i********: @im_yourput
***
Mendengar nama Pangeran Jake yang saat ini akan mengunjunginya, membuat Zuna jadi kelabakan sendiri. Bagaimana tidak, sekarang Zuna sedang asyik menonton televisi yang menampilkan kartun busa kesayangannya. Sayang, Zuna harus segera merapikan tempatnya yang sudah berantakan.
Zuna mendengus karena merasa tidak mungkin baginya untuknya membereskan hal ini sesegera mungkin. Karena menyerah dengan kamarnya, Zuna akhirnya masuk kedalam selimut dan berusaha terlihat lemah lunglai.
Ceklek!
Pintu terbuka dan nampaklah Jake yang kini masuk tanpa ekspresi. Ditemani Kei yang menanti di depan ruangan, Zuna.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jake ketika melihat Zuna yang menutup diri dengan selimut.
"Menurutmu? Aku sedang sakit sekarang, jadi tolong jangan ganggu aku dulu."
Jake menarik satu sudut bibirnya tanpa Zuna ketahui. Tidak tau saja dia, kalau sekarang Jake mengetahui akting yang di buat Zuna.
"Kamu pasti bertemu dengan, Permaisuri Rene ya?" Tebak Jake.
Zuna mendadak gugup dan sedikit membuka selimut yang sempat menutup wajahnya. Wanita itu akhirnya menyerah dan kini melirik Jake dengan takut.
"Iya ... Maafkan aku karena telah membohongi ibu tirimu itu. Maaf saja, aku tidak ingin disiksa lagi, jadi biarkan aku memainkan peranku dengan baik."
Ketika Zuna selesai mengatakan isi hatinya, dia segera melirik Jake yang tersenyum tipis. Hal itu membuat Zuna mengedipkan matanya beberapa kali. Dia merasa, Jake terlihat sedikit lebih tampan. Apa hanya perasaan Zuna saja?
"Tidak, aku tidak akan marah. Lagipula pilihanmu untuk bertahan dari serangannya cukup bagus. Lai. Kali, sepertinya kamu harus mengajarkanku."
Zuna segera memperbaiki posisinya menjadi duduk, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tersenyum penuh bangga kearah, Jake.
"Oh tentu! Kau tidak akan pernah menyesal karena mengajakku bekerjasama."
Jake menarik satu sudut bibirnya, "Baik, karena kamu hanya berpura-pura, hal itu bisa saja menjadi perbincangan satu istana saat ini. Jangan pernah keluar kamar dan aku akan memanggilkan Dokter untuk memeriksamu."
Zuna hendak protes, namun nyalinya ciut begitu melihat tatapan tegas dari wajah Jake. Sangat mirip pemeran antagonis yang berada di Novel atau drama televisi.
Setelah Jake keluar dari ruangan, Zuna. Wanita itu segera bangkit dan mengambil lilin aromaterapi yang disediakan di dalam kamar mandi.
Zuna harus mengoptimalkan aktingnya, siapa tau Jake akan memberinya bonus lebih besar daripada ini. Zuna begitu memimpikan uang banyak berada di dalam genggamannya.
Wanita itu berbaring setelah mendengar suara ketukan pintu dan pemberitahuan dari penjaga. Zuna bahkan memucatkan bibirnya dan membuat keringat palsu setelah tadi berlarian di dalam ruangan.
Tak disangka dokter datang bersama dengan Ibu Suri. Zuna kira hanya ada dokter, tapi ... Ibu suri juga ikut.
"Oh Tuhan! Cucu menantu ku, ada apa denganmu?" Tanya Ibu suri yang terlihat khawatir dan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang.
Zuna menarik kedua sudut bibirnya dengan pelan, "Ya-yang mulia, maafkan saya karena tidak bisa memberi salam dengan benar." Zuna mengangguk hormat.
"Anak bodoh! Jangan membuat aku semakin khawatir. Dokter, cepat periksa keadaannya."
Zuna kembali memasang ekspresi lemas. Bibirnya tersenyum pucat, ketika stetoskop itu bergerak di bagian perutnya. Beruntung dokter itu adalah dokter wanita, Zuna merasa geli ketika rambatan stetoskop itu mulai naik keatas perut.
"Bagaimana?"
"Sejauh ini tidak ada yang salah, mungkin Putri Mahkota sedang kelelahan. Hal itu bisa membuat kondisi tubuhnya drop."
Setelah dokter tersebut keluar, Zuna bisa menghela nafas lega. Namun tidak secepat itu, karena Ibu suri kembali masuk dan memberikan wejangan padanya.
"Jaga kesehatanmu, karena sebentar lagi pernikahan kalian akan disaksikan oleh seluruh negeri. Disaat pernikhaan itu sudah di sahkan, maka statusmu akan semakin resmi."
Zuna menganggukan kepalanya pelan. Agak ngeri, mengingat dia akan menjadi penerus Ratu bagi kerajaan monarki yang ada di Negeri New Zembdee ini.
Tiba-tiba saja Zuna teringat, apa Kontraknya ini sampai dia menjadi Ratu, atau bagaimana? Zuna sendiri tidak tau sampai kapan hubungan sandiwara yang membawa tujuan pernikahan ini selesai.
