Ingat Zuna, kamu harus tau batasan. Setidaknya kata-kata Pangeran Jake kemarin membuat Zuna terus kepikiran. Tidak ada hal yang bisa mengganggu pikirannya seperti ucapan, Jake.
"Pria itu memang tidak pernah berkata sesuatu yang menenangkan," Zuna mengeluh.
Sudah lima belas menit lamanya Zuna berjalan mondar-mandir di depan Televisi. Ada hal yang membuatnya lebih gugup sekarang, memangnya apa yang bisa membuatnya tidak lebih gugup dari acara pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan.
Sebagai seorang gelandangan, yang kabur dari penyiksaan panti asuhan, seharusnya Zuna tidak boleh mengeluh. Terutama saat Tuhan memberikannya kesempatan untuk menikmati hidup.
"Ah, pikiranku memang benar! Aku tidak boleh berpikir terlalu keras dan mendalami peran sebagai istri Pangeran aneh itu. Lebih baik seperti ini, tetap pada kodratnya."
Setelah berhasil meyakinkan diri sendiri, Zuna segera kembali keatas ranjang dan berbaring. Dia harus segera tidur.
Zuna berdecak pelan, lagi-lagi dia teringat ucapan Pangeran aneh itu tentang tidur cepat. Zuna berharap semoga tidak ada perasaan yang timbul untuk Pangeran Jake. Karena Zuna tau, dia tidak boleh berharap pada pernikahan ini.
Ingat, Zuna hanya seorang gelandangan yang mendapat nasib baik dari Tuhan, untuk menikmati hidup seperti di negeri dongeng. Tidak ada alasan untuk menerima dengan hati, pernikahan hitam diatas putih ini.
"Semangat Zuna! Kamu pasti bisa melewati semuanya," ucapnya sebelum memejamkan mata dan mencari posisi nyaman untuk terlelap.
Setelah beristirahat yang cukup, Zuna bersiap-siap untuk mengenakan pakaian yang sudah disiapkan. Zuna harus bertemu dengan Jake sebelum pria itu pergi.
Ketika sarapan bersama mereka akhirnya bertemu. Setidaknya Zuna tidak perlu repot mencari Jake kemana-mana lagi.
"Yang mulia, anda mau kemana?" Tanya Zuna begitu melihat Jake beranjak dari tempatnya. Mereka berdua baru saja selesai sarapan.
Jake menatap Zuna dengan pandangan mengernyit, "Ada hal yang harus saya urus. Diamlah disini dan jangan berpikiran untuk pergi kemanapun."
Zuna menghela nafas, kalau tidak ada banyak maid dan penjaga disini dia bisa saja melemparkan Jake perkataan kasar. Tapi dia tau tempat, karena pria yang sekarang berdiri tak jauh darinya ini begitu menyebalkan.
Karena bosan tidak ada yang dikerjakan, Zuna memilih untuk pergi menyusuri paviliun lotus. Disana tidak ada larangan bagi Zuna untuk mencari ketenangan.
Para maid berlalu lalang melewatinya dengan hormat. Ternyata keadaan istana sedang sibuk, tapi Zuna sama sekali tidak merasa sedang sibuk.
"Ada apa ini?" Gumam Zuna pelan.
Zuna memberhentikan langkah salah satu maid karena penasaran, wanita itu bertanya dengan ekspresi heran.
"Menjawab yang mulia putri mahkota, pernikahan anda dengan pangeran Mahkota sebentar lagi dilaksanakan. Saat ini kami sedang sibuk mempersiapkannya."
Setelah mendengar jawaban itu, Zuna segera memberikan akses untuk maid itu pergi dan melaksanakan tugasnya. Tidak disangka, orang yang daritadi terlihat sibuk adalah para maid dan penjaga. Padahal yang akan menikah Zuna dan Jake.
"Apa benar besok aku akan menikah?" Zuna bergumam dan berjalan dengan langkah pelan.
Menyusuri paviliun lotus yang terlihat sangat cantik. Setiap pagar, Zuna akan melihat tanaman rambat yang memang sengaja dipajang disana. Zuna bisa melihat danau kecil yang indah juga.
"Sepertinya aku menginginkan, Paviliun lotus ini menjadi kediamanku."
"Yang Mulia!"
Zuna tersentak ketika mendengar panggilan salah satu maidnya. Dengan wajah kesal, Zuna mendekat kearah maidnya itu.
"Ada apa?"
"Yang mulia permaisuri mencari anda."
Zuna berdecak sebal, kenapa wanita itu datang disaat yang tidak tepat? Zuna hendak menenangkan diri sejenak, dan tidak ingin terganggu karena kehadirannya.
"Antar aku menemuinya."
Zuna melangkah dengan cepat untuk bertemu dengan Permaisuri Rene. Wanita yang galak dan tidak berperasaan, Zuna bahkan menjulukinya sebagai, Nenek sihir.
"Zuna memberi salam pada yang mulia." Zuna membungkuk sopan kemudian menatap Permaisuri Rene dengan tatapan bertanya.
"Ada perihal apa, yang membuat permaisuri Rene datang mencari saya?" Tanya Zuna sopan.
Permaisuri Rene melipat kedua tangannya di d**a, "Tentu, aku mencarimu. Sebentar lagi kamu akan resmi menjadi putri mahkota dan aku ingin memastikan apa kamu memang layak?"
Gawat!
Zuna terlihat gelisah dan mencari cara agar Nenek sihir ini tidak mengganggunya. Karena jujur, Zuna cukup kesal dan merasa terganggu dengan adanya Nenek sihir itu.
"Aduh!" Zuna memekik.
Para maid yang sedari tadi berdiri didekatnya segera membantu, Zuna. Permaisuri Rene terlihat kaget. Terutama Saat Zuna mulai berjongkok.
"Ada apa denganmu?"
Zuna meringis beberapa kali, "Maafkan saya yang mulia, karena perut saya sakit. Tadi malam saya makan-makanan pedas."
Permaisuri Rene berdecak, "Baik, kalau begitu kita tunda saja. Masih ada hari esok. Pergi ke kamarmu dan istirahatlah."
Zuna mengangguk dan menahan untuk tidka tersenyum, melainkan menampilkan wajah kesakitan. Bakat akting Zuna benar-benar harus di puji.
***
"Apa langkah anda selanjutnya?"
Pria itu terlihat berpikir dan menatap bidak catur yang ada dihadapannya. Saat bermain catur, dibutuhkan konsentrasi penuh untuk memainkannya. Permainan catur disebut permainan serius.
"Santai saja Yang mulia. Bidak catur ini tidak akan lari." Kei mengejek.
"Ini bukan masalah santai atau tidaknya, jika kamu terus mengabaikan orang yang ternyata berbahaya di sekitarmu, maka jangan pernah menyesal jika suatu saat dia berhasil mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu."
Mendengar ucapan Jake, Kei terdiam. Sepertinya saat ini Pangeran Mahkota itu sedang memikirkan sebuah strategi. Dari luar, Pangeran mahkota terlihat penurut dan lemah, padahal aslinya, Pangeran mahkota adalah pangeran yang cerdik dan licik.
"Apa yang sebenarnya Pangeran sedang persiapkan?" Tanya Kei dengan ekspresi bingung.
"Kalau aku memberitahumu, maka tidak akan ada kejutan. Tapi percayalah, aku sudah menyiapkan hal ini dari jauh-jauh hari. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkannya seperti bom."
Tok ... Tok ... Tok ....
Mereka berdua menoleh kearah pintu, tak lama perdana menteri sayap kanan, Pak Tua Robin, masuk kedalam.
"Selamat siang, Pangeran." Pria tua itu membungkuk hormat, yang segera dibalas oleh, Jake.
"Ada apa gerangan, sehingga Perdana mentri Robin datang kemari?" Tanya Jake.
"Saya ingin mengabarkan kalau Kondisi Raja sudah stabil. Beliau bahkan sudah bisa berdiri namun tidak boleh terlalu lama."
Jake menghela nafas lega, "Syukurlah kalau begitu, ada lagi?" Tanya Pria yang kini wibawanya terlihat menguar.
"Putri Mahkota jatuh sakit."
Jake mengernyit, kemudian melirik Kei yang sama-sama terkejut. Bagaimana Zuna bisa jatuh sakit? Wanita itu bahkan masih terlihat bugar kemarin.
"Baik, terimakasih atas informasinya." Perdana menteri menganggukan kepalanya kemudian pamit undur diri.
"Anda ingin menemui Putri Mahkota?" Tanya Kei ketika melihat Jake yang melangkah kearah pintu keluar.
"Iya tentu saja, aku harus memastikan apa dia memang sakit biasa atau sakit parah. Karena pernikahan ini akan segera diadakan, aku tidak ingin ada kendala apapun saat pernikahan kami, atau semuanya menjadi berantakan."
Kei menahan untuk tidak tersenyum, entah apa yang saat ini Kei pikirkan. Yang jelas dia cukup senang melihat Pangeran Jake yang mungkin saja menyimpan rasa diam-diam.