8. Bertemu Raja Alben

1116 Words
"Dia sudah berani bertindak jauh." Aldrik mengepalkan tangannya dengan kuat, kemudian menatap tajam kearah Perdana mentri sayap kiri, yang saat ini duduk dengan santai, tanpa menghiraukan kemarahan, Aldrik. "Santai saja, kenapa kamu terlalu serius? Bocah itu tidak akan pernah berani melawanmu." "Rene, kamu juga tidak usah terlalu takut, dia hany sedang menjaga imagenya agar tidak hancur," tambah pria paruh baya yang kini menatap wanita paruh baya dengan ekspresi gelisah itu. Brakk! "Dia sudah berani melawan, bagaimana aku bisa diam!" Wanita paruh baya yang bernama Rene itu mengangguk setuju, "Putraku benar, bisa saja ini menjadi langkah awal dia untuk memberontak." "Dia hanya pangeran kedua, tapi gelar putra mahkota jatuh di tangannya. Bukankah itu sangat mencoreng harga diri dan nama baikku?" Rene mendekat lalu mengajak putranya itu untuk duduk. Jangan sampai Putranya itu menyerah sebelum berperang. "Meskipun kau pangeran pertama, tetap saja. Jake adalah putra sah dari Raja Alben dan Ratu Olivia, sementara kau ... Siapkan saja mentalmu." Rene melirik Perdana mentri sayap kiri dengan tajam, pria paruh baya itu sama sekali tidak membantu. "Jangan dengarkan pria tua itu, ambil yang memang menjadi hakmu." Pria paruh baya itu segera bangkit, "Aku harus kembali, katakan saja padaku jika kamu butuh bantuan," ucapnya setelah itu pamit meninggalkan Rene dan Aldrik berdua. "Tahta itu pasti menjadi milikmu." *** "Malam ini sangat mendung, seharusnya aku cepat tidur. Tapi kenapa? Aku malah tidak bisa tidur!" Zuna berdecak dengan tangan yang dilipat tepat di depan d**a. Ini sudah pukul 10.00 malam, namun tidak ada tanda-tanda matanya inu mengantuk. Berada di dalam istana malah membuatnya gelisah. Apalagi Kei sempat mengatakan padanya untuk berhati-hati dalam menerima apapun dari keluarga kerajaan. Zuna melangkah kearah balkon dan menggeser pintu kaca itu. Ingat, pintu ini terhubung dengan taman kecil. Pangeran Jake pernah datang tiba-tiba waktu itu, dan cukup mengejutkan Zuna. Apa malam ini Pangeran Jake tidak berniat untuk mampir? Zuna segera menggeleng, kenapa dia malah memikirkan pangeran aneh itu. Sikapnya yang sulit di tebak dan sangat berubah-ubah membuat Zuna menjulukinya pria aneh. "Rapuh darimana ... Yang ada tatapannya begitu mengintimidasi. Percayalah, kalau dia sedang bersikap lunak, maka itu artinya dia membutuhkan sesuatu dari kamu," Zuna menggerutu ketika mengingat ucapan ibu suri mengenai, Pangeran Jake. Zuna membawa bantal untuk dia letakkan diatas lantai dan tidur menghadap bintang. Tubuhnya berada diantara teras dan kamarnya. Memang wanita yang unik. "Kamar ini begitu megah dan luas, tapi kalau hanya ada aku didalam sini. Bukannya malah akan percuma saja?" "Lantas apa yang ingin kamu bawa kedalam kamarmu." Zuna terhenyak kemudian mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Rupanya Pangeran Jake yang kini datang. Zuna segera bangkit untuk memberikan salam hormat. Namun karena ingat hanya dia dan Jake disini sekarang, Zuna mengurungkan niat. Lagipula dia akan bersandiwara ketika ada orang kerajaan melihat mereka. "Mengapa diam saja?" Tanya Pangeran Jake yang masih berdiri sembari melirik Zuna yang ada di bawah. Zuna menghela nafas, "Aku tidak perlu menyambutmu bukan? Hanya kita berdua yang sekarang disini. Jadi kontrakku tidak berlaku." Pangeran Jake tampak mengangguk, dirinya hendak duduk namun Zuna menahan, "Jangan duduk, tempat ini sedikit kotor. Tidak cocok untukmu." Jake tak menghiraukan, dia sudah mendaratkan bokongnya lebih dulu diatas lantai marmer yang mewah itu. "Terserah kau saja." Mereka cukup canggung untuk memulai percakapan, menatap langit malam yang mendung tanpa bintang. Hingga pada akhirnya, Jake membuka percakapan. "Apa yang dikatakan Nyonya Rene kepadamu?" Pertanyaan Jake tentu mengundang tanda tanya untuk, Zuna. Wanita itu mengerutkan alisnya, "Siapa yang kau maksud?" "Ibu---" "Oh, Nenek sihir itu." Jake sedikit tertawa kemudian menoleh, "Jadi apa benar, kau disiksa olehnya?" Zuna segera merubah posisinya, dari berbaring menjadi tengkurap. "Tentu saja! Dia adalah contoh penjajah yang sebenarnya. Aku tidak pernah mencari masalah dengan dia, tapi dia seakan-akan ingin membunuhku!" Adu Zuna dengan semangat. Jake menghela nafas, "Setelah ini, akan ada yang menantimu. Persiapkan saja dirimu baik-baik, dan selalu waspada." Pria itu kemudian bangkit. "Setelah ini tidurlah, karena banyak yang harus kita urus sebelum pernikahan kita." Zuna terlonjak, "Benarkah? Secepat itu?!" Jake mengangguk, "Ayahanda sudah merestui, besok pagi pergilah menemui beliau bersamaku." Zuna mengangguk mantap, "Baik, tenang saja aku pasti akan bersandiwara dengan baik!" Jake menarik satu sudut bibirnya, "Aku tunggu bakat sandiwara darimu itu muncul, tidurlah." Sebelum Jake benar-benar pergi pria itu sempat menengok kebelakang, "Ketahuilah, Kamar kita besebrangan. Jadi aku sering kesini ketika malam hanya untuk mencari angin segar." Zuna menggeleng kecil kemudian terkekeh, "Baik." *** Zuna dilanda gugup ketika Jake pagi-pagi sudah mengajaknya untuk pergi bertemu, Raja. Zuna pikir ini bukan waktu yang tepat, namun Pangeran Jake malah tetap ingin mengajaknya bertemu sebelum pernikahan. "Apa Raja, galak?" Tanya Zuna. Jake menggeleng, "Tidak, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Sebelum Jake mengajaknya masuk, pria itu menggenggam tangan Zuna. Membuat Zuna menjadi sedikit panik dan mencoba untuk mengatur nafas dengan normal. Pintu terbuka, Zuna dan Jake melangkahkan kakinya untuk masuk. Sang Raja rupanya telah menunggu mereka. Jake mengajak Zuna untuk duduk. "Selamat pagi, Ayahanda." Zuna yang mendengar itu segera menuruti ucapan Jake, "Selamat pagi, Ayahanda." Sang Raja memang tidak tersenyum, namun dia terlihat cukup senang dengan kedatangan Zuna dan juga, Jake. "Bagaimana kabar kalian berdua ... Uhuk, Akhirnya kamu datang membawanya kesini." Jake segera mendekat dan duduk di tepi ranjang, sementara Zuna diam saja di tempat. Dia belum terlalu akrab dengan Raja, Zuna jadi agak sungkan. "Dia gadisku, maaf baru sempat membawanya menemui, Ayah." Zuna tersenyum kearah Raja Alben, "Semoga Raja panjang umur." Raja Alben membalas senyum, Zuna. Setelah Zuna perhatikan, Raja Alben terlihat masih muda. Tidak ada tanda-tanda penuaan pada kulit wajahnya, hanya saja Raja Alben memang sedikit terlihat pucat karena sakit. "Terimakasih." Zuna membungkuk tanda hormat. Setidaknya dia harus terlihat anggun dan sopan di depan Raja. "Dia gadis yang cantik, dimana kamu menemukannya?" Jake sedikit melirik Zuna, sebenarnya Jake bisa saja menjawab. Tapi berbohong di depan sang Ayah adalah pantangan besar untuknya. "Di jalan." "Maksud saya, waktu kami berdua sedang berjalan-jalan." Raja tersenyum mendengar jawaban Zuna. Ada sesuatu diantara kedua orang ini, tapi Raja tidak mau berpikir terlalu jauh dan berharap mereka berdua selalu bahagia. Setelah keluar dari ruangan pribadi Raja. Zuna melirik Jake yang berjalan dengan ekspresi datar. Cukup terkejut karena Jake terlihat seperti anak yang berbakti di dalam, namun ketika mereka keluar, Jake malah berubah menjadi manusia datar. "Tanyakan apa yang ingin kau ketahui." Zuna tanpa sadar membuat bibirnya sedikit manyun dan cemberut, "Raja terlihat masih sangat gagah. Bukankah seharusnya, Raja bisa di sembuhkan?" Jake menghentikan langkahnya, hal itu membuat Zuna refleks berhenti dan menabrak punggung pria itu. Pria itu terdengar menghela nafas, "Ingat, kamu harus tau setiap batasan dan hati-hati dalam bertanya. Jika hal ini sampai terdengar oleh Permaisuri Rene, maka hidupmu disini tidak akan tenang." Zuna menelan ludahnya gugup, kemudian berdecak, "Apa tidak ada hal yang baik, yang bisa kau sampaikan?" Protesnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD