7. Persaingan sengit

1036 Words
Happy Reading Instagram : im_yourput *** Zuna memang sangat jahat, bagaimana bisa dia berpikir kalau Raja sudah berpulang ke atas. Padahal Raja masih ada disini walau kondisinya sedang tidak pulih. Salahkan Jake yang tidak pernah mengatakan apapun kepadanya. Zuna juga manusia biasa, tidak bisa menebak apa yang Jake punya dan tidak punya. Kalau saja Kei tidak menjelaskan padanya tentang situasi yang sedang mereka alami, Zuna mungkin saja akan mendoakan Raja agar tenang di alam sana. Saat ini Zuna berjalan-jalan di sekitar paviliun. Kei ikut mendampingi, karena Putra Mahkota sedang pergi menemani sang Raja yang saat ini menjalani pengobatan. Kei menjelaskan beberapa hal penting yang ada di kerajaan ini, hal yang tidak pernah Zuna ketahui dan membuatnya baru mengetahui hal itu sekarang. Contoh saja, Zuna baru mengetahui kalau Kerajaan ini memiliki kolam renang khusus yang begitu luas. Kei menjelaskan kalau kolam renang ini adalah tempat anggota kerajaan mendapat les khusus yaitu, berenang. "Biasanya diusia berapa mereka mendapat les khusus itu?" Tanya Zuna penasaran, sembari melihat kearah kolam renang besar yang memiliki beberapa tingkatan. "Biasanya setelah para pangeran atau putri sudah bisa menulis dan membaca," Jawab Kei. Zuna yang belum puas malah berdecak, "Tidak, bukan begitu yang aku maksud. Sebutkan yang spesifik tolong." "Usia Lima tahun." Zuna terkejut mendengarnya, diusia itu dia malah belum sekolah karena tidak ada sponsor di panti. Sungguh malang nasibnya, ah tidak! Dia sudah menjadi Putri mahkota, seharusnya dia bersyukur bukan mengeluh. "Pantas saja Pangeran Jake terlihat sangat cerdas. Sepertinya dia bahkan sudah belajar sebelum lahir." Kei terkekeh mendengar gerutuan, Zuna. Entah bagaimana Pangeran Jake menemukan gadis ini, semoga ada kebahagiaan di dalam hubungan mereka. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" "Menemui ibu---" "Tidak! Tolong, jangan biarkan aku bertemu dengan Nenek sihir itu," keluh Zuna. Baru kemarin rasanya dia tersiksa dengan kehadiran mama tiri dari Pangeran Jake itu, jika sekarang dia muncul lagi dan menyiksa Zuna, maka habislah Zuna. "Bukan, bukan bertemu dengan permaisuri, melainkan bertemu dengan Ibu suri." "Siapa lagi itu?" Tanya Zuna jengah. "Nenek dari Pangeran Jake." Zuna membulatkan matanya tidak percaya, "Tunggu ... Pangeran Jake punya nenek?" Kei menganggukan kepalanya secara otomatis. "Astaga! Kenapa aku baru tau, ketahuilah, Nenek lebih kejam dari permaisuri." Kei mengernyit, "Anda tau dari mana?" "Hanya menebak," jawab Zuna seraya mengendikan bahunya acuh. Kei mengantar Zuna untuk bertemu dengan ibu suri. Wanita tua baya yang sedikit renta akibat usia. Namun masih terlihat cantik dan anggun. "Putri Mahkota memberi salam kepada ibu suri." Zuna membungkuk hormat dan anggun, setidaknya dia sudah pernah belajar tata krama waktu itu, Karena Jake yang meminta. Benar saja, ketika Kei tadi sempat menjelaskan tentang ibu suri. Ternyata memang benar masih terlihat sangat cantik, pantas saja Pangeran Jake terlihat tampan. "Kemarilah." Zuna mendekat, wanita tua baya itu tersenyum kecil, "Kamu sangat cantik, dimana kamu dan bola kecil Jake bertemu?" Zuna mengernyit, namun tersenyum kecil ketika mengetahui nama kecil pangeran Jake. "Kami bertemu di jalan, Yang mulia." Ibu suri tersenyum, "Kamu benar-benar cantik dan anggun, pertahankan sikap itu. Sama satu lagi ... Kehidupan kerajaan begitu keras sayang, kamu harus mulai membiasakan diri." Zuna mengangguk tanda paham, selanjutnya dia bisa mendengarkan setiap ceramah dan wejangan yang diberikan ibu suri. Berbeda dengan permaisuri, alias mama tiri dari pangeran Jake yang menyiksanya, Ibu suri justru sangat menerima keberadaannya. "Bola kecil Jake adalah orang yang lemah dan rapuh, tolong beri dia kehangatan dan semangat. Dia mudah sekali menangis." Ibu suri menatap Zuna dengan sendu. Zuna terkejut mendengar ucapan Ibu suri, apa yang membuat ibu suri mau mengatakan ini padanya? Lagipula, Pangeran Jake malah terlihat lebih bisa menjaga dirinya sendiri. "Semenjak kematian ibunya, Bola kecil Jake selalu murung dan ... Karena label putra mahkota yang melekat padanya, dia harus merelakan waktu bermainnya dengan belajar." "Tapi ... Nenek yakin kamu bisa mengembalikan senyumnya yang pernah luntur dan jarang tampak." *** Sementara itu dilain sisi, Pangeran Jake melangkah dengan cepat ketika mengetahui kondisi ayahandanya kembali drop. Ketika dia masuk kedalam ruangan sang Ayah, dia bisa melihat kakaknya juga hadir disana lebih dulu. "Kemana saja kau?" Tanya Aldrik dengan tatapan dinginnya. Jake melangkah masuk dengan penuh wibawa, kemudian tersenyum kecil kearah Aldrik. Walau pria itu tidak membalas senyumnya, namun Jake tetap memberikannya senyuman. "Ada sesuatu yang harus saya periksa." "Ayah sedang dalam kondisi tidak sehat, kamu tunda saja dulu pernikahanmu dengan gadis itu," Celetukan Mama tirinya membuat Jake menoleh. "Tidak apa-apa, Jake bisa menikah dan aku ingin melihatnya menikah." Jake segera mendekat kearah sang Ayah yang terbaring lemah dengan tangan penuh infus dan ada selang di sekujur tubuhnya. "Tidak, ananda akan menunggu Ayah sembuh." Ayahnya tersenyum, "Tidak perlu, Ayah sudah menyetujui pernikahan kalian. Lain kali, bawa gadis itu kemari, karena Ayah ingin melihatnya." Mama tersenyum remeh ketika mendengarnya, "Gadis itu terlihat biasa saja, tidak ada yang special darinya. Darimana kamu menemukan gadis itu, Jake?" "Anda sudah bertemu dengannya?" Jake bertanya balik. "Tentu, aku ingin melihat siapa gadis yang akan menyandang status putri Mahkota. Ternyata pilihanmu sendiri kurang bagus, kenapa kau tidak menerima Erei?" Jake terdiam, kemudian memalingkan wajahnya. Dia bahkan tidak ingin ada antek-antek mama tirinya, termasuk masalah wanita. "Biarkan saja Jake memilih pasangannya sendiri, bukankah itu juga berlaku pada Aldrik waktu itu?" Ucap sang Ayah membela. Mama tiri Jake terlihat menghela nafas. Setelah pertemuan singkat yang penuh dengan persaingan sengit itu, Jake keluar dari ruangan. Dia harus bertemu dengan Zuna dan menanyakan hal kemarin, apa benar Mama tirinya itu menemuinya. Saat hendak pergi, lengan Jake dicekal oleh Aldrik. Pria itu terlihat sangat dingin dan tak tersentuh. Jake segera berbalik dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Ada apa, Pangeran Aldrik?" Aldrik mendecih, "Aku sudah pernah memperingatkanmu bukan? Menyerahlah, karena apa yang kau lakukan sekarang hanya membuang-buang waktu." Jake tetap dengan ekspresi yang tenang, melepas cekalan itu dengan pelan, "Tidak ada kata buang-buang waktu, yang ada ... Mari kita bertarung secara sehat. Saya akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik saya." Bagai tersambar petir, Aldrik cukup terkejut mendengar penuturan dari adik tirinya itu. Sudah bisa melawan rupanya? "Cih, kau sudah mulai berani rupanya? Baik, kita buktikan siapa yang berhak menjadi pemilik Tahta dan memimpin New Zembdee." Jake mengangguk, "Saya pamit, tolong jaga Ayah untuk saya." Setelah Jake pergi, Aldrik mengepalkan tangannya kuat. Dia merasa tersinggung dan tertantang disaat yang bersamaan. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi kedepannya? Aldrik tidak akan pernah membiarkan Jake menerima kemenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD