kaget karena ternyata Rune meneleponnya balik. Gadis itu sampai gemetaran melihat layar ponselnya. Ini kan sudah tengah malam?
Ia mengaku salah tadi sudah membangunkan macan tidur dengan tidak sengaja... Ia sangat kelelahan setelah bekerja seharian sebagai SPG dan melalui perjalanan darat berjam-jam. Ia juga tidak mengetahui nomor telepon itu adalah nomor sang dosen.
Selama sepuluh detik Vega hanya memandangi ponselnya dengan d**a berdebar-debar, tidak dapat memutuskan. Akhirnya setelah deringan ke-12, gadis itu memencet tombol terima panggilan.
"Ha... hallo, Pak..." Vega sudah siap dimarahi si dosen galak dan berusaha memberanikan diri untuk menyapa Rune. "Maaf, tadi saya mengganggu Bapak.. Saya tidak tahu ini nomor Bapak. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Hmm..." Hanya terdengar suara Rune mendeham di ujung sana, membuat Vega semakin bingung.
"Saya juga minta maaf tadi sudah tidak sopan dan mematikan telepon," kata Vega lagi.
"Baguslah kalau kamu tahu kamu salah," komentar Rune akhirnya. "Kamu kenapa sudah dua kali tidak masuk kelas saya?"
Vega merasa tidak enak. Ia sadar bahwa Rune si dosen judes sebenarnya pasti sangat perhatian kepada mahasiswanya, hingga menyadari bahwa Vega tidak masuk kelasnya selama dua minggu berturut-turut.
"Saya ada keperluan mendesak, Pak. Saya berjanji tidak akan bolos lagi," kata Vega akhirnya. "Saya minta maaf."
"Kamu kan bisa bilang kepada saya kalau memang ada keperluan darurat. Saya bukan orang yang nggak punya hati," kata Rune lagi. "Saya nggak suka kalau mahasiswa saya berbohong dengan menitip absen."
"Saya mengaku salah, Pak. Saya tidak akan menitip absen lagi," Vega mendesah lega. Rune ternyata tidak marah-marah dan mengomelinya seperti yang ia duga.
"Oke, sampai kapan keperluan mendesak kamu ini? Kapan kamu bisa masuk kuliah lagi?" tanya Rune, kali ini suaranya terdengar sangat sabar. Nada kantuknya sudah hilang.
"Hmm... besok kerja ke Karawang dan Cikarang, setelah itu selesai..." gumam Vega sambil mengingat-ingat jadwalnya. Ia tidak sadar suaranya terdengar oleh Rune.
"Kamu kerja?" Terdengar suara Rune menyela di ujung sana, membuat Vega kaget setengah mati. "Jadi kamu kerja selama ini sehingga tidak bisa masuk kelas?"
"Eh...? Aduh..." Vega kembali secara spontan memencet tombol matikan panggilan. Ia sangat kaget mendengar kata-kata Rune. Astaga...! Apa yang barusan terjadi?
Gadis itu menepuk-nepuk pipinya dengan kalut. Mengapa ia tadi ceroboh sekali? Sekarang Rune pasti akan tahu bahwa ia bolos kuliah untuk bekerja...
Sungguh memalukan!
Vega menatap ponselnya dan bersiap menunggu Rune meneleponnya lagi dan mengomel. Hatinya terasa deg-degan dan pikirannya memusing. Mengapa ia sial sekali hari ini?
Tubuhnya terasa sangat lelah dan ia mengantuk, tetapi ia tidak akan bisa tidur karena memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Namun, anehnya, telepon yang ditunggu-tunggunya tidak juga datang. Ponselnya tetap hening. Vega merasa keheranan dan memeriksa apakah ponselnya memiliki sinyal atau tidak. Hmm.. semua baik-baik saja.
Apakah Rune tidak bisa meneleponnya kembali karena ia kehabisan baterai atau tidak ada sinyal? Apa yang harus kulakukan? pikir Vega bingung. Ia baru saja meminta maaf kepada Rune karena telah berlaku tidak sopan dengan memutuskan teleponnya begitu saja, namun tidak lama kemudian ia justru mengulanginya.
Apakah aku harus meneleponnya lagi dan meminta maaf?
Setelah bergumul dengan dirinya sendiri selama beberapa saat, akhirnya Vega menyerah dan memutuskan untuk menelepon Rune kembali dan meminta maaf.
Namun, belum sempat ia memencet tombol panggilan, tiba-tiba masuk SMS dari nomor Rune.
[Kamu pasti capek. Selamat tidur. Jangan lupa besok tanya Rara tentang tugas-tugas kuliah.]
Vega tercengang membaca SMS bernada pengertian dari Rune di layar ponselnya. Ini benar-benar dikirim oleh Pak Rune, kan?
Kenapa dia tidak mengomel?
Vega menarik napas lega dan segera membalas SMS Rune.
[Terima kasih, Pak.]
Setelah memencet tombol KIRIM, akhirnya gadis itu menaruh ponselnya ke dalam tas dan membaringkan dirinya di tempat tidur. Ia harus segera memejamkan mata dan tidur. Sekarang ia hanya punya waktu beristirahat empat jam kurang sedikit sebelum ia harus bangun untuk bersiap pergi ke tempat kerja.
Tinggal dua hari lagi, dan ia akan mendapatkan 1,5 juta untuk biaya hidup dan kuliah dari pekerjaannya sebagai SPG kali ini.
Ah... ia berterima kasih karena Rune ternyata tidak mencecarnya. Malam ini Vega dapat beristirahat dengan lega.
***
Vega sangat bahagia ketika menerima uang tunai 1,5 juta rupiah sebagai upah pekerjaannya selama 10 hari keliling dengan agensi Jaya. Bu Dina juga mengatakan bahwa mereka menyukai pekerjaannya dan akan memanggil Vega untuk proyek-proyek lainnya kalau mereka membutuhkan SPG.
Dengan hati lapang dan langkah kaki ringan, Vega segera naik angkot ke ATM terdekat untuk memasukkan uangnya ke dalam rekening. Karena sangat gembira, tanpa sadar ia bersenandung. Besok hari senin, ia sudah bisa kembali berangkat kuliah karena ia sudah punya ongkos. Vega gembira sekali.
Ia juga sudah meminta daftar tugas dari Rara dan menghabiskan sepanjang hari di toko sambil mengerjakan tugas-tugas dari dosen selama ia bolos. Ada dua mata kuliahnya yang benar-benar kritis dan tidak bisa bolos lagi karena ia sudah menghabiskan jatah absen tiga kali.
Vega berharap tidak akan ada proyek di hari mata kuliah tersebut. Ia tidak tahu apakah nanti ia akan terpaksa memilih mencari uang atau sekolah.
"Duhhh.. Vega, kamu harus berhasil mendapatkan nilai-nilai bagus untuk semester ini biar semester depan bisa mengajukan beasiswa..." omelnya kepada diri sendiri.
***
Ketika Vega kembali masuk ke kelasnya, Rune tampak sama sekali tidak acuh. Ia bersikap seolah tidak ada apa-apa. Tadinya Vega sudah siap dimarahi dan diomeli habis-habisan, tetapi ternyata Rune malah sibuk memberikan tugas kepada mereka semua.
"Oh, ya... saya butuh asisten untuk mengumpulkan beberapa bahan riset saya. Yang berminat bisa menghubungi saya di kantor dosen," kata Rune tiba-tiba sebelum beranjak keluar dari kelas. Ia menyipitkan mata dan meihat berkeliling kepada para mahasiswanya. "Ini murni kerja part time, ya. Saya nggak akan memberi keringanan nilai untuk tugas dan ujian kalian kalau kalian menjadi asisten saya."
Ia pun pergi.
Mahasiswa di kelas yang baru ditinggalkannya saling pandang. Rune menawarkan pekerjaan sebagai asistennya...
Tetapi ia sama sekali tidak memberi kompensasi dengan keringanan nilai... Jadi rasanya percuma saja, kecuali kalau mereka memang membutuhkan pekerjaan itu untuk mendapatkan uang.
Vega tertegun di tempatnya. Ia berusaha menduga-duga apa maksud Rune menawarkan pekerjaan barusan. Apakah Rune sengaja untuk menolong Vega dengan menawarinya pekerjaan agar ia tidak usah bolos kuliah lagi? Tetapi, memang tipikal Rune yang tidak mau melakukannya terus-terang, ia justru mengumumkannya ke seluruh kelas.
"Heii, Vega.. ke kantin, yuk," kata Rara yang duduk di samping Vega sambil menggamit bahunya. "Eh, kok melamun? Kamu mikirin apa?"
Vega segera tergugah dari lamunannya. Ia menggeleng dan segera membereskan bukunya.
"Aku nanti menyusul ke kantin, Ra. Ada urusan dulu."
Setelah berkata demikian, Vega segera berlari keluar kelas dan menyusul Rune yang belum jauh meninggalkan Gedung C. Ia berhasil menyusul Rune tepat sebelum pria itu masuk ke perpustakaan.
"Permisi, Pak... Tunggu sebentar." Vega menahan lengan Rune dan mengagetkan sang dosen yang langsung menghentikan langkahnya.
Ia mendelik dan menoleh ke arah tangan Vega yang sedang menahan lengannya. Gadis itu masih tidak sadar akan perbuatannya, terus saja berbicara. "Pak.. apa persyaratannya untuk menjadi asisten Bapak itu?"
Rune menatap Vega dengan pandangan penuh selidik. "Kamu mau menjadi asisten saya?"
Vega mengangguk. "Saya perlu uangnya. Saya akan bekerja keras."
Vega sudah biasa untuk mengesampingkan harga dirinya sejak lama. Ia memang membutuhkan uang dan tidak segan melakukan pekerjaan apa pun asalkan ia bisa memperoleh uang halal.
"Syaratnya hanya dua: tidak banyak cingcong dan rajin."
"Saya bisa, Pak." Vega menatap Rune dengan sungguh-sungguh. "Bapak juga bisa memberi saya percobaan. Kalau pekerjaan saya tidak memuaskan selama seminggu pertama, Bapak bisa memecat saya. Tidak usah dibayar."
"Yah, siapa juga yang mau bayar kamu kalau pekerjaanmu tidak memuaskan?" Rune memutar matanya. Ia lalu menunjuk tangan Vega yang masih mencengkram lengannya. "Kamu bisa lepasin tangan saya?"
Saat itu juga Vega tersentak dan mundur selangkah. Ia buru-buru melepaskan lengan Rune dari cengkramannya.
"Eh.. aduh, maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
Rune mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke tangan Fee. "Saya butuh semua informasi yang ada di dalam kertas ini. Kamu akan mengerjakannya 10 jam dalam seminggu dan saya bisa bayar kamu 1,5 juta."
Vega tertegun mendengar kata-kata Rune. Bekerja 10 jam dalam seminggu artinya sama dengan bekerja 1/4 full time, karena rata-rata karyawan bekerja 40 jam dalam seminggu, tetapi Rune membayarnya 1,5 juta. Itu berarti Rune menganggap pekerjaan full time sebagai asistennya akan mendapatkan gaji 6 juta.
Ini besar sekali...
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak." Vega membungkuk dalam-dalam dan kemudian berbalik meninggalkan Rune sambil membawa kertasnya.
Ia segera meneliti isi kertas di tangannya dan mengerutkan kening keheranan. Isinya adalah beberapa keywords yang ia rasa tidak ada hubungannya dengan kuliah Sastra Inggris.
Supplier produk perabotan rotan?
Apakah Rune punya bisnis sampingan selain mengajar?
Sebenarnya Vega ingin berbalik dan menanyakan kepada Rune apa maksud tugasnya ini, tetapi ia segera ingat syarat pertama dari Rune yaitu tidak boleh banyak cingcong...
Akhirnya ia memutuskan untuk tidak banyak bertanya dan langsung mengerjakan tugasnya nanti setelah pulang dari kampus.