"Tidak, jangan pikirkan hal itu. Tunggu keputusan yang Mulia Jake yang terhormat. Aku tidak boleh gegabah," monolognya sebelum kembali bergelung dibalik selimut.
***
"Aw!"
Zuna meringis ketika perancang busana sedang menaikan resleting untuk gaunnya. Rencananya, Gaun pengantin untuk Zuna ada empat pasang.
Satu untuk pemberkatan, satu untuk acara resmi kerajaan, satu untuk parade di sepanjang jalan, dan yang terakhir untuk pesta dimalam hari. Berat badan Zuna naik akhir-akhir ini, makanya saat perancang busana hendak memantaskan gaun, Zuna malah kesusahan.
"Sepertinya anda banyak makan akhir-akhir ini, Yang mulia."
Zuna mendengus, "Iya, jadi tolong pikirkan cara agar gaun ini terlihat muat untukku."
Perancang busana itu tersenyum, dan melepaskan gaun itu dari Zuna. Saat ini, Zuna hanya mengenakan pakaian dalam dan celana pendek.
"Tunggu sebentar, saya punya sebuah gaun yang akan serasi dengan Pangeran Mahkota."
Zuna mengangguk, ketika sang perancang busana sedang pergi. Zuna menghela nafas lelah. Akhirnya hari yang panjang akan tiba saat ini juga. Zuna tidak pernah menyangka sebelumnya, memilih gaun akan membuat pikirannya terguncang.
Tak lama Perancang busana itu membawakan sebuah gaun berwarna pink rose yang indah. Zuna bahkan sampai kagum dan melangkah lebih dekat kearah gaun tersebut.
"Cantik," gumam Zuna tanpa sadar.
Perancang busana itu tersenyum, "Anda benar, gaun ini adalah gaun yang cocok untuk anda. Sepertinya Pangeran Mahkota harus merubah setelannya agar tampil serasi dengan anda."
Zuna mendengus, peduli setan dengan Pangeran Jake. Lebih baik biarkan Zuna mengenakan pakaian yang tampak cantik ini.
Jari-jari lentik itu terlihat indah ketika dimainkan. Ketika Zuna berbalik dan menghadap kepada kaca. Dia tersenyum, gaun yang dia kenakan memang sangat indah.
"Ah, rasanya aku ingin segera mengenakan gaun ini. Apa boleh?" Tanya Zuna dengan bibir mengerucut.
"Tentu saja, Anda boleh mengenakannya saat pesta tiba."
"Baik sekarang biarkan yang mulia pangeran melihat gaun anda."
Zuna mengernyit, "Dia ada disini?"
Perancang busana itu tersenyum dan mengangguk, "Itu benar Yang mulia, pangeran Mahkota sudah tiba sejak lima belas menit yang lalu."
Zuna mendengus, dia kira Jake tidak akan kesini. Tidak disangka, pria itu malah sudah lebih dulu berada disini dan mengganggu ketenangan dirinya.
"Baik, antarkan aku menemuinya."
Tirai terbuka dan kini Pangeran Jake segera berbalik untuk melihat Zuna. Tatapan mereka bertemu dalam sebuah makna berbeda. Manik mata mereka menunjukan kalau mereka sama-sama terkejut.
Kei berdehem, merusak tatapan yang terjalin selama sepuluh detik itu. Zuna tersenyum dan membungkuk hormat sebagai salam selamat datangnya. Diikuti oleh para staff dan perancang busana yang berada di ruangan khusus istana.
"Bagaimana dengan gaunku?" Zuna sengaja bertanya untuk menyadarkan pangeran Jake.
"Ah iya, maaf aku sedang tidak fokus."
Zuna menarik kedua sudut bibirnya keatas, "Tidak apa-apa, bagaimana kalau anda memujiku kali ini?"
Pangeran Jake berdehem pelan, kemudian mengangguk dengan penuh wibawa, "Bagus, gaun itu sangat cantik. Cocok untuk kamu kenakan."
Zuna membungkuk hormat, "Terimakasih atas pujiannya, anda juga terlihat tampan dengan setelan pink rose yang senada dengan gaun ini. Bagaimana? Apa kita sudah terlihat serasi?"
Kei menahan untuk tidak tertawa, apalagi melihat telinga Pangeran mahkota yang memerah mendengar pujian dari Zuna.
"Itu benar, anda terlihat sangat serasi."
Jake kembali berdehem, kemudian melirik kearah Kei, "Apa jadwalku hari ini?"
"Maaf aku cukup sibuk untuk mengurus masalah pernikahan dan kerajaan."
Zuna terkekeh, "Tidak apa-apa, saya tau bagaimana kesibukan anda."
Jujur, Pangeran Jake sedikit takjub ketika mendengar Zuna bertutur kata sopan dan lembut. Hampir saja dia masuk kedalam pesona seorang Zuna.
Zuna memang memiliki pesonanya sendiri. Sangat sulit untuk tidak lepas dari jeratan pesonanya.
Ingat apa yang menjadi tujuan dari pernikahan ini.