bc

Gila Nggak, Sih!

book_age18+
835
FOLLOW
2.6K
READ
possessive
family
age gap
goodgirl
drama
comedy
wife
husband
like
intro-logo
Blurb

Sungguh tak disangka. Andai Firli tahu jika jodohnya hanya sejengkal, ia tak perlu bersusah payah mencari sang pemilik hati. Gila nggak, sih? Tuhan seolah tahu ia butuh obat setelah patah hati lantaran menjaga jodoh orang.

Namun, satu kejadian menguji mentalnya. Firli tak yakin bisa menikah dengannya. Lalu apa yang harus Firli lakukan kini?

chap-preview
Free preview
1
"Fir! Mo sampai kapan itu di dalem, mandi dari tadi kok nggak kelar-kelar. Emang airnya kamu tanyain dulu gitu, mau nggak kupake mandi? Heran Mama sama kamu. Kalo nggak dua jam nggak keluar. Kamu pikir itu kamar mandi nenekmu apa?" omel Rina hilir mudik menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ia menggeleng melihat kelakuan anak sulungnya itu, suka sekali semedi di kamar mandi dan membuatnya seriosa setiap hari. Sebenarnya Rina kurang suka harus mengomel terus, selain capek, ia juga sungkan didengar tetangga, tetapi bagaimana lagi? Bila tidak ngomel seperti itu, dua abad baru Firli keluar dari kamar mandi. "Mama ini sungkan lho, Fir, tiap kamu masuk pagi mesti ngomel kek kereta. Untung mulut Mama ini buatan Allah, coba kalo buatan Sanan, udah rontok kayak tempe nggak mateng itu," imbuh Rina lagi. Matanya melirik jam dinding di atas lemari piring dari kaca dan alumunium. “Buruan, itu udah jam enam lebih. Nanti kamu telat, lho.” "Iya, Ma, iya. Ini lho udah kelar. Gitu aja ngomel," bantah Firli dengan entengnya. "Lagian adek juga udah berangkat, nggak ada yang perlu ke kamar mandi juga. Papa ya paling masih agak nanti," ujar Firli beberapa saat pas duduk di kursi makan. Ia mengambil piring dari tumpukan yang mamanya siapkan lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. "Mulutmu, Fir! Bantah terus kalo dibilangi. Mama lakban nanti biar nggak jawab aja kalo dibilangi." Bibir tipis itu terbelah mendengar omelan Rina. Bagi Firli, omelan mamanya semangatnya, karena ia tahu itu bentuk perhatian Rina padanya. "Nggak bantah itu nggak enak, Ma. Sepi. Ntar, Mama, kangen lagi kalo aku diem," jawabnya sembari menyuap nasi plus cumi tepung. "Nanti bingung, nanya muluk kamu kenapa, Fir kok diem aja," ledek Firli. Rina pun menoleh dari acara mengaduk kopi untuk suaminya. Ia berkacak pinggang dengan wajah jengkel. "Bocah edan, kok. Udah buruan ganti, keburu telat." Setelah mencuci piring, Firli bergegas mengganti baju rumahnya dengan seragam wajib di kantornya. Memoleskan make up tipis untuk mendukung penampilannya sebagai customer service disalah satu perusahaan pengiriman barang. "Widihh, ada angin apa ini Mas Zam ke rumah?" sindirnya saat tahu saudaranya datang. Pria itu mengobrol dengan papanya. "Pasti ada maunya ini. Paling juga disuruh Bude. Kalo nggak gitu mana mau Mas Zam ke sini," lanjutnya sembari memasang helm setelah mengambil kunci di gantungan kunci lalu duduk di sebelah Hamdan—papanya. "Itu tempe eh tahu." Firli mencibir. "Dih, congkak." "Sultan mah bebas," ujar Azam jumawa menepuk d**a yang dibalas cebikan oleh Firli. "Naik sepeda itu jangan ngebut, Fir. Mas pernah lihat kamu ngebut. Udah tahu lampu merah ditrobos aja. Kena tilang sukur kamu," omel Azam. "Hehehe. Biasa mepet.” Ia pindah duduk di sebelah Azam. “Mas. Mas, bagi duit dong buat beli bensin. Sekalian buat beli cilok sama cimol." Merasa tak mendapat tanggapan, ia menggoyang-goyang lengan Azam dengan kuat. "Mas." “Astagfirullah! Anak ini ya. Lepas dulu tangan Mas.” Azam melepas pegangan Firli di lengannya. Ia berdecak kecil karena kebiasaan sepupunya ini. Ia juga memasang wajah masam tapi tak urung menarik dompet dari kantung belakang celana bahannya. Azam pun mengeluarkan satu lembar uang kertas biru. "Kebiasaan. Padahal udah kerja masih aja minta Mas. Gajimu mau buat apa? dibothok?" Dengan tangkas perempuan berusia 24 tahun itu mengamankan uang tersebut. "Itung-itung uang dengar omelan, Mas. Makasehhh. Pa, berangkat." Tidak menunggu balasan Azam, Firli melesat seperti anak panah ke motornya dan melajukan benda beroda dua itu meninggalkan rumah. *** Firli tiba di tempat kerjanya sebuah ekspedisi ternama di daerah Bunul, sepuluh menit sebelum masuk. Setelah memarkir motor, ia bergegas masuk ke gedung dua lantai lewat pintu samping. Ia meletakkan tasnya di loker. Firli juga mematut diri di kaca untuk memperbaiki penampilannya lalu ke depan menggantikan temannya. "Dicariin Pak Sony," bisik Dita saat mereka duduk dan bersiap melayani customer. "Kalian jadian, ya?" tebak Dita yang selama ini memperhatikan gelagat keduanya. Firli menoleh menatap lekat Dita yang ingin tahu. Alisnya terangkat sebelum menjawab pertanyaan Dita, "Kepo!" Kemudian ia melengos sambil terkikik geli melihat ekspresi jengkel Dita. Refleks tangan berkulit kuning langsat itu mendaratkan pukulan manja di bahu Firli. "Sakit gila!" serunya tertahan disertai delikan kepada Dita. "Biarin. Bikin jengkel, sih." "Sarap kok kamu emang itu. Dikira kagak sakit apa." "Bah! Eh, tapi ntar ceritain, ya," pinta Dita memelas karena rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa jengkelnya. Perempuan dengan tinggi 160 sentimeter itu melirik sinis menjawab permintaan Dita, lalu mengembangkan senyum ketika kursi di depannya terisi dan bersiap memulai tugasnya. *** "Jadi?" tuntut Dita tidak sabar menunggu jawaban Firli tentang hubungannya dengan atasan mereka. Firli tak mengubris Dita. Ia fokus makan nasi soto ayam dan es jeruk pesanannya. Kaum fakir miskin dalam perutnya berdemo minta isi. Itu sebabnya ia tak menanggapi Dita dan lebih baik menyelamatkan perutnya dari demonstran yang anarkis. "Fir!" "Apaan, sih, Dit, bawel deh dari tadi. Makan gih, keburu jam istirahat habis." "Kan sama jawab bisa, Fir. Kepo banget aku tuh." Firli berdecak kesal. Ia menghela napas. Ia pun meletakkan sendok lalu meraih gelas dingin dan menyeruput isinya. "Kepo kok tingkat dewa. Lagian ya aneh kamu ini. Siapa yang punya hubungan, siapa yang kepo. Ntar kalo jadian pasti aku kasih tahu. Ribet deh." Setelah mengucapkan itu, Firli meraih cilok saus kacang yang dibelinya sebelum makan. "Kalo gitu belum jadian?" ulang Dita belum puas dengan jawaban temannya itu. Firli menggeleng. "Masih PDKT?" Firli mengedikan bahu. "Sering ngajak jalan?" Firli tampak berpikir kemudian mengangguk. "Selama jalan Pak Sony nggak mancing-mancing gitu? Nyerempet perasaan dia gitu? Atau tanya-tanya kamu udah punya pacar apa gimana? Udah bilang cinta gitu?" "Belummm! Denger nggak?" Dita meringis. Ia juga mengusap telinganya karena teriakan Firli. "B aja keleu. Aku nggak tuli Bulek," sahut Dita kesal. "Alhamdulillah. Kupikir tuli tadi makanya tak teriakin." "Edan!" Firli tertawa. "Ya lagian kepo kok dipelihara. Pelihara tuh tuyul biar bisa kasih kita duit. Biar bisa belanja-belanja gitu." Dita melirik. "Dih, ogah banget aku. Dari pada pelihara tuyul mendingan aku cari sugar daddy. Bisa dipeluk-peluk." "Wah ikut dong, Dit. Sapa tahu dapet yang miloner gitu biar bisa biayain keperluan aku hahaha," sahut Firli. "Hmm," jawab Dita. "Kumat gilanya." Firli hanya tertawa melihat muka masam Dita karena menanggapi omongannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook